Compartilhar

Bab 5 🥵🔥

Autor: Madre Shine
last update Data de publicação: 2026-03-06 16:00:49

Gerbang hidrolik Sektor Abu-abu menutup dengan dentuman logam yang meredam suara sirine pengejar di belakang mereka. Juan dan Lilia terlempar ke dalam kegelapan yang lebih pekat, sebuah wilayah yang bahkan para pemulung data paling nekat pun enggan menginjakkan kaki: Sektor Terlarang.

Di sini, sisa-sisa perang saraf sepuluh tahun lalu masih berdenyut di udara. Atmosfernya terasa tebal, bermuatan listrik statis yang membuat bulu kuduk berdiri dan kulit terasa perih. Bangunan-bangunan pabrik raksasa di sini tidak lagi tegak lurus; mereka melengkung dan meleleh akibat senjata termal, menciptakan siluet monster baja yang membeku dalam kesakitan.

"Jangan sentuh dinding apa pun," bisik Juan. Napasnya membentuk uap kelabu di udara yang membeku. "Logam di sini sudah bermutasi secara molekuler. Jika kau menyentuhnya, sensor sarafmu bisa menangkap residu memori dari mesin-mesin yang hancur. Itu bisa membuat otakmu hangus dalam hitungan detik."

Lilia merapatkan jaket kulit Juan ke tubuhnya. Kakinya yang telanjang kini menginjak hamparan abu industri yang tebal dan lembut seperti salju hitam. Ia bisa merasakan frekuensi di kepalanya melambat, meredup di bawah tekanan radiasi sektor ini. Sinyal pelacak Sektor 0 mungkin buta di sini, tapi harga yang harus mereka bayar adalah isolasi total dari realitas yang mereka kenal.

Mereka berjalan melewati bangkai robot-robot tempur yang berkarat, tangan-tangan mekanis mereka mencuat dari tanah seperti peminta-minta yang mati. Setelah berjam-jam menembus kabut beracun, Juan menemukan sebuah bungker perlindungan darurat di bawah reruntuhan menara pendingin.

Bunker itu kecil, lembap, dan dipenuhi dengan tumpukan kabel sisa yang sudah tidak berarus. Juan menyalakan sebuah lampu suar kimia kecil yang mengeluarkan cahaya oranye hangat yang statis. Ia segera memeriksa kondisi Lilia. Wanita itu tampak pucat pasi, tubuhnya gemetar bukan hanya karena dingin, tapi karena tekanan sensorik dari lingkungan sekitar.

"Lilia, lihat aku," Juan memegang kedua bahu Lilia, memaksanya duduk di atas tumpukan terpal tua.

Lilia mendongak, matanya yang besar tampak berkaca-kaca. "Rasanya... sepi sekali di sini, Juan. Di Distrik 9, ada bising yang menenangkan. Di sini, aku merasa seperti sedang tenggelam dalam sumur yang tak berdasar."

Juan tahu apa yang terjadi. Tanpa sinyal luar, interface di leher Lilia mulai mencari koneksi secara liar, menciptakan rasa lapar saraf yang menyiksa. Satu-satunya cara untuk menstabilkannya adalah dengan memberikan input fisik yang kuat—sebuah jangkar realitas.

"Aku di sini," gumam Juan.

Ia duduk di depan Lilia, melepaskan jaket kulitnya sendiri hingga hanya menyisakan kaos tipis yang lembap oleh keringat dan hujan asam. Ia menarik tangan Lilia yang dingin, menempelkannya ke dadanya yang bidang. Lilia bisa merasakan detak jantung Juan yang kuat dan konstan—sebuah frekuensi yang jauh lebih nyata daripada kode digital mana pun.

Lilia bergerak maju, seolah-olah ditarik oleh gaya magnet yang tak tertahankan. Ia menyandarkan kepalanya di ceruk leher Juan, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan bau debu industri dan keringat. Sentuhan kulit ke kulit itu mengirimkan gelombang kejutan kecil melalui saraf mereka yang masih bertautan secara sisa.

Juan melingkarkan lengannya di pinggang Lilia, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Jarinya yang kasar merayap naik ke tengkuk Lilia, mengusap lembut di sekitar port perak yang masih berdenyut kemerahan. Lilia mengerang pelan, sebuah suara yang penuh dengan kelegaan sekaligus rasa haus yang mendalam.

"Sakitnya... mulai hilang," bisik Lilia di telinga Juan.

