เข้าสู่ระบบ
“Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.
“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.” Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, menolak pun tak ada gunanya. Jalan besar yang biasanya padat kini dipagari garis polisi. Sebuah truk kontainer terguling, menutup hampir seluruh badan jalan. Sirine petugas dan suara klakson pun saling bersahutan, tak sabar. Acha mulai cemas, melirik jam tangannya berulang kali. Sudah pukul 10.17. Tiga belas menit menuju jadwal interview, tetapi posisinya masih jauh dari lokasi. “Mas, bisa ngebut dikit?” suaranya gemetar, tidak marah, hanya khawatir akan kehilangan kesempatan. Ia sering mendengar kalau reputasi pimpinan perusahaan itu sangat disiplin. Ketepatan waktu bukan sekadar formalitas, melainkan ukuran pertama. Satu kesalahan kecil saja bisa menghapus kesempatan sebesar ini. “Sabar, Mbak. Ini juga udah ngebut.” Perjalanan dua puluh menit berubah menjadi tiga puluh. Acha hanya bisa menggigit bibir, membayangkan kesan pertamanya yang begitu buruk. Ketika motor akhirnya berhenti di depan gedung tinggi itu, Acha turun dengan tergesa, hampir tersandung, tetapi ia tak peduli. Berlari kecil menuju lobi sambil merapikan rambut yang berantakan tertiup angin, bahkan berkas dalam genggamannya hampir saja terlepas. Masuk lift, Acha gelisah karena gerakan lift yang terasa sangat pelan, seolah sengaja mempermainkan waktunya. Begitu pintu lift akhirnya terbuka di lantai 28, ia sudah terlambat lima menit. Namun, rasanya seperti lima jam. Acha disambut oleh asisten pribadi sang presdir di depan pintu ruang interview. Pria berkacamata tipis dan memakai jas biru muda bernama Raka Yudhistira. “Azalea Chantika?” tanyanya ramah. “Benar, Pak. Saya minta maaf, saya sedikit terlambat.” Pria itu mengangguk, sambil tersenyum tipis setelah memastikan identitas Acha. “Pak Elvano sudah menunggu,” katanya, lalu membuka pintu dan mempersilakan Acha masuk. Gestur sederhana itu cukup membuat gadis itu merasa lega, meski jantungnya masih berdebar. Dengan satu tarikan napas, Acha melangkah masuk ke ruang interview. Ruangan itu luas, rapi, dan terlalu sunyi. Benda-benda di dalamnya tertata presisi, nyaris tanpa cela. Di ujung meja besar itu, seorang pria duduk tanpa bangkit menyambutnya. Elvano Raynand Alvaric. Presiden Direktur muda Alvarion Group yang kerap menjadi perbincangan di luar sana. Acha menelan ludah. Melihat Elvano dari jarak sedekat ini, rumor tentang sikap dingin pria itu ternyata tidak berlebihan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya tenang, tetapi terasa seperti sedang mengintimidasi. Acha meremas ujung roknya, berusaha mengusir kegugupannya, sebelum memberanikan menyapa lebih dulu. “Selamat pagi, Pak El—” “Sepuluh menit terlambat.” Suara datar itu memotong ucapannya. Justru karena tanpa emosi, kalimatnya terasa lebih menusuk. Acha refleks menarik napas. Tahu diri kalau terlambat, tetapi ia sangat yakin keterlambatannya tidak lebih dari lima menit. Ingin membela diri, tetapi ia menahan diri. Membantah di hadapan pria seperti itu hanya akan memperburuk kesan. “Saya minta maaf, Pak. Jalanan tad—” “Alasan.” Satu kata saja dari Elvano. Namun, cukup membuat Acha terdiam. Rasa panas langsung menjalar di wajahnya. Ia menunduk sesaat, menahan malu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, Elvano akhirnya menggeser kursinya sedikit, memberi isyarat duduk tanpa sepatah kata. Acha merasa lega dengan isyarat Elvano. Itu berarti ia masih diberi kesempatan. Padahal, sempat terlintas pikiran bahwa keterlambatannya mungkin tidak akan ditoleransi dan membuatnya dianggap kurang profesional. Tanpa membuang-buang waktu, Acha segera duduk. Elvano mulai membuka berkas lamarannya dengan gerakan tenang. Tatapannya berpindah dari dokumen ke wajah Acha, lalu kembali lagi ke kertas, seolah mencocokkan data dengan fakta di depannya. “Azalea Chantika,” suaranya terdengar berat. “Lima tahun di Valmer Group, di bawah Pak Rendra?” “Benar, Pak Elvano.” “Kenapa keluar?” “Pak Rendra pensiun. Jadi, saya merasa ini saat yang tepat untuk mencari lingkungan