Share

Bab 4

Author: Mika Rani
Mobil Leeon keluar dari parkiran bawah tanah. Ketika sampai di persimpangan jalan, dia kembali melihat Mitzy dan putrinya.

Dua orang itu, satu besar dan satu kecil, berjalan cepat sambil bergandengan tangan. Mereka menyusuri bayangan pohon-pohon beringin. Anak itu kira-kira berusia lima atau enam tahun. Rambutnya dikepang menjadi dua sanggul kecil. Hiasan ceri mungil di ikat rambutnya berkilau lembut di bawah cahaya pagi.

"Leeon, nanti kita punya anak perempuan ya? Aku akan mengepang rambutnya setiap hari dan kamu yang mengantarnya ke TK. Aku ingin dia tumbuh bahagia di sisi kita."

"Oke. Paling bagus kalau punya anak perempuan yang mirip kamu."

"Anak perempuan biasanya mirip ayah."

"Mirip aku juga nggak masalah."

Kenangan itu seperti peti kayu tua yang dipaksa terbuka. Debu beterbangan di dalam berkas cahaya.

Namun, apa yang terjadi kemudian?

Pada akhirnya, Mitzy melahirkan anak perempuan untuk orang lain ....

Mitzy mengantar Limy ke TK. Dia berdiri di depan gerbang. Setelah menunggu sampai putrinya masuk ke kelas, barulah dia berbalik pergi dengan tenang.

Di seberang jalan TK, terparkir sebuah Rolls-Royce Cullinan.

Awalnya, Mitzy mengira itu hanya mobil orang tua murid lain, jadi dia tidak memperhatikannya. Namun ketika dia menyeberang jalan, Rolls-Royce Cullinan berwarna hitam itu bergerak seperti seekor raksasa yang diam yang melindas genangan air di pinggir jalan, lalu berhenti dengan tepat di sampingnya.

Kaca jendela mobil perlahan turun. Di kursi pengemudi, Leeon terlihat jelas duduk di sana. Profil wajahnya yang tampan terlihat agak dingin di bawah cahaya yang redup.

"Nona Mitzy," panggil Leeon dengan suara yang ditarik panjang. Nada bicaranya penuh dengan ejekan yang sama sekali tidak disembunyikan.

"Kenapa kamu ada di sini?"

"Kebetulan lewat."

Berhubung Leeon hanya kebetulan lewat, Mitzy tidak punya apa-apa lagi untuk dikatakan.

Wanita itu melangkah hendak pergi, tetapi suara Leeon kembali terdengar. "Anakmu sangat cantik."

Mitzy terdiam.

Jantung wanita itu langsung menegang. Kenapa Leeon tiba-tiba berkata seperti itu?

Apa jangan-jangan Leeon sudah menyadari sesuatu?

"Anakku cantik karena mirip denganku. Apa ada yang salah?"

Sorot mata Leeon menjadi suram. Mirip Mitzy? Tentu saja itu tidak diragukan.

Dulu, di kawasan sekitar Universitas Fretsa, siapa yang tidak mengenal kecantikan Mitzy?

Semua orang yang pernah melihatnya mengatakan bahwa Mitzy memiliki cahaya yang tidak bisa diabaikan. Cahaya itu bukan seperti sinar bulan yang dingin, melainkan seperti matahari siang di musim panas, hangat, terang, dan berani. Saat dia tersenyum, matanya melengkung seperti bulan sabit yang cerah dan lesung pipinya samar. Wanita itu terlihat hidup dan memikat.

Pada masa itu, Mitzy adalah dewi di hati banyak pria.

"Aku cuma memuji anakmu. Kenapa kamu jadi tegang begitu?"

"Aku nggak tegang. Kapan kamu melihat aku tegang?"

Mitzy merasa bersalah dan hanya ingin segera menjauh dari pandangan Leeon.

Melihat Mitzy hendak pergi lagi, Leeon mengulurkan lengannya dari jendela Rolls-Royce Cullinan dan mencengkeram lengan wanita itu dengan kuat.

"Mau kabur lagi? Dulu, Nona Mitzy yang menempel padaku seperti perangko. Sekarang, begitu melihatku kamu malah lari?" Jari-jari Leeon yang panjang terlihat seperti capit besi. Meski terhalang kain tipis, Mitzy bisa merasakan jelas kekuatan sendi jari pria itu dan panas dari telapak tangannya.

