Share

For Husband
For Husband
Author: Demina07

1.

            Hari senin yang cerah menyapaku diawal minggu ini. Perkenalkan namaku Arabella Swastika biasa dipanggil Tika. Aku bekerja di perusahaan penerbitan di bagian editor. Hari-hariku berjalan seperti biasa hingga dihari pimpinan timku harus diganti, karena dia yang naik jabatan. Padahal aku sudah cocok dengan kepemimpinannya yang menurutku fleksibel. Kembali ke acara perpisahan, hanya makan-makan yang lebih non-formal serta kekeluargaan disebuah restoran yang terletak disebrang restoran.

            “Kenapa Pak Hari harus pindah cabang si pak?” tanya Elli salah satu temanku.

            “Itu sudah ketentuan perusahaan, lagipula posisi Bapak besok sudah terisi dengan bos baru kalian santai saja,” kata Pak Hari santai.

            “Bukan masalah itu pak, kami memang sudah cocok dengan sistem kepemimpinan Bapak!” timpal Restu.

            “Kalian akan cocok dengan bos yang baru gaesss. Tidak perlu kawatir buat yang ciwi-ciwi juga Bapak dengar bos yang ini masih muda dan single,” Tuturnya menatap kami dengan nada menggoda diakhir kalimat.

            Aku hanya menyimak obrolan mereka. Sesekali menimpali karena memang sifatku yang agak pendiam. Sebelum acara makan-makan usai, Pak Hari sempat memberi masukan padaku. Agar tidak perlu risau dengan pergantian pimpinan. Aku mengangguk saja, kuyakin beliau juga paham bagaimana sifatku yang jarang bicara bila tidak diminta.

            Pulang dari acara tersebut, aku menunggu bus di halte seperti biasa. Waktu masih menunjukkan pukul 20.00 malam. Biasanya masih tersisa satu bus, untuk sampai kedaerah dekat komplek apartemenku. Setelah hampir setengah jam menunggu. Akhirnya bus yang aku tunggu datang juga. Dijam seperti ini, bus sudah agak sepi. Tidak seperti dijam berangkat dan pulang kantor.

            Setelah mendapat tempat duduk, kurasakan hanphoneku bergetar. Langsung aku ambil saja. Takut ada keperluan kantor atau kepentingan lainnya. Setelah aku lihat ternyata, panggilan dari Ibuku. Batinku berkata, tumben Ibu menelpon dijam segini biasanya juga jam sibuknya kantor hemmm.

            “Iya Bu,” jawabku pelan.

            “Lama sekali terima panggilan dari Ibu Bell,” Jawab ibu setengah menggerutu.

            “Iya maaf tadi Bella naik ke bus jadi baru bisa angkat panggilan ibu,” Jawabku pelan meredam kekesalan Ibu.

            “Hem baru mau pulang kantor?” tanya Ibu.

            “Iya ini diperjalanan Bu,” ucap Bella. “Ada apa Ibu telfon malam-malam biasanya juga dijam kantor telfonnya?”.

            “Ini ada hal penting yang mau disampaikan, kemarin ada keluarga tante winda datang kerumah,

            “Lalu?” ujarku menyela.

            “Ck jangan menyela dulu ibu belum selesai bicara,” balas Ibu berdecak.

            “Iya-iya,” jawabku sambil mengangguk.

            “Beliau datang bersama suami dan anak lelakinya. Kamu masih ingat anaknya tante winda kan, yang sering main sama kamu waktu kalian masih SD?” tanya Ibu terdengar antusias.

            “Yang mana ya bu,” balasku sambil mencoba mengingat. “Bentar Bu Bella turun dulu ya,” aku beranjak dari dudukku dan menempelkan kartu pas untuk pembayaran bus.

            “Namanya Rengga aditama, kamu lupa ya?” kata Ibu terdengar mendesis. Aku bisa membayangkan wajahnya mengernyit lucu. Walau aku tidak dapat melihatnya.

            “Entahlah Bu itu sudah lama sekali, memangnya ada apa dengannya?” kataku cuek sambil berjalan melewati lobi ke lift.

            “Nanti kamu pasti ingat setelah ketemu sama dia Bel” katanya yakin. Ada jeda setelah Ibu berbicara demikian kemudian beliau berucapa kembali. “Om Gilang dan Tante Winda datang kerumah bermaksud untuk melamar kamu sayang”. Aku sempat terkejut sesaat tapi kemudian kulanjutkan langkahku masuk lift. “Jadi minggu depan ibu harap kamu bisa pulang untuk acara pertunangan kamu.” Kata Ibu membuatku lebih terkejut dari sebelumnya.

            “Sebentar Bu, Bella masuk kamar dulu ya ini masih dilift,” sejenak kutahan percakapan ini, untuk berpikir mungkinkan Ibu sudah menerima lamaran itu. Sesampainya dikamar, aku segera melepas sepatu kemudian masuk ke kamarku.

            “Bella..,” panggilnya. “Bella apa kamu masih disana?” tanyanya lagi memastikan keberadaanku.

            “Iya Bu Bella dengar kok,

            “Nah itu, minggu depan kamu harus bisa menyempatkan waktu untuk pulang ya, awas kalau tidak Ibu cincang kamu,” serunya galak. Aku bergidik membayangkannya.

            “Apa Ibu sudah menerima lamaran itu?” tanyaku ingin tahu.

            “Iya. Ibu sudah menerimanya, toh Rengga anak yang baik dan sudah lama mengenal kamu Bel,” ujarnya santai membuatku kembali menata kesabaran.

            “Tapi itu sudah lama sekali Bu, bahkan Bella sudah tidak ingat,” kataku sengit sarat ketidaksukaan.

            “Setelah kalian bertemu, kamu pasti mengingatnya Bell. Sudah ya kamu harus istirahat dan jangan lupa minggu depan oke. Ibu tutup dulu telfonnya,” katanya sepihak.

            Sambungan terputus, aku hanya menghela nafas. Seraya merebahkan tubuhku di ranjang. Ini terlalu mendadak, bahkan aku tidak pernah berpikir untuk mengakhiri usia lajangku secepat ini hufft.

            Aku bangkit beranjak menuju kamar mandi, aku butuh berendam. Seharian ditempat kerja yang melelahkan. Dan lagi kabar buruk yang datang tiba-tiba. Hampir satu jam aku merendam diri, dengan aroma terapi yang menenangkan. Setidaknya aku masih dapat tidur nyeyak, setelah menghadapi dunia yang kejam.

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Fiiz Hap
pembukaan yg baik
goodnovel comment avatar
Felicia Aileen
nice opening cant wait to read the next chapter.. boleh kasih tau akun sosmed ga ya soalnya pengen aku share ke sosmed trs tag akun author :)
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status