เข้าสู่ระบบKeesokan harinya saat jam istirahat tiba.
Nayara jalan seorang diri lengkap dengan hoodie kebesaran yang setia menutup setengah wajahnya. "Berhenti!" Satu suara yang sangat ia kenal. Nayara mendongak dan menatap Arkana dingin. "Mau ngapain lagi? Gue udah bukan maid lu." Tantangnya. Arkana menyisipkan tangan ke saku celana. "Gue nggak pernah mecat lu." Balasnya santai. Nayara tersenyum sinis. "Gue yang mengundurkan diri." "Dan gue nggak setuju." Sahut Arkan cepat. Tatapannya lurus ke depan. Sekeliling mereka mulai melambat. Telinga-telinga yang terbiasa menguping sengaja memperlambat langkah untuk menyaksikan momen seru yang tak bisa ditinggal. "Eh, itu Arkana ya?" "Cewek itu siapa? Kok Arkana ngobrol sama dia?" "Itu cewek yang belakangan ini suka bawain tasnya nggak sih?" Di antara kerumunan itu, muncul seorang gadis cantik nan imut yang biasa dipanggil Keisha. Gadis yang sejak beberapa hari lalu paling giat mengejar Arkana. Keisha menghentikan langkah dan menatap Nayara dari atas sampai bawah seperti sedang menilai. "Dia siapa? Dia pacar kamu?" Waktu terasa berhenti ketika pertanyaan itu dilontarkan. Semua mata sontak tertuju pada Arkana dan Nayara secara bergantian. Nayara yang biasanya tenang kini mulai merasa jantungnya berdetak satu kali lebih keras. Arkana kembali menatap lurus pada Nayara. Tanpa ragu ia menjawab, "Iya. Dia pacar gue." Entah apa yang merasukinya. Setelah ia mengatakan itu, suasana mendadak hening. Nayara kembali mendongak dan balas menatap Arkana. "Apa?" Matanya membulat seketika. Arkana menghembuskan napas sejenak sebelum meraih pergelangan tangan Nayara. "Yuk, jalan." Ia langsung menarik Nayara menjauh dari kerumunan sebelum gadis itu sempat menolak. Begitu keduanya sampai di area sepi, Nayara langsung melepaskan tangannya dengan keras. "Lepasin!" Ia menghentikan langkah dan menatap Arkana dengan mata menyala bak api. "Kok lu selalu buat keputusan seenaknya yang melibatkan gue sih? Lu siapa? Gue kan bilang kalau gue nggak mau berurusan dengan lu lagi!" Amarahnya hampir memuncak. Arkana menatap balik dengan ekspresi datar. "Tenang aja. Gue ngomong gitu supaya mereka nggak banyak nanya. So, jangan geer." Elaknya. Nayara tersenyum pahit. "Menurut lu itu solusi paling pinter? Otak lu di mana sih?" Arkana maju satu langkah. "Emang lu mau gue jawab kalau lu itu maid gue? Masih mending gue bilang lu pacar gue, kan?" Nada suaranya menusuk. Membuat Nayara terdiam. "Lagipula, lu nggak gue anggap pacar beneran kali. Ogah juga gue punya cewek modelan kayak lu." Arkana melanjutkan dengan nada dingin penuh hina. Nayara menghembuskan napas kasar dan menatap Arkana tak kalah dingin. "Sorry nih. Gue lebih baik lu bilang gue maid lu daripada lu akui sebagai pacar." Suasana kembali sunyi karena Arkana mati kutu. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Nayara melangkah pergi meninggalkan Arkana yang lagi-lagi hanya bisa mematung di tempatnya. Kali ini, Arkana tak menarik tangannya atau menahannya pergi. ~~ Masalah tidak selesai sampai di situ. Karena sejak hari itu, semua orang percaya satu hal. Arkana dan Nayara jadian, alias Nayara adalah pacarnya Arkana. Padahal kenyataan yang dilihat berbeda jauh dari rumor yang tersebar. Arkana tetap sibuk dengan gengnya, Nayara tetap selalu jalan sendiri, mereka tidak pernah jalan berdua apalagi terlihat mesra. Tapi justru karena semua hal itulah, orang-orang makin yakin bahwa mereka berpacaran dengan cara mereka sendiri. Suatu siang, Nayara lagi-lagi sedang jalan seorang diri lengkap dengan hoodie menutup setengah wajah dan earphone