Accueil / Romansa / Forced to be Yours (Maid) / Forced to be Your Maid

Partager

Forced to be Your Maid

Auteur: Kim Soraya
last update Date de publication: 2026-07-25 00:22:41

Setelah kejadian kemarin, apakah Arkana berhenti mengganggu Nayara? Jawabannya tidak!

Karena di sinilah mereka. Arkana jalan di depan, dan Nayara jalan di belakangnya dengan posisi tas Arkana berada di pundak Nayara.

Kalau kalian tanya bagaimana kejadiannya? Jawabannya, tanpa perintah, tanpa permohonan, dan tanpa banyak basa-basi. Hanya modal satu kalimat datar dari mulut Arkana tadi pagi: "Bawain."

Nayara tidak menjawab, tapi juga tidak lagi menolak. Kenapa? Karena ia akhirnya berpikir jika Arkana benar-benar menganggap kue itu sebagai hutang, maka Nayara harus membayarnya segera. Karena Nayara selalu punya prinsip untuk tidak berutang pada siapapun dan jika punya hutang, ia harus segera membayarnya.

Nayara terpaksa menurut dengan wajah keras. Langkah mereka bahkan tak seirama. Arkana berjalan cepat di depannya, sementara Nayara sengaja tidak menyamakan langkah dengannya.

Jarak Nayara selalu tertinggal beberapa meter. Arkana tidak pernah menoleh dan Nayara pun tidak peduli.

Orang-orang di sekitar mereka berbisik satu sama lain.

"Gila! Nayara bawain tas Arkana?"

"Dia siapanya Arkana ya?"

"Bukannya cewek itu pendiam? Kok dia bisa dekat sama Arkana?"

"Hoki banget tuh cewek."

Nayara mendengar semuanya dengan jelas namun memilih tak menggubris dan tetap berjalan lurus. Kenyataannya, ia tidak merasa beruntung sedikitpun bisa berada di sekitar Arkana. Ia malah merasa itu adalah hari-hari terburuknya.

"Gue bertahan bukan karena gue takut sama lu, Arkana. Tapi karena gue mau bayar utang dan gue nggak mau kalah dari lu."

~~

Sejak insiden tamparan keras dari Nayara, Arkana memang berubah. Bukan lebih baik. Tapi malah lebih galak.

Setiap pagi ritmenya selalu sama. Arkana menyodorkan tasnya pada Nayara sambil bilang, "Bawain." Dengan nada datar tanpa menatap Nayara.

Dan Nayara hanya terpaksa diam dan menurut. Lagi-lagi bukan karena takut. Tapi karena satu kalimat yang terus berputar di kepalanya:

"Gue memang harus membayar kue itu."

Nayara selalu berjalan di belakang Arkana bak seorang maid yang baik. Menahan emosi sambil tetap diam dan hanya bisa menggerutu dalam hati.

Masalahnya bukan tasnya. Tapi masalahnya adalah drama yang harus ia hadapi setiap hari. Ke mana pun Arkana melangkah, selalu ada gadis-gadis caper yang datang dan mendekat.

"Arkana, nanti pulang bareng, ya."

"Arkana, udah makan belum?"

"Arkana, gue bawa bekal nih. Mau makan bareng?"

Dan hampir selalu begitu setiap hari. Nayara selalu memilih berdiri agak jauh di belakang bak pelayan sungguhan. Padahal, dia hanya tidak mau ikut campur.

Arkana hampir tidak pernah membalas para gadis yang mendekatinya dengan ramah. Ia hanya menjawab seadanya. Tapi para gadis itu tetap menempel.

Nayara sering terpaksa menunggu selama lima menit, sepuluh menit, atau bahkan lebih. Ia hanya bisa pasrah sambil sesekali melirik jam dan menahan kesal.

Dan yang lebih menjengkelkannya lagi, setelah menunggu bermenit-menit lamanya, Arkana selalu menghampiri dengan nada galak, "Ayo! Ngapain bengong?" Seolah Nayara tidak menunggu apa-apa dan benar-benar hanya bengong.

Setelah berhari-hari kejadian seperti itu terus berulang, Nayara semakin tidak tahan. Pasalnya, sore hari saat jam sudah menunjukkan waktu pulang, Arkana malah mengobrol santai dengan seorang siswi di taman sekolah.

Suara gadis itu terdengar lembut dibuat-buat. Masalahnya bukan di situ. Nayara harus kembali bergeser agak jauh di belakang dengan tas Arkana yang masih berada di pundaknya.

Detik demi detik Nayara menunggu sambil melirik jam tangannya. Sampai akhirnya, napasnya turun berat. Ia melangkah ke arah Arkana dengan langkah cepat dan tegas.

Semua mata dari siswa-siswi yang berada di sekitar sana langsung tertuju padanya. Sementara Nayara tetap melangkah tegas seolah mau memulai perang dengan Arkana.

