공유

Tsundere Full Set

작가: Kim Soraya
last update 게시일: 2026-07-25 10:04:56

Keesokan harinya saat jam istirahat tiba.

Nayara jalan seorang diri lengkap dengan hoodie kebesaran yang setia menutup setengah wajahnya.

"Berhenti!"

Satu suara yang sangat ia kenal. Nayara mendongak dan menatap Arkana dingin. "Mau ngapain lagi? Gue udah bukan maid lu." Tantangnya.

Arkana menyisipkan tangan ke saku celana. "Gue nggak pernah mecat lu." Balasnya santai.

Nayara tersenyum sinis. "Gue yang mengundurkan diri."

"Dan gue nggak setuju." Sahut Arkan cepat. Tatapannya lurus ke depan.

Sekeliling mereka mulai melambat. Telinga-telinga yang terbiasa menguping sengaja memperlambat langkah untuk menyaksikan momen seru yang tak bisa ditinggal.

"Eh, itu Arkana ya?"

"Cewek itu siapa? Kok Arkana ngobrol sama dia?"

"Itu cewek yang belakangan ini suka bawain tasnya nggak sih?"

Di antara kerumunan itu, muncul seorang gadis cantik nan imut yang biasa dipanggil Keisha. Gadis yang sejak beberapa hari lalu paling giat mengejar Arkana.

Keisha menghentikan langkah dan menatap Nayara dari atas sampai bawah seperti sedang menilai. "Dia siapa? Dia pacar kamu?"

Waktu terasa berhenti ketika pertanyaan itu dilontarkan. Semua mata sontak tertuju pada Arkana dan Nayara secara bergantian. Nayara yang biasanya tenang kini mulai merasa jantungnya berdetak satu kali lebih keras.

Arkana kembali menatap lurus pada Nayara. Tanpa ragu ia menjawab, "Iya. Dia pacar gue." Entah apa yang merasukinya. Setelah ia mengatakan itu, suasana mendadak hening.

Nayara kembali mendongak dan balas menatap Arkana. "Apa?" Matanya membulat seketika.

Arkana menghembuskan napas sejenak sebelum meraih pergelangan tangan Nayara. "Yuk, jalan." Ia langsung menarik Nayara menjauh dari kerumunan sebelum gadis itu sempat menolak.

Begitu keduanya sampai di area sepi, Nayara langsung melepaskan tangannya dengan keras. "Lepasin!" Ia menghentikan langkah dan menatap Arkana dengan mata menyala bak api.

"Kok lu selalu buat keputusan seenaknya yang melibatkan gue sih? Lu siapa? Gue kan bilang kalau gue nggak mau berurusan dengan lu lagi!" Amarahnya hampir memuncak.

Arkana menatap balik dengan ekspresi datar. "Tenang aja. Gue ngomong gitu supaya mereka nggak banyak nanya. So, jangan geer." Elaknya.

Nayara tersenyum pahit. "Menurut lu itu solusi paling pinter? Otak lu di mana sih?"

Arkana maju satu langkah. "Emang lu mau gue jawab kalau lu itu maid gue? Masih mending gue bilang lu pacar gue, kan?" Nada suaranya menusuk. Membuat Nayara terdiam.

"Lagipula, lu nggak gue anggap pacar beneran kali. Ogah juga gue punya cewek modelan kayak lu." Arkana melanjutkan dengan nada dingin penuh hina.

Nayara menghembuskan napas kasar dan menatap Arkana tak kalah dingin. "Sorry nih. Gue lebih baik lu bilang gue maid lu daripada lu akui sebagai pacar."

Suasana kembali sunyi karena Arkana mati kutu. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi.

Nayara melangkah pergi meninggalkan Arkana yang lagi-lagi hanya bisa mematung di tempatnya.

Kali ini, Arkana tak menarik tangannya atau menahannya pergi.

~~

Masalah tidak selesai sampai di situ. Karena sejak hari itu, semua orang percaya satu hal. Arkana dan Nayara jadian, alias Nayara adalah pacarnya Arkana. Padahal kenyataan yang dilihat berbeda jauh dari rumor yang tersebar.

Arkana tetap sibuk dengan gengnya, Nayara tetap selalu jalan sendiri, mereka tidak pernah jalan berdua apalagi terlihat mesra.

Tapi justru karena semua hal itulah, orang-orang makin yakin bahwa mereka berpacaran dengan cara mereka sendiri.

Suatu siang, Nayara lagi-lagi sedang jalan seorang diri lengkap dengan hoodie menutup setengah wajah dan earphone menempel di telinga.

