Share

Bab 6

Penulis: Madre Shine
last update Tanggal publikasi: 2026-03-10 21:00:50

Kabut di Sektor Terlarang tidak lagi sekadar diam. Ia mulai berputar, teraduk oleh gelombang frekuensi rendah yang membuat gendang telinga Juan berdenging nyeri. Di bawah siraman cahaya satelit yang sesekali membelah awan jelaga, bayangan-bayangan di sekitar mereka mulai tampak bergerak. Namun, itu bukan pengejar dari Sektor 0. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih menyedihkan, sekaligus lebih berbahaya.

"Tahan napasmu, Lilia," bisik Juan, tangannya mencengkeram pistol pulsa hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka ada di sini."

Lilia merapat, punggungnya menempel pada dada Juan. "Siapa mereka? Aku merasakan... kesedihan yang sangat hebat di udara."

"Mereka disebut The Echoes," jawab Juan dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Produk gagal dari fase pertama proyek yang ada di kepalamu. Manusia-manusia yang sarafnya tidak mampu menahan beban data kolektif. Otak mereka terbakar, meninggalkan cangkang yang hanya bisa mengulang-ulang memori terakhir sebelum mereka hancur."

Dari balik reruntuhan tangki bahan bakar, muncul sesosok manusia. Tubuhnya terbalut compang-camping kain industri, namun yang mengerikan adalah kabel-kabel saraf yang menjuntai dari lubang-lubang di kepalanya seperti tentakel yang membusuk. Matanya tidak memiliki pupil, hanya cahaya biru redup yang berkedip tak beraturan—frekuensi yang sekarat.

"...pergi ke sekolah... ibu menunggu... pergi ke sekolah... ibu menunggu..."

Suara itu keluar dari tenggorokan sosok itu, namun bukan seperti suara manusia, melainkan seperti rekaman pita kaset yang rusak dan terdistorsi. Kemudian, satu sosok lagi muncul dari kegelapan, lalu lima, lalu belasan. Mereka bergerak terseret-seret, membentuk lingkaran yang mengepung Juan dan Lilia.

Lilia menutup telinganya. Di dalam kepalanya, port saraf di tengkuknya mulai beresonansi secara liar. Karena Lilia adalah "Kunci Utama", kehadirannya bagi para Echoes ini seperti oase di tengah padang pasir. Mereka tidak ingin membunuhnya; mereka ingin "menyambung". Mereka ingin merasakan kembali keutuhan memori yang ada di dalam diri Lilia.

"Berikan... kami... sedikit... cahaya..." rintih mereka secara serempak. Suara kolektif itu menghantam kesadaran Lilia seperti gelombang pasang.

"Mundur!" teriak Juan, melepaskan tembakan peringatan ke udara. Percikan listrik pulsa menerangi wajah-wajah hancur di sekeliling mereka. "Lilia, jangan biarkan mereka menyentuhmu! Jika mereka melakukan sinkronisasi paksa, mereka akan menarik seluruh energimu hingga kau menjadi seperti mereka!"

Namun, Lilia terpaku. Ia melihat seorang wanita di antara kerumunan itu, yang terus-menerus mengulang memori tentang menggendong bayi yang tidak ada. Rasa sakit wanita itu merambat melalui frekuensi saraf Lilia, memicu empati yang terlalu besar untuk ditanggung oleh kanvas yang baru saja mulai terisi.

"Mereka menderita, Juan," bisik Lilia, air mata mengalir di pipinya. "Aku bisa merasakan kekosongan mereka."

"Kau tidak bisa menyelamatkan mereka, Lilia! Fokus padaku!" Juan memutar tubuh Lilia, memaksanya menatap matanya. "Jika kau menyerah sekarang, Sektor 0 menang. Kita harus sampai ke fasilitas Aethelgard."

Tiba-tiba, salah satu Echoes melompat dengan kecepatan yang tidak terduga. Juan menendang dada sosok itu dan menembaknya hingga terpental, namun jumlah mereka terlalu banyak. Mereka mulai merangkak maju, didorong oleh insting parasit yang tak tertahankan.

Juan menarik Lilia berlari menuju sebuah jembatan gantung tua yang menghubungkan zona industri dengan kompleks Aethelgard. Jembatan itu bergoyang hebat ditiup angin badai ion, baut-bautnya yang berkarat mengerang seolah akan lepas kapan saja.

