MasukJantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano.
Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan posisi yang saya lamar.” Ketegangan mengisi ruangan ketika Acha selesai menjawab pertanyaan Elvano. Jari-jari pria itu tertaut santai di atas meja. “Saya menghargai jawabanmu,” ujarnya tenang, seolah pertanyaan barusan adalah hal paling lumrah dalam interview. Elvano mengalihkan pandangan pada berkas di meja, seolah Acha sudah bukan perhatian utamanya lagi. Kening Acha berkerut. ‘Udah selesai?’ gumamnya hampir tidak percaya semuanya berakhir begitu cepat dan jauh di luar ekspektasinya. Raka, asisten pribadi Elvano, muncul di samping pintu dan menghampiri Acha. “Silakan, Mbak Azalea, interview sudah selesai,” ucapnya ramah, sambil memberi isyarat sopan agar Acha keluar dari ruangan. Acha menahan napas, menunduk sebentar sebagai bentuk sopan santun, lalu mengumpulkan sisa keberaniannya. Tanpa menatap pria itu lagi, ia berbalik dan melangkah keluar, berusaha menahan emosi yang masih bergejolak di dadanya. Begitu pintu gedung tertutup di belakangnya, Acha langsung melepaskan napas berat yang sedari tadi ia tahan “Gila!” gerutunya kesal. Belum pernah ia menghadapi interview seaneh dan semenyebalkan tadi. Alih-alih menilai kompetensi, malah mengorek hal pribadi yang tidak pantas. Ia berjalan menjauh dari bangunan megah itu sambil memijat pelipis, masih mencoba memahami apa yang barusan terjadi. Gerakannya cepat saat menarik ponsel dari tas dan segera memesan ojek online dengan jari gemetar karena kesal. Sampai ojeknya tiba pun, wajah Acha masih masam. Sepanjang perjalanan, ia terdiam, tetapi pikirannya menjerit, berulang memutar pengalaman interview yang baginya jauh dari kata profesional. Meski wajahnya panas menahan malu saat itu, Acha menolak tunduk. Ia cukup bangga dengan dirinya ketika ia mampu menatap Elvano dan menjawab tegas bahwa pertanyaan itu tidak relevan. Reputasinya bersih dan akan tetap begitu. Itulah yang selalu Acha jaga dalam bekerja. Acha pikir, Elvano juga bisa tahu bahwa arah pertanyaan itu membuat dirinya tak nyaman. Memang tak ada lagi pertanyaan tak pantas setelahnya. Namun, tetap membuatnya jengkel setengah mati. Sesi wawancara yang benar-benar di luar dugaan!Tak lama, motor berhenti di depan sebuah kafe yang sudah tak asing baginya. Tempat pelariannya sejak masa kuliah kala merasa jenuh.
Acha turun dari motor, melepas helm, lalu melangkah masuk. Di sana, sudah ada Celine Amara dan Dina Airani yang duduk menunggunya. Celine tampil rapi dengan seragam khas karyawan perusahaan swasta di bidang pemasaran. Dina, seorang analisis keuangan di perusahaan konsultan, wajah kalemnya sering menjadi penengah. Mereka bertiga bersahabat sejak kuliah. Melihat Acha datang dengan wajah kusut, Celine mengangkat alis sementara Dina langsung menutup laptopnya. “Orang habis interview itu sumringah, kamu malah kayak habis ketemu mantan,” celetuk Celine menatapnya dari ujung rambut sampai kaki. Acha menjatuhkan tas ke kursi kosong dengan suara nyaring, lalu duduk sambil menghela napas kasar. “Parah. Ini parah banget!” Ia menepuk jidat sampai rambut poninya ikut berantakan. Dina sedikit mencondongkan tubuh, mulai tertarik mendengarkan. “Separah itu?” “Lebih dari itu!” Acha mendengkus. “Aku nggak nyangka dapat pertanyaan seperti itu di interview. Nggak masuk akal!” Dina menatap Celine, lalu kembali ke Acha. “Tenang, tarik napas dulu,” katanya sembari menggerakkan tangan naik turun. Acha mengikuti, walau setengah hati. “Nah, sekarang cerita. Pertanyaan apa?” Acha duduk lebih tegak, dagu terangkat sedikit dengan tangan yang disilangkan di depan dada. Meniru gaya duduk Elvano dengan tatapan sinis, lalu mulai menceritakan kejadian tak menyenangkan selama interview tadi, mencoba menyalurkan rasa kesalnya lewat gestur dramatis itu. “Apa?!” Celine memekik, nyaris berdiri dari kursinya setelah mendengar cerita Acha. “Kurang ajar banget! Ini