LOGIN"Ya udah, ayo deh. Terus, Sagara gimana nanti, Mas? Masa kita tinggal enak-enak, tapi dia belum tidur sih,” tanya Diana sedikit khawatir.
Jujur saja Diana tak suka suaminya meminta jatah saat Sagara masih terjaga. Pernah saat itu, saat mereka hendak mencapai puncak.Lalu, Sagara menangis kencang hingga Diana tak terpuaskan sebab Damar menghentikan semuanya. Ia tidak mau rengekan Sagara menggangguDamar pun menanggapi dengan santai. "Biarin main di kamar dulu, Sayang. Asal di bawah, nggak masalah. Kita nggak takut dia jatuh, ‘kan?" jawab Damar sambil tersenyum nakal.“Ya udah ayo! Tapi sebentar aja, ya?”“Iya. Cuma 10 menit!”Akhirnya, Diana tak mampu menolak godaan suaminya. Ia berpamitan pada anak dan keponakannya untuk naik ke lantai atas sebentar.Sesampainya di kamar, Damar langsung menyerbu Diana tanpa peduli Sagara masih terjaga di dekat mereka."Eumh, Mas ...." Diana mendesah dan melenguh saat DamaSetelah Sagara perlahan menikmati beberapa potongan buah dan menelan obat-obatan dosis tinggi yang membuatnya kelelahan, pria itu akhirnya jatuh tertidur. Kelopak matanya terpejam lambat, meninggalkan Ara dalam kesunyian yang mencekam.Ara melangkah keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang terasa remuk.Di koridor, ia melihat Diana yang masih tampak cemas, serta ayahnya dan Damar yang sedang berdiri agak menjauh. Keduanya terlibat dalam percakapan serius. Gestur tubuh mereka tegang, dengan raut wajah yang kian keras.Dari kejauhan, Ara hanya bisa menangkap desas-desus suara mereka. Meski kata-katanya tidak terdengar jelas, nada bicara yang rendah dan penuh penekanan itu mengisyaratkan sebuah perdebatan besar yang sedang terjadi di antara kedua pria itu.Sementara itu, di sudut koridor yang lebih sepi, Damar dan Arnold sedang terjebak dalam percakapan yang menguras emosi. Arnold bersikeras agar putrinya tetap di Indonesia, melanjutkan kuliah, dan hanya mengunjungi Sagara seminggu se
Dalam hati, Sagara menjerit penuh luka, sebuah teriakan bisu yang hanya bergema di kepalanya sendiri. “Tinggalin gue yang lumpuh ini, Ra. Gue nggak berguna!” Ia tidak ingin Ara melihatnya sebagai pria yang tidak berdaya, sebagai sosok yang bahkan tidak bisa menghapus air matanya sendiri.Tak lama kemudian, perawat membawa Sagara ke ruang perawatan biasa. Sagara masih harus di-observasi lebih lanjut mengenai kesehatannya.Dan kini saat Sagara diperbolehkan makan, Ara masuk. Ia berinisiatif menyuapi Sagara.“Gar ….”Ara menyadari bahwa Sagara merespons ucapannya melalui linangan air mata itu. Kesadaran itu menghantamnya, membuatnya segera menyeka pipinya sendiri dengan kasar, bahkan mengusap ingus yang hampir meleleh keluar. Ia mencoba tegar, meski hatinya terasa hancur berkeping-keping.“Gar, maafin gue. Jangan ikut nangis, please. Gue … gue sedih karena gue yang nyebabin lo kaya gini. Sumpah, kalo tahu perawat itu punya niat jahat sama lo, gue gak akan ngebiarin dia deketin Lo sejen
“Dokter, bagaimana kondisi anak saya?” tanya Damar dengan nada yang menuntut kepastian. Beberapa anggota keluarganya juga turut mendekati dokter tersebut. Dari arah kedatangannya tadi, Ara dan kedua orang tuanya ikut mendekatinya. Mereka mengerumuni dokter berkacamata itu dengan perasaan was-was, sembari menunggu penjelasan lebih lanjut.“Syukurlah, Tuan Muda berhasil melewati fase kritisnya, Tuan Setyawan. Ini sebuah keajaiban karena kami pun tidak menyangka Tuan Muda akan sadar secepat ini. Kesadarannya telah pulih sepenuhnya, dia sudah bisa merespons suara dan mengenali orang di sekitarnya,” ujar Dokter Satria. Ia sempat terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar berat sebelum menatap rekannya, Dokter Rendy, seolah tatapan matanya menyiratkan untuk melanjutkan penjelasannya.Dokter Rendy mengerti, dia langsung menyambung, menjelaskan, “Tapi, seperti yang saya bilang di awal, … ada sesuatu yang harus Anda ketahui.”“Tapi apa, Dok? Jangan berbelit-belit!” sela Damar tak sabar, raha
