Home / Romansa / Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta / Eps. 6 Joana dan segenggam rambutnya

Share

Eps. 6 Joana dan segenggam rambutnya

Author: Peter Samudra
last update Last Updated: 2026-03-05 00:30:00

“Hmm… Joana…”

Tujuh tahun lalu

Kata orang, masa-masa SMA itu adalah masa paling seru dalam hidup—tempat pertama kali kenal cinta, persahabatan bagai kedondong, dan pelajaran tentang tumbuh dewasa. Banyak orang dewasa yang sangat ingin mengulang masa SMA mereka, jika diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Namun tidak dengan gue. Karena justru masa itu adalah masa yang ingin gue hapus dari ingatan gue.

Sejak kecil hingga SMP, gue bukanlah anak yang populer di sekolah. Gue adalah seorang penyendiri yang tidak suka berada di keramaian. Apalagi bergaul bersama teman-teman. Namun, sikap gue yang seperti itu bukanlah kemauan gue pribadi. Gue hanya ingin melindungi diri gue dari kepalsuan yang ada di sekeliling gue. Dan saat SMA, perlahan-lahan benteng pertahanan diri gue itu mulai luntur, di mana saat itu gue juga mulai dekat dengan Abay.

Saat itu, Abay adalah satu-satunya cahaya yang mampu menembus gelap di hati gue—satu-satunya yang membuat gue percaya bahwa kesetiaan dan ketulusan bukan sekadar dongeng. Bersamanya, gue belajar kembali membuka diri dan menatap dunia tanpa rasa takut. Perlahan-lahan langkah gue menemukan arah, lalu dinding yang dulu gue bangun… runtuh satu per satu.

Seperti pelangi yang muncul setelah badai, hidup gue pun mulai berwarna. Ada hangat yang merayap lembut di jiwa yang nyaris membeku ini. Kehangatan yang membuat gue mengerti, bahkan setelah kehancuran, masih ada tempat bagi cahaya untuk tumbuh.

Setelah terlahir kembali—menjadi orang baru, gue baru menyadari, jika fisik gue ini mempunyai daya yang mampu menarik perhatian gadis di sekitar gue. Sayangnya, alarm di dada gue ini masih siaga. Dan ia berbisik pelan agar hati yang pernah hancur ini tetap terjaga. “Sorry girls, nggak dulu.”

Sampai pada akhirnya, gue bertemu Joana untuk pertama kalinya. Tiba-tiba… semua sinyal dan alarm itu berhenti. Waktu seakan melambat. Suara di sekitar juga memudar. Yang tersisa hanya dirinya—berdiri di antara cahaya pagi yang hangat, dengan rambutnya yang tersapu angin begitu indah.

Sejenak, gue perhatikan dirinya dengan seksama. Matanya sejernih bola kristal. Hidungnya merona; sepertinya ia sedang flu. Bibirnya mungil bagaikan buah persik. Lalu betisnya… iya, betis. Sudutnya begitu sempurna bagaikan tongkat baseball.

Dalam sekejap, jantung gue berdetak kencang tak karuan, menghantarkan gelombang panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Saat itu juga gue tersadar, jika ada sesuatu di dalam diri gue yang bangkit—sesuatu yang bahkan tidak bisa gue kendalikan.

Hosh! Hosh! “Hey, lo telat juga ya?” tanyanya kemudian, dengan napas tersengal-sengal. Sepertinya ia menyadari jika gue telah memperhatikannya. Dengan malu-malu, gue membalasnya dengan anggukan kepala.

“Hmm, Lo Andra kan? Dari kelas 2C?” tampak ragu, gadis itu memastikan. “Eh, i... iya, gue An... Andra. Kok lo bisa tau gu... gue?” terkejut gue, hingga terbata-bata. “Oh, itu karena beberapa temen gue pernah patah hati gara-gara lo. Jadi, ya mereka sering ngomongin lo di kelas.”

