Beranda / Romansa / Fragmen di Bawah Hujan / Bab 2 Tempat yang Sama

Share

Bab 2 Tempat yang Sama

Penulis: Ey senja
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-21 15:02:50

Suara langkah itu berhenti tepat di depan pintu. Aku menahan napas, mencoba mendengarkan. Tak ada suara lain, hanya detak jantungku yang bergemuruh di antara sunyi dan hujan yang menekan jendela.

“Siapa di luar?” tanyaku dengan nada gemetar. Tidak ada jawaban. Hanya bunyi petir yang tiba-tiba menggelegar, membuat lampu menyala redup sesaat, lalu padam lagi. Dalam kilatan cahaya singkat itu, aku sempat melihat bayangan seseorang di balik kaca jendela.

Aku mundur satu langkah, menggenggam ponselku erat. Tapi ketika kudekati lagi, bayangan itu sudah tak ada.

Hujan mulai reda. Udara dingin yang tersisa menempel di kulit seperti kenangan yang enggan pergi. Aku menyalakan senter dari ponsel, menyusuri lantai kamar. Kertas kecil yang tadi kutemukan kini sudah kering sebagian. Tulisan itu masih jelas: “Aku menunggumu di tempat yang sama, Nara.”

Tempat yang sama. Kata-kata itu terus berputar di kepalaku. Aku mencoba mengingat—tempat apa yang dimaksudnya? Lirona bukan kota besar, tapi menyimpan begitu banyak kenangan yang ingin kulupakan.

Dan di antara kenangan itu, hanya satu tempat yang kupastikan tak akan pernah bisa kuhapus: tepi danau di belakang Stasiun Lama. Tempat di mana kami dulu sering duduk diam, berbagi roti hangat sambil menghitung riak air. Tempat di mana ia terakhir kali mengucapkan selamat tinggal.

Aku mengambil mantel, mengenakannya terburu-buru. Entah karena penasaran atau takut, kakiku melangkah sendiri.

Lorong penginapan sepi. Lampu-lampu tua berkelip seperti hampir padam. Saat aku menuruni tangga, perempuan tua pemilik penginapan menatapku dari balik meja resepsionis.

“Mau ke luar malam-malam begini, Nona?” tanyanya pelan.

“Sebentar saja. Ada sesuatu yang harus kulihat.”

Ia menatapku lama, lalu tersenyum samar. “Kalau begitu bawalah payung. Hujan Lirona tak pernah benar-benar berhenti.”

Aku menerima payung itu dengan tangan dingin, berterima kasih, lalu melangkah keluar. Udara malam menyergap lembap, wangi tanah basah bercampur daun yang gugur. Jalan berbatu itu memantulkan cahaya lampu jalan, memandu langkahku menuju arah stasiun.

Stasiun Lama berada di sisi utara kota, sudah tidak digunakan lagi sejak tahun lalu. Jalur keretanya berkarat, dan bangunannya ditinggalkan. Tapi aku masih hafal setiap tikungan menuju ke sana.

Saat tiba di gerbangnya, aku melihat sesuatu yang membuat napasku tercekat. Di bangku tua dekat peron, seseorang duduk. Mantel abu-abu. Payung hitam. Sama seperti yang kulihat sore tadi.

Aku mendekat perlahan, payungku bergoyang karena tangan bergetar.

“Siapa kau?” tanyaku hampir berbisik.

Sosok itu menoleh. Di bawah sinar lampu stasiun yang remang, wajahnya terlihat jelas. Wajah yang kutinggalkan dua tahun lalu. Wajah yang seharusnya tak mungkin kulihat lagi.

“Rian…” namanya meluncur begitu saja dari bibirku.

Ia tersenyum kecil. “Kau kembali juga, Nara.”

“Tapi… bagaimana bisa?” suaraku pecah. “Kau sudah—”

“Pergi?” potongnya tenang. “Ya. Tapi bukan berarti aku tak bisa kembali.”

Aku mundur satu langkah. “Ini tidak mungkin. Aku melihat pemakamannya sendiri. Aku berdiri di sana.”

Rian menunduk, jari-jarinya menyentuh bangku kayu basah itu. “Kadang, Nara, sesuatu tak berakhir seperti yang kita kira.”

Hening. Hujan kembali turun pelan, menetes di antara jarak kami.

“Kenapa kau menungguku?” tanyaku akhirnya.

Ia menatapku lama, matanya lembut tapi menyimpan sesuatu yang dingin. “Karena ada yang belum selesai di antara kita.”

“Apa maksudmu?”

Rian berdiri. Air menetes dari ujung mantel abu-abunya. “Malam itu, di tepi danau, aku berjanji akan menemuimu kembali—di tempat yang sama, ketika hujan pertama turun di Lirona.”

Aku menggeleng cepat. “Rian, ini gila. Kau… kau bukan—”

“Terkadang,” katanya sambil mendekat satu langkah, “rindu terlalu kuat bahkan untuk mati.”

Seketika udara di sekitarku berubah dingin, begitu dingin hingga aku sulit bernapas. Aku melangkah mundur, tapi di bawah kakiku ada genangan air yang tiba-tiba memantulkan sesuatu—bayangan dua sosok: aku dan dia. Tapi hanya bayanganku yang bergerak.

Aku menatapnya lagi. Matanya tetap sama, tapi kini tak memantulkan cahaya.

“Nara,” bisiknya pelan. “Jangan takut. Aku hanya ingin menepati janji.”

Aku ingin berteriak, tapi suaraku hilang. Hujan menelan segalanya. Dan dalam satu kedipan mata, Rian sudah lenyap—meninggalkan bangku basah dan payung hitam yang tergeletak di sana.

Aku berdiri lama di bawah derasnya hujan, menggenggam kertas kecil itu erat. Tulisan di atasnya perlahan luntur, hingga akhirnya hanya tersisa satu kata samar: “Maaf.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 118 — Jarak yang Tidak Pernah Mudah

    Hari itu berjalan lebih panjang dari biasanya.Aira menghabiskan hampir seluruh pagi dengan rapat kecil dan revisi laporan yang tidak kunjung selesai. Setiap angka diperiksa kembali, setiap asumsi diuji ulang.Ia bekerja dengan fokus yang hampir berlebihan.Seolah-olah jika ia cukup teliti, cukup keras, cukup disiplin… semua yang mulai retak di sekelilingnya bisa kembali lurus.Namun pikiran manusia tidak selalu patuh pada logika kerja.Setiap kali ia berhenti sejenak, bayangan percakapannya dengan Damar kemarin kembali muncul.Kamu berubah.Kalimat itu sederhana.Tapi sejak kemarin, kata-kata itu seperti gema kecil yang terus kembali.Menjelang sore, kantor mulai lebih tenang.Beberapa orang sudah pulang, beberapa masih menyelesaikan pekerjaan terakhir mereka.Aira sedang menutup dokumen ketika pintu ruangannya diketuk.Ia sudah tahu siapa sebelum mengangkat kepala.Arkan berdiri di sana.“Boleh masuk?”Aira menganggu

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 117 — Percakapan yang Tidak Bisa Dihindari

    Pagi itu kantor terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan karena orang-orang tidak datang. Meja-meja tetap terisi, layar komputer tetap menyala, dan percakapan kerja tetap berjalan.Namun ada sesuatu dalam ritmenya yang terasa sedikit tertahan.Seolah semua orang bekerja dengan kesadaran bahwa proyek yang mereka tangani tidak lagi berjalan semulus sebelumnya.Aira sudah duduk di ruang kerjanya sejak setengah jam lalu.Di hadapannya terbuka laporan terbaru yang semalam ia koreksi.Angka-angka itu sudah lebih rapi sekarang.Namun masalah yang tersembunyi di baliknya tidak benar-benar hilang.Ia baru saja menutup laptop ketika ponselnya bergetar.Sebuah pesan singkat muncul.Damar:Kalau kamu ada waktu, mampir ke ruanganku sebentar.Aira menatap pesan itu beberapa detik.Tidak ada tanda panik dalam kalimat itu.Tidak ada kata “penting” atau “segera”.Namun justru kesederhanaannya membuat dadanya sedikit mengencang.Ia berdir

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 116 — Potongan yang Mulai Terhubung

    Raka bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain.Selama dua tahun bekerja di tim itu, ia dikenal sebagai analis yang rapi, tenang, dan jarang terlibat dalam percakapan di luar pekerjaan. Ia datang tepat waktu, menyelesaikan tugasnya, lalu pulang tanpa banyak drama.Namun sejak malam ketika ia melihat Aira dan Arkan berbicara di ruang kerja itu, ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.Bukan karena ia yakin ada sesuatu yang salah.Justru karena ia tidak yakin.Dan ketidakpastian sering membuat pikiran manusia bekerja lebih keras dari seharusnya.Pagi itu Raka duduk di mejanya sambil memeriksa pembaruan data proyek.Ia mencoba fokus pada angka-angka.Namun tanpa sadar, matanya sesekali melirik ke arah ruang kerja Aira yang dindingnya sebagian terbuat dari kaca.Aira sedang berbicara dengan seseorang di telepon.Wajahnya tenang seperti biasa.Jika Raka tidak melihat malam itu, mungkin ia tidak akan memperhatikan apa pu

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 116 — Potongan yang Mulai Terhubung

    Raka bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain.Selama dua tahun bekerja di tim itu, ia dikenal sebagai analis yang rapi, tenang, dan jarang terlibat dalam percakapan di luar pekerjaan. Ia datang tepat waktu, menyelesaikan tugasnya, lalu pulang tanpa banyak drama.Namun sejak malam ketika ia melihat Aira dan Arkan berbicara di ruang kerja itu, ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.Bukan karena ia yakin ada sesuatu yang salah.Justru karena ia tidak yakin.Dan ketidakpastian sering membuat pikiran manusia bekerja lebih keras dari seharusnya.Pagi itu Raka duduk di mejanya sambil memeriksa pembaruan data proyek.Ia mencoba fokus pada angka-angka.Namun tanpa sadar, matanya sesekali melirik ke arah ruang kerja Aira yang dindingnya sebagian terbuat dari kaca.Aira sedang berbicara dengan seseorang di telepon.Wajahnya tenang seperti biasa.Jika Raka tidak melihat malam itu, mungkin ia tidak akan memperhatikan apa pu

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 115 — Mata yang Tidak Sengaja

    Malam itu kantor hampir kosong.Jam sudah melewati pukul delapan, dan sebagian besar lampu di lantai itu sudah dimatikan. Hanya beberapa ruang kerja yang masih menyala, tanda bahwa ada orang-orang yang belum selesai dengan pekerjaannya.Salah satunya adalah Aira.Ia duduk di depan laptopnya, menatap layar yang menampilkan revisi laporan anggaran. Angka-angka itu seperti menatap balik padanya, seolah meminta penjelasan yang bahkan ia sendiri belum siap berikan.Beberapa baris koreksi sudah ia buat.Namun masalahnya bukan sekadar angka.Masalahnya adalah keputusan yang melahirkan angka-angka itu.Ia mengusap pelipisnya pelan.Kelelahan mulai terasa lebih berat akhir-akhir ini. Bukan hanya karena pekerjaan yang menumpuk, tapi karena pikirannya tidak pernah benar-benar diam.Setiap keputusan kini terasa seperti membawa bayangan.Pintu ruangannya diketuk pelan.Arkan.Ia membawa dua cangkir kopi.“Aku pikir kamu masih di sini,” katanya

  • Fragmen di Bawah Hujan   Bab 114 — Aroma yang Mulai Tercium

    Masalah itu tidak datang dalam bentuk kabar buruk yang dramatis.Ia datang dalam bentuk laporan.Lembar demi lembar angka yang perlahan tidak lagi selaras.Pagi itu dimulai seperti hari kerja biasa.Aira tiba di kantor lebih awal, seperti beberapa minggu terakhir. Rutinitas itu bukan lagi soal disiplin—lebih seperti kebutuhan untuk menenangkan pikirannya sebelum orang lain datang.Ia membuka laptop, memeriksa pembaruan laporan proyek.Di layar, grafik timeline terlihat bergeser sedikit.Tidak besar.Hanya beberapa hari dari jadwal awal.Namun bagi seseorang seperti Aira, pergeseran kecil selalu berarti sesuatu.Ia memperbesar data anggaran.Ada dua baris tambahan yang tidak ia ingat pernah menyetujui secara eksplisit.Biaya logistik tambahan.Penyesuaian sumber daya teknis.Angkanya masih dalam batas wajar.Tapi arah pergerakannya… tidak lagi stabil.Aira bersandar di kursinya.“Masih bisa dikendalikan,” gumamnya pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status