Share

Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu
Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu
Author: Kharamiza

Bab 1

Author: Kharamiza
last update publish date: 2025-12-31 10:35:19

“Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.

“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”

Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, menolak pun tak ada gunanya.

Jalan besar yang biasanya padat kini dipagari garis polisi. Sebuah truk kontainer terguling, menutup hampir seluruh badan jalan. Sirine petugas dan suara klakson pun saling bersahutan, tak sabar.

Acha mulai cemas, melirik jam tangannya berulang kali. Sudah pukul 10.17. Tiga belas menit menuju jadwal interview, tetapi posisinya masih jauh dari lokasi.

“Mas, bisa ngebut dikit?” suaranya gemetar, tidak marah, hanya khawatir akan kehilangan kesempatan.

Ia sering mendengar kalau reputasi pimpinan perusahaan itu sangat disiplin. Ketepatan waktu bukan sekadar formalitas, melainkan ukuran pertama. Satu kesalahan kecil saja bisa menghapus kesempatan sebesar ini.

“Sabar, Mbak. Ini juga udah ngebut.”

Perjalanan dua puluh menit berubah menjadi tiga puluh. Acha hanya bisa menggigit bibir, membayangkan kesan pertamanya yang begitu buruk.

Ketika motor akhirnya berhenti di depan gedung tinggi itu, Acha turun dengan tergesa, hampir tersandung, tetapi ia tak peduli.

Berlari kecil menuju lobi sambil merapikan rambut yang berantakan tertiup angin, bahkan berkas dalam genggamannya hampir saja terlepas.

Masuk lift, Acha gelisah karena gerakan lift yang terasa sangat pelan, seolah sengaja mempermainkan waktunya.

Begitu pintu lift akhirnya terbuka di lantai 28, ia sudah terlambat lima menit. Namun, rasanya seperti lima jam.

Acha disambut oleh asisten pribadi sang presdir di depan pintu ruang interview. Pria berkacamata tipis dan memakai jas biru muda bernama Raka Yudhistira.

“Azalea Chantika?” tanyanya ramah.

“Benar, Pak. Saya minta maaf, saya sedikit terlambat.”

Pria itu mengangguk, sambil tersenyum tipis setelah memastikan identitas Acha.

“Pak Elvano sudah menunggu,” katanya, lalu membuka pintu dan mempersilakan Acha masuk.

Gestur sederhana itu cukup membuat gadis itu merasa lega, meski jantungnya masih berdebar.

Dengan satu tarikan napas, Acha melangkah masuk ke ruang interview.

Ruangan itu luas, rapi, dan terlalu sunyi. Benda-benda di dalamnya tertata presisi, nyaris tanpa cela.

Di ujung meja besar itu, seorang pria duduk tanpa bangkit menyambutnya.

Elvano Raynand Alvaric. Presiden Direktur muda Alvarion Group yang kerap menjadi perbincangan di luar sana.

Acha menelan ludah. Melihat Elvano dari jarak sedekat ini, rumor tentang sikap dingin pria itu ternyata tidak berlebihan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya tenang, tetapi terasa seperti sedang mengintimidasi.

Acha meremas ujung roknya, berusaha mengusir kegugupannya, sebelum memberanikan menyapa lebih dulu. “Selamat pagi, Pak El—”

“Sepuluh menit terlambat.”

Suara datar itu memotong ucapannya. Justru karena tanpa emosi, kalimatnya terasa lebih menusuk.

Acha refleks menarik napas. Tahu diri kalau terlambat, tetapi ia sangat yakin keterlambatannya tidak lebih dari lima menit. Ingin membela diri, tetapi ia menahan diri. Membantah di hadapan pria seperti itu hanya akan memperburuk kesan.

“Saya minta maaf, Pak. Jalanan tad—”

“Alasan.”

Satu kata saja dari Elvano. Namun, cukup membuat Acha terdiam. Rasa panas langsung menjalar di wajahnya. Ia menunduk sesaat, menahan malu.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan, Elvano akhirnya menggeser kursinya sedikit, memberi isyarat duduk tanpa sepatah kata.

Acha merasa lega dengan isyarat Elvano. Itu berarti ia masih diberi kesempatan. Padahal, sempat terlintas pikiran bahwa keterlambatannya mungkin tidak akan ditoleransi dan membuatnya dianggap kurang profesional.

Tanpa membuang-buang waktu, Acha segera duduk.

Elvano mulai membuka berkas lamarannya dengan gerakan tenang. Tatapannya berpindah dari dokumen ke wajah Acha, lalu kembali lagi ke kertas, seolah mencocokkan data dengan fakta di depannya.

“Azalea Chantika,” suaranya terdengar berat. “Lima tahun di Valmer Group, di bawah Pak Rendra?”

“Benar, Pak Elvano.”

“Kenapa keluar?”

“Pak Rendra pensiun. Jadi, saya merasa ini saat yang tepat untuk mencari lingkungan baru,” jawab Acha pelan. “Selain itu, ini juga cara saya menunjukkan loyalitas padanya. Saya keluar karena pilihan, bukan karena terpaksa. Kemampuan jelas membuat saya tetap kompeten.”

Hening.

Elvano tak langsung menanggapi. Jarinya mengetuk meja pelan, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Kenapa melamar ke sini?”

Acha menegakkan punggung. ”Karena saya melihat Alvarion Group sebagai perusahaan yang sejalan dengan—”

“Cukup.”

Acha terdiam.

“Jawaban seperti itu sering saya dengar,” lanjut Elvano, masih dengan suara datarnya. “Dan, jarang relevan.”

Dada Acha mengencang, tetapi ia berusaha tetap tenang. “Saya datang untuk bekerja, Pak.”

Elvano mengangkat pandangannya.

“Sekretaris,” ucapnya pelan. “Selalu dekat dengan atasan.”

Ketukan jemarinya terhenti.

“Kamu paham maksud saya.”

Tubuh Acha sontak menegang. Ada jeda dan ruangan menjadi lebih hening ketika mata pria itu kembali memperhatikannya.

Ia merasa tatapan pria di hadapannya begitu menusuk dan membuatnya tidak nyaman.

Elvano menutup berkas. Bunyi tipisnya terdengar jelas di keheningan.

“Lima tahun dengan Pak Rendra,” katanya lagi. “Cukup lama.”

Acha refleks mencengkeram pahanya sendiri di balik meja. Ia tak sepenuhnya paham maksud kalimat itu. “Saya bekerja profesional, Pak.”

Alis Elvano terangkat sedikit, hampir tak terlihat, tetapi cukup membuat Acha merasa posisinya dipertanyakan.

“Yakin?”

Ia condong ke depan sedikit, seakan ingin memastikan kata berikutnya tidak meleset.

“Dalam lima tahun, sudah berbuat apa dengan Pak Rendra?”

Acha membeku. Matanya berkedip lambat saat otaknya mencoba mencerna pertanyaan itu. Untuk sesaat ia berharap telinganya salah dengar. Tidak mungkin seorang Presiden Direktur menanyakan hal seperti itu dalam interview, ‘kan?

“Maaf, apa boleh diulang pertanyaannya?” tanyanya lirih, masih tak percaya.

Elvano hanya menatapnya lama sebelum menghela napas, lalu kembali membuka suara. “Kamu melayani Pak Rendra?”

Acha terkesiap. ‘Astaga! Serius dia bertanya begitu?!’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 257

    Operasi Yudi akhirnya berjalan lancar pagi itu. Elvano juga berada di rumah sakit, menemani Acha menunggu hingga ayahnya selesai menjalani operasi.Namun, setelah dokter memastikan kondisi Yudi stabil pascaoperasi, Elvano pamit kembali ke Jakarta karena ada pekerjaan yang harus segera ditangani.Acha tetap tinggal di kampung halaman untuk membantu ibunya mengurus kebutuhan ayahnya selama masa pemulihan. Beberapa hari kemudian, Yudi sudah diperbolehkan pulang. Meski masih harus banyak beristirahat dan menjalani kontrol rutin sampai kondisinya jauh lebih baik.Malam itu, setelah membantu ibunya menyiapkan obat-obatan di meja dekat sofa, Acha kembali ke kamar dan mengambil ponselnya.Ia sudah memikirkan kepulangannya sejak siang. Masa cutinya hampir habis, sementara pekerjaan di kantor pasti sudah menumpuk.Acha menekan nama Elvano, lalu menempelkan ponsel ke telinga. Panggilan itu baru tersambung setelah beberapa dering.“Mas?”“Iya, Sayang?”“Kamu sibuk, nggak?” tanya Acha sambil duduk

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 256

    Mobil Elvano berhenti tepat di depan rumah Acha. Lampu teras sudah menyala, menerangi halaman yang lengang di malam hari.Acha melepaskan sabuk pengamannya, tetapi belum juga membuka pintu. Ia menoleh kepada Elvano yang sedang mematikan mesin mobil, lalu menggigit bibir sebentar sebelum bertanya, “Mas El yakin nggak mau nginap di sini aja?”Elvano menoleh sambil tersenyum tipis.“Mau banget,” jawabnya. “Saya juga takut kangen kalau nggak melihat kamu sedetik saja.”Acha meringis menahan tawa. Ucapan Elvano terdengar begitu gombal hingga ia harus menggigit bibir agar tidak tersenyum terlalu lebar.“Bisa aja Mas Elvano, ih!” cicitnya dengan pipi yang mulai terasa panas.“Ya memang begitu kenyataannya.” Elvano terkekeh. Namun, ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar rumah seolah hendak memastikan sesuatu. “Tapi, kalau menginap di sini juga nggak mungkin, kan? Kondisinya lagi nggak bagus buat kita berdua. Saya nginap di hotel saja.”Bibir Acha langsung mengerucut seakan tak rela. Se