menempel di telinga. Dari arah berlawanan, Arkana dan gengnya berpapasan dengannya. Nayara memilih tidak menoleh dan Arkana pun tidak menyapa sama sekali. Tapi saat langkah mereka sejajar, "Lu ngapain masih buntutin gue kalau udah resign jadi maid gue?" Arkana nyeletuk tanpa menoleh. "Siapa juga yang ngikutin lu. Pede amat." Balas Nayara sambil tetap melanjutkan langkah tanpa menoleh. Arkana reflek menghentikan langkah. Nayara ikut menghentikan langkah sambil membelakangi tanpa menoleh. "Awas ya kalau besok-besok gue liat lu muncul di sekitaran gue lagi." Ancam Arkana. "Mimpi!" Nayara menoleh setengah sambil membalas dengan suara dingin. Mereka saling tatap sebentar dengan atmosfer dingin, tegang, dan aneh. Setelah beberapa detik, mereka melanjutkan langkah ke arah masing-masing. Dan dari kejauhan, orang-orang yang menyaksikan itu sontak tak bisa menahan kehebohannya. "Anjir, lucu banget mereka." "Pacaran apaan tuh?" "Tsundere abis dua-duanya." "Gue nggak jealous. Plis gue nggak jealous." "Tampar gue sekarang. Kayaknya gue mimpi deh." Gosip tentang hubungan keduanya semakin liar meski nyatanya mereka selalu berusaha menghindari satu sama lain setiap kali bertemu.Nayara berpikir urusan kemarin sudah selesai. Ternyata masalah seakan tak ada habis untuknya. Karena besoknya, gosip liar yang entah berasal dari mana, memenuhi sekolah dengan gaduh. "Ravin kok ngikutin Nayara mulu, ya?""Jangan-jangan, dia suka sama Nayara dan mau rebut Nayara dari Arkana?""Wah, fix. Cinta segitiga sih ini." Gosip tak masuk akal itu menyebar cepat. Saking cepatnya, Nayara mendengarnya dari orang lain lebih dulu. Bukan dari pelaku gosipnya. Dan tentu saja bahkan hanya Nayara yang mendengarnya. Gosip itu juga sudah sampai ke telinga Arkana. Siang itu, Arkana buru-buru mengejar langkah Nayara di koridor belakang sekolah. "Akhir-akhir ini seru banget, ya." Ujarnya setelah berhasil menyamai langkah Nayara. Nayara menghentikan langkah dan menoleh malas. "Maksud lu apa?" Ia mengerutkan kening gusar. Hanya Arkana satu-satunya yang berhasil membuatnya memberikan respon lebih daripada sekadar bersikap datar. "Ck, lu sadar nggak, sekarang orang-orang ngomong apa tentang
Semakin lama memendam rasa, Ravin merasa semakin tidak kuat menahan gejolak di hatinya itu sendirian. Hari ini, ia akhirnya benar-benar nekat Nayara sedang jalan seorang diri ke arah taman belakang sekolah, tempat favoritnya untuk menenggelamkan diri dari keramaian. Telinganya dengan jelas menangkap suara langkah seseorang mengikuti ritme langkahnya dari belakang. Pelan, dan hati-hati. Terlalu hati-hati untuk disebut kebetulan. "Nayara." Panggil Ravin pelan. Nayara menghentikan langkah. Ia sebenarnya sudah tahu kalau Ravin membuntutinya sedari tadi. Dan kali ini, ia membalikkan tubuh dengan wajah datar. Tak lagi pura-pura tak sadar. "Kenapa?" Ravin mendekat dua langkah. "Gue cuma mau ngobrol sebentar." Nayara menghela napas pelan. "Ngobrol apa lagi?" Ravin hendak membuka mulut. Tapi belum sempat ia berbicara, Nayara sudah keburu mengatakan sesuatu. Nada suaranya datar dan tenang seperti biasa. "Kenapa lu masih deketin gue? Lu belum confess ke Keisha? Kenapa? Ngga