Dari arah berlawanan, Arkana dan gengnya berpapasan dengannya. Nayara memilih tidak menoleh dan Arkana pun tidak menyapa sama sekali.

Tapi saat langkah mereka sejajar, "Lu ngapain masih buntutin gue kalau udah resign jadi maid gue?" Arkana nyeletuk tanpa menoleh.

"Siapa juga yang ngikutin lu. Pede amat." Balas Nayara sambil tetap melanjutkan langkah tanpa menoleh.

Arkana reflek menghentikan langkah. Nayara ikut menghentikan langkah sambil membelakangi tanpa menoleh.

"Awas ya kalau besok-besok gue liat lu muncul di sekitaran gue lagi." Ancam Arkana.

"Mimpi!" Nayara menoleh setengah sambil membalas dengan suara dingin. Mereka saling tatap sebentar dengan atmosfer dingin, tegang, dan aneh.

Setelah beberapa detik, mereka melanjutkan langkah ke arah masing-masing. Dan dari kejauhan, orang-orang yang menyaksikan itu sontak tak bisa menahan kehebohannya.

"Anjir, lucu banget mereka."

"Pacaran apaan tuh?"

"Tsundere abis dua-duanya."

"Gue nggak jealous. Plis gue nggak jealous."

"Tampar gue sekarang. Kayaknya gue mimpi deh."

Gosip tentang hubungan keduanya semakin liar meski nyatanya mereka selalu berusaha menghindari satu sama lain setiap kali bertemu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Forced to be Yours (Maid)   I won't let you be alone...

    Setelah lama berdiam diri dalam posisi itu, Arkana perlahan membantu Nayara bangkit. Keisha langsung sigap membantu begitu melihat mereka bergerak dan beranjak dari tanah."Ayo bantu gue naikin dia ke motor." Pinta Keisha pada Arkana karena Nayara masih mencengkram erat jaket Arkana dengan tangan yang masih gemetar. Arkana bergerak cepat. Tangannya sigap menopang Nayara dari samping, sementara Keisha membantu dari sisi lain. Dengan hati-hati, mereka membantu Nayara naik dan duduk di atas motor. Sepanjang perjalanan kembali ke villa, Nayara tetap tak melepaskan tangan. Tangannya menggenggam erat jaket Arkana dari belakang, kepala sesekali menempel di punggungnya tanpa sengaja. Arkana merasa dadanya kembali berdesir. Bukan hanya karena tubuh Nayara, tapi karena rasa tanggung jawab dan kepedulian yang dalam. Ia tak bicara banyak. Hanya mengendarai motor dengan tenang menuju villa dan membiarkan Nayara menenangkan diri lewat cengkraman erat di jaketnya. Sesampainya di villa, Keisha den

  • Forced to be Yours (Maid)   Nayara Runtuh

    Besoknya, Nayara memilih mengurung diri seharian di kamar. Pagi lewat begitu saja. Siang terasa panjang. Ia hanya berbaring menghadap dinding, memutar-mutar pikiran yang tak kunjung menemukan jawaban. Hoodie hitam yang ia pakai semalaman itu tergantung di kursi, terlihat seolah punya tempat sendiri. Lagi-lagi, pikiran Nayara yang biasanya santai kembali dipenuhi dengan Arkana. Dan hanya Arkana. "Apa yang harus gue bilang ke Arkana? Mulai dari mana? Gimana cara gue balikin hoodie nya? Lalu, gimana cara gue menghadapi orang-orang tentang apa yang terjadi semalam?" Ia tidak ingin mencari cara untuk membuka obrolan karena setiap kemungkinan percakapan berakhir sama. Canggung. Dan Nayara benci perasaan itu. Jadi, lebih baik ia memilih menghindar daripada mendapatkan perasaan yang dibencinya. Sampai langit berubah gelap. Keisha yang sedari tadi sibuk keluar masuk kamar akhirnya angkat suara. "Gue mau keluar buat beli jajan. Lu mau ikut nggak?" Awalnya Nayara menggeleng lemah. Tapi

