Compartilhar

Bab 7

Autor: Madre Shine
last update Data de publicação: 2026-03-12 21:00:17

Udara di dalam ruang kendali utama piramida Aethelgard terasa seperti disuntikkan es cair ke dalam paru-paru. Suara dengung statis dari sistem penekan saraf memenuhi ruangan, menciptakan frekuensi rendah yang membuat pandangan Juan kabur dan otot-ototnya terkunci dalam kelumpuhan yang menyiksa. Di tengah ruangan, cahaya biru dari hologram Echo-01 berpendar dengan intensitas yang tidak alami, menyinari wajah Lilia yang kini tampak pucat pasi namun matanya berkilat penuh tekad.

"Lilia... jangan... dengarkan... dia..." Juan mengerang, suaranya terputus-putus. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun setiap saraf di tubuhnya seolah-olah ditarik oleh ribuan benang magnet yang menempelkannya ke lantai beton dingin.

Echo-01, manifestasi digital dari eksperimen pertama yang gagal, melayang mendekati Lilia. Wajahnya yang identik dengan Lilia tampak seperti topeng porselen yang sempurna—tanpa pori-pori, tanpa cacat, dan yang paling mengerikan, tanpa emosi. "Kau hanyalah residu, Adikku," suara Echo-01 bergema langsung di dalam tengkorak Lilia, mem bypass gendang telinganya. "Kau adalah kesalahan yang dibungkus dalam daging. Aku adalah tujuan akhir. Dengan kuncimu, aku akan menyatukan seluruh kesadaran di kota ini menjadi satu simfoni tanpa rasa sakit. Tanpa pengkhianatan. Tanpa Weaver sialan itu."

Lilia menatap hologram itu. Tiba-tiba, dari kursi singgasana kabel di belakang hologram, puluhan tentakel fiber optik meluncur secepat kilat, menancap pada port saraf di leher Lilia. Lilia menjerit, namun suaranya segera menghilang saat kesadarannya tersedot masuk ke dalam dunia digital—simulasi saraf yang didesain untuk menghancurkan jiwa manusia.

Lilia terbangun di sebuah ruang hampa berwarna putih yang tak terbatas. Tidak ada gravitasi, tidak ada arah. Di depannya berdiri Echo-01, namun kali ini ia tampak padat, mengenakan zirah perak yang menyatu dengan kulitnya.

"Di sini, memori adalah senjata," Echo-01 berkata dingin. "Dan kau tidak punya apa-apa."

Echo-01 melambaikan tangannya, dan tiba-tiba simulasi di sekitar mereka berubah. Lilia melihat dirinya sendiri berada di laboratorium Aethelgard bertahun-tahun yang lalu. Ia melihat pria tua—ayahnya, Dr. Valerius—sedang menangis sambil menekan tombol penghapus memori pada sebuah tabung.

"Lihatlah," bisik Echo-01. "Penciptamu sendiri tidak menginginkanmu. Kau dibuat untuk menjadi alat, dan ketika kau mulai menunjukkan 'anomali' perasaan, dia mencoba membuangmu seperti sampah digital. Kenapa kau berjuang untuk kemanusiaan yang bahkan tidak menginginkan keberadaanmu?"

Lilia merasakan dadanya sesak. Memori yang dipaksakan masuk oleh Echo-01 terasa sangat nyata, menghancurkan fondasi identitas yang baru saja ia bangun bersama Juan. Rasa dingin mulai merambat di hatinya, sebuah keinginan untuk menyerah pada kesunyian yang ditawarkan Echo-01.

"Kau hanyalah kanvas kosong, Lilia," Echo-01 terus menyerang, suaranya berubah menjadi suara Dr. Valerius, lalu suara Marcus Vane. "Dan tinta yang ditorehkan Juan padamu hanyalah polusi. Mari kita bersihkan semuanya. Kembali ke kesunyian."

