MasukEmily merasa marah.
Tidak, lebih dari itu—murka. Rasanya ia ingin meninju wajah Lucas saat ini juga. Seakan mempermalukannya di depan kelas belum cukup, pria itu terus-menerus mengabaikan setiap pertanyaan yang ia ajukan di pertemuan selanjutnya bahkan hari ini. Sejak kapan seorang dosen bersikap seperti itu? Ya, mereka memang hanya terpaut enam tahun, tapi Lucas sama sekali tidak menunjukkan kedewasaan. Bahkan sedikit pun tidak.
Hari ini baru awal tahun, tetapi rentetan kejadian buruk seolah menempel padanya seperti kutukan. Dan entah bagaimana, setiap peristiwa sial yang terjadi selalu melibatkan satu orang—Lucas Morrow. Apa pria itu sengaja mengacaukan semester akhirnya? Atau ini hanya kebetulan yang menyebalkan?
Emily mengembuskan napas tajam. Dia butuh pelampiasan.
Liam.
Ya, hanya Liam yang bisa membuatnya merasa lebih baik sekarang. Tangannya meraih ponsel dengan gerakan cepat, lalu mengetik pesan tanpa berpikir panjang.
Emily: Babe, where are you? I need you right now ☹️
Liam: Hey, aku baru saja selesai meeting. What just happened?Emily: My day is a disaster. I need to talk to you ☹️ Can we meet?Liam: Of course. Kau ingin aku menjemputmu? Atau kita langsung bertemu di apartemenku?Emily: Aku menuju apartemenmu sekarang.Tanpa membuang waktu, Emily melompat ke tepi jalan dan menghentikan taksi.
Langit di atasnya cerah, tetapi hatinya penuh badai. Ditambah lagi, perutnya kosong sejak pagi karena harus menyelesaikan deadline tugas. Dan siapa yang memberikan tugas itu? Tentu saja Lucas.
Emily menggigit bibirnya, menahan frustrasi. Jika supir taksi bisa membaca pikirannya, ia pasti sudah menancap gas sejak tadi.
Saat akhirnya taksi berhenti di depan apartemen Liam, Emily nyaris berlari. Ia melesat menuju lift, menekan tombol lantai 15, dan begitu pintu lift terbuka, kakinya dengan cepat menuju unit 1501. Jemarinya dengan cekatan memasukkan kode pintu.
Beep.
Pintu terbuka, dan tanpa basa-basi, Emily melangkah masuk.
"Liam! Kamu di mana?" serunya.
"Di dapur, Em! Kemarilah."
Emily melepas sepatu dengan terburu-buru, hampir tersandung karena terlalu cepat melangkah. Dia tidak peduli. Dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya.
"Kau harus tahu apa yang terjadi hari ini. Hari ini bahkan lebih buruk dari minggu lalu! Bajingan itu—"
Emily berhenti.
Tepat di depannya, di dapur, berdiri seseorang yang seharusnya tidak ada di sini.
Lucas.
Seolah semesta sedang bercanda dengannya. Seolah takdir sengaja mengatur agar setiap sudut dunia yang ia tempati berisi Lucas Morrow.
“Hai Em, sepertinya kau sedang kesal hari ini” sapa Lucas dengan nada mengejek sambil menatap Emily.
Emily membeku di tempatnya, menatap Liam dengan ekspresi yang jelas bertanya: Apa-apaan ini?
Namun, bukannya melontarkan protes, ia malah menarik napas panjang, mencoba mencari sisa-sisa kesabaran yang nyaris habis.
"Aku akan ke atas. Selesaikan dulu pembicaraan kalian," katanya datar. Itu satu-satunya hal yang bisa ia ucapkan saat ini.
Sebenarnya, otaknya memerintahkan tangannya untuk memukul kepala Liam sekarang juga, tetapi yang ia lakukan hanyalah berbalik dan menaiki tangga menuju kamar Liam di lantai atas. Begitu Emily menghilang dari pandangan, Lucas bersandar di meja dapur, menatap Liam dengan senyum mengejek.
"Kupikir kau harus mengejarnya, Liam. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini."
Liam mendesah, meremas tengkuknya. "Aku juga berpikir begitu. Tapi entah kenapa, firasatku buruk."
Lucas tertawa kecil, mengangkat alisnya. "Apa kubilang? Bukankah lebih menyenangkan kalau kita hanya bermain satu malam? Tidak perlu repot-repot berkomitmen seperti ini."
Liam hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh ringan, “Kau akan merasakannya saat kau jatuh cinta dengan seseorang Luke. Lihat saja, aku bertaruh kau akan merasakan kesengsaraan ini”
---
"Em, are you okay?"
