LOGINSinar matahari yang mulai mengintip dari balik tirai jendela apartemennya menyelinap masuk, perlahan-lahan membelai wajah Emily yang masih terlelap. Cahaya hangat itu menyeruak di antara lipatan selimutnya, membangunkannya dari tidur nyenyak yang terasa begitu singkat. Dengan mata yang masih berat, ia menoleh ke arah jam dinding.
Pukul 11 siang. Berapa lama aku tidur? batinnya.
Pikiran pertamanya melayang ke momen sebelum ia tertidur—pillow talk yang begitu intim dengan Liam, dalam dekapan hangatnya, hingga mereka berdua terlelap. Ada banyak yang perlu mereka bicarakan setelah pesta semalam, terutama soal kelanjutan hubungan mereka. Namun, saat matanya terbuka, ranjang di sebelahnya kosong.
Tidak ada Liam.
Jantungnya berdebar. Tangannya meraba meja di samping tempat tidur, mencari ponselnya. Namun, sebelum ia menemukannya, matanya justru menangkap secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang begitu dikenalnya.
Emily. Maaf aku pergi tanpa sempat berpamitan. Aku mendapat tugas pertamaku di kantor. Hubungi aku saat kau sudah bangun.
-XoXo, Liam.
Emily menatap surat itu lama, sebelum akhirnya mengingat kembali pembicaraan mereka semalam. Hari ini adalah hari pertama Liam sebagai wakil direktur Harris Corporation. Setelah berbulan-bulan belajar mengemban tanggung jawab sebagai manajer utama, akhirnya ayahnya —sang direktur utama—mengangkatnya ke posisi yang lebih tinggi. Namun, bukan hanya itu yang mereka bicarakan.
Liam ingin membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih serius.
Bertunangan.
Emily ingin merasa bahagia. Harusnya ia senang, bukan? Tapi jauh di lubuk hatinya, ada keraguan yang enggan sirna. Hubungan mereka baru berjalan enam bulan bahkan usia mereka terpaut 5 tahun. Apa Liam benar-benar mengenalnya? Apa ia benar-benar mengenal Liam? Ada banyak sisi dirinya yang belum Liam ketahui, termasuk kekanak-kanakan yang sering muncul tanpa sadar.
Dengan helaan napas panjang, Emily mengambil ponselnya, mulai mengetik pesan untuk Liam. Namun pikirannya kembali mengembara ke kejadian semalam. Ada sesuatu yang mengganggunya. Badannya terasa pegal, seolah baru saja melewati malam yang panjang.
Emily menurunkan pandangannya ke tubuhnya sendiri. Mata hijaunya membelalak. Apa yang Liam lakukan semalam?
Kilatan ingatan kembali—tatapan penuh gairah, desahan pelan di telinganya, sentuhan jemari yang menjelajahi setiap inci kulitnya.
Wajahnya seketika memanas. Dengan cepat, ia meraih handuk dan berjalan ke kamar mandi. Setibanya di depan cermin, ia menatap pantulannya. Oh God! Ruam kemerahan memenuhi leher dan bahunya. Seberapa mabuk dirinya semalam hingga hanya mengingat sebagian kecil dari kejadian itu?
Emily mengembuskan napas berat.
Concealer. Aku butuh concealer dalam jumlah banyak.
Bukan marah, lebih tepatnya... tersipu. Liam selalu berhasil membuatnya merasa diinginkan. Bahkan di tengah jarak dan kesibukan, kata-kata manisnya selalu menyelinap dalam setiap pesan. Dan sekarang, setelah semalam... Emily tidak bisa menahan perasaan aneh yang menghangatkan dadanya. Jantungnya berdebar. Liam benar-benar memujanya, dalam segala cara.
Ia merindukannya. Dengan Liam? Segalanya terasa berbeda.
Tanpa sadar, waktu berlalu. Dan sebelum ia benar-benar hanyut dalam pikirannya sendiri, kenyataan menamparnya—
Hari ini hari pertama semester baru.
“Oh, sial.”
Emily buru-buru melangkah ke kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan air dingin sebelum bergegas bersiap. Ini semester terakhirnya di California Institute of the Arts.
Panas terik menyengat kulitnya saat ia tiba di terminal bus. Musim panas masih menggenggam California, meskipun kalender sudah menunjukkan bulan Februari. Emily mengusap keringat di pelipisnya. Kelasnya dimulai pukul satu, dan biasanya, perjalanan ke kampus memakan waktu dua puluh menit.
Cukup, Emily. Fokus.
