LOGINGadis menarik bibirnya hingga ciuman brutalnya bersama Gavriel yang melibatkan lidah itu berakhir. Kini Gadis mulai menciumi sekitaran leher Gavriel hingga Gavriel mencengkeram pinggangnya cukup kuat malam ini. Gadis terus melakukan apa yang biasanya Gavriel lakukan kepadanya. Ia menyusuri setiap inci tubuh Gavriel dengan bibir dan lidahnya. Kali ini Gadis harus bersyukur karena ia melakukan ini ketika mereka sudah selesai mandi. Jika tidak entah apa ia akan mau melakukannya.Gadis menghentikan aktivitas menyusuri tubuh Gavriel ini ketika ia sampai di atas puncak salah satu gunung kembar Gavriel. Ia akan mencoba melakukan hal yang sama dan ternyata efeknya pun tidak jauh berbeda. Gavriel mendorong kepalanya mundur hingga membuat Gadis kembali berdiri dengan tegak. Belum sempat Gadis bertanya kenapa Gavriel memintanya untuk berhenti namun kini Gavriel sudah mengangkat tubuhnya laya
Gavriel menyeka keringat yang membasahi dahinya sore ini setelah ia selesai mengepel lantai rumah. Gadis benar-benar keterlaluan padanya hari ini. Sudah ia katakan untuk cuek saja dengan kondisi rumahnya karena asisten rumah tangga yang seminggu datang empat kali sedang sakit sehingga kondisi rumah sedikit berantakan, tapi Gadis tetap saja tidak peduli dengan penjelasannya. Bukannya mengistirahatkan tubuh dan pikirannya weekend ini, yang ada Gavriel justru harus membabu bersama Gadis di rumahnya sendiri."Dis, mending udahin aja deh acara bersih-bersihnya. Ini sudah hampir jam lima sore. Mending kita mandi terus cari makan di luar.""Baru juga kita selesai ngepel, cuci piring sama lap kaca, Gav. Enggak bisa ah begitu. Aku belum nyetrika baju kamu yang numpuk itu di belakang."
Gavriel memperhatikan Adit yang tampak tidak nyaman pagi ini saat mereka akan sarapan bersama-sama di halaman belakang rumah Hanna menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Setelah memperhatikan Aditya, Gavriel mencoba memperhatikan Elang yang nyatanya tetap bisa nyaman duduk bersila di hadapannya meskipun ia datang dari latar belakang yang sama dengan Adit. Kini Gavriel menoleh dan ia bisa melihat Gadis yang sedang duduk sambil memangku Lender. Gadis terlihat sedang berusaha membuat Leander duduk dengan sabar dan tidak berlari-lari lagi."Le... nanti kita mau makan bersama-sama, Lean duduk di samping Bunda, ya?""Tapi aku enggak biasa makan pakai tangan, Bunda.""Okay, Bunda ambilkan sendok dan garpu ke dapur dulu."
Berada satu tenda dengan Gavriel dan Lean membuat Gadis bersyukur karena dua orang yang ia sayang ada di dekatnya malam ini. Ini adalah hari-hari terakhirnya untuk bisa menghabiskan waktu dengan dua orang ini. Senin pagi ia harus kembali ke Solo dan menyiapkan barang-barangnya sebelum acara travelling-nya selama beberapa bulan kedepan dimulai."Bunda ini sakit, ya?" tanya Lean sambil menunjuk bekas cacar air yang ada di wajah Gadis. "Ini sudah sembuh, Le, cuma tinggal bekasnya aja.""Maaf ya, Bunda... Lean enggak ikut ke Solo kemarin sama Ayah.""Kenapa kamarin enggak ikut ke Solo?" tanya Gadis sambil menatap Lean dengan wajah memelasnya.Gavriel yang
Gadis memperhatikan mobil yang berjalan di depannya sambil menyedakapkan kedua tangannya di depan dada. Ia heran bagaimana bisa Hanna pergi begitu saja ketika acara di tempat Aditya belum selesai. Bahkan saat ia melewati ruang tengah, Aditya masih beramah tamah dengan para tamu undangan. Gavriel yang melihat bagaimana Gadis menatap mobil Hanna yang berjalan di depannya hanya bisa tersenyum."Kamu ini kenapa lihatin mobilnya si Hanna begitu?""Enggak, cuma heran aja kenapa Hanna kabur sebelum acara ultahnya Adit selesai? Padahal 'kan Adit pacar dia.""Iya mereka pacaran 15 tahun yang lalu, kalo sekarang sih enggak. Lebih tepatnya Adit yang ngejar-ngejar Hanna sekarang dan mereka enggak pacaran.""Why?""Nanti juga kamu tahu sendiri kenapa."
Elang tidak berhenti tertawa dibalik kemudi mobil. Ia masih tidak menyangka jika dirinya bahkan diminta melakukan tes mantoux oleh Aryanti dan Sudibyo kala sampai di ruang perawatan Gadis tadi. Meskipun bingung dan heran dengan permintaan kedua orangtua Gadis itu, namun ia tak kuasa menolaknya. Akhirnya Elang melakukan tes itu dan mau tidak mau beberapa hari lagi ia harus mengunjungi faskes untuk mengecek hasil testnya itu. Semoga saja hasilnya negatif. Saat ia sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Elang baru bertanya kepada Gavriel alasan orangtua Gadis meminta dirinya melakukan hal itu. Meskipun Gavriel tidak menjelaskan secara gamblang namun Elang tahu apa yang membuat Gavriel dan Gadis meributkan masalah positif dan negatif.Elang bahkan tak pecaya jika Gavriel dan Gadis begitu solid bukan hanya menjadi pasangan, tapi juga sebagai partner
Gavriel yang melihat Alena diam saja hanya bisa menghela napas panjang. Sejak tadi temannya itu tampak sedang berpikir keras. Entah apa yang Alena pikirkan, tapi Gavriel mengira jika itu karena ia kecewa dengan penerbangan kelas ekonomi yang dirinya
Gavriel menoleh untuk melihat jam di sudut dinding kamar perawatan Gadis. Kala melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan Gadis juga tak kunjung menutup matanya, membuat Gavriel merasa sedikit khawatir.
Hampir dua jam ini Gadis terus menerus berdoa dan berharap jika Gavriel akan berhasil mendapatkan bukti rekaman CCTV di rumahnya. Terlebih ia lupa memberi Gavriel kunci utama rumah. Semoga saja Gavriel dapat masuk ke rumah.
Alena memilih menyembunyikan wajahnya dibalik koran yang pura-pura sedang ia baca. Ia memilih memperhatikan Rachel dari jauh sejak ia akan memasuki kamar hotel setelah cek-in. Tidak ia sangka jika selingkuhan suami Gadis ini akan menginap d