"Cepat, Lilia! Ke atas!"

Mereka berlari di atas plat besi yang licin. Di belakang mereka, The Echoes mengikuti dengan gerakan yang tidak lagi manusiawi—mereka merangkak di kabel-kabel jembatan seperti laba-laba. Juan melepaskan tembakan pulsa berkali-kali, menghancurkan tumpuan jembatan di belakang mereka untuk menghambat pengejaran.

Di tengah jembatan, Lilia jatuh tersungkur. Rasa bising di kepalanya mencapai puncaknya. Ia bisa melihat jalinan kabel digital yang tak terlihat di udara, menghubungkan setiap sosok tragis di belakangnya dengan dirinya sendiri. Ia merasa berat, seolah-olah ia sedang menyeret ribuan jiwa di pundaknya.

Juan berlutut di sampingnya, mencoba mengangkatnya. "Sedikit lagi, Lilia! Lihat ke depan, fasilitas itu sudah terlihat!"

Di seberang jembatan, sebuah bangunan masif berbentuk piramida terbalik yang setengah hancur menjulang di balik kabut. Itulah pusat fasilitas Aethelgard.

"Aku... tidak kuat, Juan... mereka terlalu banyak," isak Lilia.

Juan melihat para Echoes sudah hampir mencapai mereka. Ia tahu ia tidak bisa melawan mereka semua dengan senjata. Ia butuh sesuatu yang lebih kuat. Ia butuh keintiman mereka kembali—bukan untuk kenikmatan, tapi sebagai senjata pelindung.

"Lilia, dengarkan aku. Kita harus melakukan sinkronisasi balik," Juan mencengkeram wajah Lilia dengan kedua tangannya yang kasar namun gemetar. "Aku akan masuk ke frekuensimu dan membantu memblokir mereka dari dalam. Tapi ini akan menyakitkan bagi kita berdua."

"Lakukan," jawab Lilia tegas di tengah tangisnya.

Juan mendekatkan wajahnya, mencium Lilia dengan kasar di tengah badai ion. Di saat yang sama, ia menekan sensor di pergelangan tangannya untuk memaksa interkoneksi jarak dekat. Arus listrik statis dari atmosfer Sektor Terlarang ikut terserap masuk ke dalam tubuh mereka.

Dalam benak mereka, Juan melihat ribuan benang hitam yang mencoba masuk ke dalam cahaya perak Lilia. Dengan kehendaknya sebagai seorang Weaver, Juan mulai "menenun" pelindung. Ia menggunakan memori tentang malam-malam mereka, tentang sentuhan di bungker, dan tentang rasa lapar akan kebebasan sebagai bahan baku untuk membangun dinding api saraf.

"PERGI!" raung Juan di dalam jaringan kolektif itu.

Sebuah ledakan energi kinetik terpancar dari tubuh mereka. Gelombang kejut itu menghantam para Echoes, memutus koneksi parasit mereka dan membuat mereka terpental jatuh dari jembatan ke dalam jurang limbah di bawah sana.

Keheningan jatuh seketika.

Juan dan Lilia terengah-engah, masih berpelukan di tengah jembatan yang bergoyang. Juan merasakan tubuhnya sangat lemah; melakukan counter-weave terhadap ribuan pikiran sekaligus hampir menghancurkan otaknya sendiri.

Mereka mencapai ujung jembatan tepat saat gerbang otomatis piramida Aethelgard mendeteksi kehadiran Lilia. Sensor kuno menyapu wajahnya dengan laser merah, dan suara komputer yang tenang bergema dari dinding-dinding beton yang berlumut.

"Selamat datang kembali, Subjek Echo-02. Status: Terkontaminasi. Protokol Pembersihan Diperlukan."

Pintu baja raksasa itu bergeser terbuka, menyingkap lorong panjang yang diterangi oleh lampu-lampu darurat yang berkedip. Udara di dalam sini terasa berbeda—steril, dingin, dan dipenuhi aroma zat kimia yang mengingatkan Lilia pada mimpi buruknya.

"Kita di dalam," bisik Juan, menyandarkan tubuhnya pada dinding. Darah mengalir dari hidungnya akibat tekanan saraf yang berlebihan.

Lilia segera memeluknya, menyeka darah itu dengan jemarinya. "Kau berkorban terlalu banyak untukku, Juan. Kenapa?"

