Share

Bab 6

Penulis: Kharamiza
last update Tanggal publikasi: 2025-12-31 10:40:43

Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka.

Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya.

Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.

Raka melangkah mendekat dengan senter di tangannya. “Saya sudah cek panel listrik lantai eksekutif. Sepertinya, ada gangguan di jalur utama. Saya sudah hubungi teknisi gedung, mereka lagi menuju ke sini, Pak.”

“Baik,” jawab Elvano singkat, lalu menoleh pada Acha. “Kamu pulang saja. Besok dilanjutkan.”

Acha mengangguk cepat. Tanpa berani menatap siapa pun, ia meraih tas dan melangkah tergesa menuju lift. Untungnya, meski lampu padam, lift masih sempat berfungsi dengan daya cadangan, seolah memberinya kesempatan segera menjauh dari hadapan Elvano.

Pintu menutup perlahan, dan barulah Acha sadar dadanya masih naik turun tak beraturan.

Tiba di apartemen, Acha melempar tas ke lantai. Ia berdiri di tengah ruang tamu, jari-jarinya mencengkeram rambut, mengacaknya dengan kasar sambil menggeleng berulang kali.

“Bodoh!” desisnya lirih

Sepenuhnya bukan salah Elvano, justru tubuhnya sendiri yang sempat membeku, tak bisa berkutik ketika tangan besar atasannya itu berada di pinggangnya dengan jarak yang terlalu dekat.

Acha merasa konyol sendiri, bukan karena apa yang terjadi, melainkan karena ia merasa menjadi satu-satunya yang bereaksi berlebihan, bahkan sensasi hangat di pinggangnya belum sepenuhnya hilang. Sungguh menyebalkan.

Keesokan harinya, Acha datang ke kantor dengan perasaan canggung yang masih melekat. Acha menjadi lebih berhati-hati dari biasanya.

Ia mengerjap setiap kali Elvano memanggilnya. Apabila dipanggil masuk ke ruangan Elvano, langkahnya melambat tanpa sadar, napasnya sempat tertahan sepersekian detik sebelum mengetuk pintu.

Acha hanya datang untuk hal yang benar-benar perlu diselesaikan segera, berbicara seperlunya, lalu segera pergi seolah jarak adalah satu-satunya cara agar ia tetap waras.

Bukan karena marah, apalagi benci. Ia hanya belum siap dengan reaksi dirinya sendiri setelah kejadian semalam. Yang Acha tahu, ia harus bekerja profesional.

Menjelang malam, Acha masih berada di kantor. Ia menutup email terakhir dengan tarikan napas pelan, memaksa fokusnya tetap utuh. Di ruangan itu, hanya ada dia dan Raka.

Ponsel Raka yang tergeletak di atas meja bergetar lagi, untuk ke sekian kalinya sejak tadi.

Dari sudut mata, Acha melihat pria itu akhirnya bangkit dan segera menjauh untuk menerima telepon.

Acha tak tahu apa yang sedang dibicarakan, tetapi ketika Raka kembali, raut wajah pria itu berubah tegang.

“Acha,” panggilnya cepat. “Kamu bisa jemput Pak Elvano sekarang?”

Acha tertegun. “Saya?”

“Iya,” Raka mengusap wajahnya sekilas. “Saya ada urusan … penting. Ini kalau salah langkah sedikit saja, dampaknya bisa panjang.”

Acha terdiam beberapa detik, ia memerhatikan kembali raut wajah Raka yang terlihat kesulitan. Mata Raka menatap layar ponselnya lagi, kemudian kembali menatap Acha. “Tolong, ya, Acha?”

Melihatnya, Acha kembali menimbang permintaan itu. “Memangnya Pak Elvano di mana?”

Raka segera mengirim lokasi.

Ting!

Acha menatap layar ponselnya cukup lama.

“Klub?” gumamnya hampir tak percaya.

Raka mengangguk pelan. “Pak Elvano tadi bertemu teman sekaligus klien lamanya di klub, mungkin kecapean jadi minta dijemput. Saya pikir kalau sekadar jemput, kamu juga bisa melakukannya. Tolong ya, Acha. Malam ini saja bantuin saya.”

Acha mendesah pelan. Terlepas dari bertemu teman lama, tetapi melihat lokasi yang dikirim Raka membuat Acha menebak dalam kondisi apa Elvano berada. “Yang mabuk siapa, yang repot siapa,” cibirnya.

“Pak Elvano bukan orang seperti itu,” balas Raka cepat. “Dan, saya nggak mungkin ninggalin urusan ini. Kalau kamu nggak bis—”

Acha mengibaskan tangan. “Bukan, bukan itu.”

Ia diam sejenak. Dadanya jelas merasa tak nyaman, bukan karena diminta melakukan pekerjaan yang di luar kapabilitasnya, tetapi ini menjemput seorang Elvano.

Sejak kejadian semalam, mengingat nama pria itu saja sudah membuatnya kalut. Perasaan canggung dari siang tadi belum hilang. Namun, sekarang, ia justru harus menemuinya lagi!? Ironisnya, malah di sebuah klub, dari semua tempat yang ada!

