Share

Bab 5

Author: Kharamiza
last update Last Updated: 2025-12-31 10:39:52

Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya.

Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habis untuk mengatur ulang jadwal, mengantar berkas, hingga sekadar memastikan kebutuhan Elvano terpenuhi tepat waktu.

Jadwal atasannya yang super padat itu pelan-pelan menguras energinya. Acha bukannya ingin mengeluh, namun rasa lelah yang menjalar terkadang membuatnya ingin tumbang.

Begitu tiba di apartemen, sepatu dilepas asal, tas diletakkan ke sembarang tempat. Acha langsung menjatuhkan tubuh ke sofa, menatap langit-langit sambil sesekali menarik napas panjang

Matanya memejam sejenak, membiarkan tubuhnya beristirahat. Untuk sekali ini, ia hanya ingin diam, tanpa gangguan.

Namun, meski hari-harinya terasa melelahkan, keesokan paginya, Acha tetap bangun dan kembali ke kantor, seolah tubuhnya memang sudah akrab dengan segala kesibukan itu.

Seperti biasa, ia langsung disambut dengan tumpukan pekerjaan sejak pagi. Terlebih, sore nanti ada agenda internal yang penting yang akan dipimpin langsung oleh Elvano dan pria itu tidak suka ada kesalahan sekecil apa pun.

Saat Acha menyerahkan dokumen yang dibutuhkan, Elvano menerimanya tanpa banyak bicara.

“Yang ini urutan pembahasan,” jelas Acha sambil menunjuk pada salah satu halaman. "Kalau yang ini notulensi minggu lalu."

Elvano mengangguk pelan dan membalik kertas. Di saat yang sama, Acha hendak menarik tangannya. Jemari mereka sontak bersentuhan.

Meski hanya beberapa detik, Acha refleks menegakkan tubuh. Jantungnya seketika berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.

Ia melirik Elvano sekilas sebelum buru-buru mengalihkan pandangan dan menarik diri sedikit menjauh dari Elvano.

“Maaf, Pak,” ucapnya cepat.

“Hm.”

Gumaman singkatnya justru membuat Acha semakin tidak tenang. Bagaimana kalau Elvano menganggapnya melewati batas?

“Kau bisa pergi,” ujar Elvano kemudian.

Acha langsung melangkah cepat keluar ruangan, seakan itu memang saat yang ditunggu-tunggu agar segera enyah dari hadapan Elvano.

Begitu pintu tertutup, ia menghela napas panjang. Acha paham bagaimana lingkungan kantor bekerja. Gosip-gosip mudah sekali untuk menyebar luas. ‘Astaga, seharusnya aku bisa lebih hati-hati,’ ujarnya merutuki diri sendiri.

Rapat internal selesai menjelang petang, menyisakan catatan dan revisi kecil yang sebetulnya sifatnya tidak darurat, yang sebenarnya bisa dikerjakan esok hari, tetapi Elvano tidak suka ada sesuatu yang tertunda.

Acha menjadi terbiasa menuruti keinginan pria itu, bahkan saat hampir semua karyawan lain pulang, ia masih kerja hingga malam tiba. Seperti malam ini, Elvano berdiri di samping mejanya, tetapi dalam posisi yang terlalu dekat untuk sekadar mengawasi.

“Yang ini,” ucapnya sambil menunjuk layar.

Acha memiringkan badan, tangannya bergerak ke trackpad.

Belum sempat Acha memperbaiki, ketika—

Klik!

Lampu tiba-tiba padam.

Seluruh ruangan pun gelap dalam seketika.

“Kok, mati?” gumam Acha refleks. “Bapak nggak bayar tagihan, kah?”

Komentar spontan itu tak ditanggapi Elvano. Ia justru bergerak cepat, merogoh ponsel dari saku jasnya, berniat menghubungi petugas.

Namun, di saat bersamaan, Acha berdiri dari kursinya.

Punggungnya menabrak dada Elvano yang berdiri tepat di belakangnya.

Acha refleks hendak mundur, tetapi kakinya tersangkut kaki kursi. Kursi itu bergeser. Keseimbangannya pun hilang.

“Ah!”

Tanpa ia sangka, sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, tangan Elvano sudah lebih dulu menangkap pinggangnya dengan kuat. Tetapi dorongan mendadak itu malah membuatnya terpojok ke meja.

Brak!

Telapak tangan Elvano menahan di sisi meja, mengurung tubuh Acha di antaranya.

Jarak mereka seketika menyempit. Dalam keremangan, cahaya dari gedung sebelah menembus kisi jendela, cukup untuk memperlihatkan wajah Elvano yang berada tepat di depan wajahnya, terlalu dekat untuk diabaikan.

Dalam gelap, ia bisa merasakan hangat napas Elvano menyapu pipinya. Lengan pria itu kokoh di dekat bahunya. Dan, tangan di pinggangnya, cukup untuk menyadarkan sepenuhnya pada posisi mereka. 

“Pak, Elvano …,” suaranya melemah sendiri.

Tak ada jawaban. Hanya ada deru napas yang mengisi hening.

Hingga tiba-tiba cahaya senter menyapu ke seluruh ruangan, dan berhenti tepat pada mereka.

“Pak, Elvano?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 115

    Acha dan Elvano masih menatap kaku boneka yang baru saja keluar dari mesin di sebelah mereka.Sementara pasangan muda-mudi itu sudah berlalu menuruni eskalator. Acha masih sempat melongo, nyaris tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.Itu serius? Cuma karena dicium pipi … langsung dapat?Ia melirik mesin capit di depannya dengan tatapan curiga. Dari tadi ia sudah berjuang cukup keras untuk mendapatkan boneka itu, sementara pengunjung di sebelah mereka barusan bisa mendapatkan dengan begitu mudahnya.“Ini mesin pilih kasih,” gumamnya pelan.Elvano meliriknya sekilas. “Mesin tidak punya perasaan,” timpalnya.“Tapi, tadi jelas beda perlakuannya ke kita dan mereka, Pak.”Elvano tidak menanggapi.Acha menghela napas kesal sambil mengerucutkan bibirnya. “Ya sudah. Kita pulang saja, Pak.”Ia hendak menjauh dari mesin itu. Namun, tiba-tiba Elvano berkata singkat. “Tunggu.”Acha sontak menoleh. Saat itu Elvano sudah memasukkan koin lagi.Ia menggerakkan tuas mesin dengan wajah dat

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 114

    Acha sedikit tersentak mendengar ucapan pria itu.Maksudnya apa tiba-tiba mau memasangkan cincin di jari manisnya?Aneh sekali. Ia bahkan tidak mengenal pria itu.Acha lalu menunjuk dirinya sendiri, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Sa-saya?” “Iya, Mbak.” Pria itu mengangguk cepat. “Ukuran jari Mbak kayaknya mirip dengan kekasih saya.”Acha langsung membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Oh. Cincin buat sang kekasih ternyata.Baru saja beberapa detik lalu, Acha salah paham. Ia bahkan sempat mengira pria ini memiliki kelainan ketika dia tiba-tiba menariknya dan hendak memasangkan cincin di jari manisnya begitu saja.Ah, usaha pria ini sungguh luar biasa sekali. Andai saja ia juga punya kekasih yang seperti itu.“Jadi, apakah boleh bantu coba cincin ini sebentar, Mbak?” lanjut pria itu dengan tatapan seten

