Home / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 151. Runtuhnya Kepercayaan

Share

151. Runtuhnya Kepercayaan

Author: OTHOR CENTIL
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-08 13:00:10

Melihat raut wajah Damar yang masih diselimuti keraguan, Willy menemukan celah harapan. Ia memanfaatkan sisa-sisa tenaganya untuk terus merayu dan mencoba meyakinkan hati sang bos.

"Tuan Damar, tolong telaah kembali kinerja saya selama sepuluh tahun belakangan! Apakah ada satu kali saja saya pernah berkhianat? Tidak, Tuan, tidak pernah!" sergah Willy, suaranya dipenuhi urgensi yang mencekik. "Ini jelas ulah oknum-oknum busuk yang ingin menjatuhkan Anda sedalam-dalamnya. Bukanka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • ENAK, PAK DOSEN!   585. Akhir Yang Bahagia (TAMAT)

    Damar menarik senyum tipis di wajahnya. Melihat sorot mata anak-anaknya yang begitu serius menyimak, ia tahu bahwa mereka bukan lagi anak kecil yang hanya bisa diberi perintah. Mereka sudah dewasa, dan di balik diamnya mereka, pastilah tersimpan banyak pertanyaan tentang bagaimana menavigasi masa depan mereka sendiri. “Kalian pasti bertanya-tanya, apakah semua ini semudah yang kami bicarakan, ‘kan?” tanya Damar seolah bisa membaca pikiran ketiga anaknya. Ia bersandar di kursinya, memandang cahaya lampu yang memantul pada cairan minuman di dalam gelas yang ia pegangi. “Kenyataannya, tidak ada resep yang benar-benar instan. Ayah dan Bunda pun pernah berada di titik di mana kami nyaris menyerah. Tapi, saat kalian melihat ke samping dan menyadari bahwa orang di sebelah kalian adalah satu-satunya orang yang paling mengerti perjuangan kalian dari nol, maka di situlah kalian akan menemukan alasan untuk bertahan.” Shanum dan Sagara mengangguk paham. Mereka mulai menyadari bahwasanya tida

  • ENAK, PAK DOSEN!   584. Resep Pernikahan Harmonis

    Biasanya, Damar akan langsung memasang wajah galak atau memberikan kuliah singkat tentang pentingnya mengelola keuangan pada anak-anaknya. Namun malam ini, ia hanya menanggapi dengan nada tenang yang tak terduga.“Hm, Ayah belum pikun, kok. Kalian tenang saja,” sahut Damar singkat sembari mengusap bahu Diana. Respon yang begitu santai itu justru membuat Sagara dan Darrel saling lirik kebingungan, seolah tidak percaya ayah mereka bisa se-presisi itu dalam memberi lampu hijau.“Kalau gitu, ayo duduk dulu di sana,” ajak Shanum pada semua orang. Ia menunjuk satu meja bundar besar di sudut ruangan yang memang sengaja belum dibereskan oleh staf hotel atas permintaan khusus. “Sejak sibuk dengan urusan masing-masing akhir-akhir ini, kita semua jarang berkumpul dan makan satu meja dalam suasana tenang begini.”“Ayo!” Darrel menyahut dengan semangat, langsung menarik kursi untuk bundanya.Mereka berlima akhirnya duduk melingkar di meja t

  • ENAK, PAK DOSEN!   583. Cincin Berlian Mewah

    Perlahan, pelukan itu terlepas satu sama lain. Diana, yang wajahnya masih basah oleh air mata haru, kini dikerumuni oleh anak-anaknya yang tampak begitu protektif dan menyayanginya.Sedangkan Sagara yang sejak tadi terlihat lebih tenang dibandingkan kedua saudaranya, merogoh kantong jasnya dengan gerakan mantap. Ia mengeluarkan sebuah benda, lalu berjalan ke dekat sang ayah dan menyodorkannya.“Yah, ambil ini. Kasih ke Bunda,” ucap Sagara pendek namun penuh arti.Damar tertegun saat telapak tangannya menerima sebuah kotak beludru kecil berwarna biru navy. Ketika ia membukanya, sebuah cincin berlian dengan potongan yang sangat indah berkilau tertimpa lampu ballroom. Sebagai orang yang paham barang mewah, Damar tahu persis bahwa cincin itu memiliki nilai yang fantastis.Damar hendak menolaknya karena merasa tak enak hati pada anak-anaknya. “Saga, apa maksudmu beli ini? Kamu bisa-bisanya menghamburkan uang sebanyak ini untuk membe