pelecehan verbal!” “Kalau aku jadi kamu,” lanjutnya, menunjuk Acha dengan sedotan, “udah pasti langsung keluar.” Acha menutup wajah dengan kedua telapak tangan. “Mau gimana lagi? Aku udah di situ. Masa iya langsung kabur? Nggak punya etika!” “Dia yang nggak punya etika nanya-nanya begitu,” cibir Celine lagi, menyender sambil menyilangkan tangan kesal. “Sepertinya peluangku diterima udah nggak ada,” lirih Acha. Bahunya merosot dengan ekspresi yang tampak putus asa. “Ya udah.” Celine mengangkat bahu, ringan sekali, seakan itu bukan masalah yang perlu dipikirkan berlarut-larut. “Masih banyak perusahaan lain.” Acha mendesah frustrasi, memelintir sedotan sampai hampir patah. “Masalahnya … perusahaan itu yang paling mendekati gaji layak.” Mereka terdiam beberapa detik. Dina merapikan kacamata di batang hidungnya. “Bisa jadi, dia hanya selektif. Posisi sekretaris kan dekat sekali dengannya. Mungkin dia ingin memastikan batas profesional. Kita lihat dari sisi positif dulu.” Acha tak benar-benar setuju dengan pendapat Dina kali ini, tetapi setidaknya itu cukup meredakan hatinya yang porak-poranda, meskipun tidak mampu menghapus rasa jengkelnya pada pria itu. Setelah beberapa saat, obrolan mereda. Sahabat-sahabatnya memberi dukungan seperlunya, lalu akhirnya Acha pulang dengan pikiran yang lebih kalut dibanding saat ia datang tadi. Langkahnya gontai ketika memasuki apartemen. Sunyi yang menyambut membuatnya berhenti sejenak, setelah menaruh tas di sofa. ‘Mungkin memang bukan rezeki,’ batinnya singkat. Ia menghela napas panjang, mulai mencoba menerima kemungkinan terburuk andai interview tadi memang tak akan membuahkan hasil, hingga getaran ponselnya tiba-tiba memecah keheningan. Meraih benda pipih itu tanpa minat. Begitu melihat notifikasi email di pojok kiri layar, Acha langsung mengerutkan kening. Jantungnya mendadak berdegup lebih cepat. Dengan jemari sedikit gemetar, pesan itu akhirnya dibukanya. [Selamat, Anda diterima di perusahaan Alvarion Group dengan posisi sekretaris.] Acha sontak membeku. “Apa?” lirihnya, membaca ulang email itu. Sekali, dua kali, hingga tiga kali untuk memastikan ia tak salah lihat, tetapi kalimatnya tetap sama. Matanya langsung membelalak. “Diterima? Setelah pertanyaan itu?!”Acha dan Elvano masih menatap kaku boneka yang baru saja keluar dari mesin di sebelah mereka.Sementara pasangan muda-mudi itu sudah berlalu menuruni eskalator. Acha masih sempat melongo, nyaris tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.Itu serius? Cuma karena dicium pipi … langsung dapat?Ia melirik mesin capit di depannya dengan tatapan curiga. Dari tadi ia sudah berjuang cukup keras untuk mendapatkan boneka itu, sementara pengunjung di sebelah mereka barusan bisa mendapatkan dengan begitu mudahnya.“Ini mesin pilih kasih,” gumamnya pelan.Elvano meliriknya sekilas. “Mesin tidak punya perasaan,” timpalnya.“Tapi, tadi jelas beda perlakuannya ke kita dan mereka, Pak.”Elvano tidak menanggapi.Acha menghela napas kesal sambil mengerucutkan bibirnya. “Ya sudah. Kita pulang saja, Pak.”Ia hendak menjauh dari mesin itu. Namun, tiba-tiba Elvano berkata singkat. “Tunggu.”Acha sontak menoleh. Saat itu Elvano sudah memasukkan koin lagi.Ia menggerakkan tuas mesin dengan wajah dat
Acha sedikit tersentak mendengar ucapan pria itu.Maksudnya apa tiba-tiba mau memasangkan cincin di jari manisnya?Aneh sekali. Ia bahkan tidak mengenal pria itu.Acha lalu menunjuk dirinya sendiri, seolah memastikan ia tidak salah dengar. “Sa-saya?” “Iya, Mbak.” Pria itu mengangguk cepat. “Ukuran jari Mbak kayaknya mirip dengan kekasih saya.”Acha langsung membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Oh. Cincin buat sang kekasih ternyata.Baru saja beberapa detik lalu, Acha salah paham. Ia bahkan sempat mengira pria ini memiliki kelainan ketika dia tiba-tiba menariknya dan hendak memasangkan cincin di jari manisnya begitu saja.Ah, usaha pria ini sungguh luar biasa sekali. Andai saja ia juga punya kekasih yang seperti itu.“Jadi, apakah boleh bantu coba cincin ini sebentar, Mbak?” lanjut pria itu dengan tatapan seten
Tiara. Astaga, berani sekali melakukan hal seperti itu di tempat seperti ini. Sebagai publik figur, Tiara seharusnya lebih berhati-hati. Bagaimana kalau ada media yang kebetulan melihatnya barusan? Sudah pasti berita seperti itu akan langsung jadi isu panas. Tepat setelah mobil itu akhirnya melaju keluar dari area basement, Acha perlahan menoleh. Saat itulah ia menyadari tatapan dingin Elvano tertuju ke arah yang sama. Yang berarti, dia juga melihat istrinya mesra dengan pria lain? Namun, mengapa ia begitu tenang. Padahal, siapa pun yang melihat Tiara dan pria tadi pasti bisa menyimpulkan kalau mereka sedang dekat, lebih dari sekadar rekan kerja. “Pa-Pak Elvano,” panggilnya pelan. “Bapak baik-baik saja?” Acha berpikir, diamnya Elvano mungkin karena sedang berusaha mencerna kenyataan itu. Bisa saja dadanya sedang sangat sesak, meski sekarang reaksinya tak banyak. Pria itu menoleh. Alisnya sedikit terangkat. “Pertanyaanmu seperti saya baru saja kena masalah.” Loh? Bukankah y
Sejak menerima telepon dari Raka semalam, Acha lagi-lagi hampir tidak bisa benar-benar merasa tenang.Di tengah situasi seperti ini, kenapa ia justru harus pergi berdua dengan Elvano? Ia terus saja memikirkan kemungkinan paling buruk. Bagaimana kalau orang-orang Tiara ada di acara itu, dan melihatnya datang bersama Elvano? Mungkin saja sengaja mengikutinya juga.Bukankah itu hanya akan memberi bahan baru untuk memojokkannya?Acha bahkan sempat berpikir mencari alasan untuk menolak saja.Sakit perut mendadak. Pusing. Atau, apa saja yang masuk akal bisa dijadikan alasan.Namun, pada akhirnya, Minggu siang itu ia tetap bersedia mendampingi Elvano. Kini ia sudah duduk beraama Elvano di kursi penumpang mobil yang melaju tenang menuju lokasi acara grand opening.Lagipula, siapa dirinya?Ia sekretaris Elvano. Bekerja langsung di bawah pria itu. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, tentu ia memang harus s
Deretan angka yang begitu asing dalam pandangannya itu muncul di layar. Ia sempat ragu sejenak, namun pada akhirnya tetap membuka. [+6281xx: Hai, calon mantu. Ini saya Wiwi, Ibu yang kamu tolong tadi.][+6281xx: Putra saya lagi ada di rumah. Kalau berkenan, kamu boleh kok, ke sini. Kenalan langsung dengannya.]Acha menatap layar ponselnya beberapa detik. Kedua alisnya perlahan bertaut.Tanpa sadar, sudut bibirnya menyungging tipis, sebelum ia bergumam pelan. “Astaga … ada-ada saja.”“Siapa, Acha?” Celine langsung menegakkan tubuh dari karpet, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.Acha menghela napas pendek, lalu mengangkat ponselnya sedikit seolah menunjukkan bukti. “Itu, Bu Wiwi yang tadi kuceritain. Ngajak ke rumah katanya anaknya lagi di rumah.”Tawa Celine kembali tersembur, sampai ia harus menepuk karpet di depannya.“Serius?!” Celine hampir terbahak. “Ini beneran ibu-ibu random di jalan tapi progre
Seperginya wanita itu, Acha melirik jam tangannya sekilas sebelum meraih ponsel dari dalam tas. Kakinya sudah melangkah masuk ke supermarket yang tak jauh dari restoran tadi. Lampu putih terang langsung menyambutnya begitu pintu kaca otomatis terbuka.Acha berhenti sebentar di dekat rak keranjang, lalu menunduk mengetik cepat.[Guys, nongki di apartemen aku aja boleh, nggak? Aku kayaknya agak telat.]Tak butuh waktu lama, balasan Dina datang tanpa banyak bertanya.[Dina: Yaudah, boleh, deh.]Acha tersenyum kecil melihat balasan itu. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas sebelum mengambil troli dan mulai berjalan menyusuri lorong-lorong rak.Sebenarnya ia hanya berniat membeli beberapa bahan dapur sederhana. Telur, sayur, atau lauk yang instan-instan, mungkin juga camilan. Hanya saja, entah kenapa, kepalanya masih penuh dengan kejadian beberapa menit yang lalu.Ia sampai harus berhenti sebentar di depan r







