LOGINSelesai sarapan bersama, Gavriel dan Gadis menikmati pagi ini dengan duduk di dekat jendela. Mereka menikmati aroma tanah yang baru pertama kali terkena hujan lagi setelah sekian lama terpapar sinar matahari karena musim kemarau."Perumahan ini bebas banjir enggak sih, Gav?" tanya Gadis yang kini tengah duduk sambil menyenderkan kepalanya di bahu Gavriel."Selama aku tinggal di sini baru sekali aja banjir dan untungnya enggak pernah sampai masuk ke rumah sih, Dis cuma sampai jalan depan aja. Memangnya kenapa?""Oh.. enggak. Kalo kiranya banjir, kamu bisa tinggal di apartemen aku aja. Sebentar lagi juga yang ngontrak bakalan balik ke negaranya.""Makasih tawarannya, tapi aku enggak mau nyusahin kamu. Mending kalo mau
Melihat Gadis yang sudah bangun, Gavriel segera berdiri. Kini ia tarik tubuh Gadis agar berdiri. Meskipun Gadis terlihat lemas dan belum terlalu bersemangat, Gavriel langsung menciumi Gadis tanpa ampun. Mulai dari bibir, pipi, leher hingga pundak. Gavriel seakan benar-benar meluapkan semua gairah yang ada di dalam dirinya tanpa bisa di bendung lagi. Kali ini Gadis hanya bisa pasrah menerima semua ini. Saat Gavriel memeluknya terlalu erat, Gadis mencoba memprotesnya dengan menepuk pelan punggung Gavriel sebanyak tiga kali. Seakan paham dengan maksud tepukan dipunggungnya, akhirnya Gavriel melonggarkan pelukannya.Gavriel menatap mata Gadis yang tampak sudah menatapnya dengan tatapan bingung. "Sorry, Dis." Setelah mengatakan itu, Gavriel mengurai pelukannya dan menghentikan semua yang ia lakukan kepada Gadis.Ia merasa
Gadis menarik bibirnya hingga ciuman brutalnya bersama Gavriel yang melibatkan lidah itu berakhir. Kini Gadis mulai menciumi sekitaran leher Gavriel hingga Gavriel mencengkeram pinggangnya cukup kuat malam ini. Gadis terus melakukan apa yang biasanya Gavriel lakukan kepadanya. Ia menyusuri setiap inci tubuh Gavriel dengan bibir dan lidahnya. Kali ini Gadis harus bersyukur karena ia melakukan ini ketika mereka sudah selesai mandi. Jika tidak entah apa ia akan mau melakukannya.Gadis menghentikan aktivitas menyusuri tubuh Gavriel ini ketika ia sampai di atas puncak salah satu gunung kembar Gavriel. Ia akan mencoba melakukan hal yang sama dan ternyata efeknya pun tidak jauh berbeda. Gavriel mendorong kepalanya mundur hingga membuat Gadis kembali berdiri dengan tegak. Belum sempat Gadis bertanya kenapa Gavriel memintanya untuk berhenti namun kini Gavriel sudah mengangkat tubuhnya laya
Gavriel menyeka keringat yang membasahi dahinya sore ini setelah ia selesai mengepel lantai rumah. Gadis benar-benar keterlaluan padanya hari ini. Sudah ia katakan untuk cuek saja dengan kondisi rumahnya karena asisten rumah tangga yang seminggu datang empat kali sedang sakit sehingga kondisi rumah sedikit berantakan, tapi Gadis tetap saja tidak peduli dengan penjelasannya. Bukannya mengistirahatkan tubuh dan pikirannya weekend ini, yang ada Gavriel justru harus membabu bersama Gadis di rumahnya sendiri."Dis, mending udahin aja deh acara bersih-bersihnya. Ini sudah hampir jam lima sore. Mending kita mandi terus cari makan di luar.""Baru juga kita selesai ngepel, cuci piring sama lap kaca, Gav. Enggak bisa ah begitu. Aku belum nyetrika baju kamu yang numpuk itu di belakang."
Gavriel memperhatikan Adit yang tampak tidak nyaman pagi ini saat mereka akan sarapan bersama-sama di halaman belakang rumah Hanna menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Setelah memperhatikan Aditya, Gavriel mencoba memperhatikan Elang yang nyatanya tetap bisa nyaman duduk bersila di hadapannya meskipun ia datang dari latar belakang yang sama dengan Adit. Kini Gavriel menoleh dan ia bisa melihat Gadis yang sedang duduk sambil memangku Lender. Gadis terlihat sedang berusaha membuat Leander duduk dengan sabar dan tidak berlari-lari lagi."Le... nanti kita mau makan bersama-sama, Lean duduk di samping Bunda, ya?""Tapi aku enggak biasa makan pakai tangan, Bunda.""Okay, Bunda ambilkan sendok dan garpu ke dapur dulu."
Berada satu tenda dengan Gavriel dan Lean membuat Gadis bersyukur karena dua orang yang ia sayang ada di dekatnya malam ini. Ini adalah hari-hari terakhirnya untuk bisa menghabiskan waktu dengan dua orang ini. Senin pagi ia harus kembali ke Solo dan menyiapkan barang-barangnya sebelum acara travelling-nya selama beberapa bulan kedepan dimulai."Bunda ini sakit, ya?" tanya Lean sambil menunjuk bekas cacar air yang ada di wajah Gadis. "Ini sudah sembuh, Le, cuma tinggal bekasnya aja.""Maaf ya, Bunda... Lean enggak ikut ke Solo kemarin sama Ayah.""Kenapa kamarin enggak ikut ke Solo?" tanya Gadis sambil menatap Lean dengan wajah memelasnya.Gavriel yang
Gavriel menoleh untuk melihat jam di sudut dinding kamar perawatan Gadis. Kala melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan Gadis juga tak kunjung menutup matanya, membuat Gavriel merasa sedikit khawatir.
Hampir dua jam ini Gadis terus menerus berdoa dan berharap jika Gavriel akan berhasil mendapatkan bukti rekaman CCTV di rumahnya. Terlebih ia lupa memberi Gavriel kunci utama rumah. Semoga saja Gavriel dapat masuk ke rumah.
Alena memilih menyembunyikan wajahnya dibalik koran yang pura-pura sedang ia baca. Ia memilih memperhatikan Rachel dari jauh sejak ia akan memasuki kamar hotel setelah cek-in. Tidak ia sangka jika selingkuhan suami Gadis ini akan menginap d
Wilson, Aditya dan Elang menatap Gavriel yang sedang sibuk berjalan mondar mandir di depan mereka bertiga. Sejak dua jam yang lalu, Wilson sudah memanggil mereka bertiga untuk datang ke ruang kerjanya yang ada di club ini. Andai saja Wilson







