LOGIN“Ngomong-ngomong, Abang kok paham banget prosedur ginian? Abang pemain lama, ya? Sama kayak Sagara, predator ulung? Iya, ‘kan?”
“Gak!” “Alah, ngaku aja deh, Bang! Abang sering bawa cewek ke sini buat suntik anti hamil, iya, ‘kan? Hayo ngaku!” “Gak ada, Ra! Gue hanya tahu aja dari temen!” “Boong! Hayo, ngaku, gak! Abang suka celap celup sosis juga, ‘kan? Hayo, ngaku!” Pertanyaan itu membuat Clayton membeku sejenak. Ia terdiam dengan ekspresi yang sulit ditebak, sementara tangannya yang tadi mencengkeram lengan Ara perlahan melonggar. Ada kilatan rasa bersalah sekaligus canggung di matanya yang tajam, mengingat ia memang tidak jauh beda dengan Sagara. “Gak usah banyak tanya, deh! Fokus aja biar rahim lo tetap bersih dari bibir sialan itu!” sahut Clayton dingin, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil membuang muka ke arah meja administrasi. Kini, Ara h“Karena udah kejadian, maka dari itu Bunda cabut semua fasilitas kamu! Mobil, credit card, ATM, motor, dan semuanya!” tegas Diana tanpa kompromi. Memukul Sagara hanya akan menambah luka fisiknya. Namun, mematikan sumber keuangannya adalah cara terbaik untuk melumpuhkannya. Dengan begitu, Sagara akan dipaksa belajar menghargai uang, kehormatan, dan cara menghargai orang lain. Sagara shock. “Hah? Kok gitu sih, Bun? Bunda gak kasihan sama aku? Aku—” “Gak!” putus Diana diplomatos. “Gak hanya itu, kamu harus nikahin Ara dalam waktu dekat! Ngerti, Sagara Arsenio Setyawan?” potong Diana dengan tatapan yang sangat dingin. Sagara membelalakkan matanya, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuhnya. Masih terkejut keuangannya dibatasi, kini ia dikejutkan dengan hal yang gak masuk akal lahi. “Apa? Nikahin dia? Bunda, aku masih 17 tahun! Masih SMA! Mana bisa aku nikahin—” “Nikahin atau Bunda cekik kamu sekarang! Salah siapa nidurin anak orang? Kamu mau pergi gitu aja setelah dapat enaknya?
Baru saja Diana terpejam di sofa, suara erangan tertahan memecah keheningan ruangan. Sagara mulai siuman, wajahnya meringis menahan nyeri yang luar biasa di bagian dadanya. “Aaargh ...” Damar yang sejak tadi duduk terjaga di sebelah ranjang, langsung menoleh dengan sorot mata dingin. Ia membangunkan istrinya, “Yang, Sagara bangun, tuh.” Lalu, ia menyindir dengan nada sarkastis, “Ha, sudah bangun, Jagoan?” Sagara mengerjapkan matanya yang bengkak, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu rumah sakit yang sangat menyilaukan matanya. “A-ayah? Kenapa Ayah di sini?” tanyanya parau. Tidak hanya sakit, tapi juga takut. Ia takut Ayahnya akan membuatnya tambah babak belur. Namun, ia tetap di atas ranjang, tidak berusaha duduk. “Menurutmu?” sahut Damar pendek, sambil bersedekap dan berjalan mendekati putranya yang super bandel itu. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. Tapi, dia tahan agar tak makin meledak kuat. Usai mengabaikan tatapan sang ayah, pandangan Sagara yang kabur mulai