***
Dengan langkah yang hampir otomatis, Emily tiba-tiba sudah berada di terminal bus, bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju kampus. Meski Februari masih berlangsung, matahari California tetap bersinar dengan teriknya, seolah musim panas enggan melepas cengkeramannya. Butiran keringat mulai membasahi pelipisnya, namun hari ini hal itu tidak cukup untuk mengusik konsentrasinya. Bagaimanapun, ini adalah hari pertama semester terakhirnya—sebuah awal yang tak hanya menandai akhir masa kuliahnya, tetapi juga permulaan dari sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dengan napas terengah-engah, Emily akhirnya berhasil mencapai pintu kelas tepat pada waktunya. Wajahnya yang memerah dan masih basah oleh keringat menjadi saksi bisu dari pagi yang kacau balau: bus yang tiba-tiba mogok, taksi yang penuh hingga nyaris tidak bisa bernapas, dan perjuangan melawan waktu yang hampir membuatnya terlambat pada hari yang sangat penting ini.
Dengan cepat, ia menduduki bangku di antara dua sahabatnya, Erik dan Maggie.
"Where have you been? Kamu hampir telat, Em!" seru Maggie.
"I know. It’s so crowded out there." Emily mengeluarkan notebooknya dengan wajah kesal.
"Dengar, Em." Erik menyenggol bahunya. "Hari ini kita kedatangan dosen baru. Aku dengar dia lulusan arsitektur dari UCLA."
"Dan biarkan aku tebak," Emily menatap Erik dengan senyum menggoda. "Kau sudah merancang rencana untuk menggoda dia, kan?"
Mereka tertawa, namun tawa itu mendadak terhenti saat suara Ms. Huang mengisi ruangan.
"Class, hari ini saya ingin memperkenalkan seseorang. Untuk perkuliahan kelas Desain dan Komposisi kali ini, kalian akan dipandu oleh Mr. Morrow."
Nama itu menghantam Emily seperti petir di siang bolong. Morrow? Apakah itu Lucas Morrow? Tidak mungkin. Ada banyak Morrow di dunia ini, kan? Namun sebelum pikirannya selesai merangkai kemungkinan lain, dua kaki panjang melangkah memasuki kelas.
Celana jeans hitam. Kemeja putih dengan dua kancing terbuka. Aura percaya diri yang memancar dari posturnya.
Dan saat pria itu mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu.
Oh, sial.
That’s brown eyes! Mata yang sama seperti semalam.
***
"Kau sudah tahu namaku bahkan sebelum aku menyebutkannya," suaranya terdengar tajam, penuh percaya diri. Emily menatapnya, menahan tawa getir. Dia adalah pria paling narsis yang pernah Emily temui.
"Dan kau tahu apa yang membuatmu terkenal?" Emily menyilangkan tangan di dadanya.
Lucas tersenyum miring. "Kepintaranku? Ketampananku? Atau kombinasi keduanya?"
Emily mendesah. "Ironis sekali, bahkan saudara perempuanmu sendiri menyebutmu sebagai playboy nomor satu di keluargamu. Dengan sikap seperti ini, kupikir dia tidak salah."
Lucas menyeringai, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. "Playboy, ya? Berarti aku boleh menggoda kekasih sepupuku juga, bukan?"
Emily terperangah. Demi Tuhan! Apa dia sudah gila? Bagaimana bisa seseorang berpikiran seperti ini? Tapi sebelum Emily bisa bereaksi, suara lain menyela mereka.
“Cukup, Lucas! Mau sejauh apa kau menggoda Emily? Sampai dia jijik padamu?”
Emily menoleh dan mendapati seorang wanita berdiri dengan tangan bertolak pinggang. Renata.
“Tidak semua wanita bisa luluh oleh wajah tampanmu itu,” lanjutnya, suaranya penuh kejengkelan.
Lucas menoleh dengan senyum santai. "Sist, kenapa kau selalu marah-marah setiap bertemu denganku? Bukankah ini pertama kalinya kita bertemu lagi setelah aku pulang dari UCLA? Tidak rindukah kau pada adikmu satu-satunya?"
Renata mendengus. "Bahkan dalam pertemuan pertama ini pun kau tetap menyebalkan. Dan aku bersyukur kau jauh dari rumah, mengurangi darah tinggiku."
Mereka terus berdebat, dan sebelum Renata masuk ke toilet, Lucas menatap Emily sekali lagi dan mengatakan suatu hal yang Emily tidak mengerti.
"Sepertinya kau butuh istirahat, Ms. Mitchell. Kau terlihat cukup lelah. Sampai jumpa esok."
