LOGINMegan masih belum mendapatkan jawaban bagaimana Adrian bisa mengetahui kalau ia ada di tempat tadi. Pertanyaan itu menggantung di kepalanya seperti kabut yang tidak mau pergi, mengganggu, mengaburkan, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.Ia memperhatikan adiknya menyiapkan makanan di dapur kecil di sudut ruangan. Adrian bergerak dengan cekatan, memotong sayuran, menghangatkan sup, menyiapkan roti. Gerakannya terlihat seperti orang yang sudah terbiasa melakukan ini, bukan seperti pasien yang baru pulih dari koma."Makanlah." Adrian meletakkan sepiring makanan di hadapan Megan, suaranya lembut tapi tegas. "Kau terlihat tidak punya tenaga."Megan menatap adiknya sejenak. Ada begitu banyak yang ingin ia tanyakan, tapi perutnya yang keroncongan dan tubuhnya yang lemas mengalahkan segalanya.Ia mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya.Sup hangat mengalir di tenggorokannya, menghidupkan kembali tubuhnya yang sekarat. Roti yang renyah terasa seperti makanan terbaik yang pernah ia ma
Dengan sorot mata tak berdaya, Megan masih melihat ke arah Daniel dan Andrew bergantian. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lainnya mencari jawaban, mencari celah, mencari sesuatu yang bisa ia pegang di tengah kekacauan ini.Tapi yang ia temukan hanyalah ketidakpedulian. Dingin. Seolah ia bukan manusia, tapi benda yang sedang dipindahkan dari satu tangan ke tangan lainnya."Apa tujuan kalian menyekapku seperti ini?" Suaranya serak, lemah, tapi masih ada sisa-sisa kemarahan di dalamnya. "Aku tidak tahu ada masalah apa antara kalian denganku."Andrew mengedikkan bahu, gerakan santai yang justru membuat Megan semakin kesal."Kau masih dibutuhkan," katanya dengan nada datar. "Namamu masih tercantum di dalamnya."Kalimat ambigu itu membuat Megan semakin tidak mengerti.Namaku masih tercantum di dalamnya?Di dalam apa?Daftar target?Daftar korban?Atau sesuatu yang sama sekali berbeda?Ia menatap Andrew, lalu Daniel, lalu kembali ke Andrew mencari penjelasan yang tidak kunjung datang
Megan merasa tubuhnya lemah.Bukan lelah biasa, tapi lelah yang menghancurkan, yang membuat setiap ototnya terasa seperti kapas basah. Tidak ada tenaga bahkan untuk berdiri. Tidak ada kekuatan bahkan untuk mengangkat kepalanya terlalu tinggi.Mereka bahkan tidak memberinya makan dan minum.Berapa lama sudah? Satu hari? Dua hari? Megan tidak tahu. Yang ia tahu, perutnya terasa kosong, tenggorokannya terasa kering seperti gurun, dan setiap kali ia mencoba bergerak, dunia terasa berputar di sekelilingnya.Dan lagi, Megan juga tidak tahu di mana ia berada sekarang.Entah masih di New York, atau justru sudah di negara lain, ia sama sekali tidak tahu. Ruangan ini tidak memiliki jendela. Tidak ada suara dari luar yang bisa menjadi petunjuk. Hanya dinding beton yang dingin, lampu neon yang berkedip-kedip, dan kursi kayu yang mengikat tubuhnya.Di mana aku?Siapa mereka?Mengapa mereka melakukan ini padaku?Dan kalimat Andrew beberapa saat lalu masih menghantam kesadaran Megan, seperti pukulan
Kepala Megan berdenyut saat ia membuka mata.Sakit.Bukan sakit biasa, tapi sakit yang menusuk, seperti ada palu kecil yang memukul-mukul bagian dalam tengkoraknya. Penglihatannya kabur, dunia berputar perlahan sebelum akhirnya mulai terasa lebih nyata.Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kotor, retak, dengan noda-noda kelembaban yang membentuk pola-pola aneh. Lampu di atasnya menyala redup, berkedip-kedip sesekali seperti sedang sekarat.Kemudian, baunya.Bau rokok menyengat di dalam ruangan tersebut. Asap yang sudah tua, yang telah meresap ke dinding-dinding, ke karpet-karpet kotor, ke setiap serat kain di ruangan itu. Berpadu dengan aroma alkohol murah yang tidak nyaman, baunya seperti tempat yang sudah lama tidak dibersihkan, tempat di mana orang-orang datang untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka ingat di pagi hari.Megan mengerjap.Keningnya mengernyit. Ia mencoba menggerakkan kepalanya, mencoba mencari siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.Kosong.Tidak