Sesampainya di lantai atas, Liam menemukan Emily duduk di tepi sofa, menatap kosong ke luar jendela. Punggungnya tegang, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuannya, seolah mencoba menahan sesuatu yang ingin meledak.
Perlahan, Liam melangkah mendekat, tangannya terulur untuk menyentuh pundak Emily—tetapi sebelum ia sempat melakukannya, gadis itu menoleh. Tatapannya dingin, tapi di baliknya, ada kelelahan yang begitu dalam.
Sungguh, aku masih harus menjelaskan semuanya?
Liam mendesah, lalu duduk di sampingnya. "Maafkan aku," katanya, suaranya penuh rasa bersalah. "Aku tidak tahu kalau Lucas sudah menunggu di depan apartemenku sebelum aku sampai. Jika aku tahu kau akan bereaksi seperti ini, aku pasti akan mengusirnya. Tapi dia saudaraku, Em. Aku tidak bisa menutup pintu begitu saja, bukan?"
Emily tidak menjawab. Ia hanya membuang muka, kembali menatap jendela.
Keheningan menyelimuti mereka. Liam mengusap wajahnya, mencoba memahami bagaimana cara menenangkan wanita di hadapannya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, Em," katanya akhirnya. "Setidaknya berbicaralah. Biarkan aku mengerti apa yang membuatmu begitu marah."
Tetap tidak ada respons.
Liam menunggu, berharap Emily akan mengatakan sesuatu—apa pun. Tapi yang ia dapatkan hanyalah sunyi.
Hingga akhirnya, Emily bangkit berdiri.
Liam melihat celah, kesempatan untuk menariknya kembali. Dengan cepat, ia melingkarkan lengannya di pinggang Emily, memeluknya dari belakang.
Namun, bukan pelukan hangat yang ia dapatkan.
Emily menepis tangannya, melepaskan diri dari genggamannya. Dan beranjak meringkukkan tubuhnya diatas kasur.
"Aku lelah, Liam. Aku butuh istirahat."
Kata-katanya dingin, tapi bukan karena marah. Ada kelelahan yang lebih dari sekadar fisik di sana—kelelahan yang menumpuk, menyesakkan.
Liam terdiam sejenak, menatap punggungnya.
Lalu ia menghela napas panjang. "Baiklah," katanya akhirnya. "Aku akan menunggumu di bawah. Panggil aku saat kau sudah bangun."
Ia melangkah ke pintu, tetapi sebelum pergi, ia berhenti dan menoleh. "You know that I love you, right?"
Hening.
Lalu, suara lirih terdengar. "I know."
Liam hanya bisa menatapnya, tubuh kecilnya berbalik di atas kasur, membelakanginya.
Tak lama, suara langkah kaki Liam perlahan menghilang di balik pintu.
Dan di saat itulah, Emily menutup matanya. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh, membasahi pipinya.
Bukan Liam yang ia marahi. Bukan Liam yang ia benci. Dia hanya marah pada keadaan.
Marah pada Lucas. Dan yang paling membuatnya malu adalah…
Lucas benar—dia memang terlihat sangat kesal hari ini. Emily membenamkan wajahnya ke bantal, menahan sesak di dadanya. Dia lelah. Teramat lelah. Bahkan untuk berbicara pun, dia tak sanggup. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah tidur.
---
Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam.
Lucas sudah pergi sejak tadi, hanya mampir sebentar untuk meminjam sepatu basket Liam sebelum berangkat menemui teman-teman lamanya di California. Apartemen terasa lebih sepi sekarang, tetapi ada satu hal yang mengusik pikiran Liam—Emily.
Sejak naik ke lantai atas, ia belum menghubunginya. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan.
Liam menatap tangannya sendiri, ragu. Haruskah ia memeriksanya? Tapi bagaimana jika Emily masih marah? Bagaimana jika kehadirannya justru memperburuk keadaan?
Namun, di sisi lain, sesuatu dalam dirinya terus berbisik—rasa khawatir yang tak bisa diabaikan. Akhirnya, dengan tarikan napas panjang, Liam memutuskan untuk naik ke atas.
Setibanya di depan pintu, ia mengetuk pelan. "Em?"
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras. "Emily, kau masih tidur?"
Tetap tidak ada sahutan. Rasa cemasnya semakin meningkat. Dengan hati-hati, Liam memutar kenop pintu dan membukanya.