Untuk apa besok, mereka bertemu?
***
Dan sekarang, semuanya masuk akal.
Emily baru tersadar alasan Lucas menggodanya semalam. Karena mulai hari ini, ia akan tunduk terhadap segala perkataan Lucas. Pria itu memiliki kewenangan atas nilai akhirnya. Bagaimana bisa pria itu berdiri didepan sana? Bukankah dia lebih cocok menjadi pria urakan daripada menjadi asisten dosen? Lihat saja rupanya itu!
"Fuck!" teriak Emily, menyadari kekacauan yang baru saja menimpanya.
“Is anything wrong, Ms. Mitchell? Apakah Anda baru saja mengumpat di kelas?” tegur Ms. Huang.
Emily langsung tersentak. Eric dan Maggie menoleh ke arahnya dengan khawatir.
"I’m so sorry, Ms. Huang. Semuanya baik-baik saja. Tapi, Ms. Huang, apakah Anda masih akan mengajar kelas ini?" tanyanya penuh harap.
"Mungkin sekitar 90%, Mr. Morrow yang akan bertanggung jawab penuh.” Jawaban Ms. Huang membuat sirna seluruh harapan Emily untuk semester ini. Lucas menyandarkan diri ke meja di depan kelas, menatap setiap mahasiswa dengan tatapan tajam.
"Saya berharap kalian bisa proaktif di kelas ini. Dan saya tidak menoleransi kedunguan—terutama mengumpat di kelas atau bertindak seperti… orang bodoh."
Mata coklat terang itu menatap lurus ke arah Emily, senyum sinis tersungging di bibirnya.
Oh tidak.
Emily menutup wajahnya dengan tangan.
Sial. Emily benar-benar masuk ke dalam permainan Lucas.
Sore itu, Emily duduk di bangku café yang menghadap langsung ke trotoar, menyeruput pelan kopinya yang sudah mulai mendingin. Ia sengaja memilih tempat duduk di area terbuka, membiarkan tubuhnya diselimuti sinar matahari yang perlahan turun menuju golden hour. Cahaya keemasan menyapu wajahnya, menciptakan bayangan lembut di pipi dan garis rahangnya. Jemarinya memainkan pinggiran cangkir, berputar-putar tanpa tujuan jelas, seolah mencari ritme untuk menenangkan pikirannya yang sejak tadi tak henti bergerak.Di seberangnya, Sam memperhatikannya dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Sejak mereka meninggalkan ballroom tadi, Emily terlihat berbeda—lebih pendiam, lebih sering melamun, seakan sebagian dirinya tertinggal di sana… “So,” Sam akhirnya membuka suara, menyandarkan sikunya di meja, “how do you know him? You must tell me.”Emily melirik sekilas, lalu menunduk kembali pada kopinya. Senyum kecil muncul di bibirnya—bukan senyum bahagia, melainkan sesuatu yang pahit sekaligus hangat
“You first,” kata Liam, masih dengan suara lembut khasnya.Emily tersenyum, sedikit tak percaya. “Bagaimana bisa kamu ada di sini?”Liam menggaruk tengkuknya pelan. “Hmm.. Perusahaanku salah satu pendiri yayasan ini, aku mewakili perusahaanku.”Emily mengangguk cepat, merasa bodoh karena sempat lupa siapa Liam sebenarnya. “Tentu saja… aku bahkan tidak perlu bertanya soal itu.”“What about you?” tanya Liam, suaranya tenang seperti lima tahun yang lalu. “Apa yang membawamu ke sini?”“Aku menyumbangkan salah satu lukisanku untuk acara lelang nanti.”“Oh, jadi inisial EGM itu benar-benar milikmu?” Matanya sedikit membulat. “Pantas saja rasanya familiar.”Emily tersenyum lebih lebar sekarang. “Kamu melihatnya?”Liam mengangguk singkat, lalu mereka saling memandang. Ada keheningan di antara mereka, bukan karena canggung, tapi karena terlalu banyak yang ingin diucapkan dan terlalu sedikit waktu.“Bagaimana kabarmu?” tanya Emily pelan. “Astaga… aku masih tidak percaya kita bisa bertemu lagi.