Rolls-Royce Cullinan itu terlalu mencolok. Orang-orang di sekitar terus melirik ke arah mereka.

"Leeon, ini TK anakku. Kamu menarik-narikku di depan gerbang TK seperti ini, sebenarnya maumu apa?"

"Nggak mau apa-apa. Aku cuma mau memberi tahu, permintaan maafmu kemarin nggak aku terima." Saat berbicara, tangan Leeon tiba-tiba mengencang. Mitzy tidak siap dan tubuhnya langsung terbentur pintu mobil di sisi pengemudi. Leeon menahan tengkuk Mitzy, lalu sedikit mencondongkan kepala keluar jendela dan berbisik di telinganya, "Satu lagi Nona Mitzy, kamu nggak punya hak untuk mengatakan bahwa kita sudah impas."

Begitu selesai bicara, Leeon melepaskan tangannya begitu saja.

Lantaran kehilangan pegangan dari Leeon, Mitzy langsung terjatuh dan terduduk di jalan.

Mitzy terlihat sangat menyedihkan.

Mesin Rolls-Royce Cullinan menggeram rendah, lalu melaju pergi. Leeon meninggalkan Mitzy duduk sendirian di jalan dengan debu menempel di wajahnya.

Mitzy pun berseru, "Leeon, sialan kamu!"

Orang ini benar-benar tidak waras! Pagi-pagi sudah datang cari masalah!
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 50

    "Wah, hubungan kalian memang sangat akrab. Baru satu telepon saja, kamu langsung datang secepat ini." Di wajah Valdo tersungging senyum kemenangan, seolah rencananya telah berhasil.Mitzy langsung menyadari sesuatu. "Kamu yang suruh orang meneleponku?""Ya, aku yang suruh orang menelepon. Kalau nggak, gimana caranya aku bisa menemukan kamu yang begitu jago bersembunyi ini?"Setelah berhasil menemukan kembali Limy, Mitzy sudah memblokir semua kontak Valdo. Niatnya jelas. Sebelum perceraian resmi, dia tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu. Tak disangka, Valdo justru memaksanya muncul dengan cara seperti ini."Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita."Mitzy berbalik dan hendak pergi, tetapi Valdo langsung mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya ke arah berlawanan."Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" berontak Mitzy, tetapi dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri. Menyadari situasinya makin buruk, dia berteriak, "Tolong! Tolong!"Sayangnya, orang-orang di sek

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 49

    Leeon pernah mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana ibu mertua Mitzy, Amanda, mendesaknya untuk melahirkan anak laki-laki. Itu sebabnya, dia tidak meragukan jawaban Mitzy sama sekali.Pria itu merapikan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya, lalu memberi tahu Mitzy, "Hari ini, aku akan menyuruh orang menyiapkan surat gugatan. Besok, kita akan resmi mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.""Oke. Makasih, Pak Leeon. Kalau begitu silakan lanjut bekerja, aku pamit dulu."Sambil berkata demikian, Mitzy berdiri dan hendak pergi."Sudah selesai dimanfaatkan, mau langsung pergi?" Leeon mengulurkan tangan dan menarik Mitzy ke sisinya, lalu memaksa wanita itu duduk di atas pahanya. "Kamu anggap aku ini apa?"Mitzy merasakan paha keras Leeon yang bagaikan besi, serta perubahan pada tubuhnya.Astaga. Padahal sudah berlalu begitu lama, kenapa masih juga belum reda?Secara refleks Mitzy ingin melarikan diri, tetapi lengan Leeon melingkari pinggangnya dengan kuat dan menahannya agar tetap bera

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 48

    Mitzy sama sekali tidak menyangka Leeon akan melontarkan pertanyaan seperti itu.Alis dan mata Mitzy melengkung, sementara lesung pipinya terlihat samar saat dia tersenyum. "Pak Leeon, perlukah menanyakan hal yang begitu pribadi?""Tentu saja. Saat pengadilan menilai apakah hubungan emosional sudah benar-benar retak, mereka akan mempertimbangkan banyak faktor. Apakah hubungan suami istri sudah lama cuma tinggal nama adalah bukti penting untuk menunjukkan seberapa kuat keinginan kedua pihak untuk bercerai." Leeon menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua tangannya saling bertaut di atas meja. Dia menatap Mitzy dengan sikap yang sangat rasional. "Kalau kamu nggak mau jawab, apakah aku boleh berasumsi bahwa hubungan kalian memang nggak harmonis?""Harmonis. Hubungan kami sangat harmonis. Selain saat masa menstruasi, hampir setiap hari bisa satu, dua, tiga, bahkan empat ronde. Detailnya nggak usah kujelaskan, takutnya nanti Pak Leeon malah minder.""Benarkah?" Leeon menggertakkan rahangnya,

