FAZER LOGINMelihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu.
“Masuk.” Suara Elvano terdengar datar seperti biasa. Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, ini dokumen yang perlu ditandatangani hari ini.” Elvano mengangguk singkat. Tatapannya sekilas menyapu isi dokumen tersebut, lalu meraih pulpen. Ia menandatangani tanpa satu pun komentar. Hanya suara gesek kertas dan goresan tinta yang terdengar cepat. Begitu selesai, Acha segera mengambil kembali berkas itu dan berbalik menuju pintu. Sesaat setelah pintu ruangan tertutup, Acha mengembuskan napas lega. Tumben sekali Elvano tidak mengajukan koreksi atau catatan apa pun. Biasanya, selalu ada saja yang harus dibahas. Sempat terlintas di benaknya, mungkin karena baru saja ia berbicara dengan istrinya. Barangkali, suasana hatinya sedang lebih baik, dan orang sekitarnya ikut kecipratan imbasnya. Jatuh cinta suka begitu, ‘kan? Hanya saja, baru beberapa detik berlalu, Acha segera menepis pikiran itu. Terlebih mengingat lagi raut wajah Elvano tadi tak menunjukkan tanda berbunga-bunga seperti orang jatuh cinta pada umumnya. Dia justru lebih kaku dari biasanya. ‘Dia terlihat kesal.” Acha membatin. ‘Atau … tertekan?’ Acha menggeleng kecil, seolah menertawakan pikirannya sendiri. Ia segera melangkah ke mejanya, memaksa diri kembali fokus pada layar komputer di hadapannya. Urusan pribadi atasannya, jelas-jelas bukan ranahnya. Tanpa disadari, pagi itu sudah hampir habis. Lantai eksekutif yang sejak tadi sunyi perlahan terusik oleh suara langkah sepatu berhak tinggi yang mendekat. Acha mengangkat kepala ketika seseorang berhenti di depan mejanya. Wanita yang familiar dalam pandangannya berdiri anggun di sana. “Permisi.” Acha refleks berdiri, senyumnya langsung terbit di wajahnya. “Selamat siang, Bu Tiara,” sapanya sopan. Sorot mata wanita itu langsung berbinar. “Oh, kamu mengenal saya?” Acha tersenyum kecil. Selama bekerja di sini, ia memang berusaha mengenal lingkungan kantor, termasuk pimpinan juga keluarganya. Bukan tanpa maksud, tetapi jika di kemudian hari bertemu, ia bisa menentukan sikap. Dan, Tiara Adiguna? Siapa yang tidak mengenalnya? Dia figur publik yang kerap menghiasi layar kaca. Orang tuanya pengusaha yang cukup berpengaruh di berbagai lini bisnis. “Tentu saja, Bu,” jawab Acha percaya diri. Tiara mengangguk pelan. Tatapannya tampak mengamati Acha dari atas ke bawah. Namun, tak ada raut merendahkan di sana, melainkan lebih seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu. “Apa kamu sekretaris baru?” tanyanya “Saya belum pernah melihatmu sebelumnya.” “Benar, Bu. Saya baru tiga bulan di sini.” “Oh, pantas.” Senyum Tiara kembali merekah. “Saya jarang ke sini, jadi tidak tahu. Siapa namamu?” “Acha, Bu.” “Baik, Acha.” Tiara mengangkat paper bag kecil yang dibawanya di tangannya. “Apa Elvano ada di ruangannya. Saya bawakan makan siang untuknya.” “Beliau ada, Bu,” jawab Acha, sedikit menyingkir dari balik mejanya. “Silakan.” Tak perlu berjalan jauh. Ruang kerja Elvano tepat di depan meja Acha. Sebelum masuk, Tiara sempat melirik sekeliling. “Elvano sangat sibuk, ya?” tanyanya ringan, seolah sudah tahu jawabannya. “Cukup padat, Bu,” jawab Acha jujur. Tiara terkekeh pelan. “Dia memang begitu sejak dulu. Gila kerja. Kalau sudah urusan kerja, segalanya bisa dikesampingkan.” Nada bicaranya terdengar hangat dan pengertian. Selayaknya seorang istri yang sangat mengenal dan menerima suaminya. Tiba di depan pintu ruang kerja Elvano, Acha mengetuk pelan. Setelah mendapat izin, ia membukanya. “Permisi, Pak. Ada Bu Tiara,” ucapnya. Di dalam, Elvano sontak mendongak. “El, aku bawakan makan siang untukmu.” Tiara melangkah masuk lebih dulu, sementara Acha berhenti di ambang pintu. “Kamu datang?” suara Elvano tetap datar, meski jelas terkejut. “Hanya sebentar,” jawab Tiara lembut. “Aku tidak mau mengganggu.” Acha memilih mundur dan menutup pintu. Dalam benaknya, mereka terlihat seperti pasangan sibuk yang jarang memiliki waktu bersama, seolah punya dunianya masing-masing. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan Elvano kembali terbuka. Tiara keluar dengan ekspresi yang tetap tenang. Namun, sebelum benar-benar pergi, wanita itu kembali menghampiri Acha. “Oh ya, Acha,” katanya, seakan baru teringat sesuatu. “Boleh saya tambahkan kontakmu?” Acha refleks mengerutkan kening. Permintaan itu datang terlalu tiba-tiba, entah apa maksudnya? “Kontak saya, Bu?” Acha memastikan. Tiara tersenyum kecil. Menyadari perubahan ekspresi Acha, ia segera menambahkan. “Bukan apa-apa. Kalau suatu saat Elvano sulit dihubungi, setidaknya saya bisa bertanya padamu. Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nsda ringan, “Atau … mungkin kita bisa menjadi teman.” Kalimat terakhir itu diucapkan begitu santai, nyaris tanpa beban. Namun, butuh beberapa detik bagi Acha mencerna semuanya Teman? Orang sekelas Tiara, aktris terkenal yang terbiasa tampil di depan kamera dan dikenal publik, ingin berteman dengannya? Acha tertawa miris dalam hati. “Oh, boleh, Bu,” jawabnya akhirnya. Ia mengambil ponsel dan membuka fitur pemindaian kontak. Tiara memindainya, lalu menyimpan kontak Acha di ponselnya. “Terima kasih, Acha,” ucapnya ramah. “senang bisa bertemu denganmu.” “Sama-sama, Bu.” Tiara melangkah menuju lift. Tepat sebelum pintu tertutup, ponselnya berdering nyaring. Acha tak berniat memperhatikan, tetapi sekilas ia melihat Tiara menjawab panggilan tersebut. Senyum yang terbit di wajah wanita itu tampak lebih sumringah dibanding sebelumnya. Pintu lift tertutup. Acha kembali duduk. Jarinya berhenti sejenak di atas keyboard. Udah cantik, lembut, pengertian. Pak Elvano beruntung memiliki istri seperti Bu Tiara, pikirnya. Setidaknya, itulah yang Acha yakini di pertemuan perdananya dengan istri atasannya.Seketika itu, Acha menegakkan punggungnya begitu tatapan tajam Elvano masih tertuju padanya hingga beberapa saat kemudian.Cara pria itu memandangnya membuatnya semakin salah tingkah.Jemarinya tanpa sadar saling mencubit di depan tubuh sendiri.“Aku ... haus,” katanya lirih.Namun, begitu kalimat itu keluar, Acha sontak ingin menepuk dahinya.Dari sekian banyak hal yang bisa dikatakan, ia malah terdengar seperti anak kecil yang baru bangun tidur?Tetapi, Elvano sama sekali tidak terlihat memikirkannya sejauh itu.Pria itu hanya bertanya singkat. “Air dingin atau hangat?”“Biasa aja.”Elvano mengangguk pelan. “Oke.”Pria itu menutup setengah laptopnya lalu bangkit dari sofa.Sementara itu, Acha tetap berdiri canggung beberapa detik sebelum memutuskan berjalan mendekat dan duduk di sofa besar yang ada di ruang tengah.Suasana penthouse begitu tenang malam itu. Hanya suara langk
Acha masih mematung di dekat pintu. Ludahnya sesekali ditelan kuat-kuat.Tiba-tiba saja berbagai kemungkinan buruk bermunculan di kepalanya.Bagaimana kalau ada yang tahu dirinya menginap di penthouse Elvano?Bukannya ia melakukan sesuatu yang salah. Hanya saja, namanya pernah diseret-seret dalam kasus perceraian pria itu. Kabar itu memang sudah mulai mereda, tetapi bagaimana kalau kembali muncul karena orang-orang mengetahui mereka tinggal satu atap?Tentu saja semua kabar itu tidak benar.Sayangnya, dunia sering kali tidak peduli pada kebenaran.Orang-orang kadang lebih suka percaya gosip.“Hei.” Suara berat Elvano membuatnya tersentak.Acha refleks mengangkat kepala.Pria itu sudah berdiri beberapa langkah di depannya sambil menatapnya dengan keheranan“Mau berdiri di sana terus?”“Eh?” Acha langsung salah tingkah. “Maaf.”Ia buru-buru melangkah masuk sambil meremas jemarinya sendiri.Di sisi lain, Elvano tidak mengatakan apa-apa lagi. Pria itu kini sudah berada di depan kamar.Ta
Tubuh pria itu tiba-tiba terpental keras ke belakang.Acha bahkan tidak sempat melihat apa yang terjadi. Semuanya berlangsung begitu cepat.Yang ia lihat, pria yang tadi berusaha menerobos masuk ke apartemennya sudah terjatuh keras di lantai koridor.Belum sempat bangkit, seseorang lebih dulu menarik kerah jaketnya.Bugh!Satu pukulan mendarat telak di wajahnya.Bugh!Pukulan kedua menyusul di perutnya tanpa ampun.Acha sontak membekap mulut. Sesaat ia hanya bisa menatap.Sampai akhirnya sosok itu sedikit bergeser dan cahaya koridor jatuh tepat ke wajahnya.Elvano?Ia hampir tak percaya.Sosok yang beberapa menit lalu sempat ia hubungi dalam keadaan panik benar-benar datang, menolongnya.Pria itu pun mengaduh sambil berusaha melindungi wajahnya, sementara Elvano tampak sama sekali tidak berniat berhenti.