Juan memiringkan kepalanya, bibirnya menyentuh telinga Lilia, lalu turun ke garis rahangnya yang halus. "Ini adalah risiko kita, Lilia. Di dunia yang sudah hancur ini, kita adalah satu-satunya baterai bagi satu sama lain."

Hasrat yang bangkit di antara mereka di Sektor Terlarang ini terasa berbeda. Jika di basement tadi itu adalah tentang penemuan, maka di sini itu adalah tentang pertahanan hidup. Di tengah reruntuhan peradaban, keintiman fisik menjadi satu-satunya bukti bahwa mereka masih hidup, bukan sekadar algoritma yang berlari di dalam sirkuit korporasi.

Tangan Juan menyusup ke bawah gaun sutra Lilia yang kini kotor, meraba lekuk punggungnya dengan intensitas yang lebih dalam. Lilia membalasnya dengan cengkeraman yang lebih erat, kuku-kukunya menekan punggung Juan seolah takut pria itu akan menguap menjadi kabut statis jika ia melepaskannya.

Juan menanggalkan sisa pakaian Lilia dengan gerakan yang penuh pemujaan namun penuh gairah yang tertahan. Di bawah cahaya oranye lampu suar, tubuh Lilia tampak seperti karya seni pualam yang tersesat di tumpukan sampah besi. Juan menciumi setiap jengkal kulit Lilia—dari pundaknya yang rapuh hingga ke lekuk pinggangnya—meninggalkan jejak panas yang membakar kedinginan yang tadi menyelimuti mereka.

Saat Juan menyatukan tubuh mereka di atas terpal kasar itu, sebuah ledakan sensorik kembali menghantam. Namun kali ini, karena gangguan radiasi di Sektor Terlarang, sinkronisasi mereka tidak menampilkan data atau visi. Yang ada hanyalah perasaan murni: rasa cinta yang pedih, ketakutan akan kehilangan, dan keinginan untuk saling memiliki selamanya.

Setiap gerakan Juan adalah sebuah janji bahwa ia tidak akan membiarkan Sektor 0 mengambil Lilia kembali. Lilia mendongak, matanya terpejam erat saat ia merasakan energi Juan mengalir masuk, mengisi kekosongan di kepalanya dengan memori tentang sentuhan, napas yang terengah, dan bisikan nama yang tulus.

Di puncak penyatuan mereka, Lilia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: sebuah identitas. Ia bukan lagi "Subjek Echo", ia bukan lagi "Kanvas Kosong". Ia adalah wanita yang dicintai oleh pria bernama Juan. Dan bagi Lilia, itu lebih dari cukup untuk menentang seluruh dunia.

Beberapa jam kemudian, mereka berbaring berdampingan di bawah selimut terpal yang sama. Bunker itu kini terasa hangat, seolah-olah gairah mereka telah memanaskan dinding-dinding beton yang dingin. Juan mengusap rambut Lilia yang berantakan, sementara Lilia menggambar pola abstrak di dada Juan dengan jarinya.

"Juan," panggil Lilia pelan.

"Ya?"

"Jika Project Echo adalah jaringan kontrol pikiran... dan aku adalah kuncinya... apakah itu berarti aku bisa menghentikan semua ini? Semua kehancuran di luar sana?"

Juan terdiam. Ia menatap langit-langit bunker. "Secara teori, ya. Tapi itu berarti kau harus menghubungkan dirimu kembali ke pusat Aethelgard. Kau harus masuk kembali ke sistem yang telah menghapus dirimu."

"Aku siap," kata Lilia tegas. Ia bangkit sedikit, menatap mata Juan dengan tekad yang baru. "Aku tidak ingin kita terus melarikan diri seperti ini. Aku ingin kita memiliki dunia di mana kita bisa bersentuhan tanpa takut sinyal pelacak."

Juan menarik Lilia kembali ke pelukannya, mencium keningnya dengan penuh kasih. "Kita akan melakukannya bersama. Tapi untuk sekarang, biarkan aku menjagamu sebentar lagi. Di sektor ini, waktu terasa berhenti, dan aku ingin menikmati setiap detiknya bersamamu."

Namun, keheningan mereka terganggu oleh suara statis yang tiba-tiba meledak dari tas taktis Juan. Perangkat komunikasi radio tua yang ia bawa mulai menangkap frekuensi yang tidak seharusnya ada di Sektor Terlarang.

“...Subjek... terdeteksi... pola panas... stabil... di koordinat... 0-9-B...”

Juan segera bangkit, wajahnya kembali menegang. "Mereka tidak menggunakan sonar atau pelacak saraf. Mereka menggunakan satelit infra-merah jarak jauh. Mereka membakar awan di atas kita untuk melihat ke bawah."

Lilia segera memakai pakaiannya, rasa takut kembali merayap di dadanya. "Bagaimana mereka bisa secepat itu?"

"Vax benar. Keintiman kita memperkuat frekuensi Echo-mu. Saat sarafmu mencapai puncak sinkronisasi tadi, kau menyala di radar mereka seperti kembang api di malam hari." Juan menyambar pistol pulsanya. "Kita harus bergerak sekarang. Menuju pusat radiasi yang lebih dalam, di mana badai ion akan menutupi panas tubuh kita."

Mereka keluar dari bunker, kembali ke labirin besi yang kini tampak lebih menyeramkan di bawah sorotan lampu satelit yang samar-membelah awan di atas. Sektor Terlarang bukan lagi tempat persembunyian; ia telah menjadi arena perburuan.

Juan menggandeng tangan Lilia, berlari menembus kabut beracun. Di belakang mereka, suara deru mesin drone tempur mulai terdengar, memecah keheningan zona sunyi. Pertaruhan mereka semakin tinggi, dan di dunia yang dingin ini, satu-satunya hal yang membuat mereka tetap hangat adalah genggaman tangan yang tidak akan pernah mereka lepaskan, hingga akhir dari semua frekuensi ini.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Frekuensi Terlarang   Bab 16

    Lembah Kabut tidak pernah tidur dalam kesunyian yang jujur. Di sini, di bawah bayang-bayang tebing raksasa yang tampak seperti taring bumi yang patah, udara tidak hanya dingin—ia bermuatan listrik. Kabut yang menyelimuti lembah ini bukan sekadar uap air; ia adalah sup partikel nano dan residu frekuensi yang ditinggalkan oleh eksperimen-eksperimen gagal Dr. Valerius di masa lalu. Bagi manusia biasa, tempat ini adalah labirin yang mematikan bagi sistem pernapasan. Namun bagi Juan, sang Memory Weaver, aroma ozon dan statis ini terasa seperti rumah yang pahit. Juan merangkak melalui celah sempit di antara dua pipa pembuangan panas yang sudah berkarat. Napasnya teratur, sebuah teknik yang ia pelajari dari para pelarian di The Fringe untuk meminimalkan deteksi sensor gerak. Di bawah sana, di pusat lembah, struktur Laboratorium Bio-Resonator menjulang seperti bunga lotus mekanis yang baru saja mekar di tengah kolam limbah. Kelopak-kelopak bajanya

  • Frekuensi Terlarang   Bab 15

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak lagi terasa seperti ancaman yang mematikan. Sejak malam The Great Uplift, es di sini seolah menyimpan kehangatan sisa—sebuah resonansi termal yang tertinggal setelah pilar cahaya Lilia menembus atmosfer dan merobek tatanan lama dunia. Juan berdiri di bibir tebing, menatap ke bawah ke arah lembah yang dulu tertutup jelaga industri, kini tampak seperti hamparan perak yang sedang bernapas. ​Enam bulan telah berlalu sejak dunia "terbangun". Tidak ada lagi kabut asap beracun yang tebal dari Distrik 9; dari ketinggian ini, kota-kota di bawah sana tampak seperti sirkuit raksasa yang sedang mengalami reboot total. Lampu-lampu neon yang dulu berkedip agresif dengan iklan-iklan korporasi kini bersinar dengan ritme yang lebih tenang, mengikuti frekuensi denyut jantung planet yang baru. Dunia menyebutnya sebagai fajar kemanusiaan yang kedua, namun bagi Juan, ini adalah awal dari kesunyian yang paling bising dalam hidupnya. ​

