Share

Bab 2

Author: Kharamiza
last update Last Updated: 2025-12-31 10:35:54

Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano.

Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan posisi yang saya lamar.”

Ketegangan mengisi ruangan ketika Acha selesai menjawab pertanyaan Elvano.

Jari-jari pria itu tertaut santai di atas meja. “Saya menghargai jawabanmu,” ujarnya tenang, seolah pertanyaan barusan adalah hal paling lumrah dalam interview.

Elvano mengalihkan pandangan pada berkas di meja, seolah Acha sudah bukan perhatian utamanya lagi.

Kening Acha berkerut. ‘Udah selesai?’ gumamnya hampir tidak percaya semuanya berakhir begitu cepat dan jauh di luar ekspektasinya.

Raka, asisten pribadi Elvano, muncul di samping pintu dan menghampiri Acha. “Silakan, Mbak Azalea, interview sudah selesai,” ucapnya ramah, sambil memberi isyarat sopan agar Acha keluar dari ruangan.

Acha menahan napas, menunduk sebentar sebagai bentuk sopan santun, lalu mengumpulkan sisa keberaniannya. Tanpa menatap pria itu lagi, ia berbalik dan melangkah keluar, berusaha menahan emosi yang masih bergejolak di dadanya.

Begitu pintu gedung tertutup di belakangnya, Acha langsung melepaskan napas berat yang sedari tadi ia tahan

“Gila!” gerutunya kesal.

Belum pernah ia menghadapi interview seaneh dan semenyebalkan tadi. Alih-alih menilai kompetensi, malah mengorek hal pribadi yang tidak pantas.

Ia berjalan menjauh dari bangunan megah itu sambil memijat pelipis, masih mencoba memahami apa yang barusan terjadi.

Gerakannya cepat saat menarik ponsel dari tas dan segera memesan ojek online dengan jari gemetar karena kesal.

Sampai ojeknya tiba pun, wajah Acha masih masam.

Sepanjang perjalanan, ia terdiam, tetapi pikirannya menjerit, berulang memutar pengalaman interview yang baginya jauh dari kata profesional.

Meski wajahnya panas menahan malu saat itu, Acha menolak tunduk. Ia cukup bangga dengan dirinya ketika ia mampu menatap Elvano dan menjawab tegas bahwa pertanyaan itu tidak relevan. Reputasinya bersih dan akan tetap begitu. Itulah yang selalu Acha jaga dalam bekerja.

Acha pikir, Elvano juga bisa tahu bahwa arah pertanyaan itu membuat dirinya tak nyaman.

Memang tak ada lagi pertanyaan tak pantas setelahnya. Namun, tetap membuatnya jengkel setengah mati. Sesi wawancara yang benar-benar di luar dugaan!

Tak lama, motor berhenti di depan sebuah kafe yang sudah tak asing baginya. Tempat pelariannya sejak masa kuliah kala merasa jenuh.

Acha turun dari motor, melepas helm, lalu melangkah masuk.

Di sana, sudah ada Celine Amara dan Dina Airani yang duduk menunggunya. Celine tampil rapi dengan seragam khas karyawan perusahaan swasta di bidang pemasaran. Dina, seorang analisis keuangan di perusahaan konsultan, wajah kalemnya sering menjadi penengah.

Mereka bertiga bersahabat sejak kuliah.

Melihat Acha datang dengan wajah kusut, Celine mengangkat alis sementara Dina langsung menutup laptopnya.

“Orang habis interview itu sumringah, kamu malah kayak habis ketemu mantan,” celetuk Celine menatapnya dari ujung rambut sampai kaki.

Acha menjatuhkan tas ke kursi kosong dengan suara nyaring, lalu duduk sambil menghela napas kasar. “Parah. Ini parah banget!” Ia menepuk jidat sampai rambut poninya ikut berantakan.

Dina sedikit mencondongkan tubuh, mulai tertarik mendengarkan. “Separah itu?”

“Lebih dari itu!” Acha mendengkus. “Aku nggak nyangka dapat pertanyaan seperti itu di interview. Nggak masuk akal!”

Dina menatap Celine, lalu kembali ke Acha. “Tenang, tarik napas dulu,” katanya sembari menggerakkan tangan naik turun.

Acha mengikuti, walau setengah hati.

“Nah, sekarang cerita. Pertanyaan apa?”

