เข้าสู่ระบบHari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya.
Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habis untuk mengatur ulang jadwal, mengantar berkas, hingga sekadar memastikan kebutuhan Elvano terpenuhi tepat waktu. Jadwal atasannya yang super padat itu pelan-pelan menguras energinya. Acha bukannya ingin mengeluh, namun rasa lelah yang menjalar terkadang membuatnya ingin tumbang. Begitu tiba di apartemen, sepatu dilepas asal, tas diletakkan ke sembarang tempat. Acha langsung menjatuhkan tubuh ke sofa, menatap langit-langit sambil sesekali menarik napas panjang Matanya memejam sejenak, membiarkan tubuhnya beristirahat. Untuk sekali ini, ia hanya ingin diam, tanpa gangguan. Namun, meski hari-harinya terasa melelahkan, keesokan paginya, Acha tetap bangun dan kembali ke kantor, seolah tubuhnya memang sudah akrab dengan segala kesibukan itu. Seperti biasa, ia langsung disambut dengan tumpukan pekerjaan sejak pagi. Terlebih, sore nanti ada agenda internal yang penting yang akan dipimpin langsung oleh Elvano dan pria itu tidak suka ada kesalahan sekecil apa pun. Saat Acha menyerahkan dokumen yang dibutuhkan, Elvano menerimanya tanpa banyak bicara. “Yang ini urutan pembahasan,” jelas Acha sambil menunjuk pada salah satu halaman. "Kalau yang ini notulensi minggu lalu." Elvano mengangguk pelan dan membalik kertas. Di saat yang sama, Acha hendak menarik tangannya. Jemari mereka sontak bersentuhan. Meski hanya beberapa detik, Acha refleks menegakkan tubuh. Jantungnya seketika berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Ia melirik Elvano sekilas sebelum buru-buru mengalihkan pandangan dan menarik diri sedikit menjauh dari Elvano. “Maaf, Pak,” ucapnya cepat. “Hm.” Gumaman singkatnya justru membuat Acha semakin tidak tenang. Bagaimana kalau Elvano menganggapnya melewati batas? “Kau bisa pergi,” ujar Elvano kemudian. Acha langsung melangkah cepat keluar ruangan, seakan itu memang saat yang ditunggu-tunggu agar segera enyah dari hadapan Elvano. Begitu pintu tertutup, ia menghela napas panjang. Acha paham bagaimana lingkungan kantor bekerja. Gosip-gosip mudah sekali untuk menyebar luas. ‘Astaga, seharusnya aku bisa lebih hati-hati,’ ujarnya merutuki diri sendiri. Rapat internal selesai menjelang petang, menyisakan catatan dan revisi kecil yang sebetulnya sifatnya tidak darurat, yang sebenarnya bisa dikerjakan esok hari, tetapi Elvano tidak suka ada sesuatu yang tertunda. Acha menjadi terbiasa menuruti keinginan pria itu, bahkan saat hampir semua karyawan lain pulang, ia masih kerja hingga malam tiba. Seperti malam ini, Elvano berdiri di samping mejanya, tetapi dalam posisi yang terlalu dekat untuk sekadar mengawasi. “Yang ini,” ucapnya sambil menunjuk layar. Acha memiringkan badan, tangannya bergerak ke trackpad. Belum sempat Acha memperbaiki, ketika— Klik! Lampu tiba-tiba padam. Seluruh ruangan pun gelap dalam seketika. “Kok, mati?” gumam Acha refleks. “Bapak nggak bayar tagihan, kah?” Komentar spontan itu tak ditanggapi Elvano. Ia justru bergerak cepat, merogoh ponsel dari saku jasnya, berniat menghubungi petugas. Namun, di saat bersamaan, Acha berdiri dari kursinya. Punggungnya menabrak dada Elvano yang berdiri tepat di belakangnya. Acha refleks hendak mundur, tetapi kakinya tersangkut kaki kursi. Kursi itu bergeser. Keseimbangannya pun hilang. “Ah!” Tanpa ia sangka, sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, tangan Elvano sudah lebih dulu menangkap pinggangnya dengan kuat. Tetapi dorongan mendadak itu malah membuatnya terpojok ke meja. Brak! Telapak tangan Elvano menahan di sisi meja, mengurung tubuh Acha di antaranya. Jarak mereka seketika menyempit. Dalam keremangan, cahaya dari gedung sebelah menembus kisi jendela, cukup untuk memperlihatkan wajah Elvano yang berada tepat di depan wajahnya, terlalu dekat untuk diabaikan. Dalam gelap, ia bisa merasakan hangat napas Elvano menyapu pipinya. Lengan pria itu kokoh di dekat bahunya. Dan, tangan di pinggangnya, cukup untuk menyadarkan sepenuhnya pada posisi mereka. “Pak, Elvano …,” suaranya melemah sendiri. Tak ada jawaban. Hanya ada deru napas yang mengisi hening. Hingga tiba-tiba cahaya senter menyapu ke seluruh ruangan, dan berhenti tepat pada mereka. “Pak, Elvano?”Setelah kepergian Elvano, Acha tetap duduk di lantai kamar hotel beberapa saat, membiarkan dinginnya marmer menyusup ke kulitnya.Napasnya belum sepenuhnya stabil ketika akhirnya ia memaksa diri berdiri. Tas lengan di meja digenggam seadanya saat melangkah gontai keluar kamar hotel, meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi.Memasuki lift, Acha sempat melirik ke dinding kaca lift. Bayangan wajahnya tampak pucat, bahkan ia sendiri merasa asing dengan tubuh yang berdiri di sana.Begitu keluar dari hotel, Acha melihat orang-orang berlalu-lalang, kendaraan melintas seperti biasanya. Hanya dadanya yang sesak, seolah ada sesuatu menghantuinya terus menerus.Dalam perjalanan menuju apartemen, Acha lebih banyak diam, berbicara hanya ketika menyebutkan alamat pada pengemudi taksi. Suasana hatinya terlalu buruk untuk sekadar berbasa-basi.Di tengah kekalutannya itu, keinginan untuk berhenti bekerja dan menjauh dari Elvano muncul begitu saja. Rasa
