分享

Bab 2 🥵🔥

作者: Madre Shine
last update publish date: 2026-03-03 16:00:24

Keheningan di dalam basement itu terasa pekat, seolah-olah udara sendiri telah membeku, hanya dipecah oleh dengung konstan dari mesin pendingin server yang bekerja keras menstabilkan aliran data ilegal milik Juan. Lilia masih mencengkeram rahang Juan, ibu jarinya mengusap bibir bawah pria itu dengan keberanian yang lahir dari ketidaktahuan. Ia tidak memiliki memori tentang bagaimana seharusnya seorang wanita bersikap di depan pria asing; yang ia miliki hanyalah insting murni—sebuah kebutuhan primitif yang meneriakkan bahwa pria di depannya ini adalah satu-satunya jangkar di tengah samudra kekosongan otaknya.

Juan memejamkan mata sejenak, mencoba memanggil sisa-sisa profesionalismenya yang terakhir. Sebagai seorang Memory Weaver, ia terbiasa membedah rahasia terdalam orang lain tanpa berkedip. Ia telah melihat fantasi paling gelap dan trauma paling mengerikan dalam bentuk bit digital yang dingin. Namun, kulit Lilia... kulitnya terasa terlalu nyata. Terlalu hangat untuk dunia yang sudah lama menjadi sintetis dan tak bernyawa.

"Kau tidak tahu apa yang kau minta, Lilia," geram Juan, suaranya lebih rendah satu oktav, bergema di dada bidangnya yang terbalut kaos hitam tipis.

"Aku tidak tahu apa-apa, Juan. Bukankah itu poinnya?" balas Lilia. Ia memajukan tubuhnya, membuat kursi operasi itu berdecit pelan di atas lantai beton. "Kau bilang aku kanvas kosong. Jadi, lukis sesuatu di sana. Aku ingin merasakan sesuatu yang bukan sekadar kekosongan."

Juan membuka matanya. Tatapan mereka terkunci di bawah lampu neon yang berkedip-kedip. Mata Juan yang berwarna abu-abu baja tampak berkilat dengan rasa lapar yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat di balik tembok sinisme. Ia menarik pinggang Lilia lebih kasar, membuat tubuh wanita itu menabrak dadanya dengan sentakan yang memutus jarak. Lilia tersentak pelan, napasnya tertahan, namun ia tidak menjauh. Sebaliknya, ia melingkarkan kakinya yang jenjang di pinggang Juan, menarik pria itu masuk ke dalam ruang pribadinya yang rapuh.

"Memori baru tidak gratis, Lilia. Di Distrik 9, kau membayar dengan segalanya," bisik Juan tepat di depan bibir Lilia, merasakan aroma mawar dan ozon yang kini bercampur dengan bau apak ruang bawah tanah.

"Ambil saja," tantang Lilia, suaranya hampir menyerupai desahan.

Juan tidak lagi menahan diri. Ia menyambar bibir Lilia dengan ciuman yang tidak memiliki kelembutan sama sekali—sebuah ciuman yang penuh dengan tuntutan, rasa penasaran, dan keputusasaan yang liar. Lilia membalasnya dengan intensitas yang mengejutkan, lidahnya menari dengan lidah Juan dalam tarian yang berantakan namun jujur. Ada rasa tembaga dari bibir yang sedikit pecah akibat ciuman kasar itu, namun rasa sakit itu justru menyulut api yang lebih besar di antara mereka.

Tangan Juan merayap turun, masuk ke bawah gaun sutra Lilia yang koyak. Jemarinya yang kasar, penuh dengan bekas luka kecil akibat tahunan bekerja dengan mesin-mesin saraf, menciptakan kontras yang tajam saat menyentuh paha dalam Lilia yang selembut satin. Lilia mengerang pelan, kepalanya terdongak ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang pucat di bawah temaram lampu.

Di titik inilah Juan menyadari ada sesuatu yang salah. Di pangkal leher Lilia, tepat di bawah garis rambut, terdapat sebuah port saraf—sebuah soket perak kecil yang tertanam rapi dalam kulitnya. Itu adalah teknologi militer tingkat tinggi, jenis interface yang seharusnya tidak dimiliki oleh warga sipil, apalagi seseorang yang dibuang begitu saja di Distrik 9.

"Siapa sebenarnya kau?" gumam Juan di sela-sela ciumannya pada leher Lilia yang wangi.

"Aku... milikmu sekarang," desah Lilia, jemarinya meremas rambut hitam Juan yang sedikit berantakan.

Juan melepaskan ciumannya, namun tangannya tetap mendekap Lilia dengan protektif. Ia berdiri, mengangkat tubuh Lilia yang ringan seolah wanita itu tidak memiliki beban materi sama sekali, lalu mendudukkannya di atas meja kerja yang penuh dengan kabel-kabel optik dan layar holografik yang menampilkan grafik tak terbaca. Di sekeliling mereka, data-data memori yang tercuri mengalir di udara seperti kunang-kunang biru yang redup.

"Jika aku memasukkan sensor ini ke otakmu," Juan mengambil sebuah kabel tipis dengan ujung jarum mikro-elektroda yang berkilau dingin, "kita tidak hanya akan berhubungan secara fisik. Aku akan bisa merasakan apa yang kau rasakan. Saraf kita akan bertautan. Kau akan merasakan hausku, dan aku akan merasakan kekosonganmu. Kau yakin ingin melakukannya?"

Lilia menatap jarum itu tanpa rasa takut, lalu kembali menatap mata Juan yang penuh kegelapan. Ia mengambil tangan Juan yang memegang jarum tersebut dan mengarahkannya sendiri ke port di lehernya.

"Buat aku merasa hidup, Juan. Meski itu menyakitkan."

Juan menarik napas panjang, mengaktifkan mesin Interface. Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi suara dengung frekuensi rendah yang membuat bulu kuduk berdiri. Dengan presisi seorang ahli bedah saraf yang bekerja di bawah bayang-bayang, ia memasukkan elektroda itu ke dalam soket di leher Lilia.

Seketika, sebuah ledakan sensorik menghantam mereka berdua.

Juan tersentak, punggungnya menegang saat sistem sarafnya terhubung langsung dengan Lilia. Di mata batinnya, ia tidak melihat gambar, melainkan kilasan cahaya putih yang menyilaukan, suara bising statis yang tak terbaca, dan rasa lapar yang teramat sangat—bukan hanya lapar akan makanan, tapi lapar akan eksistensi diri. Lilia berteriak pelan, tubuhnya melengkung indah saat ia merasakan arus kesadaran Juan mengalir masuk ke dalam dirinya seperti air bah yang menjebol bendungan.

Ia merasakan kekuatan Juan, kemarahannya pada dunia yang korup, dan kesepian pria itu yang selama ini terkunci rapat di balik tembok besi profesionalismenya. Lilia mencengkeram bahu Juan, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu, mencoba mencari pegangan saat realitas di sekitar mereka seolah mencair dan menyatu.

"Juan... aku bisa... melihatmu," bisik Lilia dengan mata terbelalak, meski batinnya sedang menjelajahi labirin pikiran Juan.

Juan tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa bertindak. Di bawah pengaruh sinkronisasi saraf yang mencapai 90%, setiap sentuhan fisik menjadi sepuluh kali lebih intens. Ketika Juan kembali mencium Lilia, ia bukan hanya merasakan tekstur bibir wanita itu, tapi ia juga merasakan bagaimana bibirnya sendiri terasa bagi Lilia melalui umpan balik saraf. Itu adalah loop kenikmatan yang memusingkan dan adiktif.

Tangannya menanggalkan sisa-sisa gaun Lilia, membiarkan kain sutra mahal itu jatuh ke lantai yang kotor dan berdebu. Di bawah cahaya biru neon, tubuh Lilia tampak seperti patung pualam yang sempurna, kontras dengan kekacauan kabel dan perangkat keras di sekeliling mereka. Juan melepaskan kaosnya, menunjukkan tubuhnya yang atletis namun penuh dengan tanda lahir dan bekas luka—peta permanen dari kehidupan yang keras di Distrik 9.

Saat mereka bersatu di atas meja kerja yang dingin itu, sensasinya melampaui batas fisik manusia biasa. Setiap gerakan Juan mengirimkan gelombang listrik langsung ke pusat kesadaran Lilia, dan setiap respons Lilia adalah gema yang memantul kembali ke otak Juan. Mereka bukan lagi dua individu yang terpisah; mereka adalah satu sirkuit tertutup yang membara, terbakar oleh frekuensi yang tidak seharusnya ada.

Dalam kegelapan basement itu, di tengah dentuman musik tekno yang sayup-sayup terdengar dari klub di atas sana, Juan dan Lilia menciptakan memori pertama mereka. Sebuah memori yang terbuat dari keringat, napas yang terputus-putus, dan koneksi saraf yang terlarang.

Namun, di balik layar monitor yang terlupakan di sudut ruangan, sebuah indikator merah mulai berkedip dengan ritme yang mencekam.

Signal Detected.