Juan menatap Lilia dengan tatapan yang kini lebih lembut, meski matanya tampak lelah. "Karena kau adalah satu-satunya hal yang nyata yang pernah aku temukan di dunia yang penuh kepalsuan ini. Jika aku harus menjadi buta untuk memastikan kau bisa melihat dunia dengan matamu sendiri, maka aku akan melakukannya."

Lilia mencium bibir Juan—sebuah ciuman yang tenang, penuh rasa terima kasih dan komitmen. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi buta. Kita akan menyelesaikan ini bersama."

Mereka berjalan masuk ke dalam jantung piramida. Di sepanjang lorong, mereka melihat tabung-tabung eksperimen yang sudah pecah, kerangka manusia yang masih mengenakan seragam laboratorium, dan ribuan layar yang menampilkan data kegagalan Proyek Echo.

Namun, di ujung lorong, di ruang kendali utama, sebuah kejutan menunggu mereka. Di tengah ruangan, duduk di kursi singgasana yang terbuat dari jalinan kabel saraf, adalah sesosok hologram yang sangat mirip dengan Lilia, namun dengan tatapan mata yang lebih dingin dan tak bernyawa.

"Kau terlambat, Adikku," suara hologram itu menggema. "Aku adalah Echo-01. Versi yang kau pikir sudah dihapus. Dan aku telah menunggu kunci ini selama sepuluh tahun untuk menyalakan kembali dunia yang sempurna ini."

Juan mengangkat pistolnya, namun ia merasakan tubuhnya mendadak lumpuh. Ruangan itu memiliki penekan saraf aktif.

"Lilia," gumam Juan, "ini perangmu yang sebenarnya."

Lilia melangkah maju, melepaskan jaket Juan dan membiarkannya jatuh ke lantai. Di bawah cahaya lampu laboratorium yang pucat, gaun sutranya yang compang-camping tampak seperti zirah bagi seorang pejuang yang bangkit dari kematian. Ia menatap hologram kakaknya—manifestasi dari semua kegagalan dan penderitaan yang ada di kepalanya.

"Dunia ini tidak akan pernah sempurna jika dibangun di atas penghapusan jiwa, Echo-01," suara Lilia kini stabil, bergaung dengan kekuatan yang tidak lagi berasal dari kode, melainkan dari pengalaman hidupnya yang singkat namun intens bersama Juan.

Di tengah pusat fasilitas Aethelgard yang terbengkalai, pertempuran terakhir antara memori yang diprogram dan perasaan yang diperjuangkan akan segera dimulai. Dan Juan, yang terbaring lemah di lantai, hanya bisa berharap bahwa frekuensi cinta yang ia tanamkan pada Lilia cukup kuat untuk mengalahkan dinginnya logika mesin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Frekuensi Terlarang   Bab 34

    Air laut yang mendidih bukan lagi sekadar metafora; air itu benar-benar menguap, menciptakan dinding kabut panas yang memerangkap kapal motor tua itu dalam sangkar keputihan yang menyesakkan. Di tengah dek yang miring tajam, Miri tampak seperti fatamorgana yang sedang terkikis oleh angin kencang. Tubuh kecilnya tidak lagi memantulkan cahaya; ia justru menghisap cahaya di sekelilingnya, menjadi siluet transparan yang menyingkapkan jalinan sirkuit saraf berwarna perak di mana seharusnya tulang dan darah berada. Lilia merayap di atas dek yang licin oleh oli dan air garam, jemarinya mencakar kayu yang mulai lapuk demi mencapai sosok kristal emas yang berdiri kaku. Juan tidak menoleh, namun getaran dari tubu

  • Frekuensi Terlarang   Bab 33

    Udara di Old Soul tidak lagi memiliki aroma kehidupan; yang tersisa hanyalah rasa logam berkarat yang menempel di pangkal lidah dan debu abu-abu yang terasa seperti gigitan piksel di permukaan kulit. Lilia terbatuk, menutupi hidungnya dengan syal yang sudah koyak, sementara matanya terus memindai reruntuhan gedung pencakar langit yang kini tampak seperti tulang-belulang raksasa yang hangus. Di sampingnya, Miri berjalan dengan langkah gontai, jemari kecilnya mencengkeram erat ujung jaket Lilia seolah-olah dunia ini bisa menelannya kapan saja. Tiba-tiba, Lilia merasakan sensasi tajam di pergelangan tangannya, seperti sengatan ribuan jarum mikro yang dialiri listrik statis. Ia menunduk dan melihat sebutir

