Share

Chapter 59

last update publish date: 2026-03-12 12:45:32

First fact: kedatanganku hanya untuk menghentikan sesuatu.

Second fact: seorang dokter, hadir menghalangi, membunuh bayiku.

Third fact: pembunuh. Itu yang Sienna panggilkan untukku.

Menyaingi Polka Dot Stingray. Tenggelam, akuarium kering, tersengal-sengal napas. Kebebasanku direnggut usai Sienna melabeli tanganku seumpama pembunuh. Aku dipaksa memandangi, telapak tangan amisku saat Sienna berlutut jauh dariku, membelakangi. Tangis kencangnya bukan untuk bayi kami. Tekanan darah cepat ini memak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 75

    —like an animal.Percakapan saling sahut mengitari utensils keramik beradu-adu. Ritmenya pecah. Jejeran pelayan silih berganti menempatkan gelas-gelas kristal, LimoncelloBeverage. 70 tahun sebelum jatuhnya Berlin, warga-warga pengungsi menempatkan vodka sebagai racun tambahan. Pahit yang dihasilkan, mereka sebut sebagai resistance. Pahit yang tidak bisa tersubsidikan sebatas kucuran teh hangat dan almond biscuit.Di tengah kepahitan—Sienna tidak berbicara tentang vodka beverages—Ia duduk.Hiburannya sesempit karpet Persia. Disinyalir, bulunya diambil dari kulit singa. Telapak kaki polos Sienna menggantung, pada lampisan bulu-bulu menggelitik. Geli? Tidak. Jijik. Sebab bulu karpetnya? Bukan. Akan tetapi, suara ayahnya.Sepuluh inci dari Sienna mendaratkan duduk bosan, Henri terus tergelak tawa.Sienna mengendurkan matanya—sedikit, demi menahan rasa

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 74

    Penjepit kertas Greaseproof Paper pada tangannya dipelintir, sebelum Samuel menambahkan dua lembar daging asap ke bagian tengah roti panggang. Dibantu Sienna, Samuel membungkus cheese sauce dari loyang di atas kompor. Disajikan di atas helai-helai daging berwarna cokelat kemerahan, garis-garis panggangnya tampak simetris dari luar.Di sela tangannya yang bergerak sibuk, pandangan Sienna masih sempat menepi ke batas dapur.Batas ruang tamu dan kitchen, dimana Jonathan duduk sendirian. Menunggu.Menyipit mata Sienna, risih dipadu kesal menyaksikan diamnya Jonathan di sepanjang ruangan. Hanya hela napasnya yang terdengar sampai ke sini. Saat Sienna menoleh ke belakang, punggungnya harus bertabrakan dengan fenomena pemuda itu menumpu wajah di atas paha. Kepalanya terus tertunduk seolah mereka berdua yang sibuk di dapur, tampak invisible.“Ayamnya tambah juga.” Samuel menutup kotal salad pertama, hingga bunyi

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 73

    “Sam, jangan nyalahin Jonathan. Aku, aku yang bawa dia ke sini.” Sienna menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. Gadis itu gunakan tubuhnya, berdiri di tengah dua lelaki bersungut tinggi. Menjadi tameng. “Aku telpon Jo ke sini, biar bisa tau kondisi Ibu. Hari ini dia pulang, kok. Dia harus masuk sekolah, juga, besok.”Sienna membagi pandangannya menjadi tiga. Skrip invisible di kepalanya berjuang untuk membagi perhatian kepada tiga orang dalam ruangan itu. Sebelah sisi tubuhnya mencondong, seakan menutup celah jalan bagi Jonathan yang tampak ingin kabur. Satu tangannya, mengenggam Samuel. Gadis itu sibuk menjadi penengah kekacauan isi kepala dua lelaki terdekatnya.Terdiam, posisi Jonathan tidak memungkinkannya untuk andil suara. Di belakang Sienna, Jonathan terus merunduk. Poros tubuhnya sedikit memiring, menutup satu-satunya arah Christine bisa bertemu matanya. Secara naluriah, pemuda itu berjuang keras mencari titik buta Christine. Garis rah

