LOGINAcha masih terdiam dengan ponsel menempel di telinga. Pikirannya seolah berhenti bekerja setelah mendengar kabar dari ibunya, hingga sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahunya.“Sayang, ada apa, hm?”Acha sedikit terkejut. Ia segera menoleh dan mendapati Elvano sudah berdiri di sampingnya entah sejak kepan, menatapnya dengan kening berkerut seolah ingin memastikan sesuatu.Acha perlahan menurunkan ponselnya, lalu menatap Elvano dengan wajah sendu.“Ayah keserempet motor, Mas,” ucapnya lirih. “Sekarang lagi di rumah sakit.”Elvano diam sejenak. Raut wajahnya berubah serius sebelum ia bertanya, “Kamu mau pulang?”Acha tak menjawab.Pandangannya justru jatuh pada ponsel di tangannya, sementara pikirannya tiba-tiba kembali pada kejadian beberapa waktu lalu. Saat ayahnya begitu marah hingga tega menamparnya setelah mengetahui kedekatannya dengan Elvano.Hubungannya dengan sang ayah memang belum membaik sejak kejadian itu. Apalagi, perkataan-perkataan menyakitkan yang dilontarkan ayahnya kal
Sambil menghela napas berat, Acha bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang kerja Elvano. Hanya saja, tak tahu kenapa, begitu tiba di depan pintu, perasaannya mendadak tidak enak.Ia mendadak curiga kalau-kalau panggilan Elvano kali ini hanya akal-akalan pria itu. Namun, Acha tak ingin buru-buru menyimpulkan. Bagaimana kalau ternyata memang ada urusan penting?Acha mengetuk pintu dua kali.“Masuk.”Ia membuka pintu dan mendapati Elvano duduk di balik meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Jasnya tersampir di sandaran kursi, sementara beberapa dokumen terbuka di hadapannya.Acha melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya.“Katanya memanggil saya?”Elvano mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju pada wanita yang baru saja masuk.“Kenapa jauh sekali?”Acha mengerjap, tak mengerti arah pembicaraan itu. “Apanya yang jauh?”“Mejamu.” Elvano mengangguk ke arah pintu. “Dari sini.”Acha menatapnya tak percaya. “Mas El, saya baru s
Setelah sarapan, Acha dan Elvano langsung berangkat ke kantor. Meski hubungan mereka sudah membaik, bukan berarti keduanya bisa bersikap sesuka hati di tempat kerja. Batas profesional tetap harus dijaga, apalagi mereka belum ingin hubungan pribadi itu menjadi bahan pembicaraan karyawan lain.Pagi itu, Acha sudah duduk di mejanya ketika Esther menggeser kursi mendekat, lalu menyodorkan lembar penilaian akhir magang yang harus diisi sebelum masa magangnya berakhir.Sejujurnya, Acha merasa waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia sengaja mengerjai Esther untuk memberinya sedikit pelajaran karena gadis itu terlalu sombong. Bahkan, saat itu Acha sempat enggan mendampinginya. Namun, karena Elvano yang menyuruhnya, ia mau tidak mau harus menjalankan tugas tersebut.Sekarang, Esther sudah hampir menyelesaikan masa magangnya di Alvarion Group.Acha sedang membalik dan membaca halaman terakhir ketika Esther tiba-tiba berkomentar, “Cincin Kakak bagus.”Kening Acha berkerut tipis. Ia m
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat ke wajah Acha dan perlahan mengusik tidurnya.Masih setengah sadar, tangannya bergerak meraba sisi ranjang, tetapi kosong.Acha menggerakkan tangan sekali lagi, seolah berharap menemukan seseorang di sana. Namun, yang disentuhnya hanya seprai yang sudah tak lagi hangat.Keningnya berkerut tipis.“Mas El ke mana?” gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Ia mengangkat tubuh perlahan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Tak ada tanda-tanda keberadaan Elvano.Setelah menghela napas kecil, Acha turun dari ranjang. Ia merapikan piyama putihnya yang sedikit berantakan, kemudian melangkah keluar kamar.Begitu pintu terbuka, aroma masakan langsung menyambutnya. Dari arah dapur, terdengar pula bunyi peralatan masak yang sesekali beradu.Acha mengernyit penasaran, lalu mengikuti suara itu. Tak butuh waktu lama sampai ia menemukan Elvano berdiri di depan kompor.Pria itu mengenakan kaus putih yang membalut tubuh k
Pertanyaan Elvano yang begitu tiba-tiba membuat Acha terdiam. Ia bahkan sempat menggigit bibir bawahnya dalam-dalam.Tadinya, ia benar-benar berniat pergi dari penthouse itu. Lagipula, hubungannya dengan Elvano belum jelas, dan kejadian beberapa hari terakhir membuatnya berpikir bahwa pria itu mungkin kembali kepada mantan kekasihnya.Karena itulah Acha memilih pergi.Ia tidak mau terus tinggal serumah dengan pasangan orang lain. Nanti dia dikira pelakor lagi.Cukup sudah mantan istri Elvano yang menuduhnya sebagai pelakor kemarin.Namun, sekarang semuanya sudah berbeda. Elvano sudah menjelaskan semuanya. Walau sempat kesal, Acha cukup bisa menerima penjelasan itu. Apalagi, pria itu bahkan baru saja berlutut di hadapannya dan memintanya menjadi istri. Jadi, semakin Acha tak punya alasan untuk marah berlarut padanya.Ia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya sekilas. Baru membayangkan dirinya benar-benar meninggalkan penthouse Elvano saja sudah membuat hatinya terasa berat.Ia
Acha belum mengatakan apa-apa, tetapi matanya sudah berkaca-kaca saat memandangi Elvano di hadapannya.“Acha, saya tahu awal hubungan kita memang rumit. Tanpa sadar, kita memulainya ketika saya masih menjadi suami orang lain.”Tatapan Elvano tak beralih dari wajah wanita itu.“Tapi semakin lama saya mengenal kamu, semakin saya yakin bahwa perasaan ini bukan sekadar ketertarikan sesaat. Saya sungguh-sungguh mencintai kamu.”Elvano berhenti sejenak. Rahangnya mengeras tipis sebelum ia kembali bersuara.“Dan sekarang, saya takut kehilangan kamu.”Acha menunduk tanpa menjawab. Jemarinya saling bertaut di depan tubuh, berusaha menahan perasaan yang sejak tadi berdesakan di dadanya.Sementara itu, sorot mata Elvano tetap lurus dan mantap, seolah tak ada lagi yang ingin ia sembunyikan.Detik berikutnya, pria itu merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru tua itu.Elvano tiba-tiba berlutut di hadapannya.Pemandangan itu membuat mata Acha sontak membelalak. Tubuhny
Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i
Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi







