เข้าสู่ระบบKoridor terlihat ramai seperti pagi biasanya. Pagi ini pun sama. Nayara berjalan seorang diri di antara kerumunan orang-orang di koridor.
"Oi." Suara itu membuat Nayara menghentikan langkah tapi tak langsung menatap sosok tersebut. "Beliin gue minum." Arkana berdiri di depannya dengan ekspresi tengil dan tangan dimasukkan ke saku celana. Ekspresi santai seolah tak sedang memberi perintah seenaknya. Beberapa orang yang tadi hanya sibuk dengan circle masing-masing langsung menoleh dan berbisik satu sama lain. "Bener kan mereka pacaran." "Ih lucu banget. Disuruh beli minum dong." "Gitu aja gue salting." Nayara menatap Arkana dingin. "Kenapa harus gue? Emang lu nggak bisa beli minum sendiri?" Ia tentu tak terima. Arkana mendekat sedikit. "Kalau lu nurut, gue akan bilang ke semua orang kalau kita nggak pacaran dan rumor itu nggak benar." Ia berbisik pelan. Nayara mengatupkan rahang. Ia benci posisi ini. Tapi akhirnya ia memilih tak menolak. "Minuman apa?" Arkana nyengir kecil. "Nipis madu." Sahutnya cepat. Nayara berbalik ke arah kantin tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia mengambil minuman yang Arkana minta. Saat kembali, Nayara melempar botol minum itu ke dada Arkana. Arkana menangkap dengan santai, sementara Nayara melipat tangan di dada. "Sekarang lu tepatin janji lu. Cepet." Pinta Nayara tak sabar. Arkana membuka tutup botolnya dan meminum beberapa tegukan. "Gosip itu kayak bulu ayam, Nay." Sahutnya tiba-tiba. "Maksudnya?" Nayara mengerutkan kening. "Kalau udah beterbangan, nggak bakal bisa dikumpulin lagi." Ucap Arkana yang membuat Nayara terdiam menahan emosi. "Berarti lu bohong?" Lirih Nayara dengan suara dingin. Arkana mengangkat bahu sambil kembali nyengir jahil. Nayara berbalik pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Tanpa drama, tanpa teriak, dan tanpa amukan. Ia hanya menanggung rasa kesal dan muak di dalam dadanya. Di sisi lain koridor, Ravin yang sedari tadi memperhatikan dan memotret Nayara dari kejauhan, reflek menyusul Nayara saat gadis itu pergi. Tapi karena terlalu terburu-buru, beberapa lembar hasil foto yang diambilnya jatuh dari map kameranya. Dan salah satu lembar foto meluncur tepat di kaki Arkana. Arkana membungkuk untuk memungut lembar foto tersebut. Dan begitu ia melihat sosok di dalamnya, ia terdiam lama. Itu foto Keisha. Keisha yang sedang melangkah sambil tersenyum dengan botol minuman di tangannya. Candid yang natural dan terlihat bagus. "Lu lihat apa, Kan?" Tanya salah satu teman Arkana yang tampak penasaran. Arkana menatap foto itu lebih lama sebelum melirik ke arah Nayara yang sudah melangkah jauh. Kepalanya mulai menyusun skenario sendiri. ~~ Sore hari saat pulang sekolah, Arkana seorang diri sengaja mendekati Nayara dengan senyum jahil. "Nay." Nayara menghentikan langkah dengan berat hati. "Apa lagi, sih? Lu mau apa?" Tantangnya. Arkana menggeleng sambil nyengir kecil. "Nggak mau apa-apa. Cuma... nih." Ia memamerkan satu lembar kertas foto. Nayara mengerutkan kening sejenak saat melihat sosok di dalam lembar foto tersebut. "Oh, itu Keisha. Terus kenapa?" Tanyanya setelah mengingat. "Yup, benar. Lu tau siapa yang motret dia?" Arkana sok misterius. Nayara menghela napas berat. "Bukan urusan gue." Sahutnya cepat. "Ravin. Selama ini Ravin suka motret dia. Bukan lu." Arkana menjawab sendiri pertanyaan yang ia lontarkan. Nayara memilih diam sambil mengerutkan kening. Tak mengerti ke mana arah omongan Arkana. "Palingan dia tuh mikirnya lu kenal sama Keisha karena kan Keisha suka muncul di sekitaran gue yang di mana ada lu juga di sana. Ya gitulah. Keisha ngejar gue, lu juga ngejar gue, jadi Ravin salah paham dan mikir kalau lu dekat sama Keisha, makanya dia dekat-dekat lu supaya lu bisa bantu dia jadian sama Keisha." Jelas Arkana panjang lebar dan super pede. "Intinya, Ravin itu suka sama Keisha, bukan sama lu." Arkana menambhakan sambil tertawa kecil. Niatnya jelas ingin memanas-manasi dan melihat reaksi Nayara. Tapi Nayara justru hanya melihat foto itu sebentar dan melihat Arkana dengan datar, tenang, dan tanpa ekspresi. "Oh." Hanya itu satu kata yang keluar dari mulutnya sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Arkana yang jelas mati kutu melihat reaksinya. Arkana menatap punggung Nayara yang menjauh. Ekspresi datar dari gadis itu justru lebih mengusiknya. Ia sampai meremas lembar foto itu tanpa sadar. "Kenapa gue malah nggak senang kalau dia keliatan nggak peduli? Sebenarnya gue maunya apa sih?" Untuk pertama kalinya, ia bingung dengan isi hati dan pikirannya sendiri.Nayara berpikir urusan kemarin sudah selesai. Ternyata masalah seakan tak ada habis untuknya. Karena besoknya, gosip liar yang entah berasal dari mana, memenuhi sekolah dengan gaduh. "Ravin kok ngikutin Nayara mulu, ya?""Jangan-jangan, dia suka sama Nayara dan mau rebut Nayara dari Arkana?""Wah, fix. Cinta segitiga sih ini." Gosip tak masuk akal itu menyebar cepat. Saking cepatnya, Nayara mendengarnya dari orang lain lebih dulu. Bukan dari pelaku gosipnya. Dan tentu saja bahkan hanya Nayara yang mendengarnya. Gosip itu juga sudah sampai ke telinga Arkana. Siang itu, Arkana buru-buru mengejar langkah Nayara di koridor belakang sekolah. "Akhir-akhir ini seru banget, ya." Ujarnya setelah berhasil menyamai langkah Nayara. Nayara menghentikan langkah dan menoleh malas. "Maksud lu apa?" Ia mengerutkan kening gusar. Hanya Arkana satu-satunya yang berhasil membuatnya memberikan respon lebih daripada sekadar bersikap datar. "Ck, lu sadar nggak, sekarang orang-orang ngomong apa tentang
Semakin lama memendam rasa, Ravin merasa semakin tidak kuat menahan gejolak di hatinya itu sendirian. Hari ini, ia akhirnya benar-benar nekat Nayara sedang jalan seorang diri ke arah taman belakang sekolah, tempat favoritnya untuk menenggelamkan diri dari keramaian. Telinganya dengan jelas menangkap suara langkah seseorang mengikuti ritme langkahnya dari belakang. Pelan, dan hati-hati. Terlalu hati-hati untuk disebut kebetulan. "Nayara." Panggil Ravin pelan. Nayara menghentikan langkah. Ia sebenarnya sudah tahu kalau Ravin membuntutinya sedari tadi. Dan kali ini, ia membalikkan tubuh dengan wajah datar. Tak lagi pura-pura tak sadar. "Kenapa?" Ravin mendekat dua langkah. "Gue cuma mau ngobrol sebentar." Nayara menghela napas pelan. "Ngobrol apa lagi?" Ravin hendak membuka mulut. Tapi belum sempat ia berbicara, Nayara sudah keburu mengatakan sesuatu. Nada suaranya datar dan tenang seperti biasa. "Kenapa lu masih deketin gue? Lu belum confess ke Keisha? Kenapa? Ngga
Koridor terlihat ramai seperti pagi biasanya. Pagi ini pun sama. Nayara berjalan seorang diri di antara kerumunan orang-orang di koridor. "Oi." Suara itu membuat Nayara menghentikan langkah tapi tak langsung menatap sosok tersebut. "Beliin gue minum." Arkana berdiri di depannya dengan ekspresi tengil dan tangan dimasukkan ke saku celana. Ekspresi santai seolah tak sedang memberi perintah seenaknya. Beberapa orang yang tadi hanya sibuk dengan circle masing-masing langsung menoleh dan berbisik satu sama lain. "Bener kan mereka pacaran.""Ih lucu banget. Disuruh beli minum dong." "Gitu aja gue salting." Nayara menatap Arkana dingin. "Kenapa harus gue? Emang lu nggak bisa beli minum sendiri?" Ia tentu tak terima. Arkana mendekat sedikit. "Kalau lu nurut, gue akan bilang ke semua orang kalau kita nggak pacaran dan rumor itu nggak benar." Ia berbisik pelan. Nayara mengatupkan rahang. Ia benci posisi ini. Tapi akhirnya ia memilih tak menolak. "Minuman apa?"Arkana nyengir kecil. "N
Nayara mulai sering melihat sosok yang sama hampir di manapun ia berada. Sosok itu bukan Arkana. Melainkan cowok lain yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Awalnya Nayara berpikir itu hanya kebetulan. Tapi setelah tiga hari berturut-turut, Nayara mulai merasa bahwa itu bukan hanya sebuah kebetulan. Masalahnya cowok itu hampir selalu ada di setiap sudut yang Nayara pijak. Di hari keempat, saat Nayara baru keluar kelas dengan ransel yang menggantung di satu pundak, ia kembali melihat Ravin tak jauh dari sana. Ekspresi Nayara tetap datar saat Ravin sengaja menyamakan langkah. Langkah mereka sejajar dengan hening yang tercipta sejenak. Sampai Ravin membuka suara. Untuk pertama kalinya. Untuk seorang gadis. "Lu... Nayara, kan?" Nayara melirik sekilas dengan kerutan di keningnya. "Iya." Sahutnya singkat. "Gue Ravin. Ketua ekstrakurikuler fotografi kalau lu belum tau." Ravin berusaha tidak terlihat kikuk. Hening. Tak ada sahutan lagi dari Nayara karena memang ia sendiri merasa t
Hari-hari terasa sama saja bagi Nayara. Tidak ada yang berubah meski gosip tentang hubungannya dan Arkana semakin liar dan meski Arkana terlihat semakin menyebalkan hampir setiap harinya. Dan kalau kalian masih ingat Keisha, si cewek imut menggemaskan yang menjelma sebagai cegil-nya Arkana, juga belum berubah. Ia masih gencar mendekati Arkana dan mencari perhatian dari cowok menyebalkan itu. "Arkana, kamu nggak mau pulang bareng aku?""Arkana, kamu mau latihan basket nggak?""Arkana, bukain botol minum aku, dong." "Arkana, kantin yuk."Dan masih banyak lagi. Arkana jarang menolak secara kasar, namun juga tak pernah benar-benar merespon. Sementara Nayara? Ia tidak pernah peduli tentang Arkana maupun Keisha. Ia bahkan tak pernah melirik kedua insan itu sama sekali. Keisha yang merasa Nayara hampir tak pernah meliriknya, berpikir bahwa Nayara bukan saingannya. Ia tidak jahat. Ia tidak pernah melabrak atau melakukan hal-hal yang membuat Nayara tidak nyaman. Hanya saja Nayara tidak be
Keesokan harinya saat jam istirahat tiba.Nayara jalan seorang diri lengkap dengan hoodie kebesaran yang setia menutup setengah wajahnya. "Berhenti!" Satu suara yang sangat ia kenal. Nayara mendongak dan menatap Arkana dingin. "Mau ngapain lagi? Gue udah bukan maid lu." Tantangnya. Arkana menyisipkan tangan ke saku celana. "Gue nggak pernah mecat lu." Balasnya santai. Nayara tersenyum sinis. "Gue yang mengundurkan diri." "Dan gue nggak setuju." Sahut Arkan cepat. Tatapannya lurus ke depan. Sekeliling mereka mulai melambat. Telinga-telinga yang terbiasa menguping sengaja memperlambat langkah untuk menyaksikan momen seru yang tak bisa ditinggal. "Eh, itu Arkana ya?" "Cewek itu siapa? Kok Arkana ngobrol sama dia?" "Itu cewek yang belakangan ini suka bawain tasnya nggak sih?"Di antara kerumunan itu, muncul seorang gadis cantik nan imut yang biasa dipanggil Keisha. Gadis yang sejak beberapa hari lalu paling giat mengejar Arkana.Keisha menghentikan langkah dan menatap Nayara dari