Lilia jatuh berlutut di atas lantai digital yang retak. Ia mulai merasa dirinya memudar, bit demi bit datanya terserap oleh Echo-01.

Sementara itu, di ruang kendali fisik, Juan menyadari bahwa ia tidak punya banyak waktu. Jika Lilia kalah dalam simulasi, Echo-01 akan menguasai tubuh Lilia dan menggunakan "Kunci Utama" untuk mengaktifkan jaringan Project Echo di seluruh kota.

Juan menggigit bibirnya hingga berdarah. Rasa sakit itu memberi sedikit kejutan pada sarafnya, cukup untuk memutus pengaruh penekan saraf selama beberapa detik. Dengan usaha luar biasa, ia meraih tas taktisnya. Di dalamnya, ia memiliki sebuah "Spike"—perangkat peretas fisik yang ia buat sendiri dari komponen curian di Distrik 9.

Denting!

Sebuah turret keamanan otomatis keluar dari langit-langit, sensor lasernya mengunci dada Juan.

"Sial," desis Juan.

Ia berguling ke balik konsol kontrol tepat saat rentetan peluru pulsa menghujani tempatnya tadi. Juan bukan seorang prajurit, ia adalah seorang Weaver. Namun di dunia ini, teknologi adalah senjata, dan ia tahu cara mematahkan leher mesin.

Ia menyambungkan Spike-nya ke terminal kabel di bawah konsol. "Vax, jika kau masih mendengarkan frekuensi ini... aku butuh bantuanmu dari jarak jauh," gumam Juan, meski ia tahu peluangnya kecil.

Juan harus mencapai terminal penghancuran diri yang berada di sisi lain ruangan, di belakang kursi singgasana Echo-01. Masalahnya, lantai di antara mereka kini dipenuhi dengan ranjau saraf yang akan menggoreng otaknya jika ia salah melangkah.

Tiba-tiba, pintu ruangan meledak. Pasukan keamanan Aethelgard yang tersisa—para Reapers—telah berhasil mengejar mereka. Dua prajurit berbaju zirah hitam masuk dengan senjata terhunus.

Juan menarik pistol pulsanya. Ia berada di posisi terjepit: turret di atas, Reapers di depan, dan ranjau di bawah. Namun, saat ia melihat Lilia yang sedang kejang di kursi singgasana, amarahnya meluap. Amarah yang murni, yang tidak bisa dikendalikan oleh algoritma mana pun.

"Jangan sentuh dia!" raung Juan.

Ia melepaskan tembakan pulsa yang menghancurkan kaki turret, membuatnya jatuh menimpa salah satu prajurit Reaper. Di tengah kekacauan itu, Juan berlari. Ia tidak peduli lagi dengan ranjau saraf. Setiap kali kakinya menginjak zona aktif, gelombang listrik menghantam otaknya, mengirimkan rasa sakit yang luar biasa. Namun Juan terus berlari, didorong oleh satu tujuan: mencapai terminal.

Ia mencapai kursi singgasana dan melihat tubuh Lilia yang bergetar hebat. Cahaya biru memancar dari mata dan mulutnya.

"Lilia! Bertahanlah!" Juan berteriak, suaranya parau. Ia meraih kabel utama yang menghubungkan Lilia ke sistem. Ia tidak bisa mencabutnya begitu saja—itu akan membunuh Lilia secara instan. Ia harus masuk ke dalam frekuensinya satu kali lagi.

Di dalam simulasi, Lilia hampir hancur. Echo-01 sudah mencekik leher digitalnya, siap menyerap fragmen terakhir kesadarannya.

"Selamat tinggal, Kegagalan," bisik Echo-01.

Namun, di saat kritis itu, sebuah cahaya abu-abu masuk ke dalam simulasi putih yang steril. Bukan cahaya yang tenang, melainkan cahaya yang kasar, penuh dengan memori tentang hujan asam, bau nikotin, dan rasa tembaga dari bibir yang pecah.

