Home / Romansa / ENAK, PAK DOSEN! / 502. Santap Malam ... Enak

Share

502. Santap Malam ... Enak

Author: OTHOR CENTIL
last update Last Updated: 2026-01-13 19:56:50

Damar melangkah kembali ke area tunggu bersama Arnold, menghampiri Diana, Kim So Ra, dan Ara. Begitu ia sampai, Kim berpamitan padanya dan Diana.

“Oh iya, Tuan Setyawan ... kami pamit pulang dulu,” ucap Kim sambil mendekat dan menggandeng lengan Arnold. Ia melirik putrinya sejenak sebelum melanjutkan, “Ara katanya mau tinggal di sini, dia mau menginap menemani Sagara.”

Damar mengangguk singkat, wajahnya kembali datar dan berwibawa di hadapan calon besannya. Dia tetap menanggapi dengan ramah meski sebelumnya ia dan keluarganya diremehkan oleh dua orang tersebut.

“Baiklah. Akan kupastikan Ara aman di sini, Nyonya Harven.”

“Kami pergi dulu, Mar,” sahut Arnold sambil menepuk bahu calon besannya itu. “Titip Ara, ya.”

“Hm. Hati-hati, jalanan licin.”

“Oke, Mar. Sampaikan salamku pada Gara, ya.”

“Sip.”

Setelah pasangan itu menghilang di balik pintu lift, Damar memberikan ruang bagi Ara untuk kembali masuk ke dalam ruang perawatan Sagara. Ia membiarkan gadis itu menjaga putranya, sementara ia
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ENAK, PAK DOSEN!   502. Santap Malam ... Enak

    Damar melangkah kembali ke area tunggu bersama Arnold, menghampiri Diana, Kim So Ra, dan Ara. Begitu ia sampai, Kim berpamitan padanya dan Diana.“Oh iya, Tuan Setyawan ... kami pamit pulang dulu,” ucap Kim sambil mendekat dan menggandeng lengan Arnold. Ia melirik putrinya sejenak sebelum melanjutkan, “Ara katanya mau tinggal di sini, dia mau menginap menemani Sagara.”Damar mengangguk singkat, wajahnya kembali datar dan berwibawa di hadapan calon besannya. Dia tetap menanggapi dengan ramah meski sebelumnya ia dan keluarganya diremehkan oleh dua orang tersebut.“Baiklah. Akan kupastikan Ara aman di sini, Nyonya Harven.”“Kami pergi dulu, Mar,” sahut Arnold sambil menepuk bahu calon besannya itu. “Titip Ara, ya.”“Hm. Hati-hati, jalanan licin.”“Oke, Mar. Sampaikan salamku pada Gara, ya.”“Sip.”Setelah pasangan itu menghilang di balik pintu lift, Damar memberikan ruang bagi Ara untuk kembali masuk ke dalam ruang perawatan Sagara. Ia membiarkan gadis itu menjaga putranya, sementara ia

  • ENAK, PAK DOSEN!   501. Tidak Ada Tempat Untuk Sembunyi

    “Hm.” Damar menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kekuasaan. Ia melirik Arnold sinis. “Di dunia ini, apa yang tidak bisa dilakukan dengan koneksi yang tepat?”Arnold memutar bola matanya malas mendengar ucapan Damar yang begitu angkuh. Meski dalam hati ia mengakui kekuatan koneksi calon besannya itu, sifat pamer Damar selalu berhasil menyulut harga dirinya. Namun, Arnold memilih untuk tidak mendebat lebih jauh. Baginya, keselamatan Sagara dan masa depan Ara jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan adu mulut tentang siapa yang lebih berkuasa.“Terserah kamu saja, Mar. Yang penting anak-anak selamat sampai di sana,” gerutu Arnold sambil melipat tangannya di dada.Usai keduanya bersepakat, Damar segera merogoh saku jasnya, mengambil ponsel dengan gerakan yang efisien dan penuh percaya diri. Ia mencari sebuah nama di daftar kontaknya, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga.“Halo, selamat siang, Pak Dekan. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda,” sapa Damar. Suaranya berubah

