LOGIN“Ah, Ra ... tubuh lo candu buat gue! Gue mau lo layanin gue paling gak seminggu sekali setelah ini!” gumam Sagara dengan suara yang sudah benar-benar pecah oleh gairah.
Dosa?Sagara sama sekali tidak peduli. Ia tidak ambil pusing dengan makian, amukan Damar, atau bahkan ancaman dari Arnold Haven sekalipun.Di dalam kepalanya yang mendidih, satu-satunya yang ia pedulikan hanyalah puncaknya sendiri yang sudah berada di ujung tanduk dan tidak mungkin bisa ditahan lebih lama lagi.“Sial banget! Milik Ara makin sempit ... dan gue masa kalah dalam tujuh menit?” batin Sagara merutuk.Sagara tak mau kegagahannya hanya sampai di situ saja. Ia menolak kalah oleh waktu yang singkat.Dengan sisa tenaga yang masih meluap-luap, ia kembali membolak-balikkan posisi Ara, mengeksplorasi setiap sudut tubuh gadis itu yang kini sudah sepenuhnya pasrah di bawah kuasanya.Menit demi menit berlalu, dihiasi oleh suara napas, suara peraduan kuDamar memijat pangkal hidungnya. Sangat kesal menghadapi Sagara yang tak tahu aturan itu. “Kalau dia gak mau, kamu mau apa? Jangan sok nekat gitu deh, Saga! Bunda gak mau kamu babak belur lagi karena obsesi gila kamu itu. Ngerti, gak?” tanya Diana dengan nada cemas sekaligus lelah. Sagara melepaskan selang oksigen yang melilit wajahnya. Dengan seringai tengil, ia menyahut santai, “Aku paksa dia berhubungan lagi, lalu aku pastiin dia hamil! Sesimpel itu, masa Bunda gak ngerti sih? Aku mau niru cara Ayah dan Bunda, kayaknya seru!” PLAK! Geplakan keras dari Damar mendarat tepat di kepala Sagara, membuat pemuda itu meringis dan nyaris tersedak. Pria paruh baya itu menatap putranya dengan urat leher yang menegang; ia benar-benar habis kesal melihat Sagara yang otaknya seolah hanya berisi urusan selangkangan. “Apa di otak kamu gak ada ide l
Arnold sengaja memancing Damar agar paham dengan kode yang ia maksudkan. Sebab sedari tadi, tidak ada pertanggungjawaban berupa uang yang ia idam-idamkan. “Kami rasa memang sudah seharusnya begitu agar semuanya jelas secara hukum dan agama. Kami paham maksud, Anda, Tuan Harven. Mohon izinkan mereka menikah,” timpal Diana dengan nada memohon. Arnold menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu menyilangkan kaki dengan gestur otoriter. “Baik. Begini saja, mari kita pikirkan jangka panjangnya. Mereka baru mengenal beberapa waktu belakangan dan jelas-jelas belum tentu cocok satu sama lain. Bagaimana kalau dipaksakan menikah, lalu lambat laun Sagara bosan dengan Ara?” Sebelum Damar mendebat argumennya, suara Arnold lebih dulu meninggi satu oktav. “Apa yang akan kalian lakukan sementara mungkin saja akan ada anak di antara mereka yang tentu akan menjadi korban perceraian? Apa kalian tidak berpikir sejauh itu? Kalian pasti tahu, di agama kami, hanya ada
Arnold tertawa lagi. Ia meremehkan optimisme Damar yang menurutnya tak berdasar. “Kenapa kamu begitu yakin? Putriku tidak mungkin serendah itu untuk memuja bajingan seperti anakmu!” “Karena kami telah berdiskusi semalam di telepon,” jawab Damar mantap. “Dan Ara setuju dengan pernikahan itu. Dia sendiri yang mengatakannya setelah kami menawarkan upaya negosiasi.” Wajah Arnold seketika menegang. Rasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri mulai membakar dadanya. Namun, ia kembali mengeraskan suaranya. “Jangan rebut Ara dari Tuhan-nya, Damar! Kamu tahu aku tidak akan pernah merelakan imannya ditukar dengan apa pun, apalagi hanya untuk menutupi kesalahan putra tengilmu itu!” “Aku tidak akan pernah merebutnya dari Tuhannya,” sahut Damar, kali ini suaranya mengandung penekanan yang membuat suasana semakin panas. “Tapi, Ara sendiri yang menyatakan bersedia menikahi Sagara dengan cara agama kami. Dia yang