Acha duduk lebih tegak, dagu terangkat sedikit dengan tangan yang disilangkan di depan dada. Meniru gaya duduk Elvano dengan tatapan sinis, lalu mulai menceritakan kejadian tak menyenangkan selama interview tadi, mencoba menyalurkan rasa kesalnya lewat gestur dramatis itu.

“Apa?!” Celine memekik, nyaris berdiri dari kursinya setelah mendengar cerita Acha. “Kurang ajar banget! Ini pelecehan verbal!”

“Kalau aku jadi kamu,” lanjutnya, menunjuk Acha dengan sedotan, “udah pasti langsung keluar.”

Acha menutup wajah dengan kedua telapak tangan. “Mau gimana lagi? Aku udah di situ. Masa iya langsung kabur? Nggak punya etika!”

“Dia yang nggak punya etika nanya-nanya begitu,” cibir Celine lagi, menyender sambil menyilangkan tangan kesal.

“Sepertinya peluangku diterima udah nggak ada,” lirih Acha. Bahunya merosot dengan ekspresi yang tampak putus asa.

“Ya udah.” Celine mengangkat bahu, ringan sekali, seakan itu bukan masalah yang perlu dipikirkan berlarut-larut. “Masih banyak perusahaan lain.”

Acha mendesah frustrasi, memelintir sedotan sampai hampir patah. “Masalahnya … perusahaan itu yang paling mendekati gaji layak.”

Mereka terdiam beberapa detik.

Dina merapikan kacamata di batang hidungnya. “Bisa jadi, dia hanya selektif. Posisi sekretaris kan dekat sekali dengannya. Mungkin dia ingin memastikan batas profesional. Kita lihat dari sisi positif dulu.”

Acha tak benar-benar setuju dengan pendapat Dina kali ini, tetapi setidaknya itu cukup meredakan hatinya yang porak-poranda, meskipun tidak mampu menghapus rasa jengkelnya pada pria itu.

Setelah beberapa saat, obrolan mereda. Sahabat-sahabatnya memberi dukungan seperlunya, lalu akhirnya Acha pulang dengan pikiran yang lebih kalut dibanding saat ia datang tadi.

Langkahnya gontai ketika memasuki apartemen. Sunyi yang menyambut membuatnya berhenti sejenak, setelah menaruh tas di sofa.

‘Mungkin memang bukan rezeki,’ batinnya singkat.

Ia menghela napas panjang, mulai mencoba menerima kemungkinan terburuk andai interview tadi memang tak akan membuahkan hasil, hingga getaran ponselnya tiba-tiba memecah keheningan.

Meraih benda pipih itu tanpa minat. Begitu melihat notifikasi email di pojok kiri layar, Acha langsung mengerutkan kening.

Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat. Dengan jemari sedikit gemetar, pesan itu akhirnya dibukanya.

[Selamat, Anda diterima di perusahaan Alvarion Group dengan posisi sekretaris.]

Acha sontak membeku.

“Apa?” lirihnya, membaca ulang email itu. Sekali, dua kali, hingga tiga kali untuk memastikan ia tak salah lihat, tetapi kalimatnya tetap sama.

Matanya langsung membelalak. “Diterima? Setelah pertanyaan itu?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 8

    Begitu terbangun di pagi hari, Acha langsung merasakan ada sesuatu yang aneh menekan perutnya. Sebuah lengan melingkar di pinggangnya. Napasnya tertahan. Ada rasa tak nyaman yang muncul begitu saja, bahkan sebelum ia benar-benar membuka mata.Ia terdiam beberapa saat, menatap langit-langit kamar, seakan berusaha mencerna semuanya. Pemandangan itu jelas bukan yang biasa ia lihat setiap pagi. Ketika kesadarannya berangsur penuh, dada Acha mengencang. Udara di sekitarnya begitu asing.Ia menelan ludah. Tubuhnya tampak terlalu ringan, sementara selimut yang menutupinya terasa begitu tipis, seolah tak benar-benar memberi rasa aman sedikit pun.Keraguan sempat menahan gerakannya sebentar, namun rasa itu kalah oleh dorongan ingin memastikan.Dengan hati-hati, Acha mengintip ke bawah selimut.Ia tersentak.Acha refleks bergerak menjauh, tetapi karena terlalu panik, ia jadi ceroboh. Keseimbangannya hilang, dan tubuhnya terguling ke samping ranjang. Kepalanya membentur meja kecil di sisi ranj