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 113

    Tiara. Astaga, berani sekali melakukan hal seperti itu di tempat seperti ini. Sebagai publik figur, Tiara seharusnya lebih berhati-hati. Bagaimana kalau ada media yang kebetulan melihatnya barusan? Sudah pasti berita seperti itu akan langsung jadi isu panas. Tepat setelah mobil itu akhirnya melaju keluar dari area basement, Acha perlahan menoleh. Saat itulah ia menyadari tatapan dingin Elvano tertuju ke arah yang sama. Yang berarti, dia juga melihat istrinya mesra dengan pria lain? Namun, mengapa ia begitu tenang. Padahal, siapa pun yang melihat Tiara dan pria tadi pasti bisa menyimpulkan kalau mereka sedang dekat, lebih dari sekadar rekan kerja. “Pa-Pak Elvano,” panggilnya pelan. “Bapak baik-baik saja?” Acha berpikir, diamnya Elvano mungkin karena sedang berusaha mencerna kenyataan itu. Bisa saja dadanya sedang sangat sesak, meski sekarang reaksinya tak banyak. Pria itu menoleh. Alisnya sedikit terangkat. “Pertanyaanmu seperti saya baru saja kena masalah.” Loh? Bukankah y

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 112

    Sejak menerima telepon dari Raka semalam, Acha lagi-lagi hampir tidak bisa benar-benar merasa tenang.Di tengah situasi seperti ini, kenapa ia justru harus pergi berdua dengan Elvano? Ia terus saja memikirkan kemungkinan paling buruk. Bagaimana kalau orang-orang Tiara ada di acara itu, dan melihatnya datang bersama Elvano? Mungkin saja sengaja mengikutinya juga.Bukankah itu hanya akan memberi bahan baru untuk memojokkannya?Acha bahkan sempat berpikir mencari alasan untuk menolak saja.Sakit perut mendadak. Pusing. Atau, apa saja yang masuk akal bisa dijadikan alasan.Namun, pada akhirnya, Minggu siang itu ia tetap bersedia mendampingi Elvano. Kini ia sudah duduk beraama Elvano di kursi penumpang mobil yang melaju tenang menuju lokasi acara grand opening.Lagipula, siapa dirinya?Ia sekretaris Elvano. Bekerja langsung di bawah pria itu. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, tentu ia memang harus s

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 111

    Deretan angka yang begitu asing dalam pandangannya itu muncul di layar. Ia sempat ragu sejenak, namun pada akhirnya tetap membuka. [+6281xx: Hai, calon mantu. Ini saya Wiwi, Ibu yang kamu tolong tadi.][+6281xx: Putra saya lagi ada di rumah. Kalau berkenan, kamu boleh kok, ke sini. Kenalan langsung dengannya.]Acha menatap layar ponselnya beberapa detik. Kedua alisnya perlahan bertaut.Tanpa sadar, sudut bibirnya menyungging tipis, sebelum ia bergumam pelan. “Astaga … ada-ada saja.”“Siapa, Acha?” Celine langsung menegakkan tubuh dari karpet, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.Acha menghela napas pendek, lalu mengangkat ponselnya sedikit seolah menunjukkan bukti. “Itu, Bu Wiwi yang tadi kuceritain. Ngajak ke rumah katanya anaknya lagi di rumah.”Tawa Celine kembali tersembur, sampai ia harus menepuk karpet di depannya.“Serius?!” Celine hampir terbahak. “Ini beneran ibu-ibu random di jalan tapi progre

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 110

    Seperginya wanita itu, Acha melirik jam tangannya sekilas sebelum meraih ponsel dari dalam tas. Kakinya sudah melangkah masuk ke supermarket yang tak jauh dari restoran tadi. Lampu putih terang langsung menyambutnya begitu pintu kaca otomatis terbuka.Acha berhenti sebentar di dekat rak keranjang, lalu menunduk mengetik cepat.[Guys, nongki di apartemen aku aja boleh, nggak? Aku kayaknya agak telat.]Tak butuh waktu lama, balasan Dina datang tanpa banyak bertanya.[Dina: Yaudah, boleh, deh.]Acha tersenyum kecil melihat balasan itu. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas sebelum mengambil troli dan mulai berjalan menyusuri lorong-lorong rak.Sebenarnya ia hanya berniat membeli beberapa bahan dapur sederhana. Telur, sayur, atau lauk yang instan-instan, mungkin juga camilan. Hanya saja, entah kenapa, kepalanya masih penuh dengan kejadian beberapa menit yang lalu.Ia sampai harus berhenti sebentar di depan r

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status