LOGINPradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam."Kamu kenapa sih, Dip?""Aneh aja, Hel. Enggak biasanya Gadis kirimin aku kaya beginian.""Dia lagi kangen kali. Kamu mudik aja.""Dia lagi di Solo. Makanya aku minta kamu ke sini.""Kamu mau bicarakan apa?" Tanya Rachel sambil mulai duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.Mau bagaimanapun, sejak Pradipta menikah dengan Gadis, rumah ini adalah salah satu nerak
Gadis menatap tas ransel Fjallraven Kanken yang dulu sering ia pakai untuk kuliah. Berbeda dengan dulu ketika tas ini berisi laptop, alat tulis dan berbagai macam tugas kuliahnya, kini tas ini berisi baju dan perlengkapan pribadinya. Kali ini misinya harus berhasil meskipun ia harus sedikit berbohong pada kedua orangtuanya.Tok... Tok... Tok.... "Masuk," Ucap Gadis sambil segera menutup resleting tas berwarna merah marron itu.Gadis tersenyum kala melihat Banyu berdiri di ambang pintu kamarnya."Mas, masuk. Jangan disitu aja."Mendengar perkataan Gadis, Banyu segera melangkahkan kakinya untuk mendekati adik semata wayangnya ini. Baru saat sampai di dekat Gadis, Banyu memilih untuk duduk di pinggiran ranjang berukuran king. Ia tatap adiknya yang tampak bahagia. Berbeda dengan dua hari yang lalu kala mereka berdebat hebat, hari ini seakan Gadis sudah melupakan semua kejadian itu."Kamu serius mau ke Jogja sendiri?""Iya, Mas.""Biar Mas antar aja atau pak Manto. Lebih enak naik mobil
Gadis : Gue sekarang jadi tahanan.Alena : ketangkap kasus apa lo? ada di Polsek mana?Gadis : kasus dibodohi dan dimanipulasi oleh keluarga Dipta. Bukan polsek tapi rumah orangtua gue.Alena : lo belum jadi pergi ke tempat Dipta buat cek langsung?Gadis : maunya hari ini tapi gue sudah terlanjur jadi tahanan. Lo punya cara enggak buat gue kabur dari rumah?Alena : berani bayar berapa lo kalo gue kasih ide?Gadis : gue bayar pakai kakak gue aja gimana? Eneg gue lama-lama di rumah bareng Mas Banyu.Alena : gue mau sama kakak lo tapi belum tentu dia mau sama gue yang bentukannya begini.Gadis : alhamdulillah, sadar juga lo sama kapasitas diri.Alena : bangke lo, Dis!Gadis : buruan lo kasih ide.Alena : gue pikirin dulu. Nanti gue kasih kabar habis makan siang. Okay?Gadis : okay.Setelah membaca pesan dari Gadis, Alena memilih segera menutup handphone miliknya. Ia segera berdiri dari kursi kerjanya sambil membawa handphone serta dompetnya."Gil, gue lunch bareng lo, ya?" Ucap Alena kal
Gadis tersenyum kala melihat rumah kedua orangtuanya yang bergaya Jawa modern. Halaman depan rumahnya yang luas dan terdapat air mancur serta taman ini membuatnya benar-benar merasa nyaman di sini. Rumah yang sudah ia huni sejak lahir, tempat ia tumbuh dan dewasa, benar-benar menyimpan banyak kenangan di hidupnya yang tak mungkin ia lupakan sampai akhir hayatnya.Ketika sampai di depan pintu, Gadis segera membunyikan bel. Tidak lama menunggu, akhirnya seorang asisten rumah tangga muda yang baru kali ini Gadis temui muncul di sana.Begitu mempersilahkan Gadis masuk, Sari segera mendorong koper cabin size Gadis. Baru sekali ini Sari bertemu dengan Gadis. Nama yang beberapa hari ini sering terdengar di rumah ini."Assalamu'alaikum, Mama," Ucap Gadis sambil berjalan cepat untuk menuju ke Mamanya yang sedang membaca majalah."Waalaikum salam," Ucap Aryanti sambil memeluk Gadis."Papa mana, Ma?" Tanya Gadis setelah mengurai pelukannya pada sangat Mama."Belum pulang.""Jam segini masih di k
Gadis menatap pasangan muda yang sedang berfoto bersama kedua anaknya. Dari apa yang terlihat oleh matanya, pasangan itu seusia dirinya dan Dipta. Melihat mereka bahagia dengan keluarga kecilnya entah kenapa ada perasaan iri dalam dirinya. Kenapa ia dan Dipta tidak bisa seperti itu? Terlebih sejak 5 bulan yang lalu saat ia dan Dipta datang ke dokter kandungan dan dokter kandungan mengatakan jika sel telurnya terlalu kecil untuk dibuahi. Ini membuatnya belum kunjung hamil hingga saat ini. Vitamin dan promil sudah ia lalui 5 bulan ini meksipun ia jarang datang bersama Pradipta ke dokter kandungan."Enggak usah dilihat sampai begitu. Coba belajar bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang," kata Alena sambil mulai duduk di samping Gadis dan membuka botol minum air mineralnya."Gue yang bermasalah. Sel telur gue kecil-kecil, makanya enggak isi-isi."Alena menghela napas panjang. Entah kenapa ia justru merasa bersyukur karena Gadis belum hamil sampai saat ini. Alena tak bisa membayangka
Mengingat kali ini dirinya pergi bersama Gadis, Alena sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol. Tentu saja ini ia lakukan karena dirinya tidak mau membuat Gadis kerepotan. Mereka berdua bahkan hanya duduk sambil melihat orang-orang yang sedang menikmati suasana malam hari ini."Jangan diam aja, Dis. Kita ke sana, yuk. Joged biar enggak stress.""Lo aja. Gue tunggu di sini.""Dis, udah deh... lo enggak usah mikirin laki lo sampai segininya. Dia aja belum tentu mikirin lo yang sudah rela mengorbankan segalanya buat dia.""Andai di dunia ini beneran ada time travel, rasanya gue mau balik ke masa di mana gue mengenal Dipta."Alena jadi merasa bersalah karena ia adalah orang yang mengenalkan Gadis pada Pradipta. Seketika ia terdiam dan teringat kenangan hampir empat tahun yang lalu. Kala itu Alena baru saja selesai bertemu dengan salah satu nasabah prioritas yang ingin mengajukan kredit di bank untuk menambah modal pembangunan hotel miliknya yang ada di Lombok. Sebelum ia pulang, nas