Begitu terbangun di pagi hari, Acha langsung merasakan ada sesuatu yang aneh menekan perutnya. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Napasnya tertahan. Ada rasa tak nyaman yang muncul begitu saja, bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata.Ia terdiam beberapa saat, menatap langit-langit kamar, seakan berusaha mencerna semuanya. Pemandangan itu jelas bukan yang biasa ia lihat setiap pagi. Ketika kesadarannya berangsur penuh, dada Acha mengencang. Udara di sekitarnya begitu asing.Ia menelan ludah. Tubuhnya tampak terlalu ringan, sementara selimut yang menutupinya terasa begitu tipis, seolah tak benar-benar memberi rasa aman sedikit pun.Keraguan sempat menahan gerakannya sebentar, namun rasa itu kalah oleh dorongan ingin memastikan.Dengan hati-hati, Acha mengintip ke bawah selimut.Ia tersentak.Acha refleks bergerak menjauh, tetapi karena terlalu panik, ia jadi ceroboh. Keseimbangannya hilang, dan tubuhnya terguling ke samping ranjang. Kepalanya membentur meja kecil di sisi ranj
Acha berdiri kaku mendengar ucapan Elvano. Ada sesuatu dalam nada pria itu yang membuat tengkuknya terasa dingin. ‘Tolong?’ batin Acha. Ia tahu Elvano sedang di bawah pengaruh obat. Dengan pengetahuan itu, Acha jadi semakin gelisah. Ia tidak mengerti permintaan tolong seperti apa yang dimaksud Elvano, firasat buruk pun perlahan merayap di kepalanya. “Saya harus ngapain, Pak?” tanyanya pelan. Elvano menarik napas berat. Ia semakin tak tenang ketika genggaman Elvano di pergelangannya belum juga terlepas. Sentuhan itu membuatnya tak nyaman, tetapi ia menahan diri. “Bawa saya ke tempat aman sekarang,” kata Elvano singkat. “Hotel. Yang paling dekat.” Permintaan itu membuat Acha makin gugup. Ini jauh dari rencana awalnya yang hanya berniat menjemput dan memastikan Elvano pulang. Namun, melihat kondisinya yang kian memburuk, Acha juga tidak tega mengabaikan, apalagi sampai meninggalkannya. “Baik, Pak,” jawabnya akhirnya. Meski dadanya masih berdebat, ia tetap membantu Elvano berd
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Raka melangkah mendekat dengan senter di tangannya. “Saya sudah cek panel listrik lantai eksekutif. Sepertinya, ada gangguan di jalur utama. Saya sudah hubungi teknisi gedung, mereka lagi menuju ke sini, Pak.” “Baik,” jawab Elvano singkat, lalu menoleh pada Acha. “Kamu pulang saja. Besok dilanjutkan.” Acha mengangguk cepat. Tanpa berani menatap siapa pun, ia meraih tas dan melangkah tergesa menuju lift. Untungnya, meski lampu padam, lift masih sempat berfungsi dengan daya cadangan, seolah memberinya kesempatan segera menjauh dari hadapan Elvano. Pintu menutup perlahan, dan barulah Acha sadar dadanya masih naik turun tak beraturan. Tiba di apartemen, Acha melempar tas
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habis untuk mengatur ulang jadwal, mengantar berkas, hingga sekadar memastikan kebutuhan Elvano terpenuhi tepat waktu. Jadwal atasannya yang super padat itu pelan-pelan menguras energinya. Acha bukannya ingin mengeluh, namun rasa lelah yang menjalar terkadang membuatnya ingin tumbang. Begitu tiba di apartemen, sepatu dilepas asal, tas diletakkan ke sembarang tempat. Acha langsung menjatuhkan tubuh ke sofa, menatap langit-langit sambil sesekali menarik napas panjang Matanya memejam sejenak, membiarkan tubuhnya beristirahat. Untuk sekali ini, ia hanya ingin diam, tanpa gangguan. Namun, meski hari-harinya terasa melelahkan, keesokan paginya, Acha tetap bangun dan kembali ke kantor, seolah t
Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, ini dokumen yang perlu ditandatangani hari ini.”Elvano mengangguk singkat. Tatapannya sekilas menyapu isi dokumen tersebut, lalu meraih pulpen. Ia menandatangani tanpa satu pun komentar. Hanya suara gesek kertas dan goresan tinta yang terdengar cepat. Begitu selesai, Acha segera mengambil kembali berkas itu dan berbalik menuju pintu.Sesaat setelah pintu ruangan tertutup, Acha mengembuskan napas lega. Tumben sekali Elvano tidak mengajukan koreksi atau catatan apa pun. Biasanya, selalu ada saja yang harus dibahas. Sempat terlintas di benaknya, mungkin karena baru saja ia berbicara dengan istrinya. Barangkali, suasana hatinya sedang lebih baik, dan orang sekitarnya ikut kecipratan imbasnya.







