Mag-log inDiana dan Damar di depan ruang perawatan Sagara mendadak cemas. Mereka berdua sibuk mondar mandir. Sesekali, mereka melirik ke dalam sana, berusaha mendengarkan apa yang dikatakan oleh dua anak muda tersebut. Namun, mereka tidak bisa mendengarkan apapun, hanya saling menduga-duga saja. “Yang, kira-kira, apa ya yang membuat Ara datang nemuin Sagara? Apa karena rasa peduli atau memang dorongan dari orang lain?” tanya Damar dengan serius. Matanya masih mengamati pintu ruang perawatan putranya yang tertutup rapat. “Aku sih mikirnya karena Ara merasa bersalah, Mas. Clayton kan udah nyuruh anak buahnya untuk mukulin Sagara. Jadi, dari situ mungkin Ara simpati. Secara gak langsung, Clayton hampir membunuh Sagara, ‘kan. Ya gak sih, Mas?” timpal Diana. “Menurutku, itu adalah alasan logisnya mengapa Ara datang ke sini.” “Iya juga ya, Yang. Rasa simpati, dan rasa bersalah.” Damar mengangguk. Kemudian, ia tersenyum miring, “Tapi, ini
“Anak ini emang gak bisa dikasih hati! Ada kesempatan dikit, langsung godain! Dasar! Tengilnya kelewatan!” Damar merutuk pada putranya yang tidak tahu aturan itu. Setelahnya, Damar menatap Diana. Ia memberi kode agar segera menjauh. Sayangnya, Diana tidak paham. Maka, ia hanya mengangguk canggung saat Sedangkan Ara dalam hati tengah merutuk kesal, “Hm, kayaknya bocah sialan ini udah baikan. Duh, ngapain juga gue ke sini kalau cuma buat dengerin gombalan recehnya? Buang-buang waktu aja! Tahu gini gak ke sini!” “Sagara! Jaga bicaranya,” tegur Damar pada akhirnya. Meskipun nadanya tegas, tapi ia tak bisa menyembunyikan binar lega di matanya melihat Sagara kembali memiliki energi untuk menjahili orang. Diana ikut menimpali dengan senyum tak enak hati, “Ara, maafkan Sagara, ya. Dia memang agak lain daripada yang lain. Otaknya kadang suka ketinggalan di rumah kalau sudah ketemu kamu.” “Gak apa-apa, Tante,” jawab Ara singkat, meralat ucapannya menyebut Diana ‘Nyonya’ tadi. Meski ha
Damar terdiam sejenak, matanya masih terpaku pada daun pintu yang baru saja tertutup rapat. Meski batinnya sama curiganya dengan sang putra, ia mencoba tetap berpijak pada logika. Memindahkan pasien pasca operasi besar bukanlah perkara sepele.Kini, ia beralih menatap putranya dengan serius. “Kamu yakin mau pindah ke rumah sakit kita? Pindah itu nggak semudah membalikkan telapak tangan, Saga. Ada prosedurnya, ada risiko medis yang harus dihitung matang-matang. Jangan gegabah deh karena ini. Justru dengan tetap di sini, kita bisa tahu kalau ada yang ingin celakain kamu. Kita bisa ringkus dia. Gimana sih!”Diana yang sejak tadi diam dan menyimak, ikut menyela, “Ada apa sih, Mas? Kenapa ini? Kok jadi bahas ada yang nyelakain segala? Siapa?” Secara singkat, Damar segera menjelaskan semuanya. Dugaannya, dan semua analisisnya.Lalu, Diana mengangguk. “Oh, gitu ya, Mas. Iya juga sih, kita wajib curiga mengingat Louis udah disinggung Sagara dan gak menutup kemungkinan Louis akan balas denda
“Biarin! Biar sekalian Ayah iriskan telinga gajah buat gantiin telinga kamu itu! Salah sendiri nakalnya gak ketulungan! Dan siapa suruh mulut kamu ini ngoceh gak tahu berhenti, hah? Siapa suruh?” geram Damar sambil terus memutar telinga Sagara, mengabaikan rintihan manja putranya yang sebenarnya sudah kembali bertenaga untuk menjahili orang lain.Candaan mereka seketika terhenti saat pintu kamar rawat diketuk dari luar. Seorang pria berseragam medis masuk dengan langkah tenang, menyatakan niatnya untuk memeriksa Sagara.Baik Diana, Damar, dan Sagara menoleh ke ambang pintu yang terbuka. “Dokter?”“Selamat siang, Tuan dan Nyonya Setyawan. Saya Dokter Tommy, saya ingin memeriksa kondisi Tuan Muda Sagara,” ucapnya sopan.Damar beranjak dari duduknya, seketika bersikap waspada. Matanya memicing, memperhatikan dokter itu yang datang sendirian tanpa ditemani perawat, bahkan tanpa membawa map laporan medis di tangannya. Sebagai orang yang sangat teliti, Damar tahu Sagara ditangani oleh tim
Damar memijat pangkal hidungnya. Sangat kesal menghadapi Sagara yang tak tahu aturan itu. “Kalau dia gak mau, kamu mau apa? Jangan sok nekat gitu deh, Saga! Bunda gak mau kamu babak belur lagi karena obsesi gila kamu itu. Ngerti, gak?” tanya Diana dengan nada cemas sekaligus lelah. Sagara melepaskan selang oksigen yang melilit wajahnya. Dengan seringai tengil, ia menyahut santai, “Aku paksa dia berhubungan lagi, lalu aku pastiin dia hamil! Sesimpel itu, masa Bunda gak ngerti sih? Aku mau niru cara Ayah dan Bunda, kayaknya seru!” PLAK! Geplakan keras dari Damar mendarat tepat di kepala Sagara, membuat pemuda itu meringis dan nyaris tersedak. Pria paruh baya itu menatap putranya dengan urat leher yang menegang; ia benar-benar habis kesal melihat Sagara yang otaknya seolah hanya berisi urusan selangkangan. “Apa di otak kamu gak ada ide l
Arnold sengaja memancing Damar agar paham dengan kode yang ia maksudkan. Sebab sedari tadi, tidak ada pertanggungjawaban berupa uang yang ia idam-idamkan. “Kami rasa memang sudah seharusnya begitu agar semuanya jelas secara hukum dan agama. Kami paham maksud, Anda, Tuan Harven. Mohon izinkan mereka menikah,” timpal Diana dengan nada memohon. Arnold menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu menyilangkan kaki dengan gestur otoriter. “Baik. Begini saja, mari kita pikirkan jangka panjangnya. Mereka baru mengenal beberapa waktu belakangan dan jelas-jelas belum tentu cocok satu sama lain. Bagaimana kalau dipaksakan menikah, lalu lambat laun Sagara bosan dengan Ara?” Sebelum Damar mendebat argumennya, suara Arnold lebih dulu meninggi satu oktav. “Apa yang akan kalian lakukan sementara mungkin saja akan ada anak di antara mereka yang tentu akan menjadi korban perceraian? Apa kalian tidak berpikir sejauh itu? Kalian pasti tahu, di agama kami, hanya ada







