LOGINNayara mulai sering melihat sosok yang sama hampir di manapun ia berada. Sosok itu bukan Arkana. Melainkan cowok lain yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya.
Awalnya Nayara berpikir itu hanya kebetulan. Tapi setelah tiga hari berturut-turut, Nayara mulai merasa bahwa itu bukan hanya sebuah kebetulan. Masalahnya cowok itu hampir selalu ada di setiap sudut yang Nayara pijak. Di hari keempat, saat Nayara baru keluar kelas dengan ransel yang menggantung di satu pundak, ia kembali melihat Ravin tak jauh dari sana. Ekspresi Nayara tetap datar saat Ravin sengaja menyamakan langkah. Langkah mereka sejajar dengan hening yang tercipta sejenak. Sampai Ravin membuka suara. Untuk pertama kalinya. Untuk seorang gadis. "Lu... Nayara, kan?" Nayara melirik sekilas dengan kerutan di keningnya. "Iya." Sahutnya singkat. "Gue Ravin. Ketua ekstrakurikuler fotografi kalau lu belum tau." Ravin berusaha tidak terlihat kikuk. Hening. Tak ada sahutan lagi dari Nayara karena memang ia sendiri merasa tidak ada yang perlu dikatakan lagi. "Gue sering ngambil foto lu." Ravin memberanikan diri mengatakan itu. Dan itu berhasil membuat Nayara menghentikan langkah. "T- tapi bukan yang aneh-aneh. Maksudnya gue– candid." Jelas Ravin karena panik sambil mengacungkan kameranya. "Kenapa gue?" Tanya Nayara ingin tahu. "Kenapa lu?" Ravin tampak berpikir sebelum menjawab, "Karena lu punya ekspresi unik yang jarang orang punya." Nayara terdiam sambil memberikan tatapan menilai. Bukan tatapan marah atau takut atau merasa Ravin orang aneh. Ia hanya heran karena ada orang yang berpikir bahwa dirinya memiliki ekspresi yang unik dan sering mengambil potretnya. Itu hal yang jarang ia dengar. "Terus? Kenapa lu ikutin gue sampe sini?" Nayara kembali bertanya. Ravin meneguk ludah sejenak. "Kalau lu nggak keberatan, gue pengen izin resmi aja." Ucapnya kikuk. Nayara berpikir sebentar. "Boleh aja. Asal jangan upload foto gue di sosmed lu." Tegasnya yang malah membuat Ravin sontak tergelak. Nayara menatapnya aneh. "Oke. Deal ya. Berarti gue nggak harus ambil foto lu diam-diam lagi mulai sekarang." Ravin menyampaikan kesepakatan. ~~ Sejak hari itu, Ravin tidak pernah menjelma sebagai penguntit lagi. Ia mengikuti langkah Nayara dengan lebih leluasa dan Nayara tahu itu. Ia hanya tidak peduli. Setiap Nayara ke kantin, Ravin akan berada beberapa meter di dekatnya, Nayara duduk sendirian di taman sekolah, Ravin duduk dua bangku dari sana. Nayara tak pernah mengusir, hanya tidak pernah benar-benar membuka diri. "Lu nggak capek ngikutin gue mulu?" Tanya Nayara suatu hari saat Ravin kembali menyamakan langkah dengannya. "Capek sih. Soalnya lu jalan cepet banget." Ravin nyengir lucu. "Tapi lebih capek kalau nggak ngikutin lu." Ungkapnya. Nayara mengerutkan kening bingung. "Dasar aneh." "Kok aneh, sih? Kan gue jujur." Ravin tertawa sembari menyusul langkah Nayara. Arkana beberapa kali tanpa sengaja memperhatikan interaksi mereka. Sampai suatu saat, Arkana melihat Nayara sedang duduk di bangku taman yang tidak jauh dari kantin. Yang membuat pandangan Arkana berfokus ke arah sana adalah karena di samping Nayara ada Ravin. Arkana tahu cowok itu adalah ketua ekstrakurikuler fotografi, tapi tak begitu kenal karena tak pernah bertegur sapa. Nayara dan Ravin hanya duduk berdampingan tanpa terlihat saling melempar senyuman, tak terlihat mesra, tak terlihat begitu akrab. Tapi entah kenapa, sesuatu yang aneh di dalam dada Arkana kembali muncul. "Heh, lu ngapain bengong? Kesambet ya?" Tegur salah satu teman di geng Arkana. "Lu kenapa, Kan?" Sambung yang lain. Arkana menggeleng dan beranjak dari bangkunya. "Gapapa. Gue ke sana bentar, ya." Ia berjalan lurus menuju taman. Di sisi lain, di lorong lantai dua, Keisha memperhatikan Arkana yang jelas terjangkau oleh pandangannya. Ada yang berbeda dalam dirinya hari ini. Biasanya ia akan selalu ceria melihat Arkana. Biasanya ia selalu mengejar dan menempel di sekitar cowok itu. Tapi kali ini, raut wajahnya terlihat pasrah dan tidak secerah biasanya. Salah satu teman sekelasnya menyenggol pundaknya. "Lu masih ngejar Arkana?" Keisha tersenyum kecut. "Kayaknya... nggak lagi." Ia menatap jauh ke arah taman. Ia tidak sedang memperhatikan suasana taman. Melainkan memandang ke arah Arkana dan Nayara secara bergantian. "Hahaha. Ternyata lu bisa nyerah juga ya? Apa yang membuat lu akhirnya capek?" Tanya temannya lagi. Keisha mendengus sebelum menjawab, "Soalnya gue udah sadar diri. Dia nggak pernah lihat gue seperti dia melihat cewek itu." Ungkapnya sambil menunjuk ke arah Nayara yang masih duduk tak bergeming dari tempatnya. Temannya mengikuti arah telunjuknya. "Cewek hoodie itu?" Tanyanya memastikan. Keisha mengangguk pelan. Ia benar-benar terlihat pasrah dan memilih mundur sebagai kandidat pengejar Arkana. ~~ Sore harinya saat jam pulang sekolah, Nayara berjalan melewati area parkiran seorang diri. Ia menoleh ketika Ravin tiba-tiba muncul di sampingnya. "Lu mau pulang?" Tanya Ravin sambil terus melangkah karena motornya memang terparkir tak jauh dari sana. "Iya. Takut hujan. Gue nggak bawa payung soalnya." Sahut Nayara seadanya. "Ngapain butuh payung? Kan lu pake hoodie tebal." Sahut Ravin sambil tergelak pelan. Ia tiba-tiba memperlambat langkah saat sudah dekat dengan motornya yang terparkir. "Nayara... lu beneran pacaran sama Arkana?" Tanyanya tetap hati-hati. Nayara menghentikan langkah dan menoleh. "Nggak." Jawabnya tegas dan singkat. Cukup menjelaskan bahwa rumor itu tidak benar. Ravin mengangkat alis heran. "Semua orang bilang begitu." Nayara mengangkat bahu. "Orang-orang juga pernah bilang bumi itu datar, tapi gue nggak langsung percaya." Timpalnya. Ravin tertawa kecil. Ia meraih helm dan naik ke motornya. "Lu nggak mau pulang bareng aja?" Tawarnya. "Nggak. Kosan gue jauh. Makasih ya." Tolak Nayara. Ravin melakukan motornya keluar dari pekarangan sekolah setelah berpamitan dengan Nayara. Tanpa Nayara sadari, Arkana yang berada tak jauh dari sana memperhatikan interaksi keduanya dan mendengar dengan jelas bagaimana Nayara menolak mentah-mentah rumor tersebut.Setelah lama berdiam diri dalam posisi itu, Arkana perlahan membantu Nayara bangkit. Keisha langsung sigap membantu begitu melihat mereka bergerak dan beranjak dari tanah."Ayo bantu gue naikin dia ke motor." Pinta Keisha pada Arkana karena Nayara masih mencengkram erat jaket Arkana dengan tangan yang masih gemetar. Arkana bergerak cepat. Tangannya sigap menopang Nayara dari samping, sementara Keisha membantu dari sisi lain. Dengan hati-hati, mereka membantu Nayara naik dan duduk di atas motor. Sepanjang perjalanan kembali ke villa, Nayara tetap tak melepaskan tangan. Tangannya menggenggam erat jaket Arkana dari belakang, kepala sesekali menempel di punggungnya tanpa sengaja. Arkana merasa dadanya kembali berdesir. Bukan hanya karena tubuh Nayara, tapi karena rasa tanggung jawab dan kepedulian yang dalam. Ia tak bicara banyak. Hanya mengendarai motor dengan tenang menuju villa dan membiarkan Nayara menenangkan diri lewat cengkraman erat di jaketnya. Sesampainya di villa, Keisha den
Besoknya, Nayara memilih mengurung diri seharian di kamar. Pagi lewat begitu saja. Siang terasa panjang. Ia hanya berbaring menghadap dinding, memutar-mutar pikiran yang tak kunjung menemukan jawaban. Hoodie hitam yang ia pakai semalaman itu tergantung di kursi, terlihat seolah punya tempat sendiri. Lagi-lagi, pikiran Nayara yang biasanya santai kembali dipenuhi dengan Arkana. Dan hanya Arkana. "Apa yang harus gue bilang ke Arkana? Mulai dari mana? Gimana cara gue balikin hoodie nya? Lalu, gimana cara gue menghadapi orang-orang tentang apa yang terjadi semalam?" Ia tidak ingin mencari cara untuk membuka obrolan karena setiap kemungkinan percakapan berakhir sama. Canggung. Dan Nayara benci perasaan itu. Jadi, lebih baik ia memilih menghindar daripada mendapatkan perasaan yang dibencinya. Sampai langit berubah gelap. Keisha yang sedari tadi sibuk keluar masuk kamar akhirnya angkat suara. "Gue mau keluar buat beli jajan. Lu mau ikut nggak?" Awalnya Nayara menggeleng lemah. Tapi
Dua menit terasa panjang. Nayara terlihat mati-matian melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri sampai tubuhnya terlihat gemetar sekilas. Nama itu hampir keluar. Tapi tertahan berkali-kali.Arkana yang sedari tadi ikut menatap akhirnya berdiri. Pergerakannya membuat semua mata refleks beralih ke arahnya, memecah keheningan. "Udah." Ucapnya datar. "Udah malem, nih. Kita tidur aja, yuk." Ajaknya dengan suara tegas dan jelas sedang menahan emosi yang berkecamuk. Belum ada satupun yang bergerak. Semua masih sibuk melamun dan tak tahu harus bereaksi bagaimana. Arkana menatap satu persatu orang di ruang tengah itu."Lu semua mau nyiksa dia sampai kapan? Lihat dia. Dia udah gemetaran. Mending kita stop di sini." Suaranya tak terdengar marah, namun jelas protektif.Hipnoterapis yang sempat ikut melamun akhirnya langsung menghentikan sesi. Menghitung mundur dengan pasti, dan membawa Nayara kembali ke kondisi sadar.Nayara terlepas dari hipnotis dengan napas terengah. Dadanya naik turun cepat
Malam kelima di villa itu awalnya terasa hangat seperti malam-malam sebelumnya. Ruang tamu dipenuhi orang-orang yang duduk santai di lantai dan sofa. Lampu temaram membuat suasana malam terasa jelas. Beberapa lilin aroma terapi dan suara tawa yang saling bersahutan membuat malam terasa berwarna. Cerita horor saling bersahutan. Ada yang serius, ada yang benar-benar membuat merinding, dan ada yang sengaja dilebih-lebihkan. Begitu pula dengan responnya. Ada yang sok berani, dan ada yang teriak lebih dulu sebelum cerita selesai demi meramaikan suasana. Setelah sesi cerita horor selesai, dilanjutkan dengan game lucu dengan hukuman yang absurd. Sampai akhirnya, salah satu cowok nyeletuk sambil nyengir ke teman cowok yang duduk di sebelahnya. "Eh, lu katanya bisa hipnotis orang, ya? Keren banget, bro." Pujinya penuh harap, agar cowok itu mau menunjukkan bakatnya. Cowok itu mengangkat alis sebelah. "Sedikit. Gue cuma bisa hipnoterapi ringan kok. Kenapa emang?" Sahutnya santai. "
Hari-hari Nayara dan Arkana sejak malam ulang tahun Aurel tetap sama. Tidak ada yang berubah. Tidak membaik maupun memburuk. Bagaikan dua garis sejajar selalu jalan berdampingan namun tak pernah bertemu atau saling bersentuhan. Sampai akhirnya, beberapa minggu kemudian, angkatan mereka mengadakan liburan bersama. Sistemnya adalah satu angkatan, berbeda kelas, dan mereka akan menginap di satu villa besar selama satu minggu penuh. Tentu saja Keisha membujuk Nayara secara paksa untuk ikut serta dalam liburan yang terasa wajib itu. "Mau jadi apa villa itu kalau rame karena semua orang ikut?" Protes Nayara pada Keisha yang kekeuh mengajaknya. "Nggak banyak yang ikut kok. Kan orang-orang juga banyak yang sibuk sama liburannya sendiri kali. Jadi palingan cuma dua puluh sampe tiga puluh orang doang yang ikut." Jelas Keisha. "Ayolah. Gengnya Arkana aja ikut." Sebut Keisha. Nayara menoleh. "Arkana?" Keisha terdiam sejenak sebelum menggeleng. "Kayaknya nggak deh. Makanya lu harus ikut."
Di dalam mobil Raka, suasana terasa tenang. Tidak ada yang mengganggu sama sekali. Nayara duduk tenang meski sedikit kikuk, dan Raka yang mengemudi dengan kalem. Beberapa menit hening. Hening yang canggung, sampai akhirnya, Raka membuka suara lebih dulu. "Nayara, tadi piano itu... lu belajar dari mana, sih? Gila, itu indah banget." Nadanya terdengar ringan meski ada sekilas nada penasaran dalam nadanya. Ia melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan. Nayara menatap keluar sejenak. Senyum kecil muncul di bibirnya, walau matanya tidak ikut tersenyum. Ia menghela napas pendek. "Dari mama gue. Mama gue pianis." Ungkapnya tanpa menutup-nutupi. Raka mengangkat alis takjub. "Oh ya? Nayara membalas dengan anggukan pelan. "Dari kecil... SD sampai SMP, gue sering main piano bareng mama gue.""Oh, berarti lu emang suka musik dari dulu?" Tanya Raka murni penasaran. Naya menghela napas pendek sebelum menggeleng. "Nggak." Sahutnya singkat. Jawaban itu membuat Raka reflek menaikkan alis,