Lilia!

Suara Juan bergema di dalam simulasi, bukan sebagai suara digital, melainkan sebagai getaran emosi yang murni. Lilia membuka matanya. Di kejauhan, ia melihat bayangan Juan—bukan Juan yang sempurna, tapi Juan yang penuh bekas luka, Juan yang berdarah di dunia nyata demi melindunginya.

"Memori bukan senjata, Echo-01," Lilia berbisik, suaranya mulai menguat. "Memori adalah jangkar."

Lilia mencengkeram lengan Echo-01. Tiba-tiba, simulasi di sekitar mereka meledak dengan warna-warna yang tidak terduga. Bukan lagi laboratorium putih, melainkan gudang basement yang sempit, bunker di padang pasir, dan jembatan gantung yang hampir runtuh.

Lilia menarik memori tentang malam-malam keintiman mereka. Ia merasakan kehangatan kulit Juan, aroma ozon yang mereka bagi, dan rasa aman saat Juan mendekapnya di tengah ketakutan maut. Semua perasaan "tidak logis" ini menjadi virus bagi Echo-01 yang murni digital.

"Apa ini?! Hentikan!" Echo-01 berteriak saat zirahnya mulai retak. "Ini tidak masuk akal! Ini hanya sampah organik!"

"Ini bukan sampah," raung Lilia. "Ini adalah cintaku!"

Lilia melepaskan seluruh energi "Kunci Utama"-nya, namun bukan untuk mengaktifkan jaringan, melainkan untuk membakar simulasi itu dari dalam. Ia mengirimkan semua rasa sakit, semua gairah, dan semua memori tentang Juan langsung ke inti prosesor Echo-01.

Di dunia digital, Echo-01 hancur menjadi jutaan fragmen data yang tak bermakna, tidak mampu menahan beban emosi manusia yang begitu intens.

Di dunia nyata, Juan telah mencapai terminal penghancuran diri. Tangannya gemetar saat ia memasukkan kode akses yang ia curi dari memori Vax: 7-7-4-Echo-Zero.

“Protokol Penghancuran Diri Diaktifkan. Waktu Tersisa: 60 Detik.”

Suara komputer itu memicu kepanikan pada pasukan Reaper yang tersisa. Mereka mulai mundur, namun pintu ruangan terkunci secara otomatis.

Juan segera berlari kembali ke kursi singgasana. Ia melihat Lilia membuka matanya. Cahaya biru itu menghilang, digantikan oleh iris cokelat jernih yang penuh dengan air mata. Lilia terengah-engah, tubuhnya terkulai lemas ke dalam pelukan Juan.

"Juan... aku melakukannya..." bisik Lilia.

"Aku tahu, Sayang. Aku tahu," Juan mencabut kabel saraf dari leher Lilia dengan hati-hati.

Dinding piramida Aethelgard mulai bergetar hebat. Ledakan-ledakan kecil mulai terdengar dari lantai bawah. Seluruh fasilitas ini akan runtuh dalam hitungan detik.

"Kita harus pergi!" Juan mengangkat Lilia, namun kakinya sendiri lemas akibat efek ranjau saraf tadi. Ia jatuh berlutut, masih mendekap Lilia.

"Juan, kau terluka parah," Lilia menyentuh wajah Juan yang bersimbah darah.

"Tidak masalah. Selama kau aman," Juan memaksakan diri untuk berdiri kembali. Dengan sisa tenaganya, ia membawa Lilia menuju lift darurat di belakang terminal.

Saat lift meluncur turun dengan kecepatan tinggi, Juan menyandarkan tubuhnya pada dinding krom yang dingin. Ia menatap Lilia, yang kini menatapnya dengan pandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bukan lagi pandangan seorang subjek eksperimen yang bingung, melainkan pandangan seorang wanita yang sepenuhnya sadar akan siapa dirinya dan siapa pria di depannya.