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 255

    “Sama sekali bukan begitu, Pak,” bantah Elvano cepat.“Kalau begitu, jangan ikut campur urusan keluarga saya!”Acha merasakan genggaman Elvano kembali mengerat, tetapi pria itu tidak membalas dengan nada tinggi. Bahkan ketika Yudi jelas-jelas menyalahkannya, Elvano tetap mempertahankan sikap hormatnya.“Saya nggak bermaksud mencampuri urusan keluarga Bapak. Saya hanya nggak ingin Acha terus disalahkan atas sesuatu yang nggak dia lakukan.”“Sudah, Yah!” Sukartini kembali menyela. Kali ini suaranya terdengar lelah. “Acha dan Nak Elvano baru datang. Bukannya disambut baik, mereka malah harus menghadapi pertengkaran seperti ini.”“Kalau Ibu nggak suka, suruh saja mereka pulang!” balas Yudi sambil membuang muka.Acha menunduk.Mendengar ayahnya sendiri menyuruhnya pergi ternyata terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.Padahal, sejak awal kedatangannya, ia tidak mengharapkan sambutan hangat, apalagi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 254

    “Pak Yudi, saya rasa ada sesuatu yang perlu saya luruskan.”Suara tenang Elvano membuat semua mata beralih kepadanya. Jantung Acha berdegup sedikit lebih kencang sekarang. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan pria itu kepada ayahnya, terlebih setelah berbagai perkataan menyakitkan yang baru saja mereka dengar.Yudi menatap Elvano tajam. “Apa lagi yang mau kamu katakan?”Elvano menarik napas sejenak sebelum menjawab, “Saya mengerti kalau Pak Yudi belum bisa menerima kehadiran saya.”Ia berhenti sesaat, lalu melanjutkan dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.“Saya juga tidak datang ke sini untuk memaksa Bapak menyukai saya.”“Bagus kalau kamu sadar diri,” sahut Yudi sinis. “Harusnya dari awal kamu nggak usah dekatin Acha. Dia bisa dapat pria lajang, bukan jadi simpanan suami orang.”“Ayah, cukup!” Acha tak sanggup lagi menahan diri. “Aku nggak suka Ayah bicara begitu sama Mas El!

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 253

    Acha sedikit terkejut mendengar pertanyaan ayahnya itu. Ia refleks menggigit bibir bawahnya, sementara jemarinya saling meremas di depan tubuh.Matanya sempat melirik Elvano yang masih berdiri di samping ibunya, sekadar memastikan ekspresi pria itu. Namun, Elvano tampak tenang, seolah tidak terganggu oleh ucapan Yudi.“Mas Elvano juga mau jenguk Ayah,” komentar Acha berusaha tenang. “Makanya, dia ikut, sekalian mengantarku ke sini.”“Siapa yang minta dijenguk?” sahut Yudi ketus. “Ayah nggak butuh dijenguk sama dia.”Acha terdiam, seolah langsung kehilangan kata-kata.“Kamu ini tebal muka sekali, Acha!” cecar Yudi.Acha lagi-lagi dibuat terkejut oleh ucapan ayahnya itu. “Ayah!” tegur Sukartini tegas, sontak menatap lurus kepada suaminya. “Jangan bicara begitu sama Acha. Dia datang jauh-jauh sampai ninggalin kerjaannya karena khawatir sama keadaan Ayah.”Yudi mendengus sinis. “Ibu selalu saja membelanya. Seharusnya mereka nggak usah datang sekalian!”Dada Acha terasa sesak menghimpit,

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 252

    Acha menghentikan langkahnya tepat di depan ruang rawat ayahnya.Sejak tiba di rumah sakit bersama Elvano beberapa menit lalu, ia sudah berusaha meyakinkan diri untuk masuk. Namun, kini jemarinya justru mencengkeram tali tas dengan gelisah, sementara tatapannya terpaku pada pintu di hadapannya.Ia hanya perlu membukanya, tetapi entah mengapa, kakinya terasa begitu berat untuk melangkah.Bayangan kejadian beberapa waktu lalu kembali melintas di benaknya. Tamparan ayahnya seolah masih membekas di pipinya, begitu pula perkataan-perkataan menyakitkan yang hingga kini sulit ia lupakan.Acha menelan ludah.Bagaimana kalau ayahnya kembali marah? Bagaimana kalau kedatangannya justru membuat suasana semakin buruk?“Kenapa, Sayang?”Suara Elvano di sampingnya membuat Acha sedikit tersentak. Ia menoleh dan mendapati pria itu sedang memperhatikannya.Acha menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”Elvano melirik pintu di hadapan mereka, lalu kembali menatapnya. Seolah memahami apa yang sedang berkecamuk

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 6

    Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 5

    Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 4

    Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i

  • Eratnya Pelukan Tuan Presdir Malam Itu   Bab 3

    Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status