baru,” jawab Acha pelan. “Selain itu, ini juga cara saya menunjukkan loyalitas padanya. Saya keluar karena pilihan, bukan karena terpaksa. Kemampuan jelas membuat saya tetap kompeten.” Hening. Elvano tak langsung menanggapi. Jarinya mengetuk meja pelan, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. “Kenapa melamar ke sini?” Acha menegakkan punggung. ”Karena saya melihat Alvarion Group sebagai perusahaan yang sejalan dengan—” “Cukup.” Acha terdiam. “Jawaban seperti itu sering saya dengar,” lanjut Elvano, masih dengan suara datarnya. “Dan, jarang relevan.” Dada Acha mengencang, tetapi ia berusaha tetap tenang. “Saya datang untuk bekerja, Pak.” Elvano mengangkat pandangannya. “Sekretaris,” ucapnya pelan. “Selalu dekat dengan atasan.” Ketukan jemarinya terhenti. “Kamu paham maksud saya.” Tubuh Acha sontak menegang. Ada jeda dan ruangan menjadi lebih hening ketika mata pria itu kembali memperhatikannya. Ia merasa tatapan pria di hadapannya begitu menusuk dan membuatnya tidak nyaman. Elvano menutup berkas. Bunyi tipisnya terdengar jelas di keheningan. “Lima tahun dengan Pak Rendra,” katanya lagi. “Cukup lama.” Acha refleks mencengkeram pahanya sendiri di balik meja. Ia tak sepenuhnya paham maksud kalimat itu. “Saya bekerja profesional, Pak.” Alis Elvano terangkat sedikit, hampir tak terlihat, tetapi cukup membuat Acha merasa posisinya dipertanyakan. “Yakin?” Ia condong ke depan sedikit, seakan ingin memastikan kata berikutnya tidak meleset. “Dalam lima tahun, sudah berbuat apa dengan Pak Rendra?” Acha membeku. Matanya berkedip lambat saat otaknya mencoba mencerna pertanyaan itu. Untuk sesaat ia berharap telinganya salah dengar. Tidak mungkin seorang Presiden Direktur menanyakan hal seperti itu dalam interview, ‘kan? “Maaf, apa boleh diulang pertanyaannya?” tanyanya lirih, masih tak percaya. Elvano hanya menatapnya lama sebelum menghela napas, lalu kembali membuka suara. “Kamu melayani Pak Rendra?” Acha terkesiap. ‘Astaga! Serius dia bertanya begitu?!’Sementara itu, di lain tempat, Elvano sudah tiba di restoran yang telah ia persiapkan sejak beberapa hari lalu.Berbeda dari biasanya, wajah pria itu terlihat lebih ringan. Bahkan ada senyum tipis yang sesekali muncul tanpa ia sadari.Malam ini seharusnya menjadi malam yang bahagia.Toh, Elvano sudah menyewa seluruh lantai restoran tersebut agar tidak ada orang lain yang mengganggu rencananya. Meja makan telah ditata dengan dekorasi romantis. Di atasnya terdapat rangkaian bunga yang tentunya juga sudah disiapkan sesuai perintahnya.Semuanya sudah tertata dengan sempurna.Tinggal menunggu Acha datang.Sayangnya, menit berganti menit, wanita itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.Senyum di wajah Elvano pun perlahan menghilang saat pria itu sesekali melirik jam tangannya. Sudah pukul delapan lewat tiga puluh menit. Restoran yang dipilihnya sengaja tidak terlalu jauh dari tempat Acha berada. Seharusnya wanita itu sudah datang sekarang, kan?Elvano mengambil ponsel dari atas meja,
Acha baru saja membuka dan meletakkan makanan kiriman Elvano ketika terdengar suara seseorang menekan PIN apartemen dari luar.Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dina dan Celine masuk sambil membawa beberapa kantong makanan.“Eh, kamu habis GoFood, Cha?” tanya Dina begitu melihat makanan di atas meja.Acha menggeleng kecil.“Nggak. Ini dikirimin Elvano,” katanya.Langkah Celine yang hendak meletakkan kantong bawaannya di meja langsung berhenti.“Elvano?” Ia memastikan.“Iya.”Dina yang sudah duduk di dekat Acha sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantong ikut menoleh.“Loh, perhatian sekali dia.”Alih-alih ikut memuji, Celine malah mendengkus. “Halah. Pasti ada maunya itu orang.”Dina mengernyit bingung. “Maksudnya?”“Ya, apalagi?” Celine menghempaskan tubuhnya ke sofa sedikit lebih keras dari seharusnya. “Udah bikin Acha sakit hati, sekarang ngirim makanan. Biar apa? Biar Acha nggak benar-benar ninggalin dia. Toh, dia pasti sudah sadar Acha mulai ngejauh, kan?”“Cel .…”“B
