แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Kharamiza
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-31 10:38:59

Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu.

“Masuk.”

Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.

Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano.

“Pak, ini dokumen yang perlu ditandatangani hari ini.”

Elvano mengangguk singkat. Tatapannya sekilas menyapu isi dokumen tersebut, lalu meraih pulpen. Ia menandatangani tanpa satu pun komentar. Hanya suara gesek kertas dan goresan tinta yang terdengar cepat.

Begitu selesai, Acha segera mengambil kembali berkas itu dan berbalik menuju pintu.

Sesaat setelah pintu ruangan tertutup, Acha mengembuskan napas lega. Tumben sekali Elvano tidak mengajukan koreksi atau catatan apa pun. Biasanya, selalu ada saja yang harus dibahas.

Sempat terlintas di benaknya, mungkin karena baru saja ia berbicara dengan istrinya. Barangkali, suasana hatinya sedang lebih baik, dan orang sekitarnya ikut kecipratan imbasnya. Jatuh cinta suka begitu, ‘kan?

Hanya saja, baru beberapa detik berlalu, Acha segera menepis pikiran itu. Terlebih mengingat lagi raut wajah Elvano tadi tak menunjukkan tanda berbunga-bunga seperti orang jatuh cinta pada umumnya. Dia justru lebih kaku dari biasanya.

‘Dia terlihat kesal.” Acha membatin. ‘Atau … tertekan?’

Acha menggeleng kecil, seolah menertawakan pikirannya sendiri. Ia segera melangkah ke mejanya, memaksa diri kembali fokus pada layar komputer di hadapannya.

Urusan pribadi atasannya, jelas-jelas bukan ranahnya.

Tanpa disadari, pagi itu sudah hampir habis. Lantai eksekutif yang sejak tadi sunyi perlahan terusik oleh suara langkah sepatu berhak tinggi yang mendekat.

Acha mengangkat kepala ketika seseorang berhenti di depan mejanya. Wanita yang familiar dalam pandangannya berdiri anggun di sana.

“Permisi.”

Acha refleks berdiri, senyumnya langsung terbit di wajahnya.

“Selamat siang, Bu Tiara,” sapanya sopan.

Sorot mata wanita itu langsung berbinar. “Oh, kamu mengenal saya?”

Acha tersenyum kecil. Selama bekerja di sini, ia memang berusaha mengenal lingkungan kantor, termasuk pimpinan juga keluarganya. Bukan tanpa maksud, tetapi jika di kemudian hari bertemu, ia bisa menentukan sikap. Dan, Tiara Adiguna? Siapa yang tidak mengenalnya?

Dia figur publik yang kerap menghiasi layar kaca. Orang tuanya pengusaha yang cukup berpengaruh di berbagai lini bisnis.

“Tentu saja, Bu,” jawab Acha percaya diri.

Tiara mengangguk pelan. Tatapannya tampak mengamati Acha dari atas ke bawah. Namun, tak ada raut merendahkan di sana, melainkan lebih seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu.

“Apa kamu sekretaris baru?” tanyanya “Saya belum pernah melihatmu sebelumnya.”

“Benar, Bu. Saya baru tiga bulan di sini.”

“Oh, pantas.” Senyum Tiara kembali merekah. “Saya jarang ke sini, jadi tidak tahu. Siapa namamu?”

“Acha, Bu.”

“Baik, Acha.” Tiara mengangkat paper bag kecil yang dibawanya di tangannya. “Apa Elvano ada di ruangannya. Saya bawakan makan siang untuknya.”

“Beliau ada, Bu,” jawab Acha, sedikit menyingkir dari balik mejanya. “Silakan.”

Tak perlu berjalan jauh. Ruang kerja Elvano tepat di depan meja Acha. Sebelum masuk, Tiara sempat melirik sekeliling.

“Elvano sangat sibuk, ya?” tanyanya ringan, seolah sudah tahu jawabannya.

“Cukup padat, Bu,” jawab Acha jujur.

Tiara terkekeh pelan. “Dia memang begitu sejak dulu. Gila kerja. Kalau sudah urusan kerja, segalanya bisa dikesampingkan.”

Nada bicaranya terdengar hangat dan pengertian. Selayaknya seorang istri yang sangat mengenal dan menerima suaminya.

Tiba di depan pintu ruang kerja Elvano, Acha mengetuk pelan. Setelah mendapat izin, ia membukanya.

“Permisi, Pak. Ada Bu Tiara,” ucapnya.

Di dalam, Elvano sontak mendongak.

“El, aku bawakan makan siang untukmu.” Tiara melangkah masuk lebih dulu, sementara Acha berhenti di ambang pintu.

“Kamu datang?” suara Elvano tetap datar, meski jelas terkejut.

“Hanya sebentar,” jawab Tiara lembut. “Aku tidak mau mengganggu.”