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 47

    Hati Mitzy terasa seperti hancur mendengarnya.Limy memang dewasa sebelum waktunya. Justru karena anak itu terlalu pengertian, rasa perih di hati Mitzy menjadi makin dalam."Ibu, aku benci ayah. Perceraian itu bukan berarti ayah nggak mau aku dan Ibu lagi, tapi kita yang nggak mau dia," kata Limy sambil bersandar di pelukan Mitzy. Tangan kecilnya menangkup pipi Mitzy. "Ibu, waktu sendirian di Kota Herington, Ibu harus melindungi diri sendiri. Aku nggak mau melihat Ibu terluka lagi.""Ya," jawab Mitzy dengan suara tercekat sambil mengecup kening putrinya. "Limy, kamu juga harus menjaga diri dengan baik. Ibu sayang kamu.""Aku juga sayang Ibu."....Di perjalanan kembali ke kota, Mitzy terus menangis tanpa henti.Orang sering berkata bahwa cinta selalu disertai rasa berutang. Berhubung terlalu mencintai Limy, Mitzy justru kerap merasa telah berutang terlalu banyak pada anak itu. Identitas yang tak bisa dia ungkapkan dengan jujur, keluarga utuh yang tak mampu dia berikan, semuanya menjadi

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 46

    Tatapan Mitzy yang begitu berani dan terus terang membuat Leeon tiba-tiba merasa bahwa dirinya sangat konyol. Dia sungguh sudah gila, sampai-sampai coba mencari bukti bahwa dirinya pernah dicintai oleh Mitzy, bahkan bisa-bisanya dari anak yang wanita itu miliki bersama orang lain.Kalau Mitzy benar-benar pernah mencintainya, mana mungkin dia akan meninggalkan Leeon dengan begitu tegas, lalu menikah dan punya anak dengan pria lain?"Setelah anak itu sembuh, kirim dia pergi," ujar Leeon dengan nada dingin. "Aku nggak menerima transaksi beli satu gratis satu. Lagian aku juga nggak mau saat aku tidur denganmu, ada anak di samping yang merusak suasana."Transaksi.Tidur dengannya.Suasana.Kata-kata itu seperti diulang-ulang untuk mengingatkan Mitzy akan posisinya sekarang, bahwa kini dia hanyalah seseorang yang telah menjual dirinya sendiri dan tak lebih dari sekadar mainan.Mitzy menahan perih di dadanya, lalu mengangguk. "Tenang saja, Pak Leeon. Bahkan tanpa kamu katakan pun, aku akan me

  • Enam Tahun Berlalu, Hatimu Masih Milikku   Bab 45

    "Pak Leeon ...." Tatapan Mitzy penuh permohonan. Dia berharap Leeon sama sekali tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak pantas di depan anak itu.Leeon menatapnya. Setelah beberapa saat, dia pun melepaskan genggaman tangannya."Mau sarapan apa? Aku suruh orang mengantarkannya."Mitzy akhirnya menghela napas lega. "Bubur saja."....Setelah menyemprotkan obat ke tenggorokan Limy, anak itu bilang ingin menonton "Peppo Pig". Ponsel Mitzy hampir kehabisan baterai, jadi dia membawa Limy turun ke bawah.Di ruang makan lantai bawah, Leeon sedang menyeduh kopi."Pak Leeon, boleh pinjam TV di rumahmu untuk menonton kartun sebentar?" tanya Mitzy."Remotnya ada di atas meja sofa.""Oke, makasih."Mitzy memutar "Peppo Pig" untuk Limy, lalu naik ke atas untuk membersihkan diri.Semalam, Mitzy sibuk mengurus Limy sampai kelabakan. Dia sama sekali tidak sempat merapikan diri. Untungnya saat Leeon menyuruh orang mengantar sarapan tadi, pria itu juga sekaligus meminta mereka membawakan beber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status