MasukMenyadari semua itu, mata Acha sontak membulat sempurna karena terkejut bukan main.Ia sungguh-sungguh tak paham kenapa dirinya bisa tidur bersama dengan Elvano.Tak ingin berpikir lebih jauh lagi, Acha buru-buru menarik tangannya pelan-pelan, seolah sedikit saja bergerak lebih keras akan membangunkan pria di sampingnya.Dadanya langsung berdebar tidak karuan sepagi ini.Begitu berhasil melepaskan pegangannya, Acha bergeser sedikit menjauh sambil mengembuskan napas lega.Untungnya, ia bangun lebih dulu. Setidaknya, Elvano tidak akan tahu apa yang baru saja terjadi.Membayangkan pria itu mengetahui dirinya semalaman menjadikan lengannya sebagai guling saja sudah cukup memalukan baginya.Acha menatap pria itu sekilas. Wajah Elvano terlihat begitu tenang. Tarikan napasnya pun masih teratur, seolah masih terlelap tanpa menyadari apa pun.Aih.Lancang sekali dirinya.Ia pun segera turun dari ranjang dengan gerakan sepelan mungkin, lalu nyaris berlari kecil menuju kamar mandi.Begitu pintun
Acha benar-benar tidak berani mengangkat wajah lagi setelah tak sadar dengan ucapannya sendiri.Beberapa detik berlalu tanpa ada satu pun dari mereka yang berbicara. Namun, kali ini, hening itu justru terasa semakin menyiksa.Sampai akhirnya terdengar helaan napas pelan dari Elvano.“Kalau begitu,” ucap pria itu dengan tenang, “jangan sampai ketinggalan.”Acha berkedip beberapa kali.“Hm?”Elvano mengangguk kecil ke arah boneka yang masih dipeluknya.“Kalau memang penting.”Deg.Acha sontak menggigit bibir bagian dalamnya.Huh.Kenapa pria itu masih juga membahasnya?Sikap Elvano yang menanggapinya dengan begitu santai bukannya membuat rasa malu Acha berkurang, justru membuatnya seperti ingin langsung menghilang dari muka bumi.“I-iya.”Hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.Elvano lalu mengambil kembali salah satu kardus di dekat kakinya.“Lanjut,” katanya seolah tak terjadi apa-apa.Meski begitu, Acha sempat menangkap sudut bibir pria itu yang masih menyisakan senyum tipis.Juju
Acha masih mempertahankan posisi tangannya yang menyodorkan bungkus keripik itu pada Elvano. Masalahnya, Elvano juga tak kunjung mengambilnya sampai beberapa detik berlalu, hingga Acha merasa tangannya mulai pegal dan malu sekaligus.Duh.Apa Elvano tidak mau?Atau, mungkin pria itu memang tidak suka camilan seperti ini?Kalau dipikir-pikir, dia kan rajin olahraga. Bentuk tubuhnya bagus juga selalu terlihat fit.Mungkin pria seperti itu memang tidak makan makanan sembarangan.Acha perlahan mulai menarik kembali tangannya. “Kalau nggak mau juga nggak apa—”Kresek.Kalimatnya terputus saat Elvano ternyata mengambil satu keping keripik dari bungkus yang masih ia pegang.Mata Acha sontak berkedip beberapa kali.Pria itu bahkan memakannya dengan santai sebelum sudut bibirnya bergerak tipis.“Terima kasih.”Deg.Acha membeku sepersekian detik.Tatapan Elvano masih tertuju padanya. Hangat dan begitu tenang hingga membuatnya justru tidak sanggup menatapnya lebih lama.Ada sesuatu dalam sorot
Dalam beberapa detik, tubuh Acha langsung membatu, seolah dunia di sekitarnya berhenti bergerak.Bahkan napasnya sendiri seperti lupa cara bekerja.Saat Elvano menjauh beberapa senti, pria itu tetap berdiri di depannya.Sementara Acha masih terlalu syok untuk melakukan apa pun.Acha tidak tahu harus menatap ke mana sekarang.Setiap kali matanya tanpa sengaja naik ke wajah Elvano, jantungnya langsung berdebar tidak karuan.Akhirnya, ia memilih menunduk saja.Panas yang menjalar di wajahnya terasa sampai ke telinga.Dadanya berdebar begitu kencang sampai-sampai membuatnya sulit berpikir jernih.Barusan, Elvano benar-benar menciumnya?Astaga.Acha langsung menggigit bibirnya pelan.Ia bahkan tidak berani mengingat ulang kejadian beberapa detik lalu.Semakin dipikirkan, wajahnya terasa semakin panas.“Jangan buat saya mencarimu seperti tadi.” Suara Elvano terdengar rendah. Tidak lagi setajam beberapa menit lalu.Namun, justru itu yang membuat dada Acha semakin tidak karuan.“Maaf …,” jawa
Acha sontak terdiam.Kata-kata Elvano barusan masih terngiang di kepalanya, bahkan teguran itu seolah langsung mengena di hatinya.Padahal suara Elvano tidak tinggi. Nada bicaranya juga masih terdengar datar seperti biasa.Karena itulah yang membuat Acha kehilangan kata-kata untuk membalas.Selama ini, Elvano memang tidak pernah marah kasar padanya. Jika Acha melakukan kesalahan, pria itu biasanya hanya menegur seperlunya lalu selesai.Namun, kali ini berbeda. Acha bisa melihatnya dengan jelas.Elvano benar-benar kesal.Sementara itu, pria itu sudah lebih dulu berbalik. Dia melepas jaketnya lalu melemparkannya ke sandaran sofa dengan gerakan yang sedikit lebih keras.Setelah itu, ia berjalan menuju balkon tanpa mengatakan apa-apa. Meninggalkan Acha sendirian di ruang tamu.Sunyi langsung mengambil alih ruangan.Acha mengembuskan napas panjang. Baru sekarang, rasa bersalah itu datang sepenuhnya.Ia menunduk, meletakkan kantong belanjaannya di atas meja. Saat itu juga matanya menangkap
Setelah selesai membayar di salah satu tenant minuman di lantai komersial gedung apartemen, Acha memasukkan debit card-nya kembali ke dalam dompet.Di tangannya kini sudah ada satu gelas boba ukuran sedang dan satu kantong kecil berisi camilan yang tadi sempat ia beli setelah berkeliling cukup lama.Awalnya ia hanya berniat membeli minuman saja. Namun setelah melihat beberapa tenant makanan di sepanjang koridor, langkahnya seperti tidak bisa berhenti di satu tempat. Ujung-ujungnya, ia malah membeli lebih banyak dari yang direncanakan.Acha berjalan santai menuju area lift sambil sesekali menyeruput bobanya.Jujur saja, rasanya menyenangkan bisa keluar sebentar setelah hampir setengah hari berada di penthouse sendirian.Angin dari pendingin ruangan lantai itu terasa lebih hidup dibanding sunyi di atas sana.Tetapi di saat yang sama, ada sedikit perasaan was-was juga.Takut Elvano pulang dan mencarinya.Karena itu tadi, ia tidak membawa ponsel. Niatnya hanya turun sebentar, lalu kembal
Tiba di parkiran, Acha akhirnya bisa menghela napas lega. Meski hampir sepanjang pagi ini tidak berjalan baik, setidaknya ia telah menjalankan bagiannya sebagaimana mestinya. Sebelum wartawan sempat menghampiri dan melontarkan berbagai pertanyaan, mereka lebih dulu meninggalkan halaman pengadilan
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi
Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i