Acha memilih mundur dan menutup pintu. Dalam benaknya, mereka terlihat seperti pasangan sibuk yang jarang memiliki waktu bersama, seolah punya dunianya masing-masing.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan Elvano kembali terbuka. Tiara keluar dengan ekspresi yang tetap tenang.

Namun, sebelum benar-benar pergi, wanita itu kembali menghampiri Acha.

“Oh ya, Acha,” katanya, seakan baru teringat sesuatu. “Boleh saya tambahkan kontakmu?”

Acha refleks mengerutkan kening. Permintaan itu datang terlalu tiba-tiba, entah apa maksudnya?

“Kontak saya, Bu?” Acha memastikan.

Tiara tersenyum kecil. Menyadari perubahan ekspresi Acha, ia segera menambahkan. “Bukan apa-apa. Kalau suatu saat Elvano sulit dihubungi, setidaknya saya bisa bertanya padamu.

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nsda ringan, “Atau … mungkin kita bisa menjadi teman.”

Kalimat terakhir itu diucapkan begitu santai, nyaris tanpa beban. Namun, butuh beberapa detik bagi Acha mencerna semuanya

Teman?

Orang sekelas Tiara, aktris terkenal yang terbiasa tampil di depan kamera dan dikenal publik, ingin berteman dengannya?

Acha tertawa miris dalam hati.

“Oh, boleh, Bu,” jawabnya akhirnya. Ia mengambil ponsel dan membuka fitur pemindaian kontak.

Tiara memindainya, lalu menyimpan kontak Acha di ponselnya.

“Terima kasih, Acha,” ucapnya ramah. “senang bisa bertemu denganmu.”

“Sama-sama, Bu.”

Tiara melangkah menuju lift. Tepat sebelum pintu tertutup, ponselnya berdering nyaring. Acha tak berniat memperhatikan, tetapi sekilas ia melihat Tiara menjawab panggilan tersebut.

Senyum yang terbit di wajah wanita itu tampak lebih sumringah dibanding sebelumnya.

Pintu lift tertutup.

Acha kembali duduk. Jarinya berhenti sejenak di atas keyboard.

Udah cantik, lembut, pengertian. Pak Elvano beruntung memiliki istri seperti Bu Tiara, pikirnya.

Setidaknya, itulah yang Acha yakini di pertemuan perdananya dengan istri atasannya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 216

    Jempol Acha masih menggantung di atas layar. Ia menunggu beberapa detik, berharap tanda centang itu berubah. Namun, layar ponselnya tetap sama. Ah, tapi bisa jadi sinyal Elvano sedang bermasalah. Atau mungkin pria itu masih sibuk bersama klien. Acha akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia bangkit dari sofa, lalu berjalan beberapa langkah mendekati pintu kaca. Dari sana, halaman depan gedung terlihat cukup jelas. Beberapa kendaraan masih berlalu-lalang, tetapi tak satu pun yang ia kenal. Acha kembali duduk di sofa. Setelah lima menit berlalu, ia lagi-lagi bangkit. Kali ini, ia berdiri lebih dekat dengan pintu, bahkan sempat menjulurkan leher untuk melihat ke arah jalan. Tetap tidak ada tanda-tanda Elvano segera datang. Acha mengembuskan napas panjang. Jam di pergelangan tangannya bahkan sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. “Elvano ke mana, sih?” tanyanya dengan nada yang mulai kesal sambil meraih ponselnya. Sayangnya, masih tak ada pesan ataupun panggi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 215

    Butuh beberapa detik bagi Acha untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Kedua tangannya spontan bertumpu di dada pria itu agar tubuhnya tidak semakin menekan.Jarak wajah mereka yang dekat membuat Acha bisa melihat garis rahang Elvano dengan jelas, bahkan embusan napas pria itu sesekali menyapu wajahnya.Jantung Acha mendadak berdegup tidak karuan.Ini tidak bisa dibiarkan.Ia buru-buru mengangkat tubuhnya, hendak menyingkir. Namun, baru saja lututnya bergeser, tangan Elvano sudah lebih dulu melingkar di pinggangnya.“Eh?”Dalam satu gerakan, Elvano memutar tubuh Acha hingga kini punggungnya justru menyentuh kasur.Pria itu berada tepat di atasnya.Acha sontak membeku. Tarikan napasnya bahkan seperti tertahan di tenggorokan.“El … kamu mau ngapain?” tanyanya dengan suara bergetar.Alih-alih menjawab, pria itu justru mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipi Acha dengan ibu jarinya.Acha sampai menelan ludahnya kuat-kuat saat Elvano menyentuh pipinya.“Saya suka dibangunkan seperti i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 214

    Acha menekan beberapa angka pada panel pintu penthouse. Begitu terdengar bunyi bip, pintu akhirnya terbuka. Ia masuk dengan langkah lelah, lalu menutup pintu di belakangnya dengan gerakan pelan. Sepatu hak tingginya segera dilepas dan dirapikan ke rak di dekat pintu. “Huh, capek banget hari ini,” gumamnya sambil mengembuskan napas panjang. Lampu ruang tengah dinyalakan, sebelum ia berjalan menuju kamar sambil sesekali menarik ujung gaunnya yang masih menyisakan noda merah. Ah, rasanya setiap kali bertemu sang mantan, selalu saja ada kesialan yang dialaminya. Hari ini, ia bahkan nyaris dipermalukan di depan umum hanya gara-gara tunangan Rafael cemburu buta padanya. Padahal amit-amit. Untung saja ada Elvano yang membelanya. Tanpa membuang waktu, Acha segera berganti pakaian, membersihkan wajah, lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Niatnya hanya satu. Tentu saja ingin istirahat dengan tenang setelah hari yang sial ini. Paling tidak, tidur nyenyak karena besok masih harus beker

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 213

    Acha sempat melirik ke arah Rafael. Pria itu tampak gelisah. Matanya bergerak cepat dari Acha ke Viona, seolah sedang mencari celah untuk menjelaskan keadaan. Namun, sebelum sempat menjelaskan apa-apa, Viona sudah lebih dulu menyambar. “Apa maksudmu?” Acha menarik sudut bibirnya sedikit. Bukan senyum ramah, tentu saja. Melainkan senyum tipis sekaligus sinis yang sengaja ia berikan kepada wanita yang sejak tadi menuduhnya tanpa mau mendengar penjelasan. “Saya tadi kembali ke sini dari toilet ketika dia ada di tempat itu.” Acha mengusap ujung gaunnya yang masih basah. “Dia yang menahan saya di sana.” Tatapan menutut Acha berpindah kepada Rafael. “Jadi, kalau Anda benar-benar ingin mencari tahu siapa yang mengejar siapa, mungkin jangan buru-buru menunjuk orang yang salah.” Wajah Rafael sontak memerah. Sementara itu, rahang Viona terlihat mengeras. “Kamu jangan memutarbalikkan fakta!” bentaknya. Suaranya bahkan naik satu oktaf dari sebelumnya. “Saya tidak memutarbalikka

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 212

    Wanita yang disebut namanya oleh Rafael itu tidak menjawab. Pandangannya justru langsung beralih kepada Acha. Tatapan tajamnya menyapu Acha dari atas sampai bawah. Alisnya perlahan terangkat, sementara bibirnya mengatup rapat. “Siapa dia?” tanyanya kepada Rafael dengan nada sinis. “Ternyata benar, kamu selingkuh?” Mata Acha sontak membulat. Apa-apaan ini? Selingkuh, katanya? Sama Rafael? Aih, menjijikkan! Diajak balikan sampai Rafael menangis darah saja ia tidak sudi, apalagi sampai menjadi selingkuhannya. Yang benar saja! “Bukan begitu, Viona.” Rafael buru-buru menyela. Tangannya bahkan sempat terangkat hendak meraih lengan wanita itu. Namun, Viona bergerak lebih cepat. Ia malah menyambar pergelangan Acha dan menariknya agak kasar. “Dasar wanita murahan!” “Hei! Lepas!” Acha yang sedikit terkejut berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman wanita itu justru semakin kuat. “Rafael sudah punya tunangan!” bentak Viona. “Aku tunangannya!” Acha hampir kehilangan

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 211

    Acha menghela napas sedikit kasar. Sungguh, ia tidak ingin berurusan dengan Rafael lagi.Sebab itu, ia kembali melangkah mantap, pura-pura tidak menyadari keberadaan pria itu. Saat ini, tujuannya hanya satu, ingin segera kembali ke tempatnya.Pokoknya, kalau bisa melewati pria itu tanpa satu kata pun, akan lebih baik.Hanya saja, baru beberapa langkah, tumbuhnya langsung tersentak saat tangannya tiba-tiba dicekal.Acha sontak berhenti.“Heh, lepas!”Ia menarik pergelangan tangannya dengan kasar sampai genggaman Rafael terlepas.“Kamu apa-apaan!” bentaknya sambil menatap mantan kekasihnya itu dengan tajam.Alih-alih merasa bersalah, Rafael hanya tersenyum santai, seolah yang dilakukannya itu tidak hampir membuat orang merasa ingin menampolnya.“Di mana-mana kita selalu bertemu,” ujar Rafael. Ekspresi nampak sangat menyebalkan di mata Acha.“Terus?”“Kamu nggak merasa ini bukan kebetulan?”Acha mengernyit. Matanya menatap malas pria itu. “Apa maksudmu?”Pria berjas hitam itu menyandarka

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 3

    Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 1

    “Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status