FAZER LOGINSetelah kejadian kemarin, apakah Arkana berhenti mengganggu Nayara? Jawabannya tidak!
Karena di sinilah mereka. Arkana jalan di depan, dan Nayara jalan di belakangnya dengan posisi tas Arkana berada di pundak Nayara. Kalau kalian tanya bagaimana kejadiannya? Jawabannya, tanpa perintah, tanpa permohonan, dan tanpa banyak basa-basi. Hanya modal satu kalimat datar dari mulut Arkana tadi pagi: "Bawain." Nayara tidak menjawab, tapi juga tidak lagi menolak. Kenapa? Karena ia akhirnya berpikir jika Arkana benar-benar menganggap kue itu sebagai hutang, maka Nayara harus membayarnya segera. Karena Nayara selalu punya prinsip untuk tidak berutang pada siapapun dan jika punya hutang, ia harus segera membayarnya. Nayara terpaksa menurut dengan wajah keras. Langkah mereka bahkan tak seirama. Arkana berjalan cepat di depannya, sementara Nayara sengaja tidak menyamakan langkah dengannya. Jarak Nayara selalu tertinggal beberapa meter. Arkana tidak pernah menoleh dan Nayara pun tidak peduli. Orang-orang di sekitar mereka berbisik satu sama lain. "Gila! Nayara bawain tas Arkana?" "Dia siapanya Arkana ya?" "Bukannya cewek itu pendiam? Kok dia bisa dekat sama Arkana?" "Hoki banget tuh cewek." Nayara mendengar semuanya dengan jelas namun memilih tak menggubris dan tetap berjalan lurus. Kenyataannya, ia tidak merasa beruntung sedikitpun bisa berada di sekitar Arkana. Ia malah merasa itu adalah hari-hari terburuknya. "Gue bertahan bukan karena gue takut sama lu, Arkana. Tapi karena gue mau bayar utang dan gue nggak mau kalah dari lu." ~~ Sejak insiden tamparan keras dari Nayara, Arkana memang berubah. Bukan lebih baik. Tapi malah lebih galak. Setiap pagi ritmenya selalu sama. Arkana menyodorkan tasnya pada Nayara sambil bilang, "Bawain." Dengan nada datar tanpa menatap Nayara. Dan Nayara hanya terpaksa diam dan menurut. Lagi-lagi bukan karena takut. Tapi karena satu kalimat yang terus berputar di kepalanya: "Gue memang harus membayar kue itu." Nayara selalu berjalan di belakang Arkana bak seorang maid yang baik. Menahan emosi sambil tetap diam dan hanya bisa menggerutu dalam hati. Masalahnya bukan tasnya. Tapi masalahnya adalah drama yang harus ia hadapi setiap hari. Ke mana pun Arkana melangkah, selalu ada gadis-gadis caper yang datang dan mendekat. "Arkana, nanti pulang bareng, ya." "Arkana, udah makan belum?" "Arkana, gue bawa bekal nih. Mau makan bareng?" Dan hampir selalu begitu setiap hari. Nayara selalu memilih berdiri agak jauh di belakang bak pelayan sungguhan. Padahal, dia hanya tidak mau ikut campur. Arkana hampir tidak pernah membalas para gadis yang mendekatinya dengan ramah. Ia hanya menjawab seadanya. Tapi para gadis itu tetap menempel. Nayara sering terpaksa menunggu selama lima menit, sepuluh menit, atau bahkan lebih. Ia hanya bisa pasrah sambil sesekali melirik jam dan menahan kesal. Dan yang lebih menjengkelkannya lagi, setelah menunggu bermenit-menit lamanya, Arkana selalu menghampiri dengan nada galak, "Ayo! Ngapain bengong?" Seolah Nayara tidak menunggu apa-apa dan benar-benar hanya bengong. Setelah berhari-hari kejadian seperti itu terus berulang, Nayara semakin tidak tahan. Pasalnya, sore hari saat jam sudah menunjukkan waktu pulang, Arkana malah mengobrol santai dengan seorang siswi di taman sekolah. Suara gadis itu terdengar lembut dibuat-buat. Masalahnya bukan di situ. Nayara harus kembali bergeser agak jauh di belakang dengan tas Arkana yang masih berada di pundaknya. Detik demi detik Nayara menunggu sambil melirik jam tangannya. Sampai akhirnya, napasnya turun berat. Ia melangkah ke arah Arkana dengan langkah cepat dan tegas. Semua mata dari siswa-siswi yang berada di sekitar sana langsung tertuju padanya. Sementara Nayara tetap