Truk limbah kimia itu berhenti dengan sentakan kasar di pinggiran Sektor Abu-abu, wilayah di mana hukum korporasi Sektor 0 lumat oleh jelaga industri dan korosi yang abadi. Udara di sini terasa lebih berat, berasa logam yang menyengat paru-paru, jauh lebih buruk daripada atmosfer Distrik 9 yang pengap. Juan melompat turun lebih dulu, lalu menyambut tubuh Lilia yang masih tampak rapuh di bawah balutan jaket kulit kebesaran miliknya.
"Tetap dekat," bisik Juan. Suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin uap raksasa yang bekerja tanpa henti di kejauhan. "Sektor Abu-abu bukan tempat untuk orang yang ragu-ragu. Jika kau terlihat bingung, para pemulung data akan menguliti sarafmu sebelum kau sempat berteriak."
Lilia mengangguk, jemarinya mencengkeram lengan jaket Juan. Kakinya yang telanjang kini kotor oleh debu industri yang berwarna kelabu, namun ia tidak lagi gemetar. Residu sinkronisasi saraf yang mereka bagi di basement tadi masih meninggalkan jejak hangat di kepalanya—sebuah perasaan protektif yang terpancar dari Juan, yang kini ia hirup seperti oksigen.
Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong sempit yang dibentuk oleh tumpukan kontainer karatan dan pipa-pipa uap yang bocor. Di sini, tidak ada lampu neon biru yang cantik; hanya ada pijar oranye redup dari tungku pembuangan gas yang meletup-letup. Setelah melewati deretan gubuk seng yang dihuni oleh para pekerja kasar yang sarafnya sudah hangus, Juan berhenti di depan sebuah pintu besi yang terkunci rapat dengan sistem hidrolik kuno.
Pintu itu tidak memiliki pemindai retina atau sensor biometrik modern. Sebagai gantinya, ada sebuah lubang kecil untuk memasukkan punch card fisik—teknologi dari dua abad lalu.
Juan mengeluarkan sebuah kartu kecil berlubang dari saku rahasianya dan memasukkannya. Terdengar suara roda gigi yang berputar lambat, sebelum pintu itu bergeser terbuka dengan desis uap yang panas.
"Selamat datang di benteng kegilaan," gumam Juan saat mereka melangkah masuk.
Ruangan di balik pintu itu adalah sebuah paradoks. Di tengah Sektor Abu-abu yang primitif, terdapat sebuah laboratorium yang dipenuhi dengan ribuan monitor tabung sinar katoda (CRT) yang berkedip-kedip, menampilkan barisan kode hijau yang mengalir seperti hujan digital. Kabel-kabel tembaga melintang di langit-langit seperti sarang laba-laba raksasa, dan aroma kopi pahit bercampur dengan bau timah solder yang tajam.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria bertubuh kecil dengan kacamata berlensa ganda yang tebal sedang sibuk mengelas sebuah sirkuit. Ia tidak menoleh saat mereka masuk.
"Kau terlambat sepuluh tahun, Juan," suara pria itu melengking namun penuh dengan nada sinis yang tajam. "Dan kau membawa 'masalah' yang sangat indah di belakangmu."
"Vax," Juan menyapa pendek. "Aku butuh keahlianmu. Bukan ceramahmu."
Vax meletakkan alat lasnya dan berputar di kursi rodanya yang dimodifikasi dengan mesin uap kecil. Matanya yang besar di balik lensa kacamata menatap Lilia dengan rasa ingin tahu yang hampir bersifat predator. Ia mendekati Lilia, mengendus udara di sekitar wanita itu.
"Mawar hutan... ozon... dan aroma Project Echo yang sangat segar," Vax menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang kekuningan. "Kau benar-benar tahu cara mencari masalah yang artistik, Weaver."
"Bisakah kau membukanya?" Juan memotong, nada suaranya tidak sabar. "Ada enkripsi di dalam kepalanya. Sektor 0 mengirim The Reapers untuk menghapusnya. Aku butuh tahu apa yang ada di balik kekosongan itu."