Koridor terlihat ramai seperti pagi biasanya. Pagi ini pun sama. Nayara berjalan seorang diri di antara kerumunan orang-orang di koridor. "Oi." Suara itu membuat Nayara menghentikan langkah tapi tak langsung menatap sosok tersebut. "Beliin gue minum." Arkana berdiri di depannya dengan ekspresi tengil dan tangan dimasukkan ke saku celana. Ekspresi santai seolah tak sedang memberi perintah seenaknya. Beberapa orang yang tadi hanya sibuk dengan circle masing-masing langsung menoleh dan berbisik satu sama lain. "Bener kan mereka pacaran.""Ih lucu banget. Disuruh beli minum dong." "Gitu aja gue salting." Nayara menatap Arkana dingin. "Kenapa harus gue? Emang lu nggak bisa beli minum sendiri?" Ia tentu tak terima. Arkana mendekat sedikit. "Kalau lu nurut, gue akan bilang ke semua orang kalau kita nggak pacaran dan rumor itu nggak benar." Ia berbisik pelan. Nayara mengatupkan rahang. Ia benci posisi ini. Tapi akhirnya ia memilih tak menolak. "Minuman apa?"Arkana nyengir kecil. "N
Nayara mulai sering melihat sosok yang sama hampir di manapun ia berada. Sosok itu bukan Arkana. Melainkan cowok lain yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Awalnya Nayara berpikir itu hanya kebetulan. Tapi setelah tiga hari berturut-turut, Nayara mulai merasa bahwa itu bukan hanya sebuah kebetulan. Masalahnya cowok itu hampir selalu ada di setiap sudut yang Nayara pijak. Di hari keempat, saat Nayara baru keluar kelas dengan ransel yang menggantung di satu pundak, ia kembali melihat Ravin tak jauh dari sana. Ekspresi Nayara tetap datar saat Ravin sengaja menyamakan langkah. Langkah mereka sejajar dengan hening yang tercipta sejenak. Sampai Ravin membuka suara. Untuk pertama kalinya. Untuk seorang gadis. "Lu... Nayara, kan?" Nayara melirik sekilas dengan kerutan di keningnya. "Iya." Sahutnya singkat. "Gue Ravin. Ketua ekstrakurikuler fotografi kalau lu belum tau." Ravin berusaha tidak terlihat kikuk. Hening. Tak ada sahutan lagi dari Nayara karena memang ia sendiri merasa t
Hari-hari terasa sama saja bagi Nayara. Tidak ada yang berubah meski gosip tentang hubungannya dan Arkana semakin liar dan meski Arkana terlihat semakin menyebalkan hampir setiap harinya. Dan kalau kalian masih ingat Keisha, si cewek imut menggemaskan yang menjelma sebagai cegil-nya Arkana, juga belum berubah. Ia masih gencar mendekati Arkana dan mencari perhatian dari cowok menyebalkan itu. "Arkana, kamu nggak mau pulang bareng aku?""Arkana, kamu mau latihan basket nggak?""Arkana, bukain botol minum aku, dong." "Arkana, kantin yuk."Dan masih banyak lagi. Arkana jarang menolak secara kasar, namun juga tak pernah benar-benar merespon. Sementara Nayara? Ia tidak pernah peduli tentang Arkana maupun Keisha. Ia bahkan tak pernah melirik kedua insan itu sama sekali. Keisha yang merasa Nayara hampir tak pernah meliriknya, berpikir bahwa Nayara bukan saingannya. Ia tidak jahat. Ia tidak pernah melabrak atau melakukan hal-hal yang membuat Nayara tidak nyaman. Hanya saja Nayara tidak be
Keesokan harinya saat jam istirahat tiba.Nayara jalan seorang diri lengkap dengan hoodie kebesaran yang setia menutup setengah wajahnya. "Berhenti!" Satu suara yang sangat ia kenal. Nayara mendongak dan menatap Arkana dingin. "Mau ngapain lagi? Gue udah bukan maid lu." Tantangnya. Arkana menyisipkan tangan ke saku celana. "Gue nggak pernah mecat lu." Balasnya santai. Nayara tersenyum sinis. "Gue yang mengundurkan diri." "Dan gue nggak setuju." Sahut Arkan cepat. Tatapannya lurus ke depan. Sekeliling mereka mulai melambat. Telinga-telinga yang terbiasa menguping sengaja memperlambat langkah untuk menyaksikan momen seru yang tak bisa ditinggal. "Eh, itu Arkana ya?" "Cewek itu siapa? Kok Arkana ngobrol sama dia?" "Itu cewek yang belakangan ini suka bawain tasnya nggak sih?"Di antara kerumunan itu, muncul seorang gadis cantik nan imut yang biasa dipanggil Keisha. Gadis yang sejak beberapa hari lalu paling giat mengejar Arkana.Keisha menghentikan langkah dan menatap Nayara dari







