تسجيل الدخولRuangan itu tampak hangat dan hening, kontras sempurna dengan kekacauan yang sedang terjadi di luar sana. Lampu-lampu berwarna kuning lembut memancarkan cahaya yang menenangkan, karpet tebal menyerap setiap suara langkah, dan aroma kayu cendana bercampur dengan wangi whiskey tua memenuhi udara.Hanya ada dua orang yang duduk di sofa yang sama, berdekatan, tapi tidak bersentuhan. Seperti dua bintang yang berbagi orbit yang sama tanpa pernah benar-benar bertabrakan.Hanya saja salah satunya tidak diam saja.Daniel duduk dengan tubuh condong ke depan, sibuk merakit sebuah senjata. Jari-jarinya bergerak dengan terampil, memasang slide, mengunci magasin, memeriksa mekanisme tembak dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. Setiap klik, setiap gesekan logam, setiap gerakan tangannya menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya ia melakukan ini.Di sebelahnya, Sierra memperhatikan dengan tatapan yang sulit dibaca. Matanya mengikuti gerakan tangan Daniel, lalu naik ke wajahnya yang fokus, lalu
Asap rokok membumbung ke udara, berputar-putar dalam gulungan tipis sebelum akhirnya menghilang di bawah lampu ruangan yang remang. Cahaya redup itu menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding, membuat ruangan terasa lebih sempit dari yang sebenarnya, seperti ruang yang semakin menyusut di sekitar mereka yang ada di dalamnya.Niel Bosch berdiri di depan jendela besar, membelakangi anak buahnya. Di luar, langit Barcelona mulai gelap, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, berkilauan seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Tapi pria tua itu tidak melihat keindahan malam. Matanya tertuju pada pantulannya sendiri di kaca, wajah tua dengan bekas luka tipis di dagu, mata yang dingin seperti es di musim dingin, dan rahang yang mengeras karena amarah yang tertahan.Jari manis kirinya, atau lebih tepatnya, bekas jari manisnya masih terbungkus bahan hitam. Kenangan tentang kehilangan itu masih segar. Tapi bukan kehilangan jari yang membuatnya marah malam ini.Bukan.Dengan gerak
Megan masih belum mendapatkan jawaban bagaimana Adrian bisa mengetahui kalau ia ada di tempat tadi. Pertanyaan itu menggantung di kepalanya seperti kabut yang tidak mau pergi, mengganggu, mengaburkan, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.Ia memperhatikan adiknya menyiapkan makanan di dapur kecil di sudut ruangan. Adrian bergerak dengan cekatan, memotong sayuran, menghangatkan sup, menyiapkan roti. Gerakannya terlihat seperti orang yang sudah terbiasa melakukan ini, bukan seperti pasien yang baru pulih dari koma."Makanlah." Adrian meletakkan sepiring makanan di hadapan Megan, suaranya lembut tapi tegas. "Kau terlihat tidak punya tenaga."Megan menatap adiknya sejenak. Ada begitu banyak yang ingin ia tanyakan, tapi perutnya yang keroncongan dan tubuhnya yang lemas mengalahkan segalanya.Ia mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya.Sup hangat mengalir di tenggorokannya, menghidupkan kembali tubuhnya yang sekarat. Roti yang renyah terasa seperti makanan terbaik yang pernah ia ma
Dengan sorot mata tak berdaya, Megan masih melihat ke arah Daniel dan Andrew bergantian. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lainnya mencari jawaban, mencari celah, mencari sesuatu yang bisa ia pegang di tengah kekacauan ini.Tapi yang ia temukan hanyalah ketidakpedulian. Dingin. Seolah ia bukan manusia, tapi benda yang sedang dipindahkan dari satu tangan ke tangan lainnya."Apa tujuan kalian menyekapku seperti ini?" Suaranya serak, lemah, tapi masih ada sisa-sisa kemarahan di dalamnya. "Aku tidak tahu ada masalah apa antara kalian denganku."Andrew mengedikkan bahu, gerakan santai yang justru membuat Megan semakin kesal."Kau masih dibutuhkan," katanya dengan nada datar. "Namamu masih tercantum di dalamnya."Kalimat ambigu itu membuat Megan semakin tidak mengerti.Namaku masih tercantum di dalamnya?Di dalam apa?Daftar target?Daftar korban?Atau sesuatu yang sama sekali berbeda?Ia menatap Andrew, lalu Daniel, lalu kembali ke Andrew mencari penjelasan yang tidak kunjung datang
Megan merasa tubuhnya lemah.Bukan lelah biasa, tapi lelah yang menghancurkan, yang membuat setiap ototnya terasa seperti kapas basah. Tidak ada tenaga bahkan untuk berdiri. Tidak ada kekuatan bahkan untuk mengangkat kepalanya terlalu tinggi.Mereka bahkan tidak memberinya makan dan minum.Berapa lama sudah? Satu hari? Dua hari? Megan tidak tahu. Yang ia tahu, perutnya terasa kosong, tenggorokannya terasa kering seperti gurun, dan setiap kali ia mencoba bergerak, dunia terasa berputar di sekelilingnya.Dan lagi, Megan juga tidak tahu di mana ia berada sekarang.Entah masih di New York, atau justru sudah di negara lain, ia sama sekali tidak tahu. Ruangan ini tidak memiliki jendela. Tidak ada suara dari luar yang bisa menjadi petunjuk. Hanya dinding beton yang dingin, lampu neon yang berkedip-kedip, dan kursi kayu yang mengikat tubuhnya.Di mana aku?Siapa mereka?Mengapa mereka melakukan ini padaku?Dan kalimat Andrew beberapa saat lalu masih menghantam kesadaran Megan, seperti pukulan
Kepala Megan berdenyut saat ia membuka mata.Sakit.Bukan sakit biasa, tapi sakit yang menusuk, seperti ada palu kecil yang memukul-mukul bagian dalam tengkoraknya. Penglihatannya kabur, dunia berputar perlahan sebelum akhirnya mulai terasa lebih nyata.Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kotor, retak, dengan noda-noda kelembaban yang membentuk pola-pola aneh. Lampu di atasnya menyala redup, berkedip-kedip sesekali seperti sedang sekarat.Kemudian, baunya.Bau rokok menyengat di dalam ruangan tersebut. Asap yang sudah tua, yang telah meresap ke dinding-dinding, ke karpet-karpet kotor, ke setiap serat kain di ruangan itu. Berpadu dengan aroma alkohol murah yang tidak nyaman, baunya seperti tempat yang sudah lama tidak dibersihkan, tempat di mana orang-orang datang untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka ingat di pagi hari.Megan mengerjap.Keningnya mengernyit. Ia mencoba menggerakkan kepalanya, mencoba mencari siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.Kosong.Tidak
New YorkSetelah menempuh perjalanan beberapa jam dari Boston, melewati jalan tol yang membosankan, pemandangan pinggir jalan yang berulang-ulang, dan keheningan yang canggung di dalam mobil, mereka akhirnya tiba di New York sekitar pukul enam sore.Matahari mulai tenggelam dibalik gedung-gedung pe
Ciuman Daniel tidak berhenti begitu saja.Setelah pria itu mulai mencium Megan tanpa permisi, ia terus melangkah lebih jauh. Seolah satu ciuman tidak cukup untuk memuaskan dahaga yang selama ini ia pendam. Seolah ia sudah menunggu terlalu lama, dan sekarang tidak ada yang bisa menghentikannya.Bibi
Waktu berjalan begitu cepat hingga Megan sendiri nyaris tidak menyadarinya.Sudah hampir dua bulan sejak ia mulai bekerja untuk Daniel.Dua bulan tinggal di Boston. Dua bulan hidup di tengah dunia yang penuh rahasia, bahaya, dan orang-orang yang tidak pernah benar-benar bisa ia percaya.Namun dari
Di luar, langit tampak mendung. Kelabu pekat menggantung rendah, menekan kota Boston seperti beban yang tak terlihat. Hujan sudah turun sejak satu jam yang lalu, deras, konsisten, seolah alam sedang ikut menyembunyikan sesuatu. Butir-butir air membasahi jendela kaca, mengaburkan pemandangan kota ya







