LOGIN“APAKAH INI YANG NAMANYA CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA!” seru gue, tiba-tiba membekukan suasana kantin sekolah. Dan semua tatapan pun tertuju ke arah gue.
Hah! Kantin? Gue membeku begitu menyadarinya. Dan lebih terkejut lagi gue melihat Ibu kantin menatap gue dengan ekspresi herannya. “Cinta pada pandangan pertama?! Dek, Ibu janda anak 2 lho,” balasnya, membuat gue kehabisan kata-kata. “Eh, ma… maaf, Bu. Pikiran saya lagi ke mana-mana,” ucap gue sekenanya. “Lho, ya dikumpulin, biar nggak hilang,” balasnya, entah serius atau bercanda.
Beberapa saat kemudian, “Nih, teh panas lo,” ucap gue, menyodorkan pesanan Joana yang sedang terbaring di ruang UKS. Gara-gara rambutnya tercabut paksa oleh gue, badannya mendadak meriang dan sepertinya akan menjadi demam.
“Maafin gue ya, gue nggak sengaja tadi. Gue itu kagetan,” ucap gue, berusaha untuk meredam amarahnya yang masih membara. Dengan mata memelotot, Joana menatap gue. “Liat aja, suatu saat pasti akan gue bales!”
Sejak pertemuan pertama gue dengan Joana waktu itu, hari-hari yang gue lalui perlahan mulai terasa berbeda. Ada semacam angin segar yang menyusup ke dalam rutinitas gue—sejuk, lembut, namun cukup kuat untuk menggerakkan hati yang selama ini beku.
Bahkan, hal-hal sederhana seperti bangun pagi atau berangkat ke sekolah terasa punya makna baru. Dan lucunya, gue justru mulai datang lebih siang dari biasanya—hanya demi satu alasan, yaitu supaya gue bisa dihukum bersama Joana lagi.
Gila! Ya, sepertinya gue benar-benar sudah jadi budak cinta. Dan anehnya, gue merasa bahagia. Karena dari rencana konyol itu, gue justru mendapatkan hal yang gue inginkan, yaitu waktu lebih lama bersamanya.
Lalu tanpa gue sadari, kedekatan itu tumbuh perlahan. Seperti bunga yang mekar diam-diam di antara jam pelajaran, juga senyum-senyum kecil di bawah sinar matahari yang mengiringi hari. Hingga suatu saat, gue pun mengakui—Joana bukan lagi sekadar teman di sekolah. Dia mulai menjadi bagian dari alasan gue untuk tersenyum setiap hari.
Suatu hari, gue dan Joana sedang duduk di pojokan perpustakaan sekolah, yang merupakan tempat favoritnya—meja paling ujung yang menghadap tembok, penuh dengan coretan kecil dari generasi sebelumnya.
“Oh, ya, Dean. Gue punya sesuatu buat lo,” ucapnya tiba-tiba, sambil menyodorkan sebuah benda berbentuk buku bersampul coklat. Bahannya seperti suede, terasa lembut di tangan “Apaan nih?” tanya gue, agak bingung. “Ish, masa lo nggak tau sih! Ini scrapbook,” jawabnya dengan nada heran, tapi disertai senyum kecil yang khas.
“Scrapbook? Mirip binder ya. Trus, fungsinya buat apaan?” tanya gue lagi, masih belum paham. “Ya, bisa buat diary, nyimpen tulisan, gambar, atau… lo kan sering motret pake kamera polaroid tuh. Nah, hasilnya bisa lo tempel di sini, dan hias sesuka lo,” jelasnya, dengan kedua matanya yang berbinar.
“Oh, gitu…” ucap gue, sambil membolak-balik halaman buku itu. Kertasnya cukup tebal, kosong, tapi entah kenapa terasa punya ruang untuk menyimpan segala kenangan yang akan terjadi di masa depan.
“Nih, kayak gini nih,” lanjutnya sambil mengeluarkan miliknya sebagai contoh. Gue pun memperhatikan setiap halamannya dengan seksama. Di mana di sana terdapat potongan tiket bioskop, ada foto cetak dirinya yang warnanya mulai pudar, ada knalpot racing lepasan dari bengkel Thailand, dan juga ada—ada-ada saja kelakuan penulis yang tidak ada akhlak ini. Bisa serius nggak sih!
“Lho, ini punya kita kembar?” penasaran gue, yang baru menyadari jika buku itu ada dua. “Iya,” jawabnya sambil tersenyum tipis. “Waktu liat ini di toko buku, entah kenapa gue langsung keinget sama lo.” Mendengar itu, gue tertawa kecil, mencoba menyembunyikan degup jantung yang tiba-tiba semakin cepat.
“Oh, iya, Dean. Kamera lo masih ada isinya? Fotoin gue dong,” mintanya dengan tatapan lembut yang sulit untuk ditolak.
Dengan hati-hati gue mengangkat kamera dan menekan tombol rana setelah menyesuaikan pose Joana. Cekrek! Suara kecil itu terdengar lebih keras dari detak jantung gue sendiri. Setelah tercetak sempurna, ia menempelkan foto tersebut di salah satu halaman scrapbook miliknya. Tangannya berhati-hati. Matanya fokus. Sambil bekerja, Joana bercerita.
“Dari kecil, gue udah suka sama yang namanya menulis, Dean,” ucapnya pelan, hangat. “Buat gue, teman paling setia itu ya… buku ini. Karena dia selalu mau dengerin apa pun yang gue rasain.”
“Gue nggak perlu sembunyi di balik topeng, nggak harus pura-pura kuat, atau jadi orang lain. Di sini, gue bisa jadi diri sendiri.” Suaranya lembut, tapi ada sesuatu di baliknya—seperti perasaan yang lama disimpan dan akhirnya bisa keluar.
Gue terdiam sesaat. Entah kenapa, hati gue ikut tersentuh. “Oh, ya, Dean,” celetuknya tiba-tiba menoleh ke gue. “Lo punya mimpi?” Tatapannya dalam, seolah benar-benar ingin mengetahui. “Mimpi?” Gue mengerutkan dahi. “Hmm, jarang sih gue mimpi,” jawab gue polos. Joana menahan tawa. “Ish, bukan mimpi itu!” ucapnya sambil menggeleng. “Maksud gue impian, cita-cita!”
“Oh…” gue nyengir kuda, “kalau itu, hmm… gue cuma ingin hidup bahagia aja sih.” Mendengar jawaban itu, Joana menatap gue tajam, lalu tampak senyum tipis di bibirnya. “Semua orang juga pasti ingin bahagia, Dean. Emang nggak ada yang lebih spesifik? Sebuah harapan mungkin?”
Gue pun berpikir sejenak, tapi kepala ini kosong. “Nggak ada. Emangnya impian lo apa?” tanya balik gue, penasaran. Joana tersenyum lagi, tapi kali ini matanya tertuju ke arah jendela dan langit biru di luar sana.
“Kalo gue… gue ingin suatu hari nanti tinggal jauuuh dari kota ini. Punya rumah kecil deket pantai. Dan setiap hari keliling naik skuter, ngerasain angin laut sambil menulis cerita hidup gue sendiri,” jawabnya, dengan wajah berseri-seri.
Gue hanya diam. Entah kenapa, untuk pertama kalinya impian seseorang terasa begitu indah.
***
Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Apakah akhir-akhir ini awan hitam itu muncul lagi?” tanya Aya, memastikan keadaan gue. Suaranya pelan, tapi tepat sasaran. “Hmm… entah ada hubungannya atau nggak, tapi akhir-akhir ini aku lumayan sibuk sama urusanku. Jadi kayaknya aku terdistraksi,” jawab gue, ada sedikit rasa lega merembes keluar dari kalimat itu. “Oh, ya? Itu bagus. Terutama kalau aktivitasmu bikin kamu lebih produktif,” ucap Aya, tersenyum kecil. Senyum yang terasa seperti lampu meja yang hangat di ruangan dingin. “Iya, selain cari kerja tambahan, aku juga mulai suka boxing, Ay,” tambah gue. Alis Aya langsung naik antusias. “Boxing? Yang tinju-tinju itu kan?” “Iya. Tapi bukan buat bertanding. Cuma latihan seru-seruan aja. Ya sekalian olahraga lah.” Gue tidak bisa menahan senyum, teringat sensasi pukulan yang memacu adrenalin itu. “Yakin cuma seru-seruan?” Aya menyipitkan mata, menilai ekspresi gue. “Barusan kamu kelihatan bahagia banget waktu nyeritainn
Gara-gara Sonya yang sukses meracuni gue dengan dunia boxing, kini gue resmi jadi maniak boxing dalam waktu super singkat. Bayangin aja—semalaman gue begadang cuma buat menonton video bela diri, dari yang tutorial dasar sampai pertandingan kelas dunia. Pagi-pagi mata gue bengkak menghitam mirip panda migrain. “Eh, mau kabur ke mana kamu?” tanya Ibu, melihat gue membawa ransel sebesar dosa. “Mau jualan di CFD,” jawab gue asal, bibir manyun. Ibu terkekeh. “Kamu nggak bawa macem-macem kan?” Gue menghela napas. “Ini baju olahraga, Ma.” Gue buka sepersekian detik. “Olahraga? Tumben.” Ibu menatap curiga. “Iya, biar kuat kayak Mike Tyson,” celetuk gue sambil berlalu pergi. Hari ini gue ada janji sama Sonya. Katanya ia mau menunjukkan tempat latihan boxing yang “sepi banget”. Bersama si bandit, gue menyusuri sudut Jakarta dari selatan ke arah pusat. Untung ada GPS—kalau tidak, mungkin sekarang gue sudah nyasar ke komplek pejabat… atau justru ikut arisan ibu-ibu setemp
