Masuk"Klaten Bersinar," ucap Elang pelan ketika mobil yang dikemudikan Gavriel sudah mulai memasuki kota Klaten.Kini mereka sudah memasuki kota Klaten dan sejak keluar dari tol Bawen, Gavriel sama sekali tidak melewati tol lagi karena Adit meminta turun di alun-alun kota Magelang sedangkan Wilson meminta turun di daerah pinggir ring road Condong Catur. Meskipun heran dengan kedua temannya yang ternyata memiliki tujuan khusus kenapa 'mengintili' dirinya sejak di basement gedung kantornya, namun Gavriel cukup bersyukur. Ia baru menyetir dari Jogja saja. Ia cukup istirahat karena sejak Adit turun di Magelang, Wilson yang memegang kendali kemudi hingga ia turun di ringroad dan langsung di jemput Chava di sana.Lagipula jika Wilson tidak nebeng padanya, maka mana mungkin ia bertemu dengan Chava yang terlihat
Sejak Gadis memberikan kabar akan ke Surabaya, sampai hari ketiga ini masih tidak ada pesan yang masuk ke handphone Gavriel. Padahal Gadis sudah mengatakan akan menghubunginya balik saat sudah berada di sana. Sebenarnya apa yang terjadi pada perempuan itu? Selalu saja Gadis seperti ini setiap kali ada masalah. Tidak bisakah ia memberikan kabar bahwa ia baik-baik saja atau minimal menceritakan apa yang sedang terjadi? Daripada rasa cemburu, Gavriel lebih merasa khawatir karena takut terjadi apa-apa dengan Gadis saat ia di Surabaya. Handphone Gadis juga tidak aktif. Alena yang ia tanya tentang keadaan Gadis juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada wanita itu saat ini.Meskipun ini terlihat berlebihan, namun Gavriel akhirnya memilih menelepon Aryanti untuk menanyakan kabar Gadis. Saat Aryanti menginformasikan bahwa Gadis baik-baik saja dan kemarin Gadis ditemani orangtuanya ke Su
Puluhan karangan bunga berjejer di sepanjang jalan menuju ke rumah orangtua Pradipta. Tidak hanya karangan bunga yang menghiasi jalan menuju rumah yang ada di salah satu kompleks perumahan tersebut, namun juga deretan mobil yang terparkir memenuhi sisi kanan dan kiri jalan. Sepanjang langkah kakinya, Gadis berusaha menahan air mata. Bagaimanapun juga mantan Papa mertuanya adalah orang baik semasa hidupnya. Beliau rajin mengikuti beberapa kegiatan organisasi mulai organisasi keagamaan hingga organisasi kemasyarakatan. Satu hal yang Gadis pelajari dari almarhum adalah beliau yang tidak pernah egois dan selalu ingat untuk menyantuni para yatim hingga memiliki puluhan anak angkat semasa hidupnya.Begitu Gadis memasuki pintu pagar rumah orangtua Pradipta, pelukan langsung ia terima dari asisten rumah tangga yang bekerja untuk keluarga ini. Meskipun awalnya Gadis berusaha tegar ta
Aryanti menatap Sudibyo yang tengah duduk di hadapannya di ruang tunggu bandara siang hari ini. Kali ini mereka masih menunggu pesawat Gadis yang akan landing beberapa menit lagi. Andai saja bukan karena permintaan suaminya, Aryanti tidak akan mau repot-repot memberitahu Gadis mengenai kabar duka ini."Ma, tolong sembunyikan ekspresi setengah hatinya Mama. Kita ke sini untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Papanya Dipta. Terlepas bagaimana dulu Dipta memperlakukan Gadis, tapi orangtuanya begitu sayang dengan anak kita dan sudah menjaganya bertahun-tahun dengan baik.""Pa, kita sudah berpura-pura tidak tahu kalo sewaktu kita ke Jogja kemarin, Gadis pergi ke Surabaya untuk menjenguk orangtua Dipta. Mama rasa itu sudah lebih dari cukup tapi Papa tetap saja kekeuh untuk hadir melayat. Sebenarnya kirim karang
Pukul 06:50 WIB Gavriel sudah turun ke dapur untuk sarapan bersama Gadis. Saat melihat ada dua buah roti maryam coklat di atas meja ditambah segelas susu mau tidak mau Gavriel tertawa."Menu sarapannya udah sama kaya anak TK aja pagi ini.""Adanya itu di kulkas. Tadi kalo kamu enggak ngajakin olahraga di ranjang juga pagi ini aku bisa buat menu sarapan yang lebih layak daripada ini."Sambil menarik kursi yang ada di ruang makan, Gavriel akhirnya duduk di sana. "Dis, kita sarapan dulu. Kamu lagi ngapain di dapur.""Lagi siapin bekal sama minum buat kamu," ucap Gadis sambil kini mulai membawa kotak makan serta sebuah botol corkcicle warna pink berisi air minum ke arah meja makan.
"Gav, ini sudah pagi. Kamu harus bangun terus mandi.""Iya tapi ini dulu diselesaikan," ucap Gavriel pelan sambil menarik tangan Gadis agar kembali memainkan juniornya.Akhirnya Gadis memainkan junior milik Gavriel. Ada rasa syukur yang Gadis rasakan karena ia tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri kali ini setegang apa junior milik Gavriel yang sedang tertutup selimut."Yang semangat mainnya biar aku cepet bangun.""Ini udah bangun.""Kamu tahu 'kan sekarang mesti ngapain? Masa harus aku ajarin."Rasanya Gadis ingin menggetok kepala Gavriel yang ada di hadapannya ini dengan lampu tidur yang ada di me
Hampir dua jam ini Gadis terus menerus berdoa dan berharap jika Gavriel akan berhasil mendapatkan bukti rekaman CCTV di rumahnya. Terlebih ia lupa memberi Gavriel kunci utama rumah. Semoga saja Gavriel dapat masuk ke rumah.
Alena memilih menyembunyikan wajahnya dibalik koran yang pura-pura sedang ia baca. Ia memilih memperhatikan Rachel dari jauh sejak ia akan memasuki kamar hotel setelah cek-in. Tidak ia sangka jika selingkuhan suami Gadis ini akan menginap d
Wilson, Aditya dan Elang menatap Gavriel yang sedang sibuk berjalan mondar mandir di depan mereka bertiga. Sejak dua jam yang lalu, Wilson sudah memanggil mereka bertiga untuk datang ke ruang kerjanya yang ada di club ini. Andai saja Wilson
Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam.


![Without You [Indonesia]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