Keesokan harinya, Megan masih menemani Daniel bekerja. Jadwal padat, pertemuan bisnis yang membosankan, dan senyum sopan yang ia kenakan seperti topeng, semuanya berjalan seperti biasa. Seolah malam-malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Seolah tubuhnya tidak masih mengingat sentuhan Daniel di setiap inci kulitnya.Dan malam harinya, mereka kembali melakukan rutinitas intim.Tanpa kata-kata.Tanpa janji.Tanpa penjelasan.Hanya tubuh yang saling mencari, hanya kehangatan yang mereka bagi diantara seprai sutra yang dingin.Hingga akhirnya, tanpa terasa, hari ketiga mereka di New York tiba.Malam itu, di atas tempat tidur yang luas untuk dua orang yang tidak saling memiliki, Daniel memacu dirinya di atas tubuh Megan.Gerakannya ritmis, penuh hasrat, namun juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata-kata. Sesuatu yang ia tunjukkan melalui setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap kali tubuhnya bersatu dengan tubuh perempuan di bawahnya.Ia menikmati setiap keha
"Mereka tidak menargetkan dirimu, tapi kenapa kita yang dikejar-kejar?"Megan melepaskan sepatunya dengan kesal, bukan karena marah pada Daniel, tapi karena frustasi. Hari pertamanya di New York, dan sudah harus berlarian di gang-gang gelap seperti sedang berada di film laga murahan. Kakinya pegal, dadanya masih sesak, dan keringatnya masih membasahi seluruh tubuh.Ia melempar sepatunya ke sudut ruangan, lalu menatap Daniel dengan tatapan yang menuntut jawaban.Daniel menoleh sekilas.Sejak ia tiba di New York, sebenarnya ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Musuhnya ada di mana-mana, dan mereka pasti sudah menyelidikinya. Mereka tahu jadwalnya. Mereka tahu rutenya. Mereka tahu apa yang ia coba lindungi, dan siapa yang ia coba lindungi."Tidak bisa dibiarkan. Mereka pasti sudah mulai mengetahuinya."Batinnya berkecamuk. Jika mereka sudah mulai menyelidiki Megan, maka semuanya akan lebih rumit. Jika mereka tahu siapa Megan sebenarnya, maka pertaruhan ini bukan lagi tentang bisnis.In
New YorkSetelah menempuh perjalanan beberapa jam dari Boston, melewati jalan tol yang membosankan, pemandangan pinggir jalan yang berulang-ulang, dan keheningan yang canggung di dalam mobil, mereka akhirnya tiba di New York sekitar pukul enam sore.Matahari mulai tenggelam dibalik gedung-gedung pe
Ciuman Daniel tidak berhenti begitu saja.Setelah pria itu mulai mencium Megan tanpa permisi, ia terus melangkah lebih jauh. Seolah satu ciuman tidak cukup untuk memuaskan dahaga yang selama ini ia pendam. Seolah ia sudah menunggu terlalu lama, dan sekarang tidak ada yang bisa menghentikannya.Bibi
Waktu berjalan begitu cepat hingga Megan sendiri nyaris tidak menyadarinya.Sudah hampir dua bulan sejak ia mulai bekerja untuk Daniel.Dua bulan tinggal di Boston. Dua bulan hidup di tengah dunia yang penuh rahasia, bahaya, dan orang-orang yang tidak pernah benar-benar bisa ia percaya.Namun dari
Di luar, langit tampak mendung. Kelabu pekat menggantung rendah, menekan kota Boston seperti beban yang tak terlihat. Hujan sudah turun sejak satu jam yang lalu, deras, konsisten, seolah alam sedang ikut menyembunyikan sesuatu. Butir-butir air membasahi jendela kaca, mengaburkan pemandangan kota ya