‘Duh, kenapa harus malam ini?’

“Baik, saya akan jemput,” ucap Acha akhirnya. “Saya akan antar Pak Elvano sampai rumah. Habis itu saya pulang.”

Raka mengangguk dan menghela napas lega. “Terima kasih. Saya benar-benar utang padamu kali ini.”

Acha mengangguk. Meski hatinya masih sedikit ragu, ia tetap meraih tasnya dan beranjak pergi.

Tak sampai dua puluh menit, Acha sudah berdiri di depan pintu sebuah klub malam. Musik berdentum keras, cahaya lampu berkelip, aroma alkohol bercampur asap rokok menyambut begitu ia masuk.

Matanya menyapu cepat ke sekeliling, hingga akhirnya tertumbuk pada sosok di sudut VIP.

Elvano di sana, bersandar pada sofa dengan punggung sedikit membungkuk. Jasnya tergeletak sembarangan, dasi terlepas, dan satu kancing kemeja bagian atas terbuka. Wajahnya tampak memerah, seperti menahan hawa panas yang tak wajar.

Acha melangkah mendekat. “Pak Elvano.”

Kepala itu terangkat. Tatapannya langsung mengunci wajah Acha.

“Kamu …,” suaranya serak dan berat, “kenapa kamu yang datang, Acha?”

“Pak Raka minta tolong saya,” jawab Acha cepat. Tangannya terulur, berniat membantu pria itu berdiri. “Ayo, Pak. Kita pulang sekarang.”

Belum sempat jemarinya menyentuh lengan Elvano ketika pergelangannya lebih dulu ditahan.

Acha tersentak. Baru saat itu, ia benar-benar memperhatikan wajah pria di depannya itu.

Wajahnya merah, urat lehernya menegang, bahkan tarikan napasnya terdengar berat. Pasti ada sesuatu yang salah. Dan, firasat itu semakin kuat ketika pandangannya tanpa sengaja bergerak turun sedikit.

Acha sontak menelan ludah.

Di balik kain celananya, sesuatu tampak menonjol dengan jelas, bahkan terlalu jelas untuk disalahartikan.

Tubuh Acha membeku. Otaknya mendadak kosong sepersekian detik, lalu panik datang bersamaan dengan rona merah yang menjalar ke pipinya.

‘Astaga, apa dia minum obat perangsang?’ batinnya, buru-buru mengalihkan pandangan, tubuhnya mendadak panas dingin.

Tangannya ingin dilepas, tetapi genggaman Elvano terlalu kuat seolah menahannya tetap di tempat.

“Pak … Anda—” suaranya nyaris tercekat.

Elvano menatapnya. Cara pria itu menatapnya sedikit membuat napas Acha tersangkut di tenggorokan.

Pria itu terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha keras menahan diri.

Genggaman di lengannya mengeras sedikit. “Tolong saya, Acha.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 239

    Jemari Acha yang sejak tadi menggenggam tali tas langsung mengencang.Ia menatap Raka lebih serius, lalu menelan ludahnya dalam-dalam.“Me-menunggu saya?”“Iya.” Raka mengangguk pelan. “Saya sudah ajak pulang, tapi beliau tetap mau menunggu. Katanya, kalau kamu nantinya datang setelah beliau pergi, berarti beliau mengulang kesalahan yang sama.”Acha terdiam.Dadanya terasa sedikit sesak mendengar penuturan asisten pribadi Elvano itu.Jadi, semalam Elvano benar-benar datang ke restoran itu? Dan pria itu sampai menunggunya?Untuk beberapa detik, Acha bahkan tidak tahu harus menjawab apa. Ia sempat berpikir, kalaupun Elvano datang ke restoran itu, pria tersebut tidak akan benar-benar menunggunya selama itu.Tetapi ternyata dugaannya salah.Acha menunduk, memandangi tangannya sendiri. Sampai saat ini, jujur saja ia tidak mengerti mengapa Elvano sampai segitunya menunggunya.Bukankah pria itu sudah punya orang lain di hatinya?“Saya boleh tanya sesuatu, nggak, Cha?” tanya Raka tiba-tiba.A

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 238

    Acha baru keluar dari pintu utama apartemen Dina pagi itu sambil merapikan rambutnya. Sesekali, ia melirik jam di pergelangan tangannya.Ia masih punya cukup waktu untuk berangkat ke kantor, meski nyalinya sedikit menyusut. Ia belum tahu harus bagaimana bersikap saat bertemu Elvano nanti di kantor setelah semalam ia memilih tak datang ke restoran.Baru saja meraih ponsel untuk memesan taksi online, suara klakson terdengar dari arah jalan, menghentikan aktivitasnya. Acha refleks menoleh dengan satu alis terangkat. Sebuah mobil melaju ke arahnya.Keningnya berkerut tajam saat matanya langsung mengenali mobil tersebut. Itu mobil milik Elvano. Kenapa ada di sini? Di saat yang sama, dadanya tiba-tiba terasa sesak.Terlebih saat ia lagi-lagi mengingat semalam, ketika ia tidak datang ke restoran yang sudah dipersiapkan pria itu. Padahal Elvano sudah mengirimkan alamat dan memintanya datang pukul delapan malam.Acha menunduk sebentar.Sejujurnya, ia memang sengaja tidak datang.Bukan karena