melangkah tegas seolah mau memulai perang dengan Arkana. Dan benar saja. BRAK Nayara melempar tas Arkana ke dadanya. Arkana reflek menangkap tas tersebut dengan ekspresi kaget. Sementara Nayata tetap menatap lurus dengan ekspresi dingin, tegas, dan tanpa rasa takut. "Gue resign jadi maid lu." Kerumunan langsung mendadak senyap. Gadis yang mengobrol dengan Arkana bahkan sampai melongo, sedangkan Arkana hanya berdiri mematung. "Mulai sekarang jangan dekatin gue lagi. Dan jangan pernah nyuruh gue seenaknya." Nayara melanjutkan kalimat dengan tenang tanpa suara bergetar. Ia menghentikan langkah sejenak hanya untuk menatap Arkana. Tatapan mereka bertemu. "Lagian, gue juga nggak pernah kenal lu sebelumnya. So, berhenti bertingkah seolah lu kenal gue dari lama. Got it?" Tanpa menunggu jawaban dan reaksi, Nayara pergi begitu saja. Langkahnya tegak dan bebas seolah ia adalah tahanan yang baru bebas dari penjara. Jangan tanyakan reaksi Arkana. Ia masih berdiri mematung dengan tas masih di tangannya. Untuk kedua kalinya, Nayara berbalik dan meninggalkan dia begitu saja dengan cara yang terlalu berani. Gadis centil yang tadi mengobrol dengannya sampai mendekat dan mencoba mengajak berbicara. "Arkana, itu tadi–" Arkana langsung menjauh tanpa menjawab, tanpa senyum, dan tanpa menoleh lagi. Seolah ia merasa cukup muak dengan penolakan yang baru ia hadapi. Sejak sore itu, nama Nayara selalu menjadi satu-satunya yang menetap di kepala Arkana dengan cara yang berbeda.Nayara berpikir urusan kemarin sudah selesai. Ternyata masalah seakan tak ada habis untuknya. Karena besoknya, gosip liar yang entah berasal dari mana, memenuhi sekolah dengan gaduh. "Ravin kok ngikutin Nayara mulu, ya?""Jangan-jangan, dia suka sama Nayara dan mau rebut Nayara dari Arkana?""Wah, fix. Cinta segitiga sih ini." Gosip tak masuk akal itu menyebar cepat. Saking cepatnya, Nayara mendengarnya dari orang lain lebih dulu. Bukan dari pelaku gosipnya. Dan tentu saja bahkan hanya Nayara yang mendengarnya. Gosip itu juga sudah sampai ke telinga Arkana. Siang itu, Arkana buru-buru mengejar langkah Nayara di koridor belakang sekolah. "Akhir-akhir ini seru banget, ya." Ujarnya setelah berhasil menyamai langkah Nayara. Nayara menghentikan langkah dan menoleh malas. "Maksud lu apa?" Ia mengerutkan kening gusar. Hanya Arkana satu-satunya yang berhasil membuatnya memberikan respon lebih daripada sekadar bersikap datar. "Ck, lu sadar nggak, sekarang orang-orang ngomong apa tentang
Semakin lama memendam rasa, Ravin merasa semakin tidak kuat menahan gejolak di hatinya itu sendirian. Hari ini, ia akhirnya benar-benar nekat Nayara sedang jalan seorang diri ke arah taman belakang sekolah, tempat favoritnya untuk menenggelamkan diri dari keramaian. Telinganya dengan jelas menangkap suara langkah seseorang mengikuti ritme langkahnya dari belakang. Pelan, dan hati-hati. Terlalu hati-hati untuk disebut kebetulan. "Nayara." Panggil Ravin pelan. Nayara menghentikan langkah. Ia sebenarnya sudah tahu kalau Ravin membuntutinya sedari tadi. Dan kali ini, ia membalikkan tubuh dengan wajah datar. Tak lagi pura-pura tak sadar. "Kenapa?" Ravin mendekat dua langkah. "Gue cuma mau ngobrol sebentar." Nayara menghela napas pelan. "Ngobrol apa lagi?" Ravin hendak membuka mulut. Tapi belum sempat ia berbicara, Nayara sudah keburu mengatakan sesuatu. Nada suaranya datar dan tenang seperti biasa. "Kenapa lu masih deketin gue? Lu belum confess ke Keisha? Kenapa? Ngga