Lilia mendekat, menempelkan telapak tangannya ke dada Juan. Ia bisa merasakan detak jantung Juan yang tidak beraturan, sebuah ritme yang kini menjadi dunianya.

"Kau berjanji akan membuatkan memori baru untukku," bisik Lilia, suaranya lembut di tengah dentuman kehancuran piramida.

Juan tersenyum tipis, meski penglihatannya mulai menggelap. "Kita baru saja membuat yang terbaik, bukan?"

Lilia menarik wajah Juan, menciumnya dengan kelembutan yang menyakitkan di tengah lift yang berguncang hebat. Ciuman itu tidak lagi memiliki urgensi ketakutan, melainkan sebuah segel atas kemenangan mereka melawan mesin. Di tengah kehancuran Aethelgard, di jantung kegelapan korporasi, mereka menemukan cahaya yang paling murni.

Lift terbuka di lantai dasar, tepat saat bagian atas piramida meledak dalam bola api raksasa. Juan dan Lilia berlari keluar, menuju udara malam Sektor Terlarang yang kini terasa lebih bersih. Di belakang mereka, piramida Aethelgard runtuh, mengubur semua ambisi jahat Project Echo selamanya.

Mereka terus berlari hingga mencapai tepian jurang jembatan gantung. Di sana, mereka berhenti sejenak, menatap kehancuran di belakang mereka.

"Apa sekarang, Juan?" tanya Lilia.

Juan merangkul pinggang Lilia, menariknya erat. "Sekarang, kita menghilang. Ke tempat di mana tidak ada satelit, tidak ada port saraf, dan tidak ada yang bisa menentukan siapa kita. Kita akan menjadi hantu di dalam mesin, Lilia. Tapi setidaknya, kita adalah hantu yang bahagia."

Lilia menyandarkan kepalanya di bahu Juan. Di ufuk timur, cahaya matahari—matahari yang asli, bukan cahaya lampu neon—mulai mengintip dari balik kabut asap Distrik 9 yang mulai menipis. Sektor Terlarang tidak lagi terasa menakutkan; ia terasa seperti awal yang baru.


Juan merasakan saku jaketnya bergetar. Ia mengeluarkan sebuah data-drive kecil yang sempat ia ambil dari terminal sebelum meledak. Itu bukan data proyek, melainkan data pribadi Dr. Valerius. Di sana tertulis satu file terakhir: Untuk Elara—Hidupmu adalah Milikmu.

Juan tidak memberitahu Lilia sekarang. Ada waktu untuk itu nanti. Sekarang, ia hanya ingin merasakan napas Lilia di lehernya dan kehangatan tangannya di dalam genggamannya.

Di kejauhan, sirine pengejar dari Sektor 0 masih terdengar, namun suara itu terasa sangat jauh. Mereka telah memutus frekuensi mereka dari dunia. Mereka bebas.

Namun, saat mereka melangkah menjauh dari reruntuhan, Juan tidak menyadari bahwa di dalam interface di tengkuk Lilia, sebuah lampu indikator kecil berwarna hijau—bukan biru, bukan merah—berkedip satu kali. Sebuah evolusi baru telah dimulai, sesuatu yang bahkan Dr. Valerius tidak perkirakan. Cinta bukan hanya menghancurkan sistem, ia sedang membangun sesuatu yang jauh lebih kuat.

"Juan," panggil Lilia tiba-tiba.

"Ya?"

"Aku ingat sesuatu. Dari sebelum semuanya dihapus."

Juan membeku. "Apa itu?"

Lilia tersenyum, senyuman yang paling nyata yang pernah ia berikan. "Aku ingat namamu. Jauh sebelum kita bertemu di basement itu. Ayahku selalu bercerita tentang seorang penenun memori berbakat yang menolak bekerja untuk korporasi. Dia bilang, suatu hari, pria itu akan menyelamatkanku. Dia benar."