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 237

    Raka tampak masih menunggu jawaban, tetapi Elvano hanya berdiri diam di tempatnya. Tatapannya tetap tertuju pada pintu masuk restoran, seolah masih berharap seseorang akan muncul dari sana.Beberapa detik kemudian, ia akhirnya menggeleng pelan.“Saya masih mau di sini.”“Pak?”“Kalau Acha datang setelah saya pergi, bagaimana?”Raka terdiam, seperti langsung kehilangan kata-kata untuk membalas.Elvano kembali melihat ke arah pintu masuk.“Kalau dia datang dan saya nggak ada, itu berarti saya mengulang kesalahan yang sama.”Raka hanya bisa menghela napas berat. Memberikan saran apa pun sepertinya tidak akan ada yang berguna sekarang. “Baik, Pak.”Waktu terus berjalan.Jam bahkan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tetapi Elvano masih mondar-mandir dari meja ke jendela.Sesekali ia duduk, lalu kembali berdiri beberapa menit kemudian.Kotak cincin yang sejak tadi berada di atas meja pun sudah beberapa kali berpindah tempat.Raka sendiri memilih duduk di kursi lain sambil memperhatikan

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 236

    Sementara itu, di lain tempat, Elvano sudah tiba di restoran yang telah ia persiapkan sejak beberapa hari lalu.Berbeda dari biasanya, wajah pria itu terlihat lebih ringan. Bahkan ada senyum tipis yang sesekali muncul tanpa ia sadari.Malam ini seharusnya menjadi malam yang bahagia.Toh, Elvano sudah menyewa seluruh lantai restoran tersebut agar tidak ada orang lain yang mengganggu rencananya. Meja makan telah ditata dengan dekorasi romantis. Di atasnya terdapat rangkaian bunga yang tentunya juga sudah disiapkan sesuai perintahnya.Semuanya sudah tertata dengan sempurna.Tinggal menunggu Acha datang.Sayangnya, menit berganti menit, wanita itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.Senyum di wajah Elvano pun perlahan menghilang saat pria itu sesekali melirik jam tangannya. Sudah pukul delapan lewat tiga puluh menit. Restoran yang dipilihnya sengaja tidak terlalu jauh dari tempat Acha berada. Seharusnya wanita itu sudah datang sekarang, kan?Elvano mengambil ponsel dari atas meja,

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 235

    Acha sempat meremas pahanya sendiri ketika pertanyaan itu terlontar begitu tiba-tiba dari mulut Elvano. Ia belum menangkap maksud pria itu menanyakan kegiatannya. Bibir bawahnya digigit pelan sebelum akhirnya Acha menggeleng. “Nggak ada, Pak,” katanya kemudian. “Kenapa?” Elvano menatapnya beberapa saat. “Makan malam sama saya,” ujar pria itu. Acha terdiam. Ajakan sederhana itu entah kenapa membuat dadanya kembali berdebar. “Makan malam?” tanyanya, nyaris tak percaya. “Iya,” jawab Elvano singkat. “Kita makan malam untuk mengganti hari kemarin yang batal.” Acha tidak segera menjawab. Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya mendengar kalimat itu. Bukan hanya karena Elvano tiba-tiba mengajaknya makan malam, tetapi juga karena pria itu masih mengingat malam yang gagal mereka habiskan bersama. Bukankah Acha sudah berusaha melupakan kejadian itu? Lantas, kenapa sekarang Elvano justru mengungkitnya lagi? “Saya sudah pesan tempat di salah satu restoran,” ucap Elvano lagi. “Nanti sa

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 234

    Acha baru saja membuka dan meletakkan makanan kiriman Elvano ketika terdengar suara seseorang menekan PIN apartemen dari luar.Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dina dan Celine masuk sambil membawa beberapa kantong makanan.“Eh, kamu habis GoFood, Cha?” tanya Dina begitu melihat makanan di atas meja.Acha menggeleng kecil.“Nggak. Ini dikirimin Elvano,” katanya.Langkah Celine yang hendak meletakkan kantong bawaannya di meja langsung berhenti.“Elvano?” Ia memastikan.“Iya.”Dina yang sudah duduk di dekat Acha sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantong ikut menoleh.“Loh, perhatian sekali dia.”Alih-alih ikut memuji, Celine malah mendengkus. “Halah. Pasti ada maunya itu orang.”Dina mengernyit bingung. “Maksudnya?”“Ya, apalagi?” Celine menghempaskan tubuhnya ke sofa sedikit lebih keras dari seharusnya. “Udah bikin Acha sakit hati, sekarang ngirim makanan. Biar apa? Biar Acha nggak benar-benar ninggalin dia. Toh, dia pasti sudah sadar Acha mulai ngejauh, kan?”“Cel .…”“B

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 1

    “Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 3

    Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status