Koridor terlihat ramai seperti pagi biasanya. Pagi ini pun sama. Nayara berjalan seorang diri di antara kerumunan orang-orang di koridor. "Oi." Suara itu membuat Nayara menghentikan langkah tapi tak langsung menatap sosok tersebut. "Beliin gue minum." Arkana berdiri di depannya dengan ekspresi tengil dan tangan dimasukkan ke saku celana. Ekspresi santai seolah tak sedang memberi perintah seenaknya. Beberapa orang yang tadi hanya sibuk dengan circle masing-masing langsung menoleh dan berbisik satu sama lain. "Bener kan mereka pacaran.""Ih lucu banget. Disuruh beli minum dong." "Gitu aja gue salting." Nayara menatap Arkana dingin. "Kenapa harus gue? Emang lu nggak bisa beli minum sendiri?" Ia tentu tak terima. Arkana mendekat sedikit. "Kalau lu nurut, gue akan bilang ke semua orang kalau kita nggak pacaran dan rumor itu nggak benar." Ia berbisik pelan. Nayara mengatupkan rahang. Ia benci posisi ini. Tapi akhirnya ia memilih tak menolak. "Minuman apa?"Arkana nyengir kecil. "N
Nayara mulai sering melihat sosok yang sama hampir di manapun ia berada. Sosok itu bukan Arkana. Melainkan cowok lain yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Awalnya Nayara berpikir itu hanya kebetulan. Tapi setelah tiga hari berturut-turut, Nayara mulai merasa bahwa itu bukan hanya sebuah kebetulan. Masalahnya cowok itu hampir selalu ada di setiap sudut yang Nayara pijak. Di hari keempat, saat Nayara baru keluar kelas dengan ransel yang menggantung di satu pundak, ia kembali melihat Ravin tak jauh dari sana. Ekspresi Nayara tetap datar saat Ravin sengaja menyamakan langkah. Langkah mereka sejajar dengan hening yang tercipta sejenak. Sampai Ravin membuka suara. Untuk pertama kalinya. Untuk seorang gadis. "Lu... Nayara, kan?" Nayara melirik sekilas dengan kerutan di keningnya. "Iya." Sahutnya singkat. "Gue Ravin. Ketua ekstrakurikuler fotografi kalau lu belum tau." Ravin berusaha tidak terlihat kikuk. Hening. Tak ada sahutan lagi dari Nayara karena memang ia sendiri merasa t
Hari-hari terasa sama saja bagi Nayara. Tidak ada yang berubah meski gosip tentang hubungannya dan Arkana semakin liar dan meski Arkana terlihat semakin menyebalkan hampir setiap harinya. Dan kalau kalian masih ingat Keisha, si cewek imut menggemaskan yang menjelma sebagai cegil-nya Arkana, juga belum berubah. Ia masih gencar mendekati Arkana dan mencari perhatian dari cowok menyebalkan itu. "Arkana, kamu nggak mau pulang bareng aku?""Arkana, kamu mau latihan basket nggak?""Arkana, bukain botol minum aku, dong." "Arkana, kantin yuk."Dan masih banyak lagi. Arkana jarang menolak secara kasar, namun juga tak pernah benar-benar merespon. Sementara Nayara? Ia tidak pernah peduli tentang Arkana maupun Keisha. Ia bahkan tak pernah melirik kedua insan itu sama sekali. Keisha yang merasa Nayara hampir tak pernah meliriknya, berpikir bahwa Nayara bukan saingannya. Ia tidak jahat. Ia tidak pernah melabrak atau melakukan hal-hal yang membuat Nayara tidak nyaman. Hanya saja Nayara tidak be
Keesokan harinya saat jam istirahat tiba.Nayara jalan seorang diri lengkap dengan hoodie kebesaran yang setia menutup setengah wajahnya. "Berhenti!" Satu suara yang sangat ia kenal. Nayara mendongak dan menatap Arkana dingin. "Mau ngapain lagi? Gue udah bukan maid lu." Tantangnya. Arkana menyisipkan tangan ke saku celana. "Gue nggak pernah mecat lu." Balasnya santai. Nayara tersenyum sinis. "Gue yang mengundurkan diri." "Dan gue nggak setuju." Sahut Arkan cepat. Tatapannya lurus ke depan. Sekeliling mereka mulai melambat. Telinga-telinga yang terbiasa menguping sengaja memperlambat langkah untuk menyaksikan momen seru yang tak bisa ditinggal. "Eh, itu Arkana ya?" "Cewek itu siapa? Kok Arkana ngobrol sama dia?" "Itu cewek yang belakangan ini suka bawain tasnya nggak sih?"Di antara kerumunan itu, muncul seorang gadis cantik nan imut yang biasa dipanggil Keisha. Gadis yang sejak beberapa hari lalu paling giat mengejar Arkana.Keisha menghentikan langkah dan menatap Nayara dari