Patah hati... Patah hati... sekelaaas... sekelaaas! Mendengar kalimat itu, serasa diperkosa aib gue. Dikupas dan dikuliti habis. Seperti dilihat telanjang oleh orang yang paling tidak gue harapkan untuk melihat. “Oh, gitu ya, hmmp, okey,” jawab gue ciut, kemudian puff!—hilang.

Saat itu, kami berdua datang terlambat masuk ke sekolah. Akibatnya, guru jadwal piket menghukum kami untuk membersihkan beberapa ruangan fasilitas yang ada di area sekolah. Gue sih senang-senang saja. Karena itu artinya gue punya waktu berduaan untuk mengobrol dengannya. Sambil berjalan menuju ke salah satu ruangan, gue pun mencoba untuk memulai percakapan agar lebih mengenalnya.

“Eh, btw, gue belum tau nama lo?” tanya gue, menyodorkan tangan lebih dulu. “Oh, nama gue Joan. Tapi, biasanya anak-anak manggil gue Joana,” jawabnya, membalas tangan gue. “Joan? Oh, ya!” Gue terkejut. Joana tampak heran. “Iya, kenapa?”

“Oh, nggak, itu, hmm, sebenernya nama lengkap gue itu, Deandra. Berarti lo bisa manggil gue, Dean. Kan jadi Joan and Dean, hahaha,” canda gue asal. “Ih, maksa banget sih, kayak merk sampo,” balasnya, disusul dengan tawa kecilnya yang berefek sangat besar bagi gue saat itu.

“Hmm, gue penasaran deh, kok gue nggak pernah liat lo ya sebelumnya? Lo itu anak baru atau gimana?” Joana menghela napas. “Oh, itu… nggak kok, gue bukan anak baru. Mungkin karena gue langganan telat aja. Rumah gue tuh jauh dari sini. Jadi, hampir setiap hari gue telat. Dan gue juga jarang berkeliaran di sekolah. Biasanya jam istirahat, gue di perpus aja, ngadem.” Gue langsung berpikir, “Apa dia juga suka menyendiri?”

“Oh, gitu. Gue kira lo hantu penunggu sekolah,” ucap gue, mengerjainya sambil memeriksa apakah kakinya menapak lantai. “Yah, ketauan deh,” balasnya menyeringai. Tatapannya tajam. Matanya memicing. Gue pun diam terpaku. Sejenak, teringat akan adegan-adegan di novel Goosebumps, karya R.L. Stine yang menegangkan itu. Dengan suara parau, Joana perlahan-lahan mendekati gue.

“Hmm, tadinya sih gue mau main-main dulu, tapi…” Dalam diam mata gue terbelalak. “Jjo… Jjo! Lo… jangan macem-macem deh!” ucap gue yang tanpa sadar sudah terpojok disudut ruangan yang cukup gelap. Ternyata ia lebih ahli dalam hal mengerjai orang. “…karena lo udah tau siapa gue,” bisiknya lirih. “Maka, gue akan!” lanjutnya, memberikan penegasan di akhir kalimat.

“Aaaargh!” Gue teriak ketakutan. Tanpa sadar, jambakan amatir gue luncurkan hingga segenggam rambutnya berpindah ke tangan gue. Creek! “Aaaargh!” Joana ikut berteriak, menahan sakit. Matanya melotot menatap tangan gue. “Ra—Rambut gue!” tidak percaya Joana dengan apa yang dilihatnya. Ekspresinya mendadak berubah. Matanya memicing, kedua alisnya berusaha menyatu, bibirnya menyeringai, dan hidungnya kembang kempis.

Lalu, secara slow motion kedua tangannya bergerak menuju ke arah gue. “Deandraaa!” dengan penuh amarah, Joana mengoyak-ngoyak rambut gue.

Kenyataan

“Mati lo! Mati lo! Gue bikin jadi hantu beneran lo!”

Fantasi Deandra

Adegan slow motion, “Joana, oh, Joana. Kenapa kamu manis sekali. Entah kenapa, walaupun ia lagi menganiaya gue, tapi gue justru merasa bahagia. Gue hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan itu. “APAKAH INI YANG NAMANYA CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA!” seru gue, tiba-tiba membekukan suasana kantin sekolah. Dan semua tatapan pun tertuju ke arah gue.