Acha baru saja membuka dan meletakkan makanan kiriman Elvano ketika terdengar suara seseorang menekan PIN apartemen dari luar.Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dina dan Celine masuk sambil membawa beberapa kantong makanan.“Eh, kamu habis GoFood, Cha?” tanya Dina begitu melihat makanan di atas meja.Acha menggeleng kecil.“Nggak. Ini dikirimin Elvano,” katanya.Langkah Celine yang hendak meletakkan kantong bawaannya di meja langsung berhenti.“Elvano?” Ia memastikan.“Iya.”Dina yang sudah duduk di dekat Acha sambil mengeluarkan beberapa kotak makanan dari kantong ikut menoleh.“Loh, perhatian sekali dia.”Alih-alih ikut memuji, Celine malah mendengkus. “Halah. Pasti ada maunya itu orang.”Dina mengernyit bingung. “Maksudnya?”“Ya, apalagi?” Celine menghempaskan tubuhnya ke sofa sedikit lebih keras dari seharusnya. “Udah bikin Acha sakit hati, sekarang ngirim makanan. Biar apa? Biar Acha nggak benar-benar ninggalin dia. Toh, dia pasti sudah sadar Acha mulai ngejauh, kan?”“Cel .…”“B
Setelah menerima informasi yang sebenarnya tidak perlu ia ketahui itu, Acha malah jadi kepikiran soal Elvano.Apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu?Rasa penasaran tersebut belum juga hilang ketika Acha segera keluar dari kamar. Ia memilih mengalihkan perhatian pada tayangan drama di televisi, berharap pikirannya juga bisa beralih.Sampai beberapa saat kemudian, ponselnya lagi-lagi berbunyi.Tadinya ia refleks melihat notifikasi karena mengira Dina atau Celine yang mengirim pesan untuknya. Ternyata bukan. Dan nama kontak yang terpampang di layar ponselnya membuatnya seketika tertegun.Jarinya sempat menggantung di atas layar sebelum akhirnya membuka pesan dari Elvano tersebut.[Elvano: Acha, bagaimana keadaanmu?]Acha mengerjap pelan.Saat kalimat sederhana itu seolah langsung membuatnya kehilangan kata-kata.Bukankah ia sudah berusaha menjauh dari pria itu? Lantas, kenapa Elvano masih menghubunginya dan menanyakan keadaannya seperti ini?Namun, tanpa sadar ia tetap mengetik bala
Setelah dirawat semalam penuh, Acha akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit keesokan harinya. Demamnya memang sudah turun, meski tubuhnya masih terasa lemas. Setidaknya, kondisinya memang sudah jauh lebih baik dari semalam. Dokter juga menyarankan agar ia banyak beristirahat dan tidak terlalu memaksakan diri untuk bekerja beberapa hari ke depan. Dina sebenarnya ingin menemani Acha pulang, tetapi ada pekerjaan yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya, hanya Celine yang menemani Acha di apartemen Dina. “Kamu istirahat aja,” ujar Celine sambil meletakkan tasnya di atas meja begitu mereka tiba. “Jangan banyak gerak dulu.” Acha yang sudah duduk di sofa hanya mengangguk. Pandangannya kemudian beralih kepada Celine. “Cel.” “Hm?” “Makasih, ya.” Celine yang sedang mengambil air minum menoleh. “Buat apa?” “Karena kalian udah nemenin aku dari kemarin. Kamu sampe rela cuti buat nemenin aku.” “Oh?” Celine malah terkekeh kecil. “Santai, kayak sama siapa aja.
Suara roda brankar yang melintas di depan ruang IGD terdengar samar di telinga Acha. Ia hanya berbaring diam di atas ranjang, menatap langit-langit putih dengan pandangan sayu.Tangan kanannya sudah terpasang infus. Tubuhnya masih terasa lemas, sementara kepalanya sedikit pening.Tadi, setelah mengetahui Acha demam, Dina dan Celine langsung memaksanya pergi ke rumah sakit.Acha sempat menolak karena merasa masih sanggup menahan. Namun, kedua sahabatnya itu sama sekali tidak mau mendengarkan. Pada akhirnya, ia hanya bisa pasrah.Kini, Dina dan Celine duduk di kursi samping ranjang sambil sesekali memperhatikan kondisinya.“Kalau capek, istirahat, Cha,” ujar Dina memecah keheningan. “Jangan tunggu drop dulu.”“Gimana mau istirahat? Kerjaannya banyak,” jawab Acha lemah.“Dari kemarin kamu stres, kelelahan, kurang tidur, pasti pola makanmu juga berantakan,” omel Celine. “Kalau cuma kerjaan, nggak biasanya kamu begini. Ini pasti karena kamu terlalu mikirin masalah sama Elvano.”“Nggak ada,
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi
Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i
Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam