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 72

    Christine Soediharjo POV00:41 – failed00:48 – failed01:12 – failed“Hey. Pamanmu Arthur bilang dia enggak bisa bantu. Kecuali kita berdua udah lulus, dia enggak bisa bantu legalitas pernikahan. Dia minta aku dan Sienna lulus sekolah dulu. Oi. Gimana ini, maksudnya.”‘The number you dialed is not available.”‘Please leave the message after—’“Oi.”Samuel mengendurkan ikatan Shuashish Necktie hitamnya. Dua kancing teratas dibuka, kerah lengah digulung tak sabar. Tatanan rambut klimis Brushed Up tak berdaya lagi melawan tegang gusar—sapuan acak—sang owner. Tangannya tak jadi menggengam holder cangkir kopi mendingin. Bagian paling keras dari Monk Strps warna mocha menyeruduk bagian bawah kakiku. Mataku mengerling dengan malas.“Apa?” tanyaku. Gentian kesal.“Pamanmu.” Layar ponselnya ditunjukkan padaku. Hasil percakapan via online beberapa menit yang lalu. “Pamanmu si Arthur—siapalah itu, nolak bantu. Coba, kau yang bicara dengan dia. Aku batal menyewa lawyer tadi gara-gara kamu. Tangg

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 71

    “Ugh.” —kerikil basah lagi. Setapak jalan kecil mansion Ganta Yudhistira menghubungkan pada sebuah kolam artificial. Indah, menenangkan. Percik airnya cukup mengajak Jonathan ingin cepat-cepat menimpa empuknya kasur. Minus, ribuan kerikil pinggir jalan yang sejak tadi menyangkut pada sol sepatunya. Jejak kotor di sepatunya makin membasah setelah memaksa berjalan-jalan dalam kondisi tanah becek. Pucuk hidung pemuda itu mencium pinggiran hoodie-nya yang lembab oleh embun. Aroma amis-amis dari rendahnya suhu pagi ini. Di hamparannya, adalah semacam danau buatan yang dulu sering dipakai Ganta untuk menghukum—mengajak Samuel memancing—di hari pekan. Semalam suntuk, selama itu pula Jonathan tak bisa memejamkan matanya sama sekali. Tak perlu menjelaskan siapa yang bertanggung jawab atas insomnia dadakannya. Pemuda itu menggosok kedua tangannya, mencari kehangatan. “How nice,” geramnya, bergumam kedinginan. “Kupikir jalan-jalan bisa bikin ngantuk

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 70

    Suntuk menyerap diganti dengan Jonathan tersedak yang melenyap. Api elektrik pembakaran tungku digital jatuh lembut ke wajah Sienna. Binar orange-nya menjejak fitur wajah sang gadis yang tampak lebih dewasa. Tak kembali ke kursi rodanya, Sienna menempati kembali kursi sofa yang sempat Ia tinggali. Suara terakhirnya digantung, diserahkan kepada Jonathan untuk menjawabnya. Tik. Tik. Tik. Liontin emas stand clock, metronome bunyinya memompa tempo napas Jonathan hingga sesak. Prefrontal Cortex-nya tengah susah payah merajut logika agar tak terselip lidah. Salah sedikit, dunia ini bisa runtuh karena kesalahpahaman.Jonathan memeluk jari-jemarinya sendiri. Bingung. Sienna belum tau menau soal hubungannya dengan Christine Soediharjo. Gadis itu dan Sienna juga, punya masa lalu hubungan yang complicated—lebih darinya, jika boleh dibilang.Mantan tunangannya kabur dari mansion Christine, menggunakan Sienna sebagai pelarian. Jika Sienna menemukan fakta itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status