"Hah! Kantin?"

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 20 Eksperimen Hati

    Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Apakah akhir-akhir ini awan hitam itu muncul lagi?” tanya Aya, memastikan keadaan gue. Suaranya pelan, tapi tepat sasaran. “Hmm… entah ada hubungannya atau nggak, tapi akhir-akhir ini aku lumayan sibuk sama urusanku. Jadi kayaknya aku terdistraksi,” jawab gue, ada sedikit rasa lega merembes keluar dari kalimat itu. “Oh, ya? Itu bagus. Terutama kalau aktivitasmu bikin kamu lebih produktif,” ucap Aya, tersenyum kecil. Senyum yang terasa seperti lampu meja yang hangat di ruangan dingin. “Iya, selain cari kerja tambahan, aku juga mulai suka boxing, Ay,” tambah gue. Alis Aya langsung naik antusias. “Boxing? Yang tinju-tinju itu kan?” “Iya. Tapi bukan buat bertanding. Cuma latihan seru-seruan aja. Ya sekalian olahraga lah.” Gue tidak bisa menahan senyum, teringat sensasi pukulan yang memacu adrenalin itu. “Yakin cuma seru-seruan?” Aya menyipitkan mata, menilai ekspresi gue. “Barusan kamu kelihatan bahagia banget waktu nyeritainn

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 19 Dopamin Bernama Sonya

    Gara-gara Sonya yang sukses meracuni gue dengan dunia boxing, kini gue resmi jadi maniak boxing dalam waktu super singkat. Bayangin aja—semalaman gue begadang cuma buat menonton video bela diri, dari yang tutorial dasar sampai pertandingan kelas dunia. Pagi-pagi mata gue bengkak menghitam mirip panda migrain. “Eh, mau kabur ke mana kamu?” tanya Ibu, melihat gue membawa ransel sebesar dosa. “Mau jualan di CFD,” jawab gue asal, bibir manyun. Ibu terkekeh. “Kamu nggak bawa macem-macem kan?” Gue menghela napas. “Ini baju olahraga, Ma.” Gue buka sepersekian detik. “Olahraga? Tumben.” Ibu menatap curiga. “Iya, biar kuat kayak Mike Tyson,” celetuk gue sambil berlalu pergi. Hari ini gue ada janji sama Sonya. Katanya ia mau menunjukkan tempat latihan boxing yang “sepi banget”. Bersama si bandit, gue menyusuri sudut Jakarta dari selatan ke arah pusat. Untung ada GPS—kalau tidak, mungkin sekarang gue sudah nyasar ke komplek pejabat… atau justru ikut arisan ibu-ibu setemp

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 18 Hari yang Ribut Bersamanya

    Event VeroHari ini adalah hari di mana event catwalk yang diselenggarakan oleh Vero dan kawan-kawannya akhirnya digelar. Acaranya outdoor dengan tema garden bizarre—sebuah kombinasi antara taman anggun dan pesta kostum para peri yang mungkin baru pulang lembur.Dekorasi dan pakaian yang ditampilkan penuh dengan elemen flora, tapi dengan sentuhan nyentrik yang membuat gue merasa seperti lagi berjalan di dunia dongeng. Hasil eksperimen fashion show dan film fantasi indie.“Lho, Dra! Lo sendiri? Abay mana?” tanya Vero begitu melihat gue datang seorang diri. “Abay nggak bisa dateng. Katanya ada keperluan mendadak.” Vero langsung pasang ekspresi aduh-kasian-lo-Dra.“Yah, lo sendirian dong. Gue juga nggak bisa lama, harus balik ke backstage,” ucapnya merasa bersalah. “Santai aja. Ini kan acara lo, masa lo tinggal-tinggal. Gue mau keliling dulu sebelum acara mulai,” jawab gue sok kalem, padahal rasa panik gue sudah mulai loading 87% karena keramaian.Dengan sedikit paksaan pada diri sendiri