  • ENAK, PAK DOSEN!   500. Potensi dan Koneksi Tepat

    Setelah Sagara perlahan menikmati beberapa potongan buah dan menelan obat-obatan dosis tinggi yang membuatnya kelelahan, pria itu akhirnya jatuh tertidur. Kelopak matanya terpejam lambat, meninggalkan Ara dalam kesunyian yang mencekam.Ara melangkah keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang terasa remuk.Di koridor, ia melihat Diana yang masih tampak cemas, serta ayahnya dan Damar yang sedang berdiri agak menjauh. Keduanya terlibat dalam percakapan serius. Gestur tubuh mereka tegang, dengan raut wajah yang kian keras.Dari kejauhan, Ara hanya bisa menangkap desas-desus suara mereka. Meski kata-katanya tidak terdengar jelas, nada bicara yang rendah dan penuh penekanan itu mengisyaratkan sebuah perdebatan besar yang sedang terjadi di antara kedua pria itu.Sementara itu, di sudut koridor yang lebih sepi, Damar dan Arnold sedang terjebak dalam percakapan yang menguras emosi. Arnold bersikeras agar putrinya tetap di Indonesia, melanjutkan kuliah, dan hanya mengunjungi Sagara seminggu se

  • ENAK, PAK DOSEN!   499. GWS! Nanti Enak-enak Lagi

    Dalam hati, Sagara menjerit penuh luka, sebuah teriakan bisu yang hanya bergema di kepalanya sendiri. “Tinggalin gue yang lumpuh ini, Ra. Gue nggak berguna!” Ia tidak ingin Ara melihatnya sebagai pria yang tidak berdaya, sebagai sosok yang bahkan tidak bisa menghapus air matanya sendiri.Tak lama kemudian, perawat membawa Sagara ke ruang perawatan biasa. Sagara masih harus di-observasi lebih lanjut mengenai kesehatannya.Dan kini saat Sagara diperbolehkan makan, Ara masuk. Ia berinisiatif menyuapi Sagara.“Gar ….”Ara menyadari bahwa Sagara merespons ucapannya melalui linangan air mata itu. Kesadaran itu menghantamnya, membuatnya segera menyeka pipinya sendiri dengan kasar, bahkan mengusap ingus yang hampir meleleh keluar. Ia mencoba tegar, meski hatinya terasa hancur berkeping-keping.“Gar, maafin gue. Jangan ikut nangis, please. Gue … gue sedih karena gue yang nyebabin lo kaya gini. Sumpah, kalo tahu perawat itu punya niat jahat sama lo, gue gak akan ngebiarin dia deketin Lo sejen

  • ENAK, PAK DOSEN!   498. Insecure

    “Dokter, bagaimana kondisi anak saya?” tanya Damar dengan nada yang menuntut kepastian. Beberapa anggota keluarganya juga turut mendekati dokter tersebut. Dari arah kedatangannya tadi, Ara dan kedua orang tuanya ikut mendekatinya. Mereka mengerumuni dokter berkacamata itu dengan perasaan was-was, sembari menunggu penjelasan lebih lanjut.“Syukurlah, Tuan Muda berhasil melewati fase kritisnya, Tuan Setyawan. Ini sebuah keajaiban karena kami pun tidak menyangka Tuan Muda akan sadar secepat ini. Kesadarannya telah pulih sepenuhnya, dia sudah bisa merespons suara dan mengenali orang di sekitarnya,” ujar Dokter Satria. Ia sempat terdiam sejenak, helaan napasnya terdengar berat sebelum menatap rekannya, Dokter Rendy, seolah tatapan matanya menyiratkan untuk melanjutkan penjelasannya.Dokter Rendy mengerti, dia langsung menyambung, menjelaskan, “Tapi, seperti yang saya bilang di awal, … ada sesuatu yang harus Anda ketahui.”“Tapi apa, Dok? Jangan berbelit-belit!” sela Damar tak sabar, raha

  • ENAK, PAK DOSEN!   497. Sadar

    “Apa? Kamu akan membawa putriku tinggal di Manhattan? Kamu … serius, Mar?” Mata Arnold dan Kim terbelalak tidak percaya pagi itu.Damar datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, ingin menemuinya dan membahas Ara beserta kelanjutan hubungannya dengan Sagara. Dan begitu Damar mengatakan segalanya, mereka berdua shock berat. Pasalnya, Damar bersikap seenaknya sendiri, tidak memberitahukan atau merundingkan rencana ini dengan mereka terlebih dahulu.Siapa yang tidak marah coba?Kim yang biasanya diam, kini ikut andil menanggapi ucapan Damar. Tentu bicara dengan kelembutan, seperti sikapnya selama ini. “Tuan Damar, tolong jangan mengambil keputusan sepihak. Kami selaku orang tuanya jelas tidak setuju dengan usulan Anda yang terkesan mendadak ini,” matanya lembut. Ia membasahi bibirnya sekilas, menatap suaminya, lalu kembali menatap mata Damar yang penuh ambisi. “Meski alasan yang Anda sebutkan terbilang masuk akal, tapi … berada di kota sebesar itu, sendirian, menunggu putra Anda, kami … t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status