Event VeroHari ini adalah hari di mana event catwalk yang diselenggarakan oleh Vero dan kawan-kawannya akhirnya digelar. Acaranya outdoor dengan tema garden bizarre—sebuah kombinasi antara taman anggun dan pesta kostum para peri yang mungkin baru pulang lembur.Dekorasi dan pakaian yang ditampilkan penuh dengan elemen flora, tapi dengan sentuhan nyentrik yang membuat gue merasa seperti lagi berjalan di dunia dongeng. Hasil eksperimen fashion show dan film fantasi indie.“Lho, Dra! Lo sendiri? Abay mana?” tanya Vero begitu melihat gue datang seorang diri. “Abay nggak bisa dateng. Katanya ada keperluan mendadak.” Vero langsung pasang ekspresi aduh-kasian-lo-Dra.“Yah, lo sendirian dong. Gue juga nggak bisa lama, harus balik ke backstage,” ucapnya merasa bersalah. “Santai aja. Ini kan acara lo, masa lo tinggal-tinggal. Gue mau keliling dulu sebelum acara mulai,” jawab gue sok kalem, padahal rasa panik gue sudah mulai loading 87% karena keramaian.Dengan sedikit paksaan pada diri sendiri
“Kak, ini ada apa sih, kok mata Diana pake di tutup segala,” bingung Diana, karena kedua matanya gue tutup dengan sebuah topi kupluk hitam, hasil pinjaman dari Vero. Tak berselang lama, gue pun menuntunnya ke garasi rumah karena ada yang ingin gue persembahkan kepadanya. Diikuti juga oleh Ibu dan Vero yang telah membantu menyiapkan kejutan ini.Setelah beberapa saat, “Surpriiiise!” teriak gue, sambil melepas kupluk hitam dari kepalanya. Tampak Ibu dan Vero ikut bertepuk tangan, memeriahkan suasana.“Ya ampun, Kak! Ini apa?” tersentak Diana, lalu ternganga. Sepertinya ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini—sebuah motor matic yang sedang populer di kalangan anak muda seusianya.“Mama, ini buat Diana?!” ucapnya memastikan. Matanya berbinar. Napasnya mulai tak beraturan. “Tanya Kakakmu dong, Mama nggak tau apa-apa,” jawab Ibu, lalu melirik gue. Gue pun mengangguk diikuti senyuman kecil di bibir ini.“Makasih ya, Kak” ucap Diana kemudian, bergegas mendaratkan sebuah pe
KelahiranAyah kandung gue adalah anak pertama dari seorang pengusaha ekspor-impor yang cukup ternama di daerah asalnya. Lahir dan besar di keluarga mapan membuatnya terbiasa hidup dalam tekanan untuk selalu jadi yang terbaik.Harga diri dan egonya nyaris sebesar ambisinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan ayah dan kedua adiknya. Dalam hidupnya, kemenangan adalah segalanya—apa pun akan ia lakukan untuk mencapainya.Sementara ibu gue, adalah kebalikan dari semuanya. Ia anak tunggal yang lahir di sebuah desa di dataran tinggi, yang dikelilingi perkebunan kopi yang sudah diurus turun-temurun oleh keluarganya.Ia anak yang sederhana, perempuan yang masih percaya bahwa kehidupan manusia diatur oleh takdir dan tanda-tanda semesta. Sejak muda, ibu gue sering datang ke rumah seorang guru spiritual yang dihormati di desanya. Setiap keputusan besar selalu ia konsultasikan ke sana—termasuk keputusan untuk menerima lamaran dari ayah gue.Pertemuan mereka bukan karena cin
Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Selamat siang,” sapa gue pelan, begitu gue duduk di kursi di hadapannya. Dan gue langsung tertegun—karena perempuan di hadapan gue ini jauh lebih muda dari bayangan gue tentang seorang psikolog.“Siang, halo.” Senyumnya hangat, tidak dibuat-buat. “Dengan… Mas Deandra, ya?” tanyanya memastikan. “Iya, benar, Dok.” Telapak tangan gue dingin, seperti waktu pertama ketemu dokter Silvi dulu.“Jangan panggil dok,” potongnya lembut. “Saya bukan dokter. Saya psikolog. Psikolog itu dari ranah ilmu psikologi, bukan kedokteran. Kalo psikiater baru lulusan kedokteran yang lanjut spesialis kejiwaan,” lanjutnya menjelaskan.“Oh, gitu…” Gue merasa bodoh sendiri. “Saya kirain sama, Dok—eh, maksud saya, Bu.” Ia ketawa kecil. “Panggil nama aja, Aya. Biar santai. Lagian saya lebih muda dari Mas, kok.”Gue berpikir sebentar—dan sadar kalau nama yang baru diucapkannya itu versi singkat dari Cahaya, nama belakang yang sempat gue lihat sekilas di kartu nama.“Oke… kalo gitu







