Compartilhar

Bab 3

Autor: Madre Shine
last update Data de publicação: 2026-03-04 16:00:26

Udara di dalam basement yang tadinya panas oleh gairah dan sinkronisasi saraf tiba-tiba berubah menjadi dingin yang mencekam. Alarm di sudut ruangan tidak berbunyi nyaring; ia hanya berupa denyut cahaya merah yang konsisten di layar monitor, namun bagi Juan, itu terdengar lebih keras daripada ledakan.

"Sial," desis Juan. Jantungnya yang baru saja melambat setelah keintiman mereka kembali berpacu liar. "Mereka menemukanmu, Lilia. Terlalu cepat."

Lilia masih terengah-engah di atas meja kerja, matanya yang besar menatap kosong ke langit-langit beton. Kabel interface di lehernya masih terpasang, mengirimkan sisa-sisa getaran emosi Juan yang kini bercampur dengan rasa takut yang murni. Ia merasa seperti baru saja ditarik paksa dari mimpi indah ke dalam air es.

"Siapa?" tanya Lilia, suaranya gemetar. "Siapa yang datang?"

"Tim Pembersih Sektor 0. Mereka tidak datang untuk menangkapmu, Lilia. Mereka datang untuk menghapus jejak. Dan di dunia mereka, jejak berarti kau... dan siapa pun yang menyentuhmu."

Juan bergerak dengan efisiensi seorang pria yang sudah ribuan kali membayangkan skenario terburuk ini. Dengan sentakan kasar namun hati-hati, ia mencabut elektroda dari tengkuk Lilia. Lilia mengerang pelan saat koneksi saraf mereka terputus secara mendadak—sebuah sensasi seperti ditarik paksa dari dalam tubuh sendiri.

"Pakai pakaianmu. Cepat!" Juan menyambar celana kargo dan jaket kulit tuanya yang tersampir di kursi.

Di atas mereka, sayup-sayup terdengar suara dentuman berat. Bukan musik tekno dari klub, melainkan suara sepatu bot militer yang menghantam lantai baja. Kemudian, suara desis yang sangat dikenal Juan: granat gas termit yang melubangi atap gedung.

Juan menyambar sebuah tas taktis yang selalu ia siapkan di bawah meja. Isinya bukan uang, melainkan tumpukan drive memori mentah dan sebuah pistol pulsa model lama yang ilegal. Ia menarik Lilia yang masih linglung, menyelimuti tubuh wanita itu dengan jaket besarnya untuk menutupi sutra yang compang-camping.

"Ikuti aku, jangan lepaskan tanganku," perintah Juan.

Tepat saat mereka menuju pintu belakang yang tersembunyi di balik rak server, pintu depan basement meledak. Bukan dengan dinamit, tapi dengan tekanan udara tinggi yang menghancurkan engsel baja seolah-olah itu adalah kerupuk.

Tiga sosok muncul dari balik asap putih. Mereka mengenakan zirah polimer hitam matte yang tidak memantulkan cahaya, wajah mereka tertutup helm full-face dengan lensa merah yang berpendar. The Reapers—unit elit pembersih aset milik korporasi Sektor 0.

"Subjek terdeteksi," suara mekanis bergema dari salah satu helm. "Eksekusi protokol penghapusan."

"Lari!" raung Juan.

Ia berbalik dan melepaskan satu tembakan pulsa ke arah tangki pendingin nitrogen di dekat pintu. Ledakan gas dingin menyembur keluar, menciptakan tabir kabut instan yang menutupi pelarian mereka. Juan menarik Lilia masuk ke dalam lorong sempit yang berbau pesing dan oli, sebuah jalur tikus yang terhubung langsung dengan sistem pembuangan limbah Distrik 9.

Mereka berlari menembus kegelapan. Lilia tersandung beberapa kali; kakinya yang telanjang menghantam beton kasar, namun ia tidak mengeluh. Efek sinkronisasi saraf tadi meninggalkan residu di otaknya—ia bisa merasakan adrenalin Juan seolah itu adalah miliknya sendiri. Ia merasa kuat, namun sekaligus sangat rapuh.

"Juan, mereka... aku bisa merasakan mereka di belakang kita," bisik Lilia.

Juan tidak menjawab. Ia tahu Lilia benar. The Reapers dilengkapi dengan pelacak panas dan sonar saraf. Di labirin bawah tanah ini, mereka adalah predator puncak.

Tiba-tiba, sebuah peluru laser melintas tepat di samping telinga Juan, menghantam dinding pipa raksasa dan melelehkan baja hingga membara. Juan membalas dengan tembakan membabi buta ke arah kegelapan di belakang mereka, hanya untuk memberi jarak.

Mereka sampai di sebuah persimpangan vertikal—sebuah lubang got raksasa dengan tangga besi yang menjulang tinggi ke permukaan jalanan Distrik 9.

"Naik, Lilia! Sekarang!"

Lilia memanjat dengan kecepatan yang tidak wajar. Mungkin itu adalah memori otot yang baru saja bangkit, atau sisa daya dari port sarafnya. Juan mengikuti di bawahnya, sesekali berhenti untuk menembak ke bawah. Di dasar lubang, ia melihat lampu merah dari helm para pemburu itu mulai mendekat.

Saat mereka berhasil keluar ke permukaan, mereka disambut oleh hujan asam yang kini turun lebih deras. Jalanan Distrik 9 sedang kacau. Kerumunan orang-orang kelas bawah yang mabuk dan pecandu data memenuhi trotoar, memberikan kamuflase alami yang sangat dibutuhkan.

Juan menarik Lilia melewati kerumunan, menabrak bahu-bahu pria kasar dan wanita-wanita dengan riasan neon yang luntur. Di atas mereka, taksi udara berdesing, sementara lampu-lampu iklan holografik raksasa menawarkan kebahagiaan palsu dalam bentuk pil memori.

"Kita harus mencapai Sektor Abu-abu," gumam Juan sambil terus waspada. "Hanya di sana sinyal pelacak mereka bisa terganggu oleh radiasi pabrik tua."

Lilia terengah-engah, air hujan membasahi wajahnya, membuat rambutnya menempel di pipi. "Kenapa mereka menginginkanku mati, Juan? Jika aku tidak punya apa-apa di kepalaku, kenapa aku begitu berharga untuk dibunuh?"

Juan berhenti sejenak di sebuah gang sempit yang gelap, menghimpit tubuh Lilia ke dinding bata yang basah. Ia memeriksa luka di kaki Lilia, lalu menatap mata wanita itu. Di bawah siraman lampu jalan yang berkedip, Lilia tampak seperti malaikat yang jatuh ke selokan.

"Karena kau bukan sekadar kanvas kosong, Lilia," kata Juan, suaranya berat oleh penyesalan. "Saat saraf kita bertautan tadi, aku melihat sesuatu di balik kekosongan itu. Sebuah enkripsi yang terkunci. Kau bukan dibuang karena kau rusak. Kau dibuang karena kau adalah wadah untuk sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini. Sesuatu yang disebut Project Echo."

Lilia mengerutkan kening. "Echo?"

"Memori kolektif yang bisa mengendalikan seluruh sistem saraf di kota ini. Jika mereka tidak bisa memilikimu, mereka akan memastikan tidak ada orang lain yang bisa."

Tiba-tiba, suara dengung mesin terdengar dari langit. Sebuah drone pemantau dengan lampu sorot biru mulai menyisir gang-gang sempit itu.

"Jangan bergerak," bisik Juan.

Ia menarik Lilia lebih dekat, menyembunyikan wajah wanita itu di dadanya. Keintiman yang tadi mereka rasakan di basement kini berubah menjadi perlindungan yang bersifat darurat. Juan bisa merasakan jantung Lilia berdetak kencang di balik jaketnya. Rasa haus yang ia rasakan tadi kembali muncul—sebuah keinginan untuk melindungi sesuatu yang tidak berdaya, sesuatu yang baru saja ia beri "nyawa" melalui sentuhannya.

Lilia mendongak, menatap Juan. Di tengah ketakutan maut ini, ia justru merasa tenang saat berada di pelukan pria ini. "Juan... jika kita tidak selamat..."

"Kita akan selamat," potong Juan tegas. "Aku baru saja mulai melukis di kanvasmu. Aku tidak akan membiarkan mereka merobeknya sekarang."

Juan melihat sebuah kesempatan. Sebuah truk pengangkut limbah kimia yang berat sedang bergerak lambat menuju gerbang Sektor Abu-abu. Tanpa membuang waktu, ia menarik Lilia dan melompat ke bagian belakang truk yang terbuka, bersembunyi di antara tabung-tabung logam yang berkarat.

Truk itu mulai bergerak, meninggalkan pusat Distrik 9 menuju area industri yang lebih berbahaya. Dari balik tumpukan tabung, Lilia melihat ke arah basement tempat mereka berada tadi. Sebuah ledakan cahaya biru terlihat di kejauhan—lokasi itu telah dimusnahkan. Segalanya yang dimiliki Juan, seluruh hidupnya, telah hangus.