Seseorang, di suatu tempat di luar sana—mungkin di menara kaca Sektor 0—baru saja mendeteksi bahwa "kanvas kosong" yang mereka buang telah mulai terisi. Dan mereka tidak akan membiarkan karya seni yang hilang itu selesai tanpa perlawanan.

Juan menarik Lilia lebih dekat ke pelukannya, tidak menyadari bahwa setiap detik keintiman yang mereka bagi sekarang adalah suar pelacak yang menuntun para pemburu menuju pintu rahasia mereka.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Frekuensi Terlarang   Side Story 5 : Pesan dari Kedalaman (Kehidupan Rahasia Silas)

    Bau oli mesin yang menyengat bercampur dengan aroma tembakau murah adalah satu-satunya hal yang meyakinkan Silas bahwa ia masih bernapas. Di dalam bunker beton yang tersembunyi di balik tebing karang semenanjung Pasifik, waktu tidak diukur dengan putaran jam, melainkan dengan tetesan air laut yang merembes dari langit-langit dan frekuensi statis yang tertangkap oleh radio analog tuanya.Silas duduk di kursi besi yang sudah berkarat, memijat lutut kirinya—sebuah sambungan logam dan serat karbon yang kini mengeluarkan bunyi derit memilukan setiap kali ia bergerak. Ia bukan lagi sang pemburu kelas Oblivion yang ditakuti. Ia hanyalah sebuah monumen kegagalan teknologi Sektor 0 yang menolak untuk runtuh.Di depannya, deretan monitor kuno menampilkan garis-garis hijau yang bergetar. Ini adalah wilayah The Dead Zone, tempat di mana sinyal digital modern mati ditelan oleh anomali magnetik sisa ledakan The Ark. Di sini, Silas adalah raja dari segala hal yang terlupakan.Silas menyalakan cerutun

  • Frekuensi Terlarang   Side Story 4 : 4. Pelajaran Pertama di Sanctuary (Kisah Miri)

    Matahari di Sanctuary tidak pernah terbit dengan tergesa-gesa. Ia merayap malu-malu di balik puncak Pegunungan Putih, membiarkan kabut perak membelai dahan-dahan pohon raksasa The Eternal Weaver sebelum mengubah salju menjadi hamparan permata cair. Di bawah naungan pohon itu, Miri duduk bersila, jemari kecilnya sibuk mengurai benang sutra yang tersangkut di alat tenun kayunya.Enam bulan telah berlalu sejak langit Old Seoul berhenti berteriak. Enam bulan sejak "suara-suara" itu berhenti mencoba merobek jiwanya menjadi jutaan keping data. Namun, bagi Miri, keheningan bukanlah sesuatu yang datang secara alami. Keheningan adalah sesuatu yang harus ia tenun dengan susah payah setiap harinya.Di dalam nadinya, Gema Ketiga masih berdenyut. Ia tidak lagi berbentuk garis hitam yang menyiksa, melainkan pendaran biru laut yang tenang, seperti perpustakaan raksasa yang pintunya hanya terbuka jika Miri mengizinkannya."Ibu Lilia bilang, benang ini tidak boleh ditarik terlalu kencang," gumam Miri p

  • Frekuensi Terlarang   Side Story 3 : Di Sela Benang Perak (Mimpi Juan di Alam Bawah Sadar)

    Aku tidak lagi memiliki berat.Di sini, di ruang yang berada di antara denyut terakhir jantung biologisku dan baris pertama kode keabadian, gravitasi hanyalah sebuah saran yang tidak pernah kupatuhi. Aku melayang di dalam apa yang kusebut sebagai Arsip Kesadaran yang Tak Bertepi—sebuah perpustakaan tanpa dinding, tanpa lantai, dan tanpa langit-langit. Hanya ada rak-rak yang terbuat dari cahaya perak yang membentang ke segala arah, menyimpan jutaan buku yang tidak berisi tulisan, melainkan getaran murni.Setiap buku adalah sebuah memori. Dan setiap memori adalah sebuah benang.Aku menyentuh salah satu buku yang melayang melewatiku. Seketika, aku merasakan dinginnya air hujan di Distrik 9. Aku mendengar suara langkah kaki Lilia yang tergesa-gesa dan aroma kopi pahit yang selalu ia bawa. Aku tersenyum, meskipun aku tidak yakin apakah aku masih memiliki bibir untuk melakukannya.Di tengah keheningan yang berpendar ini, aku tidak sendirian. Dari balik bayang-bayang rak-rak perak, sesosok pr

  • Frekuensi Terlarang   Side Story 2 : 2. Protokol 0.0: Catatan Rahasia Sang Arsitek