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 7

    Acha berdiri kaku mendengar ucapan Elvano. Ada sesuatu dalam nada pria itu yang membuat tengkuknya terasa dingin. ‘Tolong?’ batin Acha. Ia tahu Elvano sedang di bawah pengaruh obat. Dengan pengetahuan itu, Acha jadi semakin gelisah. Ia tidak mengerti permintaan tolong seperti apa yang dimaksud Elvano, firasat buruk pun perlahan merayap di kepalanya. “Saya harus ngapain, Pak?” tanyanya pelan. Elvano menarik napas berat. Ia semakin tak tenang ketika genggaman Elvano di pergelangannya belum juga terlepas. Sentuhan itu membuatnya tak nyaman, tetapi ia menahan diri. “Bawa saya ke tempat aman sekarang,” kata Elvano singkat. “Hotel. Yang paling dekat.” Permintaan itu membuat Acha makin gugup. Ini jauh dari rencana awalnya yang hanya berniat menjemput dan memastikan Elvano pulang. Namun, melihat kondisinya yang kian memburuk, Acha juga tidak tega mengabaikan, apalagi sampai meninggalkannya. “Baik, Pak,” jawabnya akhirnya. Meski dadanya masih berdebat, ia tetap membantu Elvano berd

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas. Raka melangkah mendekat dengan senter di tangannya. “Saya sudah cek panel listrik lantai eksekutif. Sepertinya, ada gangguan di jalur utama. Saya sudah hubungi teknisi gedung, mereka lagi menuju ke sini, Pak.” “Baik,” jawab Elvano singkat, lalu menoleh pada Acha. “Kamu pulang saja. Besok dilanjutkan.” Acha mengangguk cepat. Tanpa berani menatap siapa pun, ia meraih tas dan melangkah tergesa menuju lift. Untungnya, meski lampu padam, lift masih sempat berfungsi dengan daya cadangan, seolah memberinya kesempatan segera menjauh dari hadapan Elvano. Pintu menutup perlahan, dan barulah Acha sadar dadanya masih naik turun tak beraturan. Tiba di apartemen, Acha melempar tas

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habis untuk mengatur ulang jadwal, mengantar berkas, hingga sekadar memastikan kebutuhan Elvano terpenuhi tepat waktu. Jadwal atasannya yang super padat itu pelan-pelan menguras energinya. Acha bukannya ingin mengeluh, namun rasa lelah yang menjalar terkadang membuatnya ingin tumbang. Begitu tiba di apartemen, sepatu dilepas asal, tas diletakkan ke sembarang tempat. Acha langsung menjatuhkan tubuh ke sofa, menatap langit-langit sambil sesekali menarik napas panjang Matanya memejam sejenak, membiarkan tubuhnya beristirahat. Untuk sekali ini, ia hanya ingin diam, tanpa gangguan. Namun, meski hari-harinya terasa melelahkan, keesokan paginya, Acha tetap bangun dan kembali ke kantor, seolah t

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, ini dokumen yang perlu ditandatangani hari ini.”Elvano mengangguk singkat. Tatapannya sekilas menyapu isi dokumen tersebut, lalu meraih pulpen. Ia menandatangani tanpa satu pun komentar. Hanya suara gesek kertas dan goresan tinta yang terdengar cepat. Begitu selesai, Acha segera mengambil kembali berkas itu dan berbalik menuju pintu.Sesaat setelah pintu ruangan tertutup, Acha mengembuskan napas lega. Tumben sekali Elvano tidak mengajukan koreksi atau catatan apa pun. Biasanya, selalu ada saja yang harus dibahas. Sempat terlintas di benaknya, mungkin karena baru saja ia berbicara dengan istrinya. Barangkali, suasana hatinya sedang lebih baik, dan orang sekitarnya ikut kecipratan imbasnya.

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 3

    Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Namun, ia justru dinyatakan diterima. “Apa maksudnya?” Acha menggumam lirih.Ia menggigit bibir kala mengingat kembali tatapan dingin Elvano dan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya merasa direndahkan. Tentu saja, ia tersinggung. Siapa pun pasti akan merasa begitu.Kalaupun itu caranya menguji mental, menurutnya tetap keterlaluan, tetapi ia terlalu butuh pekerjaan ini untuk berspekulasi terlalu jauh.“Ah, lupakan interview aneh itu,” katanya pelan, mencoba menenangkan diri.Malam itu, Acha hampir tidak tidur nyenyak. Bayang-bayang kejadian hari ini datang silih berganti, hingga sekadar menarik napas pun terasa begitu berat.Keesokan paginya, ia berdiri di depan cermin. Wajahnya tampak lebih s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status