  • ENAK, PAK DOSEN!   582. Surprise Dari Anak-anak

    Damar justru semakin merapatkan dekapannya di pinggang sang istri untuk menjaga keseimbangan mereka.“Nggak masalah kali, Yang. Kejepit berulang kali aja aku nggak marah, apalagi cuma keinjek gini. Ya, nggak?” goda Damar dengan kerlingan nakal yang membuat Diana langsung mencubit pelan lengan suaminya.Diana cemberut, meski tak bisa menyembunyikan senyum yang tertahan. “Di saat-saat seperti ini, bisa-bisanya kamu mesum, Mas. Ingat umur, ingat cucu!”Tapi setelahnya, suasana berubah menjadi lebih teduh. Diana perlahan mengalungkan lengannya ke leher Damar, sementara Damar merapatkan tangannya di pinggang sang istri, membawa tubuh mereka bergerak dalam ayunan yang lebih harmonis.Lagu A Thousand Years masih mengalun lirih dari sisa playlist yang belum sempat dimatikan oleh operator suara. Di bawah temaram lampu ballroom yang mulai meredup, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk mereka berdua. Mereka kembali menyatukan bibir, memagut lembut, dan benar-benar tak mempedulikan apa pun

  • ENAK, PAK DOSEN!   581. Terinjak dan Terjepit

    Damar ikut menimbrung pembicaraan antara Shanum dan Kim dengan binar mata yang mendadak jenaka, seolah baru saja menemukan sekutu untuk urusan yang satu ini. “Wah, cocok tuh! Shanum ini memang butuh laki-laki yang lebih muda biar hidupnya tidak terlalu serius, Jeng Kim,” celetuknya tanpa beban, yang langsung dihadiahi pelototan tajam dari putri sulungnya itu.Kim semakin bersemangat, ia merapatkan posisi duduknya lalu memegang telapak tangan Shanum dengan gerakan akrab seolah mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun. “Tuh, ‘kan? Ayah kamu saja sudah setuju. Jadi, kapan nih kita agendakan besanan lagi? Biar enak kalau mengunjungi cucu, rumahnya pasti nggak jauhan dari kami nenek kakeknya,” todongnya dengan nada bicara yang penuh antusiasme seorang ibu-ibu pemburu menantu.Shanum hanya bisa meringis canggung, otot-otot wajahnya terasa kaku karena harus mempertahankan senyum sopan di tengah tekanan batin yang luar biasa. “Mungkin bisa kita pikirkan sambil jalan saja, Tante. Lagian,

  • ENAK, PAK DOSEN!   580. Jadilah Menantuku

    “Adik?”Damar, yang baru bergabung di meja keluarganya memekik cukup kencang. Ia mendengar sang putra berbicara mengenai adik untuk Gallen.Lalu ia dengan tegas memberitahu, “Tidak ada adik sampai beberapa tahun kedepan. Pokoknya, kami akan mengatur agar kalian tidak memproduksi anak terus setiap tahun!”Sagara mencebikkan bibirnya, sedikit cemberut sebab ia dilarang memberikan adik untuk Baby Gallen dalam waktu dekat. “Yah, Yah. Kok gak seru gitu, sih. Padahal enak loh kalau ngerawat anak dua. Gedenya bareng, ngurusnya enak. Ya gak?” Setelahnya, Sagara menaikkan turunkan alisnya ke arah sang ayah, dan alhasil, ia mendapat cubitan keras sekali dari damar yang berada tepat di sisinya.“Aaawh! Ayah kejam bener, deh!” gerutunya sembari mengusap paha yang panas akibat capitan keras tadi dari Damar.Saat Sagara menanggapi santai, Damar justru semakin emosi. “Kamu tuh ya! Apa di otak kamu gak ada yang lain selain buat itu? Apa kamu gak mikir konsekuensinya, huh? Ara baru aja habis SC, piki

  • ENAK, PAK DOSEN!   189. Kebakaran

    "Apa? Bagaimana bisa?" pekik Diana syok. Kabar itu sangat mengejutkan, menghantamnya bagai ombak besar, menggulung tubuhnya, menyeret ke lautan lepas. Ia lemas, tak berdaya.Pekikan yang tercekik itu bagai petir di dalam ruangan. Ponsel Diana jatuh. Bunyi denting logam yang hampa di lantai kayu,

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • ENAK, PAK DOSEN!   205. Mendesak

    "Apa? Kamu gila? Gak, gak, aku gak setuju ya! Kamu mau manfaatin aku? Enak aja kamu! Kalau kamu mau cari musuh, cari aja yang lain!" Raline memekik terkejut, suaranya sedikit pecah di tengah kebisingan klub. Raline pun segera menarik tubuhnya menjauhi sentuhan Aldo dan keluar dari klub itu dengan

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • ENAK, PAK DOSEN!   185. Gunjingan

    "Jangan lancang menyentuhku, Raline. Aku sudah memperingatkanmu," ulang Damar, nadanya semakin dingin. Ia mundur selangkah, menjaga jarak aman dari Raline yang makin mendekatinya tak tahu malu. "Tapi wajah Bapak terluka. Apa sudah diobati? Aku hanya khawatir sama Bapak. Apa itu salah?" Raline tetap

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • ENAK, PAK DOSEN!   182. Cukup Mesra

    Diana memandang Damar dengan wajah merah merona, bukan hanya karena malu, tetapi juga karena gejolak gairah yang berusaha ia tekan. Ia tak sanggup membayangkan betapa melelahkannya jika ia harus memenuhi janji itu, berada di atas Damar, menari dan meliukkan tubuhnya secara agresif hingga membuat

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status