  • Frekuensi Terlarang   Bab 32

    Langkah kaki Lilia bergema hampa di atas lantai logam yang dilapisi embun beku. Di sekelilingnya, ribuan tabung vertikal berjajar seperti pilar-pilar di katedral kematian, masing-masing berisi sosok pria yang sangat ia kenal. Cahaya biru pudar dari cairan kriogenik menerangi wajah-wajah yang tertidur itu—rahang yang tegas, garis hidung yang identik, dan jemari yang dulu pernah menenun memori di pangkal saraf Lilia.Setiap tabung memiliki label digital yang berkedip pelan:VESSEL-04: BATCH 91, VESSEL-04: BATCH 92, terus berlanjut hingga ke ujung cakrawala ruangan yang tak berujung. Lilia menyentuh permukaan kaca salah satu tabung, merasakan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, sementara jantungnya berdegup kencang oleh horor yang tak terlukiskan."Juan..." bisik Lilia, suaranya pecah di tengah kesunyian laboratorium yang steril.Ia me

  • Frekuensi Terlarang   Bab 31

    "Jangan percaya padanya!"Suara itu bukan sekadar getaran udara yang melewati pengeras suara Uplink. Itu adalah petir yang menyambar langsung ke pusat saraf Lilia, membawa frekuensi yang begitu identik dengan suaranya sendiri hingga dadanya terasa sesak. Pesan dari masa depan itu bergema di antara pepohonan yang meranggas, menciptakan distorsi visual yang membuat bayangan Aria tampak memanjang dan bergetar seperti gangguan pada kaset lama.Lilia tersentak mundur, tangannya yang memegang pistol pulsa gemetar hebat hingga sendi-sendinya memutih. Matanya beralih dengan cepat antara layar Uplink yang berkedip merah dan sosok Aria yang berdiri tenang di tengah remang malam."Lilia, apa yang kau dengar itu hanyalah umpan," kata Aria, suaranya tetap l

  • Frekuensi Terlarang   Bab 30

    Lilia merenggut tangan Miri dengan kasar, hingga gadis kecil itu tersentak dan nyaris terjatuh di atas tumpukan abu perak yang masih hangat. Di bawah cahaya fajar yang mulai menyapu permukaan kulit, garis emas di telapak tangan Miri berdenyut dengan ritme yang mengerikan—sebuah detak jantung biner yang seharusnya sudah terkubur di dasar samudra bersama Juan. Garis itu tidak hanya diam di permukaan; ia tampak hidup, merayap di bawah jaringan nadi seperti cacing cahaya yang lapar, mencari jalan menuju jantung organik yang murni."Ibu Lilia, tanganku... rasanya panas," isak Miri, air matanya jatuh mengenai garis emas itu dan seketika menguap menjadi uap kecil beraroma ozon.Lilia tidak menjawab, lidahnya kelu saat ia melihat pola geometri di tangan Miri mulai membentuk fraktal bunga bougainvillea yang sama persis dengan yang ada pada Juan. Ketakutan yang lebih dingin dari es pegunungan mer

  • Frekuensi Terlarang   Bab 29

    Tanah di tengah alun-alun Sanctuary tidak lagi bergetar; ia berdenyut. Denyutan itu terasa hingga ke ulu hati Lilia, sebuah irama ritmis yang menyerupai detak jantung raksasa yang sedang bermimpi di bawah lapisan kalsium dan batu. Di tengah kegelapan malam, pohon kristal yang semula berwarna hijau zamrud kini mulai memancarkan cahaya biru neon yang pucat, sementara akar-akarnya yang menembus panggung kayu mulai mengeluarkan suara desis seperti uap yang keluar dari celah mesin yang panas."Ibu Lilia, lihat kakiku!" jerit Miri dari kejauhan.Lilia segera menoleh dan merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di bawah cahaya bulan, ia melihat jejak kaki Miri di atas tanah mengeluarkan pendaran perak yang sama dengan abu Juan. Bukan kristalisasi seperti sebelumnya, melainkan sebuah jejak data yang bercahaya, seolah-olah setiap langkah Miri sedang menulis ulang realitas di atas tanah yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status