    Lampu neon di langit-langit Laboratorium Sub-Level 9 berkedip dengan ritme yang menyerupai detak jantung yang sekarat. Di sini, di jantung Sektor 0, waktu seolah-olah membeku dalam cairan kriogenik yang berwarna biru pucat. Dr. Valerius mengusap kacamata peraknya yang berembun, menatap bayangan dirinya yang terpantul pada dinding kaca Tabung 0.0—wadah pertama dari apa yang nantinya akan dikenal dunia sebagai Sang Penenun Memori.Di dalam tabung itu, seorang pemuda—atau lebih tepatnya, sebuah struktur biologis yang menyerupai pemuda—melayang tanpa bobot. Kulitnya pucat, hampir transparan, menyingkapkan jalinan kabel saraf buatan yang berpendar keemasan di sepanjang tulang belakangnya. Ini bukan sekadar kloning; ini adalah kanvas kosong yang sedang dipersiapkan untuk menampung seluruh beban sejarah manusia.Valerius menghela napas, jemarinya yang gemetar menyentuh layar holografik di depannya. Sebuah baris kode enkripsi tingkat tinggi muncul, menari-nari dalam kegelapan ruangan.Pukul 03

  • Frekuensi Terlarang   Side Story 1 : Fragmen Besi dan Penyesalan (POV Silas)

    Dingin.Itulah satu-satunya hal yang masih bisa dirasakan oleh sel saraf Silas yang tersisa di balik lapisan zirah serat karbonnya. Kegelapan samudra Pasifik menyelimutinya seperti selimut besi yang berat, menekan setiap inci tubuh mekanisnya dengan jutaan ton beban yang tak terlihat. Di atas sana, The Ark baru saja meledak, mengirimkan jutaan keping baja panas yang kini tenggelam bersamanya seperti hujan meteor yang kehilangan arah.Silas menatap ke atas, atau setidaknya ke arah yang ia asumsikan sebagai permukaan. Mata mekanisnya yang sebelah kanan berkedip-kedip merah, mengirimkan peringatan Critical Pressure yang memenuhi sensor penglihatannya. Kaki kirinya—sebuah mahakarya teknologi penghancur Sektor 0—kini justru menjadi jangkar yang menyeretnya semakin dalam menuju palung yang tak berdasar."Kau menang, Weaver," gumam Silas, suaranya hanya berupa gelembung udara yang langsung pecah tertelan tekanan air.Silas terbatuk, dan rasa amis darah bercampur oli memenuhi masker pernapasan

  • Frekuensi Terlarang   Bab 35

    Salju di lereng Pegunungan Putih tidak lagi terasa seperti kristal es yang mematikan, melainkan seperti debu bintang yang jatuh untuk membasuh dosa-dunia. Lilia melangkah keluar dari pod darurat yang masih mengepulkan uap panas, kakinya yang gemetar tenggelam ke dalam timbunan salju yang empuk. Di belakangnya, reruntuhan stasiun luar angkasa Aethelgard Prime hancur berkeping-keping di atmosfer, menciptakan hujan meteor emas yang melintasi langit subuh dengan keindahan yang menyakitkan.Miri berdiri mematung di samping Lilia, napasnya membentuk kabut kecil di udara yang dingin dan murni. Matanya yang besar terbelalak, menatap lurus ke arah barisan pohon pinus yang seolah-olah baru saja terbangun dari tidur panjang selama seribu tahun. Di sana, di balik bayang-bayang dahan yang tertutup salju, sesosok anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun berdiri menatap mereka dengan ketenangan yang tidak wajar."Juan Kecil?" bisik Lilia, suaranya pecah di tengah keheningan pegunungan yang sakral

  • Frekuensi Terlarang   Bab 34

    Air laut yang mendidih bukan lagi sekadar metafora

  • Frekuensi Terlarang   Bab 33

    Udara di Old Soul tidak lagi memiliki aroma kehidu

  • Frekuensi Terlarang   Bab 32

    Langkah kaki Lilia bergema hampa di atas lantai logam yang dilapisi embun beku. Di sekelilingnya, ribuan tabung vertikal berjajar seperti pilar-pilar di katedral kematian, masing-masing berisi sosok pria yang sangat ia kenal. Cahaya biru pudar dari cairan kriogenik m

  • Frekuensi Terlarang   Bab 30

    Lilia merenggut tangan Miri dengan kasar, hingga gadis kecil itu tersentak dan nyaris terjatuh di atas tumpukan abu perak yang masih hangat. Di bawah cahaya fajar yang mulai menyapu permukaan kulit, garis emas di telapak tangan Miri berdenyut dengan ritme yang menger

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status