Clayton menunduk dan berkata, “Tuan Setyawan, saya minta maaf atas kejadian ini. Saya benar-benar kalap karena shock, putra Anda menodai adik saya. Karena itu, saya siap Anda laporkan ke pihak berwajib.” Damar menoleh pada Clayton, “Aku tidak akan melaporkanmu, tenang saja.” “Hah? Kenapa, Tuan? Saya bersalah. Saya—” “Karena Sagara pantas kamu perlakukan seperti itu,” potong Damar dengan suara penuh sesal. Ia amati lagi Ara yang begitu kacau. Kasihan, sedih, dan tak dapat membayangkan bagaimana Ara bisa setegar itu setelah dilec3hkan. “Dia ... sangat badung dan sulit diatur. Dia pantas mendapatkan pelajaran agar tidak berbuat seenaknya sendiri. Seharusnya, kamilah yang minta maaf pada keluarga kalian, terutama pada Ara yang telah dirusak masa depannya oleh anak nakal itu.” Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti koridor rumah sakit itu. Tak ada lagi kata-kata yang keluar. Diana terus terisak dalam diam, wanita beranak tiga itu takut putranya meninggal. Meski Sagara
“B–benarkah? Kalian tidak bercanda, ‘kan? Ah, baik. Ya, aku usahakan. Iya!” Clayton mematung, ponselnya masih menempel di telinga sementara napasnya memburu. Berita bahwa Sagara dalam kondisi kritis dan harus segera dioperasi karena tulang rusuknya patah, membuatnya ketakutan setengah mampus. Amarah yang tadi menyala kini bercampur dengan kepanikan yang tak bisa ia sembunyikan. “Sial!” umpat Clayton, ia memukul dinding klinik dengan tangan kirinya hingga beberapa orang di sana menoleh kaget. Ia melirik Ara yang duduk lemas di sampingnya. Pikirannya beradu antara rasa muak dan kesal. “Ada apa, Bang?” tanya Ara dengan suara parau, ia bisa merasakan hal yang serius hanya dengan melihat wajah kakaknya. Clayton tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. “Gara kritis. Dia di Rumah Sakit
“Apa pencegahan ini efektif 100%, Dok?” tanya Clayton dengan suara sedikit menekan. Ia khawatir, dosis yang akan diberikan kurang, sehingga tidak bisa mencegah apa yang seharusnya tidak terjadi. “Saya nggak mau ada celah sedikit pun. Saya mau jaminan kalau nggak akan ada ‘masalah’ yang tumbuh di rahim adik saya.” Dokter itu menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Clayton dengan ekspresi tenang namun jujur. “Dalam dunia medis, tidak ada yang benar-benar 100% sempurna, Sir,” awab dokter itu dengan hati-hati. “Namun, karena tindakan ini dilakukan sangat cepat—kurang dari empat jam setelah kejadian—tingkat keberhasilannya bisa mencapai 95 hingga 99 persen. Ini adalah prosedur paling efektif yang bisa kita lakukan dalam masa jendela darurat.” Mendengar angka yang tidak mencapai angka sempurna itu, rahang Clayton mengeras. 1 persen kemungkinan gagal baginya adalah ancaman besar. “Baik, Dok. Tapi, saya tetap m
“Ngomong-ngomong, Abang kok paham banget prosedur ginian? Abang pemain lama, ya? Sama kayak Sagara, predator ulung? Iya, ‘kan?” “Gak!” “Alah, ngaku aja deh, Bang! Abang sering bawa cewek ke sini buat suntik anti hamil, iya, ‘kan? Hayo ngaku!” “Gak ada, Ra! Gue hanya tahu aja dari temen!” “Boong! Hayo, ngaku, gak! Abang suka celap celup sosis juga, ‘kan? Hayo, ngaku!” Pertanyaan itu membuat Clayton membeku sejenak. Ia terdiam dengan ekspresi yang sulit ditebak, sementara tangannya yang tadi mencengkeram lengan Ara perlahan melonggar. Ada kilatan rasa bersalah sekaligus canggung di matanya yang tajam, mengingat ia memang tidak jauh beda dengan Sagara. “Gak usah banyak tanya, deh! Fokus aja biar rahim lo tetap bersih dari bibir sialan itu!” sahut Clayton dingin, mencoba mengalihkan pembicaraan sambil membuang muka ke arah meja administrasi. Kini, Ara h