Dan benar saja.

BRAK

Nayara melempar tas Arkana ke dadanya. Arkana reflek menangkap tas tersebut dengan ekspresi kaget. Sementara Nayata tetap menatap lurus dengan ekspresi dingin, tegas, dan tanpa rasa takut.

"Gue resign jadi maid lu."

Kerumunan langsung mendadak senyap. Gadis yang mengobrol dengan Arkana bahkan sampai melongo, sedangkan Arkana hanya berdiri mematung.

"Mulai sekarang jangan dekatin gue lagi. Dan jangan pernah nyuruh gue seenaknya." Nayara melanjutkan kalimat dengan tenang tanpa suara bergetar.

Ia menghentikan langkah sejenak hanya untuk menatap Arkana. Tatapan mereka bertemu. "Lagian, gue juga nggak pernah kenal lu sebelumnya. So, berhenti bertingkah seolah lu kenal gue dari lama. Got it?"

Tanpa menunggu jawaban dan reaksi, Nayara pergi begitu saja. Langkahnya tegak dan bebas seolah ia adalah tahanan yang baru bebas dari penjara.

Jangan tanyakan reaksi Arkana. Ia masih berdiri mematung dengan tas masih di tangannya. Untuk kedua kalinya, Nayara berbalik dan meninggalkan dia begitu saja dengan cara yang terlalu berani.

Gadis centil yang tadi mengobrol dengannya sampai mendekat dan mencoba mengajak berbicara. "Arkana, itu tadi–"

Arkana langsung menjauh tanpa menjawab, tanpa senyum, dan tanpa menoleh lagi. Seolah ia merasa cukup muak dengan penolakan yang baru ia hadapi.

Sejak sore itu, nama Nayara selalu menjadi satu-satunya yang menetap di kepala Arkana dengan cara yang berbeda.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Forced to be Yours (Maid)   I won't let you be alone...

    Setelah lama berdiam diri dalam posisi itu, Arkana perlahan membantu Nayara bangkit. Keisha langsung sigap membantu begitu melihat mereka bergerak dan beranjak dari tanah."Ayo bantu gue naikin dia ke motor." Pinta Keisha pada Arkana karena Nayara masih mencengkram erat jaket Arkana dengan tangan yang masih gemetar. Arkana bergerak cepat. Tangannya sigap menopang Nayara dari samping, sementara Keisha membantu dari sisi lain. Dengan hati-hati, mereka membantu Nayara naik dan duduk di atas motor. Sepanjang perjalanan kembali ke villa, Nayara tetap tak melepaskan tangan. Tangannya menggenggam erat jaket Arkana dari belakang, kepala sesekali menempel di punggungnya tanpa sengaja. Arkana merasa dadanya kembali berdesir. Bukan hanya karena tubuh Nayara, tapi karena rasa tanggung jawab dan kepedulian yang dalam. Ia tak bicara banyak. Hanya mengendarai motor dengan tenang menuju villa dan membiarkan Nayara menenangkan diri lewat cengkraman erat di jaketnya. Sesampainya di villa, Keisha den

  • Forced to be Yours (Maid)   Nayara Runtuh

    Besoknya, Nayara memilih mengurung diri seharian di kamar. Pagi lewat begitu saja. Siang terasa panjang. Ia hanya berbaring menghadap dinding, memutar-mutar pikiran yang tak kunjung menemukan jawaban. Hoodie hitam yang ia pakai semalaman itu tergantung di kursi, terlihat seolah punya tempat sendiri. Lagi-lagi, pikiran Nayara yang biasanya santai kembali dipenuhi dengan Arkana. Dan hanya Arkana. "Apa yang harus gue bilang ke Arkana? Mulai dari mana? Gimana cara gue balikin hoodie nya? Lalu, gimana cara gue menghadapi orang-orang tentang apa yang terjadi semalam?" Ia tidak ingin mencari cara untuk membuka obrolan karena setiap kemungkinan percakapan berakhir sama. Canggung. Dan Nayara benci perasaan itu. Jadi, lebih baik ia memilih menghindar daripada mendapatkan perasaan yang dibencinya. Sampai langit berubah gelap. Keisha yang sedari tadi sibuk keluar masuk kamar akhirnya angkat suara. "Gue mau keluar buat beli jajan. Lu mau ikut nggak?" Awalnya Nayara menggeleng lemah. Tapi