Juan tertawa pelan, sebuah suara yang penuh dengan kelegaan yang murni. "Ternyata, takdir juga memiliki kodenya sendiri, ya?"

Mereka berjalan menembus kabut pagi, dua jiwa yang rusak namun utuh, menuju sebuah masa depan yang tidak tertulis di layar monitor mana pun. Di Distrik 9, legenda tentang sang Weaver dan Kanvas Kosong baru saja dimulai, sebuah cerita tentang frekuensi terlarang yang berhasil menjadi simfoni kebebasan.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Frekuensi Terlarang   Bab 16

    Lembah Kabut tidak pernah tidur dalam kesunyian yang jujur. Di sini, di bawah bayang-bayang tebing raksasa yang tampak seperti taring bumi yang patah, udara tidak hanya dingin—ia bermuatan listrik. Kabut yang menyelimuti lembah ini bukan sekadar uap air; ia adalah sup partikel nano dan residu frekuensi yang ditinggalkan oleh eksperimen-eksperimen gagal Dr. Valerius di masa lalu. Bagi manusia biasa, tempat ini adalah labirin yang mematikan bagi sistem pernapasan. Namun bagi Juan, sang Memory Weaver, aroma ozon dan statis ini terasa seperti rumah yang pahit. Juan merangkak melalui celah sempit di antara dua pipa pembuangan panas yang sudah berkarat. Napasnya teratur, sebuah teknik yang ia pelajari dari para pelarian di The Fringe untuk meminimalkan deteksi sensor gerak. Di bawah sana, di pusat lembah, struktur Laboratorium Bio-Resonator menjulang seperti bunga lotus mekanis yang baru saja mekar di tengah kolam limbah. Kelopak-kelopak bajanya

  • Frekuensi Terlarang   Bab 15

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak lagi terasa seperti ancaman yang mematikan. Sejak malam The Great Uplift, es di sini seolah menyimpan kehangatan sisa—sebuah resonansi termal yang tertinggal setelah pilar cahaya Lilia menembus atmosfer dan merobek tatanan lama dunia. Juan berdiri di bibir tebing, menatap ke bawah ke arah lembah yang dulu tertutup jelaga industri, kini tampak seperti hamparan perak yang sedang bernapas. ​Enam bulan telah berlalu sejak dunia "terbangun". Tidak ada lagi kabut asap beracun yang tebal dari Distrik 9; dari ketinggian ini, kota-kota di bawah sana tampak seperti sirkuit raksasa yang sedang mengalami reboot total. Lampu-lampu neon yang dulu berkedip agresif dengan iklan-iklan korporasi kini bersinar dengan ritme yang lebih tenang, mengikuti frekuensi denyut jantung planet yang baru. Dunia menyebutnya sebagai fajar kemanusiaan yang kedua, namun bagi Juan, ini adalah awal dari kesunyian yang paling bising dalam hidupnya. ​

  • Frekuensi Terlarang   Bab 14 🔥🥵

    Salju di puncak Pegunungan Putih tidak terasa dingin bagi Lilia; ia justru terasa seperti butiran data yang membeku, menyentuh kulitnya dengan frekuensi yang sunyi. Di ketinggian ini, di mana oksigen menipis dan dunia di bawah sana tampak seperti hamparan luka yang menganga, Lilia berdiri di depan gerbang Observatorium Valerius. Struktur itu tampak seperti mata raksasa yang menatap ke langit, terbuat dari kaca kristal dan kuningan yang telah menghitam oleh waktu, bersembunyi di dalam pelukan tebing es yang curam. ​Juan mematikan mesin crawler yang terbatuk untuk terakhir kalinya. Asap hitam mengepul dari kap mesin, segera disapu oleh angin pegunungan yang ganas. Ia turun dengan langkah berat, pistol pulsanya tersampir di pinggang, dan matanya terus memindai lereng di bawah mereka. Di kejauhan, titik-titik hitam mulai merayap naik menembus badai salju—pasukan The Restoration telah tiba, dan mereka membawa mesin pembantai yang lebih besar dari sebelumnya. ​"Juan," panggil Lilia. Sua