  • Frekuensi Terlarang   Bab 14 🔥🥵

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak terasa dingin bagi Lilia; ia justru terasa seperti butiran data yang membeku, menyentuh kulitnya dengan frekuensi yang sunyi. Di ketinggian ini, di mana oksigen menipis dan dunia di bawah sana tampak seperti hamparan luka yang menganga, Lilia berdiri di depan gerbang Observatorium Valerius. Struktur itu tampak seperti mata raksasa yang menatap ke langit, terbuat dari kaca kristal dan kuningan yang telah menghitam oleh waktu, bersembunyi di dalam pelukan tebing es yang curam. ​Juan mematikan mesin crawler yang terbatuk untuk terakhir kalinya. Asap hitam mengepul dari kap mesin, segera disapu oleh angin pegunungan yang ganas. Ia turun dengan langkah berat, pistol pulsanya tersampir di pinggang, dan matanya terus memindai lereng di bawah mereka. Di kejauhan, titik-titik hitam mulai merayap naik menembus badai salju—pasukan The Restoration telah tiba, dan mereka membawa mesin pembantai yang lebih besar dari sebelumnya. ​"Juan," panggil Lilia. Sua

  • Frekuensi Terlarang   Bab13 🔥🥵

    Sisa-sisa api di cakrawala The Reef perlahan memudar, digantikan oleh fajar yang dingin dan berkabut. Kapal induk The Harvester kini hanyalah bangkai baja raksasa yang tenggelam di pelukan samudra, memuntahkan cairan pendingin berwarna neon yang mencemari buih ombak. Di daratan, Juan dan Lilia tidak menunggu perayaan. Mereka tahu bahwa di dunia yang dikendalikan oleh algoritma, kemenangan hanyalah jeda singkat sebelum sistem melakukan reboot.Mereka meninggalkan pesisir itu menggunakan sebuah crawler mekanis tua—kendaraan darat bermesin pembakaran internal yang kasar, tanpa satu pun sirkuit digital yang bisa dilacak oleh satelit Sektor 0. Juan memacu mesin itu menembus jalur tikus di antara tebing karang, menjauh dari aroma garam menuju pedalaman yang berdebu.Lilia duduk di kursi penumpang, tubuhnya dibungkus selimut wol tebal yang masih berbau asap ledakan. Matanya yang cokelat kini seringkali memancarkan kilatan hijau samar, bukan lagi karena serangan Echo-01, melainkan karena ener

  • Frekuensi Terlarang   Bab 12 🥵🔥

    Langit di atas The Reef bukan lagi kelabu; ia telah berubah menjadi kanvas neraka yang terbakar. Cahaya dari ledakan ranjau minyak di permukaan laut memantulkan warna jingga darah pada kabut elektronik yang diciptakan Juan. Di tengah kekacauan itu, kapal induk The Restoration—sebuah struktur monolitik berbentuk cakram raksasa yang dikenal sebagai The Orbital Harvester—perlahan turun menembus awan jelaga, mengeluarkan dengung frekuensi rendah yang membuat pasir pantai bergetar seperti ribuan semut yang gelisah.Juan berdiri di garis air, napasnya memburu, uap panas keluar dari mulutnya yang berlumuran darah. Di depannya, Silas melangkah maju dengan keanggunan seorang predator yang terbuat dari baja dan dendam. Zirah taktisnya yang berwarna perak gelap tampak kebal terhadap air laut yang memercik, sementara mata mekanisnya yang berwarna merah darah mengunci posisi Juan dengan presisi dingin."Sepuluh tahun, Weaver," suara Silas terdengar melalui modulator eksternal, datar dan tanpa nyaw

  • Frekuensi Terlarang   Bab 11 🔥🥵

    Hujan di The Reef telah berhenti, menyisakan kabut garam yang tebal dan aroma karat yang semakin tajam. Juan berdiri di depan jendela kaca buram yang bergetar setiap kali ombak besar menghantam pilar-pilar rumah panggung mereka. Di layar pemindai saraf portabelnya, titik merah itu tidak lagi berkedip lambat; ia berdenyut dengan ritme predator yang telah mengunci mangsanya.The Restoration tidak lagi sekadar mencari; mereka sedang mengonvergensi.Lilia berdiri di pintu kamar, menatap punggung Juan yang tegang. Ia masih mengenakan kemeja linen putih yang sama, namun sorot matanya tidak lagi hanya berisi luka. Ada kewaspadaan yang tajam di sana, sisa-sisa insting Echo-02 yang merespons bahaya yang mendekat."Juan," panggil Lilia. Suaranya datar namun menuntut. "Kau tidak bisa menyembunyikan lampu merah itu dariku. Frekuensi di udara sudah berubah. Aku merasakannya di pangkal tengkorakku. Dingin dan tajam, seperti pisau bedah."Juan berbalik perlahan. Tangannya masih memegang chip memori

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status