Pagi itu, Emily menembus jalanan kota Chicago dengan sedan biru milik Lucas. Pria itu memang memberinya kebebasan memilih mobil apa pun di basement, dan setelah menimbang satu per satu, hanya mobil ini yang terasa cukup… normal. Sisanya? Astaga—Lucas benar-benar punya obsesi berlebihan pada mobil sport dan off-road yang mencolok. Jauh dari gaya Emily yang lebih menyukai sesuatu yang sederhana dan tidak menarik perhatian.Chicago tampak ramai pagi ini. Mungkin karena akhir pekan. Jalanan dipenuhi mobil, pejalan kaki, dan klakson yang bersahut-sahutan. Tapi bukan itu yang membuat pikirannya kacau.Yang terus berputar di kepalanya justru—What the hell was I thinking?Bagaimana bisa ia sampai mengira Lucas menginginkan mereka… tidur bersama? Tuhan. Kenapa otaknya bisa semesum itu setiap kali berada di dekat pria itu? Dan yang lebih menyebalkan—kenapa Lucas harus memvalidasi pikirannya dengan senyum licik dan kalimat ambigu yang nyaris menggoda? Sekarang ia harus menyembunyikan wajahnya di
Lucas berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sial. Bukan begini seharusnya malam ini berakhir. Bukan dengan kesalahpahaman lagi. Bukan dengan Emily yang kembali menjauh.Dia ingin menjelaskan semuanya. Tentang siapa dirinya. Tentang apa yang selama ini dia rasakan.Lucas mengacak rambutnya yang masih setengah basah, frustrasi. Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia melangkah keluar—menuju kamar Emily. Jantungnya berdegup kencang. Keberanian yang tadi dikumpulkannya pelan-pelan menguap begitu saja saat ia tiba di depan pintu kamar itu.Ia menarik napas dalam-dalam. Dia harus melakukannya. Dia tidak bisa lagi pura-pura baik-baik saja. Lima hari tanpa Emily sudah cukup menyiksanya. Dia merasa gila. Merana. Dan setelah apa yang terjadi siang tadi—setelah Emily menciumnya—apakah dia akan mampu bertahan kalau gadis itu mengabaikannya lagi?Lucas mengangkat tangannya, bersiap mengetuk. Tapi sebelum jarinya sempat menyentuh pintu, daun pintu itu terbuka pelan. Emily berdiri di sana, mengucek ke
Deru mesin mobil berpadu dengan irama rintik hujan yang membasahi jalanan kota Chicago malam itu. Lucas menepati janjinya—ia benar-benar menjemput Emily dan Alex malam ini, seperti yang ia ucapkan siang tadi.Namun suasana di dalam mobil terasa terlalu senyap. Alex sudah tertidur di kursi belakang, dan entah mengapa, atmosfer di antara Emily dan Lucas dipenuhi keheningan yang canggung. Tak ada percakapan, hanya pikiran masing-masing yang sibuk memutar tanya.Apa sebenarnya hubungan mereka sekarang? Apakah wajar, atau bahkan mungkin, untuk memulai sesuatu yang dulu bahkan belum sempat benar-benar dimulai? Lucas menyimpan seribu pertanyaan dalam benaknya, sementara Emily hanya diam, menatap lampu-lampu kota yang memantul di kaca jendela.Hingga akhirnya, Lucas memecah keheningan.“Kamu sudah makan malam, Em?”Emily sedikit terkejut, lalu mengangguk pelan. “Sudah.”Lucas mengangguk kecil. “Oke. Aku pikir kalian belum makan… mungkin aku akan pesan makanan setelah sampai dirumah.”Emily be
“Tempat pensil? Check. Botol minum? Check. Snack? Check. Oke, Alex, sepertinya tasmu sudah lengkap,” ucap Emily sambil memeriksa isi tas putranya satu per satu. Nadanya lembut, penuh perhatian.Alex hanya mengangguk kecil, tanda setuju. Ia baru saja hendak berbalik menghampiri Anna yang sudah menunggu, ketika Emily tiba-tiba menarik lengannya pelan.“Kau melupakan sesuatu,” ujar Emily, matanya menatap Alex penuh makna.Anak itu terkekeh kecil. “I’m sorry, Mom. Aku lupa,” ucapnya cepat, lalu mengecup dahi Emily, diikuti ciuman di pipi kanan dan kiri ibunya. Senyum Emily langsung merekah lebar. Ia berdiri dari posisi berlututnya, menatap kepergian Alex ke playground dengan perasaan hangat yang tak bisa dijelaskan.Hari ini adalah hari kelima. Lima hari sejak Lucas terakhir kali mengantar dan menjemput Alex. Lima hari juga sejak pria itu bahkan tidak mengirim satu pesan pun—tak ada kabar, tak ada penjelasan. Kosong. Emily mencoba bertahan dengan prinsipnya. Ia menolak meladeni sikap keka







