MasukAcha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka.
Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Raka melangkah mendekat dengan senter di tangannya. “Saya sudah cek panel listrik lantai eksekutif. Sepertinya, ada gangguan di jalur utama. Saya sudah hubungi teknisi gedung, mereka lagi menuju ke sini, Pak.” “Baik,” jawab Elvano singkat, lalu menoleh pada Acha. “Kamu pulang saja. Besok dilanjutkan.” Acha mengangguk cepat. Tanpa berani menatap siapa pun, ia meraih tas dan melangkah tergesa menuju lift. Untungnya, meski lampu padam, lift masih sempat berfungsi dengan daya cadangan, seolah memberinya kesempatan segera menjauh dari hadapan Elvano. Pintu menutup perlahan, dan barulah Acha sadar dadanya masih naik turun tak beraturan. Tiba di apartemen, Acha melempar tas ke lantai. Ia berdiri di tengah ruang tamu, jari-jarinya mencengkeram rambut, mengacaknya dengan kasar sambil menggeleng berulang kali. “Bodoh!” desisnya lirih Sepenuhnya bukan salah Elvano, justru tubuhnya sendiri yang sempat membeku, tak bisa berkutik ketika tangan besar atasannya itu berada di pinggangnya dengan jarak yang terlalu dekat. Acha merasa konyol sendiri, bukan karena apa yang terjadi, melainkan karena ia merasa menjadi satu-satunya yang bereaksi berlebihan, bahkan sensasi hangat di pinggangnya belum sepenuhnya hilang. Sungguh menyebalkan. Keesokan harinya, Acha datang ke kantor dengan perasaan canggung yang masih melekat. Acha menjadi lebih berhati-hati dari biasanya. Ia mengerjap setiap kali Elvano memanggilnya. Apabila dipanggil masuk ke ruangan Elvano, langkahnya melambat tanpa sadar, napasnya sempat tertahan sepersekian detik sebelum mengetuk pintu. Acha hanya datang untuk hal yang benar-benar perlu diselesaikan segera, berbicara seperlunya, lalu segera pergi seolah jarak adalah satu-satunya cara agar ia tetap waras. Bukan karena marah, apalagi benci. Ia hanya belum siap dengan reaksi dirinya sendiri setelah kejadian semalam. Yang Acha tahu, ia harus bekerja profesional. Menjelang malam, Acha masih berada di kantor. Ia menutup email terakhir dengan tarikan napas pelan, memaksa fokusnya tetap utuh. Di ruangan itu, hanya ada dia dan Raka. Ponsel Raka yang tergeletak di atas meja bergetar lagi, untuk ke sekian kalinya sejak tadi. Dari sudut mata, Acha melihat pria itu akhirnya bangkit dan segera menjauh untuk menerima telepon. Acha tak tahu apa yang sedang dibicarakan, tetapi ketika Raka kembali, raut wajah pria itu berubah tegang. “Acha,” panggilnya cepat. “Kamu bisa jemput Pak Elvano sekarang?” Acha tertegun. “Saya?” “Iya,” Raka mengusap wajahnya sekilas. “Saya ada urusan … penting. Ini kalau salah langkah sedikit saja, dampaknya bisa panjang.” Acha terdiam beberapa detik, ia memerhatikan kembali raut wajah Raka yang terlihat kesulitan. Mata Raka menatap layar ponselnya lagi, kemudian kembali menatap Acha. “Tolong, ya, Acha?” Melihatnya, Acha kembali menimbang permintaan itu. “Memangnya Pak Elvano di mana?” Raka segera mengirim lokasi. Ting! Acha menatap layar ponselnya cukup lama. “Klub?” gumamnya hampir tak percaya. Raka mengangguk pelan. “Pak Elvano tadi bertemu teman sekaligus klien lamanya di klub, mungkin kecapean jadi minta dijemput. Saya pikir kalau sekadar jemput, kamu juga bisa melakukannya. Tolong ya, Acha. Malam ini saja bantuin saya.” Acha mendesah pelan. Terlepas dari bertemu teman lama, tetapi melihat lokasi yang dikirim Raka membuat Acha menebak dalam kondisi apa Elvano berada. “Yang mabuk siapa, yang repot siapa,” cibirnya. “Pak Elvano bukan orang seperti itu,” balas Raka cepat. “Dan, saya nggak mungkin ninggalin urusan ini. Kalau kamu nggak bis—” Acha mengibaskan tangan. “Bukan, bukan itu.” Ia diam sejenak. Dadanya jelas merasa tak nyaman, bukan karena diminta melakukan pekerjaan yang di luar kapabilitasnya, tetapi ini menjemput seorang Elvano. Sejak kejadian semalam, mengingat nama pria itu saja sudah membuatnya kalut. Perasaan canggung dari siang tadi belum hilang. Namun, sekarang, ia justru harus menemuinya lagi!? Ironisnya, malah di sebuah klub, dari semua tempat yang ada! ‘Duh, kenapa harus malam ini?’ “Baik, saya akan jemput,” ucap Acha akhirnya. “Saya akan antar Pak Elvano sampai rumah. Habis itu saya pulang.” Raka mengangguk dan menghela napas lega. “Terima kasih. Saya benar-benar utang padamu kali ini.” Acha mengangguk. Meski hatinya masih sedikit ragu, ia tetap meraih tasnya dan beranjak pergi. Tak sampai dua puluh menit, Acha sudah berdiri di depan pintu sebuah klub malam. Musik berdentum keras, cahaya lampu berkelip, aroma alkohol bercampur asap rokok menyambut begitu ia masuk. Matanya menyapu cepat ke sekeliling, hingga akhirnya tertumbuk pada sosok di sudut VIP. Elvano di sana, bersandar pada sofa dengan punggung sedikit membungkuk. Jasnya tergeletak sembarangan, dasi terlepas, dan satu kancing kemeja bagian atas terbuka. Wajahnya tampak memerah, seperti menahan hawa panas yang tak wajar. Acha melangkah mendekat. “Pak Elvano.” Kepala itu terangkat. Tatapannya langsung mengunci wajah Acha. “Kamu …,” suaranya serak dan berat, “kenapa kamu yang datang, Acha?” “Pak Raka minta tolong saya,” jawab Acha cepat. Tangannya terulur, berniat membantu pria itu berdiri. “Ayo, Pak. Kita pulang sekarang.” Belum sempat jemarinya menyentuh lengan Elvano ketika pergelangannya lebih dulu ditahan. Acha tersentak. Baru saat itu, ia benar-benar memperhatikan wajah pria di depannya itu. Wajahnya merah, urat lehernya menegang, bahkan tarikan napasnya terdengar berat. Pasti ada sesuatu yang salah. Dan, firasat itu semakin kuat ketika pandangannya tanpa sengaja bergerak turun sedikit. Acha sontak menelan ludah. Di balik kain celananya, sesuatu tampak menonjol dengan jelas, bahkan terlalu jelas untuk disalahartikan. Tubuh Acha membeku. Otaknya mendadak kosong sepersekian detik, lalu panik datang bersamaan dengan rona merah yang menjalar ke pipinya. ‘Astaga, apa dia minum obat perangsang?’ batinnya, buru-buru mengalihkan pandangan, tubuhnya mendadak panas dingin. Tangannya ingin dilepas, tetapi genggaman Elvano terlalu kuat seolah menahannya tetap di tempat. “Pak … Anda—” suaranya nyaris tercekat. Elvano menatapnya. Cara pria itu menatapnya sedikit membuat napas Acha tersangkut di tenggorokan. Pria itu terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha keras menahan diri. Genggaman di lengannya mengeras sedikit. “Tolong saya, Acha.”Setelah dirawat semalam penuh, Acha akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit keesokan harinya. Demamnya memang sudah turun, meski tubuhnya masih terasa lemas. Setidaknya, kondisinya memang sudah jauh lebih baik dari semalam. Dokter juga menyarankan agar ia banyak beristirahat dan tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja beberapa hari ke depan. Dina sebenarnya ingin menemani Acha pulang, tetapi ada pekerjaan yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya, hanya Celine yang menemani Acha di apartemen Dina. “Kamu istirahat aja,” ujar Celine sambil meletakkan tasnya di atas meja begitu mereka tiba. “Jangan banyak gerak dulu.” Acha yang sudah duduk di sofa hanya mengangguk. Pandangannya kemudian beralih kepada Celine. “Cel.” “Hm?” “Makasih, ya.” Celine yang sedang mengambil air minum menoleh. “Buat apa?” “Karena kalian udah nemenin aku dari kemarin. Kamu sampe rela cuti buat nemenin aku.” “Oh?” Celine malah terkekeh kecil. “Santai, kayak sama siapa aja. Lagian, ak
Suara roda brankar yang melintas di depan ruang IGD terdengar samar di telinga Acha. Ia hanya berbaring diam di atas ranjang, menatap langit-langit putih dengan pandangan sayu.Tangan kanannya sudah terpasang infus. Tubuhnya masih terasa lemas, sementara kepalanya sedikit pening.Tadi, setelah mengetahui Acha demam, Dina dan Celine langsung memaksanya pergi ke rumah sakit.Acha sempat menolak karena merasa masih sanggup menahan. Namun, kedua sahabatnya itu sama sekali tidak mau mendengarkan. Pada akhirnya, ia hanya bisa pasrah.Kini, Dina dan Celine duduk di kursi samping ranjang sambil sesekali memperhatikan kondisinya.“Kalau capek, istirahat, Cha,” ujar Dina memecah keheningan. “Jangan tunggu drop dulu.”“Gimana mau istirahat? Kerjaannya banyak,” jawab Acha lemah.“Dari kemarin kamu stres, kelelahan, kurang tidur, pasti pola makanmu juga berantakan,” omel Celine. “Kalau cuma kerjaan, nggak biasanya kamu begini. Ini pasti karena kamu terlalu mikirin masalah sama Elvano.”“Nggak ada,