  • Forced to be Yours (Maid)   Kehangatan Yang Menenangkan

    Dua menit terasa panjang. Nayara terlihat mati-matian melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri sampai tubuhnya terlihat gemetar sekilas. Nama itu hampir keluar. Tapi tertahan berkali-kali.Arkana yang sedari tadi ikut menatap akhirnya berdiri. Pergerakannya membuat semua mata refleks beralih ke arahnya, memecah keheningan. "Udah." Ucapnya datar. "Udah malem, nih. Kita tidur aja, yuk." Ajaknya dengan suara tegas dan jelas sedang menahan emosi yang berkecamuk. Belum ada satupun yang bergerak. Semua masih sibuk melamun dan tak tahu harus bereaksi bagaimana. Arkana menatap satu persatu orang di ruang tengah itu."Lu semua mau nyiksa dia sampai kapan? Lihat dia. Dia udah gemetaran. Mending kita stop di sini." Suaranya tak terdengar marah, namun jelas protektif.Hipnoterapis yang sempat ikut melamun akhirnya langsung menghentikan sesi. Menghitung mundur dengan pasti, dan membawa Nayara kembali ke kondisi sadar.Nayara terlepas dari hipnotis dengan napas terengah. Dadanya naik turun cepat

  • Forced to be Yours (Maid)   Sesi Hipnotis

    Malam kelima di villa itu awalnya terasa hangat seperti malam-malam sebelumnya. Ruang tamu dipenuhi orang-orang yang duduk santai di lantai dan sofa. Lampu temaram membuat suasana malam terasa jelas. Beberapa lilin aroma terapi dan suara tawa yang saling bersahutan membuat malam terasa berwarna. Cerita horor saling bersahutan. Ada yang serius, ada yang benar-benar membuat merinding, dan ada yang sengaja dilebih-lebihkan. Begitu pula dengan responnya. Ada yang sok berani, dan ada yang teriak lebih dulu sebelum cerita selesai demi meramaikan suasana. Setelah sesi cerita horor selesai, dilanjutkan dengan game lucu dengan hukuman yang absurd. Sampai akhirnya, salah satu cowok nyeletuk sambil nyengir ke teman cowok yang duduk di sebelahnya. "Eh, lu katanya bisa hipnotis orang, ya? Keren banget, bro." Pujinya penuh harap, agar cowok itu mau menunjukkan bakatnya. Cowok itu mengangkat alis sebelah. "Sedikit. Gue cuma bisa hipnoterapi ringan kok. Kenapa emang?" Sahutnya santai. "

  • Forced to be Yours (Maid)   Villa & Sebuah Kesamaan

    Hari-hari Nayara dan Arkana sejak malam ulang tahun Aurel tetap sama. Tidak ada yang berubah. Tidak membaik maupun memburuk. Bagaikan dua garis sejajar selalu jalan berdampingan namun tak pernah bertemu atau saling bersentuhan. Sampai akhirnya, beberapa minggu kemudian, angkatan mereka mengadakan liburan bersama. Sistemnya adalah satu angkatan, berbeda kelas, dan mereka akan menginap di satu villa besar selama satu minggu penuh. Tentu saja Keisha membujuk Nayara secara paksa untuk ikut serta dalam liburan yang terasa wajib itu. "Mau jadi apa villa itu kalau rame karena semua orang ikut?" Protes Nayara pada Keisha yang kekeuh mengajaknya. "Nggak banyak yang ikut kok. Kan orang-orang juga banyak yang sibuk sama liburannya sendiri kali. Jadi palingan cuma dua puluh sampe tiga puluh orang doang yang ikut." Jelas Keisha. "Ayolah. Gengnya Arkana aja ikut." Sebut Keisha. Nayara menoleh. "Arkana?" Keisha terdiam sejenak sebelum menggeleng. "Kayaknya nggak deh. Makanya lu harus ikut."

  • Forced to be Yours (Maid)   Deep Talk

    Di dalam mobil Raka, suasana terasa tenang. Tidak ada yang mengganggu sama sekali. Nayara duduk tenang meski sedikit kikuk, dan Raka yang mengemudi dengan kalem. Beberapa menit hening. Hening yang canggung, sampai akhirnya, Raka membuka suara lebih dulu. "Nayara, tadi piano itu... lu belajar dari mana, sih? Gila, itu indah banget." Nadanya terdengar ringan meski ada sekilas nada penasaran dalam nadanya. Ia melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalanan. Nayara menatap keluar sejenak. Senyum kecil muncul di bibirnya, walau matanya tidak ikut tersenyum. Ia menghela napas pendek. "Dari mama gue. Mama gue pianis." Ungkapnya tanpa menutup-nutupi. Raka mengangkat alis takjub. "Oh ya? Nayara membalas dengan anggukan pelan. "Dari kecil... SD sampai SMP, gue sering main piano bareng mama gue.""Oh, berarti lu emang suka musik dari dulu?" Tanya Raka murni penasaran. Naya menghela napas pendek sebelum menggeleng. "Nggak." Sahutnya singkat. Jawaban itu membuat Raka reflek menaikkan alis,

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status