Masuk“Biarin! Biar sekalian Ayah iriskan telinga gajah buat gantiin telinga kamu itu! Salah sendiri nakalnya gak ketulungan! Dan siapa suruh mulut kamu ini ngoceh gak tahu berhenti, hah? Siapa suruh?” geram Damar sambil terus memutar telinga Sagara, mengabaikan rintihan manja putranya yang sebenarnya sudah kembali bertenaga untuk menjahili orang lain.Candaan mereka seketika terhenti saat pintu kamar rawat diketuk dari luar. Seorang pria berseragam medis masuk dengan langkah tenang, menyatakan niatnya untuk memeriksa Sagara.Baik Diana, Damar, dan Sagara menoleh ke ambang pintu yang terbuka. “Dokter?”“Selamat siang, Tuan dan Nyonya Setyawan. Saya Dokter Tommy, saya ingin memeriksa kondisi Tuan Muda Sagara,” ucapnya sopan.Damar beranjak dari duduknya, seketika bersikap waspada. Matanya memicing, memperhatikan dokter itu yang datang sendirian tanpa ditemani perawat, bahkan tanpa membawa map laporan medis di tangannya. Sebagai orang yang sangat teliti, Damar tahu Sagara ditangani oleh tim
Damar memijat pangkal hidungnya. Sangat kesal menghadapi Sagara yang tak tahu aturan itu. “Kalau dia gak mau, kamu mau apa? Jangan sok nekat gitu deh, Saga! Bunda gak mau kamu babak belur lagi karena obsesi gila kamu itu. Ngerti, gak?” tanya Diana dengan nada cemas sekaligus lelah. Sagara melepaskan selang oksigen yang melilit wajahnya. Dengan seringai tengil, ia menyahut santai, “Aku paksa dia berhubungan lagi, lalu aku pastiin dia hamil! Sesimpel itu, masa Bunda gak ngerti sih? Aku mau niru cara Ayah dan Bunda, kayaknya seru!” PLAK! Geplakan keras dari Damar mendarat tepat di kepala Sagara, membuat pemuda itu meringis dan nyaris tersedak. Pria paruh baya itu menatap putranya dengan urat leher yang menegang; ia benar-benar habis kesal melihat Sagara yang otaknya seolah hanya berisi urusan selangkangan. “Apa di otak kamu gak ada ide l
Arnold sengaja memancing Damar agar paham dengan kode yang ia maksudkan. Sebab sedari tadi, tidak ada pertanggungjawaban berupa uang yang ia idam-idamkan. “Kami rasa memang sudah seharusnya begitu agar semuanya jelas secara hukum dan agama. Kami paham maksud, Anda, Tuan Harven. Mohon izinkan mereka menikah,” timpal Diana dengan nada memohon. Arnold menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu menyilangkan kaki dengan gestur otoriter. “Baik. Begini saja, mari kita pikirkan jangka panjangnya. Mereka baru mengenal beberapa waktu belakangan dan jelas-jelas belum tentu cocok satu sama lain. Bagaimana kalau dipaksakan menikah, lalu lambat laun Sagara bosan dengan Ara?” Sebelum Damar mendebat argumennya, suara Arnold lebih dulu meninggi satu oktav. “Apa yang akan kalian lakukan sementara mungkin saja akan ada anak di antara mereka yang tentu akan menjadi korban perceraian? Apa kalian tidak berpikir sejauh itu? Kalian pasti tahu, di agama kami, hanya ada
Arnold tertawa lagi. Ia meremehkan optimisme Damar yang menurutnya tak berdasar. “Kenapa kamu begitu yakin? Putriku tidak mungkin serendah itu untuk memuja bajingan seperti anakmu!” “Karena kami telah berdiskusi semalam di telepon,” jawab Damar mantap. “Dan Ara setuju dengan pernikahan itu. Dia sendiri yang mengatakannya setelah kami menawarkan upaya negosiasi.” Wajah Arnold seketika menegang. Rasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri mulai membakar dadanya. Namun, ia kembali mengeraskan suaranya. “Jangan rebut Ara dari Tuhan-nya, Damar! Kamu tahu aku tidak akan pernah merelakan imannya ditukar dengan apa pun, apalagi hanya untuk menutupi kesalahan putra tengilmu itu!” “Aku tidak akan pernah merebutnya dari Tuhannya,” sahut Damar, kali ini suaranya mengandung penekanan yang membuat suasana semakin panas. “Tapi, Ara sendiri yang menyatakan bersedia menikahi Sagara dengan cara agama kami. Dia yang
Damar dan Diana memandang resah ke lantai dua kediaman Arnold yang tak kalah megah dengan rumah mereka. Setelah beberapa saat Arnold pergi ke lantai atas, Damar mendadak resah. Dia menatap sang istri dengan gundah. “Yang, kok mereka lama banget, ya? Apa mereka udah tahu niat kita? Di atas kayaknya ricuh banget. Apa jangan-jangan, Ara sedang dipukuli Arnold? Aku kok takut Ara kenapa-napa, Yang.” “Gak, Mas. Aku yakin Arnold gak akan pernah mukulin Ara. Kalau marah, mungkin iya sih. Tapi, aku gak yakin dia bakalan mukul.” “Tapi, Yang. Di atas kedengeran ribut banget loh, Yang. Gimana kalau kita ke atas, Yang?” Sebelum suaminya beranjak, Diana mencegah, “Eh, Mas. Jangan ikut campur. Itu urusan mereka, Mas. Aku yakin, semuanya akan baik-baik aja.” “Hm, keknya yang dimarahi Clayton itu, Yang. Denger gak?” Lalu, Diana memegangi jemari suaminya yang dingin. “Mungkin iya sih, Mas. Bisa aja ‘kan Clayton memberitahu Papanya, dan papanya marah. Wajar sih, Clayton kan disuruh jagain Ara. K
“Duh, Mas. Kita salah gak sih ke sini mau ngasih tahu niatan kita?” Diana menatap suaminya yang duduk dengan gemetar. Mereka sama-sama takut kalau hal ini justru memicu kemarahan Arnold pada Clayton dan Ara. Damar sendiri tidak yakin, tapi ia tetap optimis niatannya akan disambut naik. “Gak sih, Yang. Aku yakin, mereka pasti nerima pinangan kita. Lagian, niat kita baik, kok. Bukan niat buruk. Ya kali ditolak.” “Tapi, Mas. Mana ada ayah yang terima kalau anaknya dinodai orang lain gitu aja? Pasti Arnold akan marah sama kita, Mas.” Diana memejamkan mata. Dia membayangkan hal yang tidak-tidak. “Gak usah takut kali, Yang. Kita negosiasi sampai deal aja. Oke?” Setelah itu, Damar mendengar suara Arnold makin menggelegar. Kini, ia menarik istrinya pergi, menjauhi ruang tamu sejenak agar tak makin mendengar makian mengerikan itu. Tapi belum juga beranjak, mereka mendengar lagi .... “Apaaa? Coba katakan lagi? Mami dan Papi gak salah dengar, ‘kan? Ara, Clayton, katakan kalau ini hanya pra