Kamar itu gelap, hanya diterangi lampu tidur redup di sudut ruangan. Di atas tempat tidur, Emily masih meringkuk di bawah selimut, tubuhnya tampak tenggelam dalam gulungan kain tebal.
Liam melangkah mendekat dan duduk di tepi kasur. Perlahan, ia menjulurkan tangan, mencoba menarik selimut dari tubuhnya.
"Em, bangunlah. Kau harus mak—"
Namun Emily bergeming. Liam menghela napas, tangannya berpindah ke pergelangan tangan Emily. Saat menyentuhnya, matanya melebar.
Panas. Sangat panas.
Sekelebat perasaan tak enak menyelimutinya. Segera, Liam menyentuh dahi Emily, dan saat itulah ia menyadari sesuatu— Emily demam.
"Ya Tuhan, Em, kau sangat panas!"
Tubuhnya tegang. Rasa bersalah bercampur dengan kekhawatiran mulai menyelimutinya. Emily bergerak sedikit, keningnya berkerut menahan sakit. Suaranya terdengar lemah, hampir seperti bisikan.
"Liam... aku pusing sekali."
Tanpa berpikir dua kali, Liam segera merogoh ponselnya dan menekan nomor yang sudah sangat ia hafal—dokter keluarganya.
Begitu panggilan tersambung, suaranya tegas, penuh urgensi.
"Aku butuh kau ke apartemenku sekarang. Emily sakit—demamnya tinggi. Aku tidak mau mengambil risiko."
Setelah menutup telepon, Liam menatap Emily yang masih tergolek lemah. Ia meraih tangan gadis itu, menggenggamnya erat seolah ingin mentransferkan sedikit kekuatan.
"Aku di sini, Em," bisiknya. "Aku tidak akan ke mana-mana."
Dan untuk pertama kalinya malam ini, Emily tidak menolak pelukannya.
---
Lucas berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Sial. Bukan begini seharusnya malam ini berakhir. Bukan dengan kesalahpahaman lagi. Bukan dengan Emily yang kembali menjauh.Dia ingin menjelaskan semuanya. Tentang siapa dirinya. Tentang apa yang selama ini dia rasakan.Lucas mengacak rambutnya yang masih setengah basah, frustrasi. Lalu tanpa pikir panjang lagi, ia melangkah keluar—menuju kamar Emily. Jantungnya berdegup kencang. Keberanian yang tadi dikumpulkannya pelan-pelan menguap begitu saja saat ia tiba di depan pintu kamar itu.Ia menarik napas dalam-dalam. Dia harus melakukannya. Dia tidak bisa lagi pura-pura baik-baik saja. Lima hari tanpa Emily sudah cukup menyiksanya. Dia merasa gila. Merana. Dan setelah apa yang terjadi siang tadi—setelah Emily menciumnya—apakah dia akan mampu bertahan kalau gadis itu mengabaikannya lagi?Lucas mengangkat tangannya, bersiap mengetuk. Tapi sebelum jarinya sempat menyentuh pintu, daun pintu itu terbuka pelan. Emily berdiri di sana, mengucek ke
Deru mesin mobil berpadu dengan irama rintik hujan yang membasahi jalanan kota Chicago malam itu. Lucas menepati janjinya—ia benar-benar menjemput Emily dan Alex malam ini, seperti yang ia ucapkan siang tadi.Namun suasana di dalam mobil terasa terlalu senyap. Alex sudah tertidur di kursi belakang, dan entah mengapa, atmosfer di antara Emily dan Lucas dipenuhi keheningan yang canggung. Tak ada percakapan, hanya pikiran masing-masing yang sibuk memutar tanya.Apa sebenarnya hubungan mereka sekarang? Apakah wajar, atau bahkan mungkin, untuk memulai sesuatu yang dulu bahkan belum sempat benar-benar dimulai? Lucas menyimpan seribu pertanyaan dalam benaknya, sementara Emily hanya diam, menatap lampu-lampu kota yang memantul di kaca jendela.Hingga akhirnya, Lucas memecah keheningan.“Kamu sudah makan malam, Em?”Emily sedikit terkejut, lalu mengangguk pelan. “Sudah.”Lucas mengangguk kecil. “Oke. Aku pikir kalian belum makan… mungkin aku akan pesan makanan setelah sampai dirumah.”Emily be