  • Frekuensi Terlarang   Bab13 🔥🥵

    Sisa-sisa api di cakrawala The Reef perlahan memudar, digantikan oleh fajar yang dingin dan berkabut. Kapal induk The Harvester kini hanyalah bangkai baja raksasa yang tenggelam di pelukan samudra, memuntahkan cairan pendingin berwarna neon yang mencemari buih ombak. Di daratan, Juan dan Lilia tidak menunggu perayaan. Mereka tahu bahwa di dunia yang dikendalikan oleh algoritma, kemenangan hanyalah jeda singkat sebelum sistem melakukan reboot.Mereka meninggalkan pesisir itu menggunakan sebuah crawler mekanis tua—kendaraan darat bermesin pembakaran internal yang kasar, tanpa satu pun sirkuit digital yang bisa dilacak oleh satelit Sektor 0. Juan memacu mesin itu menembus jalur tikus di antara tebing karang, menjauh dari aroma garam menuju pedalaman yang berdebu.Lilia duduk di kursi penumpang, tubuhnya dibungkus selimut wol tebal yang masih berbau asap ledakan. Matanya yang cokelat kini seringkali memancarkan kilatan hijau samar, bukan lagi karena serangan Echo-01, melainkan karena ener

  • Frekuensi Terlarang   Bab 12 🥵🔥

    Langit di atas The Reef bukan lagi kelabu; ia telah berubah menjadi kanvas neraka yang terbakar. Cahaya dari ledakan ranjau minyak di permukaan laut memantulkan warna jingga darah pada kabut elektronik yang diciptakan Juan. Di tengah kekacauan itu, kapal induk The Restoration—sebuah struktur monolitik berbentuk cakram raksasa yang dikenal sebagai The Orbital Harvester—perlahan turun menembus awan jelaga, mengeluarkan dengung frekuensi rendah yang membuat pasir pantai bergetar seperti ribuan semut yang gelisah.Juan berdiri di garis air, napasnya memburu, uap panas keluar dari mulutnya yang berlumuran darah. Di depannya, Silas melangkah maju dengan keanggunan seorang predator yang terbuat dari baja dan dendam. Zirah taktisnya yang berwarna perak gelap tampak kebal terhadap air laut yang memercik, sementara mata mekanisnya yang berwarna merah darah mengunci posisi Juan dengan presisi dingin."Sepuluh tahun, Weaver," suara Silas terdengar melalui modulator eksternal, datar dan tanpa nyaw

  • Frekuensi Terlarang   Bab 11 🔥🥵

    Hujan di The Reef telah berhenti, menyisakan kabut garam yang tebal dan aroma karat yang semakin tajam. Juan berdiri di depan jendela kaca buram yang bergetar setiap kali ombak besar menghantam pilar-pilar rumah panggung mereka. Di layar pemindai saraf portabelnya, titik merah itu tidak lagi berkedip lambat; ia berdenyut dengan ritme predator yang telah mengunci mangsanya.The Restoration tidak lagi sekadar mencari; mereka sedang mengonvergensi.Lilia berdiri di pintu kamar, menatap punggung Juan yang tegang. Ia masih mengenakan kemeja linen putih yang sama, namun sorot matanya tidak lagi hanya berisi luka. Ada kewaspadaan yang tajam di sana, sisa-sisa insting Echo-02 yang merespons bahaya yang mendekat."Juan," panggil Lilia. Suaranya datar namun menuntut. "Kau tidak bisa menyembunyikan lampu merah itu dariku. Frekuensi di udara sudah berubah. Aku merasakannya di pangkal tengkorakku. Dingin dan tajam, seperti pisau bedah."Juan berbalik perlahan. Tangannya masih memegang chip memori

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status