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 17 Pria yang Tidak Boleh Dicintai

    “Kak, ini ada apa sih, kok mata Diana pake di tutup segala,” bingung Diana, karena kedua matanya gue tutup dengan sebuah topi kupluk hitam, hasil pinjaman dari Vero. Tak berselang lama, gue pun menuntunnya ke garasi rumah karena ada yang ingin gue persembahkan kepadanya. Diikuti juga oleh Ibu dan Vero yang telah membantu menyiapkan kejutan ini.Setelah beberapa saat, “Surpriiiise!” teriak gue, sambil melepas kupluk hitam dari kepalanya. Tampak Ibu dan Vero ikut bertepuk tangan, memeriahkan suasana.“Ya ampun, Kak! Ini apa?” tersentak Diana, lalu ternganga. Sepertinya ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini—sebuah motor matic yang sedang populer di kalangan anak muda seusianya.“Mama, ini buat Diana?!” ucapnya memastikan. Matanya berbinar. Napasnya mulai tak beraturan. “Tanya Kakakmu dong, Mama nggak tau apa-apa,” jawab Ibu, lalu melirik gue. Gue pun mengangguk diikuti senyuman kecil di bibir ini.“Makasih ya, Kak” ucap Diana kemudian, bergegas mendaratkan sebuah pe

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 16 Ketika Dunia Menolakku

    KelahiranAyah kandung gue adalah anak pertama dari seorang pengusaha ekspor-impor yang cukup ternama di daerah asalnya. Lahir dan besar di keluarga mapan membuatnya terbiasa hidup dalam tekanan untuk selalu jadi yang terbaik.Harga diri dan egonya nyaris sebesar ambisinya sendiri. Ia tidak ingin terlihat lemah, terutama di hadapan ayah dan kedua adiknya. Dalam hidupnya, kemenangan adalah segalanya—apa pun akan ia lakukan untuk mencapainya.Sementara ibu gue, adalah kebalikan dari semuanya. Ia anak tunggal yang lahir di sebuah desa di dataran tinggi, yang dikelilingi perkebunan kopi yang sudah diurus turun-temurun oleh keluarganya.Ia anak yang sederhana, perempuan yang masih percaya bahwa kehidupan manusia diatur oleh takdir dan tanda-tanda semesta. Sejak muda, ibu gue sering datang ke rumah seorang guru spiritual yang dihormati di desanya. Setiap keputusan besar selalu ia konsultasikan ke sana—termasuk keputusan untuk menerima lamaran dari ayah gue.Pertemuan mereka bukan karena cin

  • Esensi Cinta-Kisah Pria yang Takut Jatuh Cinta   Eps. 15 Akar dari Segala Ketakutan

    Psikolog. Arindra Cahaya M. Psi “Selamat siang,” sapa gue pelan, begitu gue duduk di kursi di hadapannya. Dan gue langsung tertegun—karena perempuan di hadapan gue ini jauh lebih muda dari bayangan gue tentang seorang psikolog.“Siang, halo.” Senyumnya hangat, tidak dibuat-buat. “Dengan… Mas Deandra, ya?” tanyanya memastikan. “Iya, benar, Dok.” Telapak tangan gue dingin, seperti waktu pertama ketemu dokter Silvi dulu.“Jangan panggil dok,” potongnya lembut. “Saya bukan dokter. Saya psikolog. Psikolog itu dari ranah ilmu psikologi, bukan kedokteran. Kalo psikiater baru lulusan kedokteran yang lanjut spesialis kejiwaan,” lanjutnya menjelaskan.“Oh, gitu…” Gue merasa bodoh sendiri. “Saya kirain sama, Dok—eh, maksud saya, Bu.” Ia ketawa kecil. “Panggil nama aja, Aya. Biar santai. Lagian saya lebih muda dari Mas, kok.”Gue berpikir sebentar—dan sadar kalau nama yang baru diucapkannya itu versi singkat dari Cahaya, nama belakang yang sempat gue lihat sekilas di kartu nama.“Oke… kalo gitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status