“Apa? Kamu akan membawa putriku tinggal di Manhattan? Kamu … serius, Mar?” Mata Arnold dan Kim terbelalak tidak percaya pagi itu.Damar datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, ingin menemuinya dan membahas Ara beserta kelanjutan hubungannya dengan Sagara. Dan begitu Damar mengatakan segalanya, mereka berdua shock berat. Pasalnya, Damar bersikap seenaknya sendiri, tidak memberitahukan atau merundingkan rencana ini dengan mereka terlebih dahulu.Siapa yang tidak marah coba?Kim yang biasanya diam, kini ikut andil menanggapi ucapan Damar. Tentu bicara dengan kelembutan, seperti sikapnya selama ini. “Tuan Damar, tolong jangan mengambil keputusan sepihak. Kami selaku orang tuanya jelas tidak setuju dengan usulan Anda yang terkesan mendadak ini,” matanya lembut. Ia membasahi bibirnya sekilas, menatap suaminya, lalu kembali menatap mata Damar yang penuh ambisi. “Meski alasan yang Anda sebutkan terbilang masuk akal, tapi … berada di kota sebesar itu, sendirian, menunggu putra Anda, kami … t
Disambut oleh sang istri, Damar segera melepas coat hitam yang ia gunakan. Cuacanya cukup dingin malam ini sebab sebelum ia pulang tadi, mendadak memang hujan deras disertai gemuruh dan petir yang cukup kencang.“Mau balik lagi ke rumah sakit, Mas?”“Iya, tapi kamu di rumah aja, Yang. Gak usah ikut, nanti kamu sakit malah makin runyak.”“Baiklah.” Diana mengekor di belakang Damar. Ia membawa coat krem suaminya menuju keranjang kotor, meletakkannya dengan rapi lalu mengatakan, “Mandi dulu, Mas. Bau,” candanya.Damar tersenyum. Matanya menyipit saat ia mengusap kepala istrinya yang tak ditutupi hijab seperti biasanya. “Ya, … setelah ini kita bicara, ya.”“Em. Mau kuambilkan makanan di bawah, Mas? Pasti Mas lapar,” tawar Diana. Ia tahu, suaminya belum makan sama sekali. Ia hanya takut gerd Damar akan kambuh.Damar menolak, dia menggeleng tipis sambil berbalik badan di ambang pintu kamar mandi. Sebelah tangannya bersiap menekan handle pintu, tapi bibirnya mengucap, “Gak perlu, Yang. Tadi,
“Saya butuh kepastian, Dok!”Rendy menelan ludah, ia tahu siapa yang sedang ia hadapi. Lalu, ia menanggapi dengan tenang agar ucapan yang akan keluar dari bibirnya tidak menyinggung pria ini.“Saya tahu, Tuan Setyawan. Kepastian itu ada pada kedisiplinan terapinya nanti. Tuan Muda Sagara harus melakukan serangkaian terapi yang sangat berat. Bukan hanya fisik, tapi juga stimulasi saraf elektrik untuk memaksa otot-ototnya tetap hidup sementara sarafnya beregenerasi. Saya pastikan kalau beliau mengikuti terapi secara teratur, semangat sembuh, dan bisa bersabar, maka kesembuhan beliau akan lebih cepat.”“Baiklah,” potong Damar cepat. “Setelah dia siuman dan kondisinya stabil, apa saya bisa membawanya ke rumah sakit terbaik di New York? Saya mau putra saya mendapatkan perawatan terbaik—mengingat di sini ….”Damar tak melanjutkan ucapannya. Dia tahu, pria di hadapannya itu pasti mengerti tentang keresahannya. Lalu, ia sambung dengan suara yang lebih rendah, dan pelan agar tidak menyinggung