"Rumahmu..." bisik Lilia.

"Hanya bangunan," jawab Juan tanpa ekspresi, meski tangannya mencengkeram tas taktisnya lebih erat. "Yang penting sekarang adalah apa yang ada di sini." Ia menyentuh kening Lilia.

Di dalam truk yang bergetar hebat, di tengah aroma bahan kimia yang menyengat dan dinginnya malam yang menusuk tulang, mereka duduk berdampingan. Lilia menyandarkan kepalanya di bahu Juan. Keintiman fisik mereka belum berakhir; ia justru semakin dalam, berevolusi dari sekadar nafsu menjadi ikatan antara dua pelarian yang tidak punya siapa-siapa lagi selain satu sama lain.

"Juan," panggil Lilia pelan.

"Ya?"

"Memori pertama yang kau buat untukku tadi..." Lilia menatap tangan Juan yang penuh bekas luka. "Itu terasa nyata. Lebih nyata dari kegelapan yang ada di kepalaku selama ini. Terima kasih."

Juan menatap cakrawala Sektor Abu-abu yang dipenuhi asap pabrik. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak merasa seperti seorang tukang jagal memori yang dingin. Ia merasa seperti seorang penjahit yang sedang mencoba menyatukan kembali potongan-potongan dunia yang rusak.

"Perjalanan ini baru dimulai, Lilia. Sektor 0 tidak akan berhenti sampai mereka menemukanmu. Dan sekarang, aku telah menjadi bagian dari frekuensimu."

Truk itu terus melaju, membawa mereka masuk ke dalam kegelapan yang lebih pekat, menuju sebuah tempat di mana hukum korporasi tidak berlaku, namun di mana nyawa manusia dihargai lebih murah daripada satu bit data. Di sanalah, di tengah reruntuhan industri, mereka akan mencari tahu siapa sebenarnya Lilia, dan kenapa frekuensi cintanya bisa menjadi senjata paling mematikan di dunia.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Frekuensi Terlarang   Bab 16

    Lembah Kabut tidak pernah tidur dalam kesunyian yang jujur. Di sini, di bawah bayang-bayang tebing raksasa yang tampak seperti taring bumi yang patah, udara tidak hanya dingin—ia bermuatan listrik. Kabut yang menyelimuti lembah ini bukan sekadar uap air; ia adalah sup partikel nano dan residu frekuensi yang ditinggalkan oleh eksperimen-eksperimen gagal Dr. Valerius di masa lalu. Bagi manusia biasa, tempat ini adalah labirin yang mematikan bagi sistem pernapasan. Namun bagi Juan, sang Memory Weaver, aroma ozon dan statis ini terasa seperti rumah yang pahit. Juan merangkak melalui celah sempit di antara dua pipa pembuangan panas yang sudah berkarat. Napasnya teratur, sebuah teknik yang ia pelajari dari para pelarian di The Fringe untuk meminimalkan deteksi sensor gerak. Di bawah sana, di pusat lembah, struktur Laboratorium Bio-Resonator menjulang seperti bunga lotus mekanis yang baru saja mekar di tengah kolam limbah. Kelopak-kelopak bajanya

  • Frekuensi Terlarang   Bab 15

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak lagi terasa seperti ancaman yang mematikan. Sejak malam The Great Uplift, es di sini seolah menyimpan kehangatan sisa—sebuah resonansi termal yang tertinggal setelah pilar cahaya Lilia menembus atmosfer dan merobek tatanan lama dunia. Juan berdiri di bibir tebing, menatap ke bawah ke arah lembah yang dulu tertutup jelaga industri, kini tampak seperti hamparan perak yang sedang bernapas. ​Enam bulan telah berlalu sejak dunia "terbangun". Tidak ada lagi kabut asap beracun yang tebal dari Distrik 9; dari ketinggian ini, kota-kota di bawah sana tampak seperti sirkuit raksasa yang sedang mengalami reboot total. Lampu-lampu neon yang dulu berkedip agresif dengan iklan-iklan korporasi kini bersinar dengan ritme yang lebih tenang, mengikuti frekuensi denyut jantung planet yang baru. Dunia menyebutnya sebagai fajar kemanusiaan yang kedua, namun bagi Juan, ini adalah awal dari kesunyian yang paling bising dalam hidupnya. ​

  • Frekuensi Terlarang   Bab 14 🔥🥵

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak terasa dingin bagi Lilia; ia justru terasa seperti butiran data yang membeku, menyentuh kulitnya dengan frekuensi yang sunyi. Di ketinggian ini, di mana oksigen menipis dan dunia di bawah sana tampak seperti hamparan luka yang menganga, Lilia berdiri di depan gerbang Observatorium Valerius. Struktur itu tampak seperti mata raksasa yang menatap ke langit, terbuat dari kaca kristal dan kuningan yang telah menghitam oleh waktu, bersembunyi di dalam pelukan tebing es yang curam. ​Juan mematikan mesin crawler yang terbatuk untuk terakhir kalinya. Asap hitam mengepul dari kap mesin, segera disapu oleh angin pegunungan yang ganas. Ia turun dengan langkah berat, pistol pulsanya tersampir di pinggang, dan matanya terus memindai lereng di bawah mereka. Di kejauhan, titik-titik hitam mulai merayap naik menembus badai salju—pasukan The Restoration telah tiba, dan mereka membawa mesin pembantai yang lebih besar dari sebelumnya. ​"Juan," panggil Lilia. Sua

  • Frekuensi Terlarang   Bab13 🔥🥵

    Sisa-sisa api di cakrawala The Reef perlahan memudar, digantikan oleh fajar yang dingin dan berkabut. Kapal induk The Harvester kini hanyalah bangkai baja raksasa yang tenggelam di pelukan samudra, memuntahkan cairan pendingin berwarna neon yang mencemari buih ombak. Di daratan, Juan dan Lilia tidak menunggu perayaan. Mereka tahu bahwa di dunia yang dikendalikan oleh algoritma, kemenangan hanyalah jeda singkat sebelum sistem melakukan reboot.Mereka meninggalkan pesisir itu menggunakan sebuah crawler mekanis tua—kendaraan darat bermesin pembakaran internal yang kasar, tanpa satu pun sirkuit digital yang bisa dilacak oleh satelit Sektor 0. Juan memacu mesin itu menembus jalur tikus di antara tebing karang, menjauh dari aroma garam menuju pedalaman yang berdebu.Lilia duduk di kursi penumpang, tubuhnya dibungkus selimut wol tebal yang masih berbau asap ledakan. Matanya yang cokelat kini seringkali memancarkan kilatan hijau samar, bukan lagi karena serangan Echo-01, melainkan karena ener

  • Frekuensi Terlarang   Bab 12 🥵🔥

    Langit di atas The Reef bukan lagi kelabu; ia telah berubah menjadi kanvas neraka yang terbakar. Cahaya dari ledakan ranjau minyak di permukaan laut memantulkan warna jingga darah pada kabut elektronik yang diciptakan Juan. Di tengah kekacauan itu, kapal induk The Restoration—sebuah struktur monolitik berbentuk cakram raksasa yang dikenal sebagai The Orbital Harvester—perlahan turun menembus awan jelaga, mengeluarkan dengung frekuensi rendah yang membuat pasir pantai bergetar seperti ribuan semut yang gelisah.Juan berdiri di garis air, napasnya memburu, uap panas keluar dari mulutnya yang berlumuran darah. Di depannya, Silas melangkah maju dengan keanggunan seorang predator yang terbuat dari baja dan dendam. Zirah taktisnya yang berwarna perak gelap tampak kebal terhadap air laut yang memercik, sementara mata mekanisnya yang berwarna merah darah mengunci posisi Juan dengan presisi dingin."Sepuluh tahun, Weaver," suara Silas terdengar melalui modulator eksternal, datar dan tanpa nyaw

  • Frekuensi Terlarang   Bab 11 🔥🥵

    Hujan di The Reef telah berhenti, menyisakan kabut garam yang tebal dan aroma karat yang semakin tajam. Juan berdiri di depan jendela kaca buram yang bergetar setiap kali ombak besar menghantam pilar-pilar rumah panggung mereka. Di layar pemindai saraf portabelnya, titik merah itu tidak lagi berkedip lambat; ia berdenyut dengan ritme predator yang telah mengunci mangsanya.The Restoration tidak lagi sekadar mencari; mereka sedang mengonvergensi.Lilia berdiri di pintu kamar, menatap punggung Juan yang tegang. Ia masih mengenakan kemeja linen putih yang sama, namun sorot matanya tidak lagi hanya berisi luka. Ada kewaspadaan yang tajam di sana, sisa-sisa insting Echo-02 yang merespons bahaya yang mendekat."Juan," panggil Lilia. Suaranya datar namun menuntut. "Kau tidak bisa menyembunyikan lampu merah itu dariku. Frekuensi di udara sudah berubah. Aku merasakannya di pangkal tengkorakku. Dingin dan tajam, seperti pisau bedah."Juan berbalik perlahan. Tangannya masih memegang chip memori

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status