“Tempat pensil? Check. Botol minum? Check. Snack? Check. Oke, Alex, sepertinya tasmu sudah lengkap,” ucap Emily sambil memeriksa isi tas putranya satu per satu. Nadanya lembut, penuh perhatian.Alex hanya mengangguk kecil, tanda setuju. Ia baru saja hendak berbalik menghampiri Anna yang sudah menunggu, ketika Emily tiba-tiba menarik lengannya pelan.“Kau melupakan sesuatu,” ujar Emily, matanya menatap Alex penuh makna.Anak itu terkekeh kecil. “I’m sorry, Mom. Aku lupa,” ucapnya cepat, lalu mengecup dahi Emily, diikuti ciuman di pipi kanan dan kiri ibunya. Senyum Emily langsung merekah lebar. Ia berdiri dari posisi berlututnya, menatap kepergian Alex ke playground dengan perasaan hangat yang tak bisa dijelaskan.Hari ini adalah hari kelima. Lima hari sejak Lucas terakhir kali mengantar dan menjemput Alex. Lima hari juga sejak pria itu bahkan tidak mengirim satu pesan pun—tak ada kabar, tak ada penjelasan. Kosong. Emily mencoba bertahan dengan prinsipnya. Ia menolak meladeni sikap keka
Lucas membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, kepalanya berdenyut hebat. Pening itu seolah mengguncang dari dalam. Ia baru menyadari, semalaman ia tidak benar-benar tertidur—rasa bersalah membebani pikirannya tanpa henti.Bayangan wajah Emily tidak pernah pergi dari benaknya. Ia ingin meminta maaf. Tapi sepanjang malam, ia hanya bisa mendengar isak tangis Emily dari kamar sebelah. Dan ketika tangisan itu akhirnya reda, gadis itu sudah terlelap, tenggelam dalam kelelahan emosionalnya.Lucas menyumpahi dirinya sendiri. Kata-katanya semalam, ekspresi dinginnya—semuanya begitu bodoh. Ia tidak bisa berhenti memikirkannya, hingga akhirnya ia menyerah dan memilih menghabiskan malam bersama sebotol whisky, berharap mabuk bisa membius rasa sesalnya. Nyatanya, yang tersisa pagi ini hanyalah pening dan rasa muak terhadap dirinya sendiri.Ia mendesah pelan dan perlahan duduk di tepi ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin, lalu ia mencoba berdiri. Namun seketika itu juga, seluruh
Alex menarik tangan Emily dengan semangat yang begitu menggebu. Langkah kecilnya terasa ringan, seolah tak sabar menunjukkan sesuatu yang sudah lama ingin ia bagi. Hari ini, mimpinya terwujud: ibunya akan tinggal di rumah Lucas walaupun hanya akhir pekan. Sudah sejak minggu lalu Alex berharap hal ini terjadi. Ia menyukai kamar pribadinya yang disiapkan Lucas—tapi kamar sebesar itu, tanpa kehadiran Emily, terasa hampa dan menyedihkan.Beberapa malam lalu, ketika Emily menemaninya tidur, sang ibu sempat berbisik bahwa ia akan mencoba tinggal selama akhir pekan di rumah Lucas. Bagi Alex, itu seperti jawaban dari doanya setiap malam.“Pelan-pelan, Alex. Mommy bisa jatuh kalau kamu menarik mommy sekuat itu,” ucap Emily sambil tersenyum melihat antusiasme putranya.“Ayo Mom, cepat! Aku mau tunjukkan kamarku!”Dari belakang, terdengar suara Lucas yang baru saja masuk sambil mengangkat beberapa koper milik Emily. “Alex, jangan tarik Mommy seperti itu. Pergilah dulu ke kamar, ada hadiah yang m
Emily melambaikan tangan, mengantar kepergian Lucas dan Alex dengan senyum tenang. Sudah seminggu terakhir Lucas rutin menjemput dan mengantar Alex dari rumahnya ke playground. Tak ada drama, tak ada pertengkaran, dan tak ada agenda tersembunyi—murni hanya antar-jemput.Tak disangka, sakit mereka berdua tempo hari justru membawa perubahan. Bolehkah Emily merasa sedikit bersyukur atas kejadian itu? Setidaknya, dua laki-laki dalam hidupnya kini mulai menyadari betapa egoisnya mereka selama ini.Ia menarik napas panjang, lalu mulai berjalan menyusuri halaman rumah. Matanya menyapu deretan tanaman hias, memeriksa satu per satu apakah ada yang rusak atau butuh perhatian. Langkahnya kemudian membawanya ke halaman samping, melewati pagar depan. Di sana, ia baru menyadari satu hal: mainan-mainan Alex masih berserakan, belum dibereskan sejak kemarin. Beberapa bungkus es krim kosong dan sampah kecil lain ikut berserakan di sekitar area bermain.Emily mendesah pelan, sedikit jengkel. Sudah bisa