“Apa? Menikah siri? Di agama mereka?! GAK BISA! Sekali Papi bilang nggak bisa ya tetap nggak bisa! Papi nggak sudi mempunyai mantu seperti Sagara sialan itu! Sudah kehormatannya dirusak, sekarang mereka mau mencuri Ara dari Tuhannya juga? Enak sekali mereka! Nggak, nggak! Itu semua nggak akan pernah terjadi selagi Papi masih hidup, Clayton! Lebih baik Sagara mati di tangan Papi daripada Ara harus sujud di depan Tuhan mereka!” “Pi, hanya ini satu-satunya cara agar Sagara mau tanggung jawab sama Ara!” ucap Clayton memelas, suaranya parau menahan desakan emosi di dada. Lagi pula, apa yang dikatakan oleh Damar dan Diana semalam di panggilan telepon ada benarnya juga. Sagara sudah pada tahap obsesi yang berbahaya. Clayton yakin, jika pernikahan ini tidak terjadi, Sagara tidak akan pernah mundur. Sebaliknya, tanpa ikatan yang mengikatnya, dia pasti akan semakin liar dan menjadi-jadi untuk mendapatkan Ara. Saat n
“Apaaa? Coba katakan lagi? Mami dan Papi gak salah dengar, ‘kan? Ara, Clayton, katakan kalau ini hanya prank!” “Gak, Pi, Mi. Kami gak bohong!” Suasana di kamar Ara seketika membeku. Kim menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya limbung hingga harus berpegangan pada pinggiran tempat tidur. Wajahnya pucat pasi, tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut putra sulungnya. Dengan tangan mengepal di samping tubuh, Arnold berdiri kaku. Matanya yang tajam kini membelalak, memancarkan kemarahan yang begitu besar hingga urat-urat di lehernya menegang. “Ulangi sekali lagi, Clayton. Katakan kalau pendengaran kami salah!” ujar Arnold dengan suara rendah penuh kekecewaan. “Kalian gak salah dengar. Ara dinodai Sagara, Pi,” ulang Clayton dengan suara bergetar, ia ketakutan Arnold akan menghajar Ara karena kecerobohannya itu. “Sagara bajingan itu merusak Ara. Semalam aku sudah menghajarny
“Karena udah kejadian, maka dari itu Bunda cabut semua fasilitas kamu! Mobil, credit card, ATM, motor, dan semuanya!” tegas Diana tanpa kompromi. Memukul Sagara hanya akan menambah luka fisiknya. Namun, mematikan sumber keuangannya adalah cara terbaik untuk melumpuhkannya. Dengan begitu, Sagara akan dipaksa belajar menghargai uang, kehormatan, dan cara menghargai orang lain. Sagara shock. “Hah? Kok gitu sih, Bun? Bunda gak kasihan sama aku? Aku—” “Gak!” putus Diana diplomatos. “Gak hanya itu, kamu harus nikahin Ara dalam waktu dekat! Ngerti, Sagara Arsenio Setyawan?” potong Diana dengan tatapan yang sangat dingin. Sagara membelalakkan matanya, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuhnya. Masih terkejut keuangannya dibatasi, kini ia dikejutkan dengan hal yang gak masuk akal lahi. “Apa? Nikahin dia? Bunda, aku masih 17 tahun! Masih SMA! Mana bisa aku nikahin—” “Nikahin atau Bunda cekik kamu sekarang! Salah siapa nidurin anak orang? Kamu mau pergi gitu aja setelah dapat enaknya?