Vax tertawa pendek, sebuah suara yang terdengar seperti amplas di atas kayu. "Membuka kunci Echo? Itu seperti mencoba menjinakkan lubang hitam dengan jarum jahit. Tapi, karena kau adalah satu-satunya orang yang pernah menyelamatkan sirkuit sarafku di masa lalu... aku akan mencobanya."
Vax memerintahkan Lilia untuk duduk di sebuah kursi besi yang dikelilingi oleh gulungan elektromagnetik. Berbeda dengan peralatan Juan yang bersifat klinis, peralatan Vax tampak seperti instrumen penyiksaan abad pertengahan yang digabungkan dengan superkomputer.
"Dengar, Nona Kanvas Kosong," kata Vax sambil memasangkan sensor-sensor tembaga ke pelipis Lilia. "Ini akan terasa seperti ribuan jarum yang menusuk ingatanmu yang tidak ada itu. Jika kau merasa jiwamu mulai pecah, pegang tangan Weaver-mu. Dia adalah satu-satunya kabel yang menghubungkanmu dengan realitas."
Juan berdiri di samping Lilia, menggenggam tangan wanita itu erat-erat. Lilia menatap Juan, mencari kepastian di mata abu-abunya. Juan mengangguk pelan, memberikan remasan kecil yang berarti 'aku di sini'.
Vax menarik tuas besar. Monitor-monitor di ruangan itu tiba-tiba berkedip liar. Suara dengung statis memenuhi ruangan, frekuensinya meningkat hingga mencapai titik yang menyakitkan telinga.
Lilia tersentak. Tubuhnya melengkung di atas kursi saat Vax mulai melakukan serangan brute force terhadap enkripsi di sarafnya. Di mata batin Lilia, kekosongan putih itu mulai retak. Gambar-gambar yang terfragmentasi muncul: sebuah laboratorium putih yang steril, wajah seorang pria tua yang menangis, dan suara tembakan yang bergema di ruangan tanpa jendela.
"Kuatkan dirimu, Lilia!" seru Juan.
Melalui genggaman tangan mereka, Juan bisa merasakan getaran saraf Lilia. Karena residu sinkronisasi mereka sebelumnya, Juan ikut terseret ke dalam visi tersebut. Ia melihat sebuah pintu baja dengan logo sebuah perusahaan yang sudah lama mati—Aethelgard Dynamics. Dan di balik pintu itu, ia melihat ribuan tabung berisi manusia yang sarafnya terhubung ke satu pusat.
"Proyek Echo..." bisik Juan dalam keadaan trans. "Itu bukan sekadar memori kolektif. Itu adalah jaringan kontrol pikiran global."
Tiba-tiba, monitor-monitor di laboratorium Vax mulai meledak satu per satu. Percikan api menyambar kabel-kabel di langit-langit.
"Sistemnya menyerang balik!" raung Vax, jemarinya menari liar di atas papan ketik mekanis. "Enkripsi ini memiliki firewall saraf yang bersifat parasit! Ia menghancurkan perangkat kerasku!"
"Jangan berhenti, Vax! Sedikit lagi!"
Lilia menjerit pelan, air mata mengalir dari matanya yang tertutup. Di pusat kesadarannya, ia melihat sebuah kode akses yang tertulis dengan darah di dinding ingatannya. 7-7-4-Echo-Zero.
Seketika, seluruh monitor di ruangan itu mati secara bersamaan. Keheningan yang mematikan jatuh ke laboratorium Vax. Lilia terkulai lemas di kursi, napasnya tersengal-sengal.
Vax melepaskan kacamatanya, wajahnya pucat dan penuh keringat. Ia menatap layar kecil yang masih menyala di sudut ruangan—satu-satunya yang selamat dari ledakan data tadi.
"Kau tahu apa yang baru saja kita buka, Juan?" suara Vax kini rendah dan penuh ketakutan. "Lilia bukan hanya wadah untuk data. Dia adalah kunci aktivasi. Dia adalah satu-satunya entitas yang bisa memerintahkan jaringan Echo untuk menyala... atau hancur."
Juan memandang Lilia yang masih belum sadarkan diri. Keintiman yang ia rasakan tadi, rasa ingin melindungi itu, kini berubah menjadi beban yang sangat berat. Wanita di depannya ini bukan sekadar pelarian; dia adalah pemicu bagi kiamat atau keselamatan dunia.
"Sektor 0 tidak membuangnya karena dia rusak," lanjut Vax, sambil gemetar menyalakan rokok tuanya. "Mereka membuangnya sebagai eksperimen sosial. Mereka ingin melihat apakah kunci ini bisa 'hidup' secara alami di Distrik 9 sebelum mereka mengambilnya kembali untuk aktivasi final. Dan kau, Juan... kau baru saja menyalakan pelacaknya kembali saat kau berhubungan saraf dengannya."
Juan mencengkeram rahangnya kuat-kuat. "Jadi, setiap kali aku menyentuhnya, setiap kali saraf kami bertautan, itu memperkuat sinyalnya bagi mereka?"
"Tepat sekali. Keintiman kalian adalah suar bagi The Reapers," jawab Vax pahit. "Kalian adalah pasangan yang paling romantis sekaligus paling berbahaya di planet ini."
Lilia membuka matanya perlahan. Ia mendengar segalanya. Ia menatap tangannya yang masih digenggam oleh Juan. Rasa hangat itu, yang tadinya terasa seperti surga, kini terasa seperti kutukan. Ia menarik tangannya pelan, sebuah gerakan yang membuat hati Juan terasa seperti diremas.
"Jadi, aku adalah senjata," bisik Lilia, suaranya hampa. "Dan kau... kau adalah orang yang tidak sengaja menarik pelatuknya."
Juan berlutut di depan Lilia, memaksanya untuk menatap matanya kembali. "Aku tidak peduli kau kunci atau senjata, Lilia. Di basement itu, kau meminta aku membuatkan memori baru. Dan memori itu nyata. Perasaan yang kita bagi itu nyata, melampaui kode apa pun yang mereka tanam di kepalamu."
Lilia menatap mata Juan, mencari kebohongan di sana, namun ia hanya menemukan kegelapan yang jujur dan tekad yang membara. Ia mendekatkan wajahnya, mencium kening Juan dengan kelembutan yang menyakitkan.
"Kalau begitu," kata Lilia, "jika keintiman kita adalah suar bagi mereka, biarkan kita terbakar begitu terang hingga mereka tidak bisa melihat apa-apa lagi."
Vax terbatuk, menginterupsi momen itu. "Sangat puitis. Tapi kita punya masalah teknis. Sektor 0 baru saja mengirimkan sinyal penguncian ke area ini. Sektor Abu-abu akan segera diisolasi. Jika kalian ingin hidup, kalian harus pergi ke pusat radiasi pabrik tua di Sektor Terlarang. Di sana, frekuensi Echo akan teredam sepenuhnya."
"Berapa lama kita punya waktu?" tanya Juan sambil membantu Lilia berdiri.
"Sekitar sepuluh menit sebelum pintu baja sektor ini dikunci secara permanen," Vax menunjuk ke arah pintu rahasia di balik tumpukan monitor. "Pergilah. Dan Juan... jika kau berhasil membuka pintu Aethelgard, pastikan kau menghapus kode sialan itu selamanya."
Juan mengangguk, menyambar tas taktisnya. Ia menatap Vax untuk terakhir kalinya—kontak lama yang mungkin baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri dengan membantu mereka.
"Terima kasih, Vax."
"Jangan berterima kasih. Kirimkan saja memori liburan yang indah jika kau selamat," Vax melambai tanpa menoleh, kembali ke monitornya yang rusak.
Juan dan Lilia berlari keluar, kembali ke labirin karat yang kini mulai dipenuhi dengan suara sirine peringatan yang menderu-deru. Hujan asam telah berubah menjadi badai, membilas jelaga dari tubuh mereka, sementara di belakang mereka, bayangan para pemburu mulai muncul kembali dari kabut industri.
Di tengah pelarian itu, di bawah ancaman isolasi total, Juan merangkul pinggang Lilia, menariknya melewati celah-celah pipa yang sempit. Di Sektor Abu-abu yang dingin ini, mereka menyadari bahwa setiap detik kebersamaan adalah sebuah pencurian—sebuah pemberontakan melawan sistem yang menginginkan mereka menjadi angka, bukan manusia yang saling mencintai.