  • Forced to be Yours (Maid)   Kehangatan Yang Menenangkan

    Dua menit terasa panjang. Nayara terlihat mati-matian melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri sampai tubuhnya terlihat gemetar sekilas. Nama itu hampir keluar. Tapi tertahan berkali-kali.Arkana yang sedari tadi ikut menatap akhirnya berdiri. Pergerakannya membuat semua mata refleks beralih ke arahnya, memecah keheningan. "Udah." Ucapnya datar. "Udah malem, nih. Kita tidur aja, yuk." Ajaknya dengan suara tegas dan jelas sedang menahan emosi yang berkecamuk. Belum ada satupun yang bergerak. Semua masih sibuk melamun dan tak tahu harus bereaksi bagaimana. Arkana menatap satu persatu orang di ruang tengah itu."Lu semua mau nyiksa dia sampai kapan? Lihat dia. Dia udah gemetaran. Mending kita stop di sini." Suaranya tak terdengar marah, namun jelas protektif.Hipnoterapis yang sempat ikut melamun akhirnya langsung menghentikan sesi. Menghitung mundur dengan pasti, dan membawa Nayara kembali ke kondisi sadar.Nayara terlepas dari hipnotis dengan napas terengah. Dadanya naik turun cepat

  • Forced to be Yours (Maid)   Sesi Hipnotis

    Malam kelima di villa itu awalnya terasa hangat seperti malam-malam sebelumnya. Ruang tamu dipenuhi orang-orang yang duduk santai di lantai dan sofa. Lampu temaram membuat suasana malam terasa jelas. Beberapa lilin aroma terapi dan suara tawa yang saling bersahutan membuat malam terasa berwarna. Cerita horor saling bersahutan. Ada yang serius, ada yang benar-benar membuat merinding, dan ada yang sengaja dilebih-lebihkan. Begitu pula dengan responnya. Ada yang sok berani, dan ada yang teriak lebih dulu sebelum cerita selesai demi meramaikan suasana. Setelah sesi cerita horor selesai, dilanjutkan dengan game lucu dengan hukuman yang absurd. Sampai akhirnya, salah satu cowok nyeletuk sambil nyengir ke teman cowok yang duduk di sebelahnya. "Eh, lu katanya bisa hipnotis orang, ya? Keren banget, bro." Pujinya penuh harap, agar cowok itu mau menunjukkan bakatnya. Cowok itu mengangkat alis sebelah. "Sedikit. Gue cuma bisa hipnoterapi ringan kok. Kenapa emang?" Sahutnya santai. "

  • Forced to be Yours (Maid)   Villa & Sebuah Kesamaan

    Hari-hari Nayara dan Arkana sejak malam ulang tahun Aurel tetap sama. Tidak ada yang berubah. Tidak membaik maupun memburuk. Bagaikan dua garis sejajar selalu jalan berdampingan namun tak pernah bertemu atau saling bersentuhan. Sampai akhirnya, beberapa minggu kemudian, angkatan mereka mengadakan liburan bersama. Sistemnya adalah satu angkatan, berbeda kelas, dan mereka akan menginap di satu villa besar selama satu minggu penuh. Tentu saja Keisha membujuk Nayara secara paksa untuk ikut serta dalam liburan yang terasa wajib itu. "Mau jadi apa villa itu kalau rame karena semua orang ikut?" Protes Nayara pada Keisha yang kekeuh mengajaknya. "Nggak banyak yang ikut kok. Kan orang-orang juga banyak yang sibuk sama liburannya sendiri kali. Jadi palingan cuma dua puluh sampe tiga puluh orang doang yang ikut." Jelas Keisha. "Ayolah. Gengnya Arkana aja ikut." Sebut Keisha. Nayara menoleh. "Arkana?" Keisha terdiam sejenak sebelum menggeleng. "Kayaknya nggak deh. Makanya lu harus ikut."

  • Forced to be Yours (Maid)   Deep Talk

    Di dalam mobil Raka, suasana terasa tenang. Tidak ada yang mengganggu sama sekali. Nayara duduk tenang meski sedikit kikuk, dan Raka yang mengemudi dengan kalem. Beberapa menit hening. Hening yang canggung, sampai akhirnya, Raka membuka suara lebih dulu. "Nayara, tadi piano itu... lu belajar dari mana, sih? Gila, itu indah banget." Nadanya terdengar ringan meski ada sekilas nada penasaran dalam nadanya. Ia melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan. Nayara menatap keluar sejenak. Senyum kecil muncul di bibirnya, walau matanya tidak ikut tersenyum. Ia menghela napas pendek. "Dari mama gue. Mama gue pianis." Ungkapnya tanpa menutup-nutupi. Raka mengangkat alis takjub. "Oh ya? Nayara membalas dengan anggukan pelan. "Dari kecil... SD sampai SMP, gue sering main piano bareng mama gue.""Oh, berarti lu emang suka musik dari dulu?" Tanya Raka murni penasaran. Naya menghela napas pendek sebelum menggeleng. "Nggak." Sahutnya singkat. Jawaban itu membuat Raka reflek menaikkan alis,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status