Acha segera mengalihkan pandangan. Berusaha meyakinkan diri bahwa dirinya hanya terlalu was was.Mungkin pria itu memang penghuni unit lain di lantai yang sama dengannya dan kebetulan naik di waktu barengan. Meski sudah menyakinkan diri, tetapi Acha tak sepenuhnya bisa tenang. Lift terus bergerak naik.Dia akhirnya berpura-pura membuka ponsel. Namun, sesekali matanya menangkap pantulan pria itu dari dinding lift yang mengkilap.Dan, entah hanya perasaannya atau bukan, Acha merasa pria itu beberapa kali sedang memperhatikannya.Jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat. Sulit rasanya berpikir positif sekarang.Di detik itu juga, Acha tanpa sadar membuka ruang chat dengan Elvano.Ia sendiri tidak terlalu paham kenapa memilih orang itu. Mungkin karena beberapa menit lalu mereka masih bersama.Atau mungkin karena di antara semua orang yang dikenalnya, hanya Elvano yang terasa paling mungkin bisa dihub
Sekitar hampir tiga jam mereka berada di spa, Acha benar-benar menikmati sesi terakhir hingga selesai.Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali benar-benar memanjakan dirinya sendiri seperti ini. Belakangan hidupnya terasa terlalu banyak hal yang memenuhi kepala, membuatnya nyaris tak punya ruang untuk bernapas.Namun, sekarang tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibanding saat datang tadi. Bahkan, bahunya yang beberapa hari terakhir selalu terasa tegang perlahan mulai mengendur.Begitu melihatnya, Widya tersenyum lebar, tampak sangat puas.“Nah, sekarang baru kelihatan segar.”Acha tertawa kecil. “Memangnya tadi aku kelihatan kusut banget, ya, Mi?”“Banget.”“Mi ….”“Mukanya kayak orang habis ditagih utang.”Deg.Acha nyaris tersedak ludah sendiri. Untung saja, Widya segera tertawa, jelas tidak menyadari kalau ucapannya barusan justru terlalu tepat sasaran.Tak lama kemudian, mereka meninggalkan spa dan melanjutkan ke restoran untuk makan siang.Widya yang memilih tempatnya, tentu sa
Acha masih sempat menatap tak percaya bangunan di hadapannya beberapa detik.Sampai sekarang pun ia belum benar-benar paham kenapa Widya mengajaknya ke tempat yang bahkan satu kursi di ruang tunggunya saja mungkin lebih mahal daripada seluruh isi apartemennya.“Hei.”Acha sedikit tersentak saat suara Elvano terdengar “Masuk sana.” Elvano menunjuk pintu bangunan itu dengan dagu.“Hah?” Acha masih sulit mencerna semua ini.“Kamu sudah ditunggu,” lanjut Elvano.“Saya antar sampai sini. Di dalam isinya perempuan semua.”“Oh.”Acha buru-buru mengangguk, sambil menahan senyum melihat ekspresi tidak nyaman Elvano.Baru saja ia membuka pintu mobil, suara Elvano kembali terdengar.“Happy fun.”Acha menoleh lagi.Pria itu sudah kembali menatap lurus ke depan, seolah tidak merasa ada yang aneh dengan ucapannya barusan.Sementara Acha lagi-lagi hanya bengong.Happy fun? Happy fun apanya?Ia saja sangat deg-degan begini.Namun, pada akhirnya Acha tetap turun dari mobil. Sepanjang berjalan menuju