Celine langsung bergeser mendekat. Raut terkejut di wajahnya belum juga hilang.“Kenapa, Cha?” tanyanya. “Nggak mungkin dia ngusir kamu, kan?”Acha masih memandangi langit-langit sambil sesekali mengembuskan napas berat. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng pelan.“Aku cuma merasa harus pergi dari sana.”“Ada apa?” Celine semakin bingung. “Bukannya kalian sudah sama-sama ngungkapin perasaan? Harusnya itu arah yang baik untuk hubungan kalian.”Acha terdiam.Seharusnya memang itu arah yang baik. Sayangnya, ia tak seberuntung itu.Ia memperbaiki posisi duduknya, lalu menelan ludah yang terasa berat melewati kerongkongannya. Tangannya meremas ujung bantal yang baru saja diambil dan diletakkan di pangkuannya.Dina dan Celine saling berpandangan. Keduanya kemudian kembali menatap Acha, menunggu penjelasan dari sahabat mereka itu.“Iya,” jawab Acha akhirnya. “Harusnya itu perkembangan.”Ia terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis. Namun, senyum itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda
Sejak tiba di kantor, Acha berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Ia membuka beberapa dokumen yang sejak tadi menunggu untuk diperiksa, lalu mulai mengerjakannya satu per satu.Sesekali tangannya naik untuk memijat pelipis ketika kepalanya terasa berat.Mungkin karena kurang tidur semalam, atau karena akhir-akhir ini pikirannya memang tidak pernah benar-benar tenang.Acha mengembuskan napas pelan, lalu kembali menatap layar komputer.Ia tidak boleh terus memikirkan hal itu. Bagaimanapun, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.Selang beberapa saat, ia melirik jam tangannya, kemudian bangkit dari kursi menuju pantry.Tak butuh waktu lama, ia kembali membawa secangkir kopi, lalu mengambil beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Elvano di mejanya.Acha kemudian berjalan menuju ruang presiden direktur.Jantungnya sempat berdetak sedikit lebih cepat saat ia mengetuk pintu dengan pelan.Karena tidak ada jawaban dari dalam, ia akhirnya membuka pintu sedikit.Namun, l
Ketika jam kerja selesai, Acha segera pulang ke penthouse. Namun, ia langsung menyadari kalau Elvano ternyata belum pulang.Ruangan besar itu terasa begitu sunyi.Acha bahkan tidak tahu Elvano pergi ke mana setelah dari kantor tadi. Pria itu tidak mengirimkan pesan apa pun untuk memberitahukan keberadaannya.Ah, mengapa ia berlagak seolah-olah penting bagi Elvano?Pria itu saja tidak menganggapnya demikian, kan?Acha hanya berdiri beberapa saat di ruang tengah sebelum akhirnya masuk ke kamarnya.Ia membersihkan diri, kemudian merebahkan tubuh di atas tempat tidur.Sialnya, matanya tidak juga bisa terpejam. Pemandangan yang dilihatnya di depan gedung kantor tadi kembali muncul di kepalanya, seperti sengaja terus membayanginya.Acha memejamkan mata rapat-rapat sambil menggeleng beberapa kali.Ia sudah tidak ingin memikirkannya lagi. Mungkin memang sudah waktunya ia mulai menjaga jarak dari Elvano.Bukan karena ia membenci pria itu. Justru karena ia terlalu menyukainya, sehingga Acha tid
Suara kantin yang sejak tadi ramai mendadak terasa jauh dari Acha.Sendok di tangannya masih berada di atas piring, tetapi ia seperti tidak lagi berniat menyuapkan makanan itu ke mulutnya.Matanya hanya terpaku pada dua orang di balik dinding kaca itu.Rasanya, dadanya seperti baru saja dihantam benda keras.Ia sudah berusaha untuk tidak berharap. Sudah berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak punya hak untuk cemburu.Namun, melihat pemandangan itu secara langsung ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar mencoba menerimanya di dalam kepala.“Wanita itu datang bareng Pak Elvano, Kak” ujar Esther lagi, memecah hening yang sempat tercipta di antara mereka.Datang bareng? Acha bertanya-tanya dalam hatinya. Apa mungkin wanita itu ke Surabaya juga?“Kakak tahu, nggak, dia siapa?” tanya Esther akhirnya. Raut wajahnya terlihat penasaran.Acha menggeleng pelan. “Pacarnya Pak Elvano kali.”Begitu mengatakannya, dada Acha langsung terasa perih. Ada sisi lain hatinya yang seperti menolak and
Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p
“Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi
Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam







