Share

Skenario Arkana

Penulis: Kim Soraya
last update Tanggal publikasi: 2026-07-25 13:39:20

Koridor terlihat ramai seperti pagi biasanya. Pagi ini pun sama. Nayara berjalan seorang diri di antara kerumunan orang-orang di koridor.

"Oi."

Suara itu membuat Nayara menghentikan langkah tapi tak langsung menatap sosok tersebut.

"Beliin gue minum." Arkana berdiri di depannya dengan ekspresi tengil dan tangan dimasukkan ke saku celana. Ekspresi santai seolah tak sedang memberi perintah seenaknya.

Beberapa orang yang tadi hanya sibuk dengan circle masing-masing langsung menoleh dan berbisik satu sama lain.

"Bener kan mereka pacaran."

"Ih lucu banget. Disuruh beli minum dong."

"Gitu aja gue salting."

Nayara menatap Arkana dingin. "Kenapa harus gue? Emang lu nggak bisa beli minum sendiri?" Ia tentu tak terima.

Arkana mendekat sedikit. "Kalau lu nurut, gue akan bilang ke semua orang kalau kita nggak pacaran dan rumor itu nggak benar." Ia berbisik pelan.

Nayara mengatupkan rahang. Ia benci posisi ini. Tapi akhirnya ia memilih tak menolak. "Minuman apa?"

Arkana nyengir kecil. "Nipis madu." Sahutnya cepat.

Nayara berbalik ke arah kantin tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia mengambil minuman yang Arkana minta.

Saat kembali, Nayara melempar botol minum itu ke dada Arkana. Arkana menangkap dengan santai, sementara Nayara melipat tangan di dada.

"Sekarang lu tepatin janji lu. Cepet." Pinta Nayara tak sabar. Arkana membuka tutup botolnya dan meminum beberapa tegukan.

"Gosip itu kayak bulu ayam, Nay." Sahutnya tiba-tiba. "Maksudnya?" Nayara mengerutkan kening.

"Kalau udah beterbangan, nggak bakal bisa dikumpulin lagi." Ucap Arkana yang membuat Nayara terdiam menahan emosi.

"Berarti lu bohong?" Lirih Nayara dengan suara dingin. Arkana mengangkat bahu sambil kembali nyengir jahil.

Nayara berbalik pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Tanpa drama, tanpa teriak, dan tanpa amukan. Ia hanya menanggung rasa kesal dan muak di dalam dadanya.

Di sisi lain koridor, Ravin yang sedari tadi memperhatikan dan memotret Nayara dari kejauhan, reflek menyusul Nayara saat gadis itu pergi.

Tapi karena terlalu terburu-buru, beberapa lembar hasil foto yang diambilnya jatuh dari map kameranya. Dan salah satu lembar foto meluncur tepat di kaki Arkana.

Arkana membungkuk untuk memungut lembar foto tersebut. Dan begitu ia melihat sosok di dalamnya, ia terdiam lama.

Itu foto Keisha. Keisha yang sedang melangkah sambil tersenyum dengan botol minuman di tangannya. Candid yang natural dan terlihat bagus.

"Lu lihat apa, Kan?" Tanya salah satu teman Arkana yang tampak penasaran.

Arkana menatap foto itu lebih lama sebelum melirik ke arah Nayara yang sudah melangkah jauh. Kepalanya mulai menyusun skenario sendiri.

~~

Sore hari saat pulang sekolah, Arkana seorang diri sengaja mendekati Nayara dengan senyum jahil.

"Nay."

Nayara menghentikan langkah dengan berat hati. "Apa lagi, sih? Lu mau apa?" Tantangnya.

Arkana menggeleng sambil nyengir kecil. "Nggak mau apa-apa. Cuma... nih." Ia memamerkan satu lembar kertas foto.

Nayara mengerutkan kening sejenak saat melihat sosok di dalam lembar foto tersebut. "Oh, itu Keisha. Terus kenapa?" Tanyanya setelah mengingat.

"Yup, benar. Lu tau siapa yang motret dia?" Arkana sok misterius.

Nayara menghela napas berat. "Bukan urusan gue." Sahutnya cepat.

"Ravin. Selama ini Ravin suka motret dia. Bukan lu." Arkana menjawab sendiri pertanyaan yang ia lontarkan.

Nayara memilih diam sambil mengerutkan kening. Tak mengerti ke mana arah omongan Arkana.

"Palingan dia tuh mikirnya lu kenal sama Keisha karena kan Keisha suka muncul di sekitaran gue yang di mana ada lu juga di sana. Ya gitulah. Keisha ngejar gue, lu juga ngejar gue, jadi Ravin salah paham dan mikir kalau lu dekat sama Keisha, makanya dia dekat-dekat lu supaya lu bisa bantu dia jadian sama Keisha." Jelas Arkana panjang lebar dan super pede.

"Intinya, Ravin itu suka sama Keisha, bukan sama lu." Arkana menambhakan sambil tertawa kecil. Niatnya jelas ingin memanas-manasi dan melihat reaksi Nayara.

Tapi Nayara justru hanya melihat foto itu sebentar dan melihat Arkana dengan datar, tenang, dan tanpa ekspresi.

"Oh." Hanya itu satu kata yang keluar dari mulutnya sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Arkana yang jelas mati kutu melihat reaksinya.

Arkana menatap punggung Nayara yang menjauh. Ekspresi datar dari gadis itu justru lebih mengusiknya. Ia sampai meremas lembar foto itu tanpa sadar.

"Kenapa gue malah nggak senang kalau dia keliatan nggak peduli? Sebenarnya gue maunya apa sih?"

Untuk pertama kalinya, ia bingung dengan isi hati dan pikirannya sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Forced to be Yours (Maid)   I won't let you be alone...

    Setelah lama berdiam diri dalam posisi itu, Arkana perlahan membantu Nayara bangkit. Keisha langsung sigap membantu begitu melihat mereka bergerak dan beranjak dari tanah."Ayo bantu gue naikin dia ke motor." Pinta Keisha pada Arkana karena Nayara masih mencengkram erat jaket Arkana dengan tangan yang masih gemetar. Arkana bergerak cepat. Tangannya sigap menopang Nayara dari samping, sementara Keisha membantu dari sisi lain. Dengan hati-hati, mereka membantu Nayara naik dan duduk di atas motor. Sepanjang perjalanan kembali ke villa, Nayara tetap tak melepaskan tangan. Tangannya menggenggam erat jaket Arkana dari belakang, kepala sesekali menempel di punggungnya tanpa sengaja. Arkana merasa dadanya kembali berdesir. Bukan hanya karena tubuh Nayara, tapi karena rasa tanggung jawab dan kepedulian yang dalam. Ia tak bicara banyak. Hanya mengendarai motor dengan tenang menuju villa dan membiarkan Nayara menenangkan diri lewat cengkraman erat di jaketnya. Sesampainya di villa, Keisha den

  • Forced to be Yours (Maid)   Nayara Runtuh

    Besoknya, Nayara memilih mengurung diri seharian di kamar. Pagi lewat begitu saja. Siang terasa panjang. Ia hanya berbaring menghadap dinding, memutar-mutar pikiran yang tak kunjung menemukan jawaban. Hoodie hitam yang ia pakai semalaman itu tergantung di kursi, terlihat seolah punya tempat sendiri. Lagi-lagi, pikiran Nayara yang biasanya santai kembali dipenuhi dengan Arkana. Dan hanya Arkana. "Apa yang harus gue bilang ke Arkana? Mulai dari mana? Gimana cara gue balikin hoodie nya? Lalu, gimana cara gue menghadapi orang-orang tentang apa yang terjadi semalam?" Ia tidak ingin mencari cara untuk membuka obrolan karena setiap kemungkinan percakapan berakhir sama. Canggung. Dan Nayara benci perasaan itu. Jadi, lebih baik ia memilih menghindar daripada mendapatkan perasaan yang dibencinya. Sampai langit berubah gelap. Keisha yang sedari tadi sibuk keluar masuk kamar akhirnya angkat suara. "Gue mau keluar buat beli jajan. Lu mau ikut nggak?" Awalnya Nayara menggeleng lemah. Tapi

  • Forced to be Yours (Maid)   Kehangatan Yang Menenangkan

    Dua menit terasa panjang. Nayara terlihat mati-matian melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri sampai tubuhnya terlihat gemetar sekilas. Nama itu hampir keluar. Tapi tertahan berkali-kali.Arkana yang sedari tadi ikut menatap akhirnya berdiri. Pergerakannya membuat semua mata refleks beralih ke arahnya, memecah keheningan. "Udah." Ucapnya datar. "Udah malem, nih. Kita tidur aja, yuk." Ajaknya dengan suara tegas dan jelas sedang menahan emosi yang berkecamuk. Belum ada satupun yang bergerak. Semua masih sibuk melamun dan tak tahu harus bereaksi bagaimana. Arkana menatap satu persatu orang di ruang tengah itu."Lu semua mau nyiksa dia sampai kapan? Lihat dia. Dia udah gemetaran. Mending kita stop di sini." Suaranya tak terdengar marah, namun jelas protektif.Hipnoterapis yang sempat ikut melamun akhirnya langsung menghentikan sesi. Menghitung mundur dengan pasti, dan membawa Nayara kembali ke kondisi sadar.Nayara terlepas dari hipnotis dengan napas terengah. Dadanya naik turun cepat

  • Forced to be Yours (Maid)   Sesi Hipnotis

    Malam kelima di villa itu awalnya terasa hangat seperti malam-malam sebelumnya. Ruang tamu dipenuhi orang-orang yang duduk santai di lantai dan sofa. Lampu temaram membuat suasana malam terasa jelas. Beberapa lilin aroma terapi dan suara tawa yang saling bersahutan membuat malam terasa berwarna. Cerita horor saling bersahutan. Ada yang serius, ada yang benar-benar membuat merinding, dan ada yang sengaja dilebih-lebihkan. Begitu pula dengan responnya. Ada yang sok berani, dan ada yang teriak lebih dulu sebelum cerita selesai demi meramaikan suasana. Setelah sesi cerita horor selesai, dilanjutkan dengan game lucu dengan hukuman yang absurd. Sampai akhirnya, salah satu cowok nyeletuk sambil nyengir ke teman cowok yang duduk di sebelahnya. "Eh, lu katanya bisa hipnotis orang, ya? Keren banget, bro." Pujinya penuh harap, agar cowok itu mau menunjukkan bakatnya. Cowok itu mengangkat alis sebelah. "Sedikit. Gue cuma bisa hipnoterapi ringan kok. Kenapa emang?" Sahutnya santai. "

  • Forced to be Yours (Maid)   Villa & Sebuah Kesamaan

    Hari-hari Nayara dan Arkana sejak malam ulang tahun Aurel tetap sama. Tidak ada yang berubah. Tidak membaik maupun memburuk. Bagaikan dua garis sejajar selalu jalan berdampingan namun tak pernah bertemu atau saling bersentuhan. Sampai akhirnya, beberapa minggu kemudian, angkatan mereka mengadakan liburan bersama. Sistemnya adalah satu angkatan, berbeda kelas, dan mereka akan menginap di satu villa besar selama satu minggu penuh. Tentu saja Keisha membujuk Nayara secara paksa untuk ikut serta dalam liburan yang terasa wajib itu. "Mau jadi apa villa itu kalau rame karena semua orang ikut?" Protes Nayara pada Keisha yang kekeuh mengajaknya. "Nggak banyak yang ikut kok. Kan orang-orang juga banyak yang sibuk sama liburannya sendiri kali. Jadi palingan cuma dua puluh sampe tiga puluh orang doang yang ikut." Jelas Keisha. "Ayolah. Gengnya Arkana aja ikut." Sebut Keisha. Nayara menoleh. "Arkana?" Keisha terdiam sejenak sebelum menggeleng. "Kayaknya nggak deh. Makanya lu harus ikut."

  • Forced to be Yours (Maid)   Deep Talk

    Di dalam mobil Raka, suasana terasa tenang. Tidak ada yang mengganggu sama sekali. Nayara duduk tenang meski sedikit kikuk, dan Raka yang mengemudi dengan kalem. Beberapa menit hening. Hening yang canggung, sampai akhirnya, Raka membuka suara lebih dulu. "Nayara, tadi piano itu... lu belajar dari mana, sih? Gila, itu indah banget." Nadanya terdengar ringan meski ada sekilas nada penasaran dalam nadanya. Ia melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan. Nayara menatap keluar sejenak. Senyum kecil muncul di bibirnya, walau matanya tidak ikut tersenyum. Ia menghela napas pendek. "Dari mama gue. Mama gue pianis." Ungkapnya tanpa menutup-nutupi. Raka mengangkat alis takjub. "Oh ya? Nayara membalas dengan anggukan pelan. "Dari kecil... SD sampai SMP, gue sering main piano bareng mama gue.""Oh, berarti lu emang suka musik dari dulu?" Tanya Raka murni penasaran. Naya menghela napas pendek sebelum menggeleng. "Nggak." Sahutnya singkat. Jawaban itu membuat Raka reflek menaikkan alis,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status