로그인"Gue enggak mau duduk di kursi paling belakang," ucap Elang kala Adit sudah membuka pintu penumpang belakang mobil SUV milik Gavriel.Mendengar hal itu, Adit segera memilih untuk melipat kursi penumpang tengah dan ia segera masuk ke kursi yang paling belakang. Wilson yang melihat ini hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan."Sabar ya, Dit... teman lo memang sesekali perlu dikasih salam olahraga di pipinya," ucap Wilson yang kini mulai masuk ke kursi tengah dan diikut Elang."Tunggu aja dia kalah taruhan. Gue enggak akan segan-segan kasih punishment ke dia lebih parah daripada yang Gavriel beri ke dia dulu.""Ouch... masa sih, Bang? adek jadi takut kalo kalah," ucap Elang dengan suara ngondek
Setelah melewati kemacetan Jakarta malam hari ini, akhirnya Gadis sampai di salah satu cafe yang ada di daerah Senopati. Seingatnya ia pernah datang ke cafe ini bersama Alena beberapa tahun lalu. Saat ia dan Gavriel turun dari mobil, Gadis bisa melihat mobil Elang ada di pojok."Itu kayanya Elang sudah datang deh, Gav," ucap Gadis kala Gavriel sudah ada di sampingnya."Tahu dari mana?""Itu mobilnya ada di sana," ucap Gadis sambil menunjuk mobil teman pacarnya.Gavriel menganggukkan kepalanya dan kini ia segera mengajak Gadis untuk masuk ke dalam cafe. Saat mereka memasuki cafe, Gadis langsung menoleh untuk menatap Gavriel karena salah satu karyawan di cafe ini sepertinya sudah mengenal Gavriel cukup dekat hingga mereka saling sapa dan memanggil nama satu sama
Bukannya menuju ke rumah Gavriel, sore ini Gadis justru ada di rumah Alena. Ia curahkan semua yang ia alami siang hari ini di mall. Reaksi Alena tidak seperti biasanya yang selalu menggebu-gebu dan fasih mengeluarkan sumpah serapah dari bibir mungilnya. Perempuan ini hanya tersenyum dan banyak menghela napas panjang selama Gadis bercerita. Justru Gadis yang hari ini sewot dan sedikit tantrum. "Bayangin aja, Len... udah posisi muka gue lagi begini. Ketemu mantan suami yang udah dapat kerjaan baru, mau tunangan pula sama selingkuhannya. Sebenarnya kurang kejam apa gue balas dia kemarin? Kok bisa-bisanya dia tetap survive begitu hidupnya? Gue kira dia bakalan depresi terus langsung loncat dari atas gedung atau jembatan begitu.""Justru Tuhan enggak suka sama orang yang kelewat jahat. Apalagi lo berusaha untuk menutup j
Gadis mengedarkan pandangannya ke segala penjuru playground yang ada di salah satu mall di Jakarta siang hari ini. Setelah Gavriel meninggalkan rumah untuk pergi ke gym, Gadis juga langsung mengorder taxi online untuk menyusul Leander dan Elang. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Gadis bisa menemukan Elang yang baru saja masuk ke playgorund bersama Lender. Setelah acara saling sapa yang singkat, Elang melepas Leander di dalam playground sedangkan ia dan Gadis menuju ke ruang tunggu playground. Mereka duduk bersebelahan di sofa panjang yang ada di sana bersama beberapa orangtua lain yang sedang menunggui anaknya bermain. Tanpa berbasa-basi, Gadis akhirnya langsung mengutarakan tujuannya datang menemui Elang siang hari ini.Elang menghela napas panjang kala Gadis sudah selesai menceritakan semua tentang rencana Gavriel
Selesai sarapan bersama, Gavriel dan Gadis menikmati pagi ini dengan duduk di dekat jendela. Mereka menikmati aroma tanah yang baru pertama kali terkena hujan lagi setelah sekian lama terpapar sinar matahari karena musim kemarau."Perumahan ini bebas banjir enggak sih, Gav?" tanya Gadis yang kini tengah duduk sambil menyenderkan kepalanya di bahu Gavriel."Selama aku tinggal di sini baru sekali aja banjir dan untungnya enggak pernah sampai masuk ke rumah sih, Dis cuma sampai jalan depan aja. Memangnya kenapa?""Oh.. enggak. Kalo kiranya banjir, kamu bisa tinggal di apartemen aku aja. Sebentar lagi juga yang ngontrak bakalan balik ke negaranya.""Makasih tawarannya, tapi aku enggak mau nyusahin kamu. Mending kalo mau
Melihat Gadis yang sudah bangun, Gavriel segera berdiri. Kini ia tarik tubuh Gadis agar berdiri. Meskipun Gadis terlihat lemas dan belum terlalu bersemangat, Gavriel langsung menciumi Gadis tanpa ampun. Mulai dari bibir, pipi, leher hingga pundak. Gavriel seakan benar-benar meluapkan semua gairah yang ada di dalam dirinya tanpa bisa di bendung lagi. Kali ini Gadis hanya bisa pasrah menerima semua ini. Saat Gavriel memeluknya terlalu erat, Gadis mencoba memprotesnya dengan menepuk pelan punggung Gavriel sebanyak tiga kali. Seakan paham dengan maksud tepukan dipunggungnya, akhirnya Gavriel melonggarkan pelukannya.Gavriel menatap mata Gadis yang tampak sudah menatapnya dengan tatapan bingung. "Sorry, Dis." Setelah mengatakan itu, Gavriel mengurai pelukannya dan menghentikan semua yang ia lakukan kepada Gadis.Ia merasa
Alena memilih menyembunyikan wajahnya dibalik koran yang pura-pura sedang ia baca. Ia memilih memperhatikan Rachel dari jauh sejak ia akan memasuki kamar hotel setelah cek-in. Tidak ia sangka jika selingkuhan suami Gadis ini akan menginap d
Wilson, Aditya dan Elang menatap Gavriel yang sedang sibuk berjalan mondar mandir di depan mereka bertiga. Sejak dua jam yang lalu, Wilson sudah memanggil mereka bertiga untuk datang ke ruang kerjanya yang ada di club ini. Andai saja Wilson
Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam.
Gadis : Gue sekarang jadi tahanan.Alena : ketangkap kasus apa lo? ada di Polsek mana?Gadis : kasus dibodohi dan dimanipulasi oleh keluarga Dipta. Bukan polsek tapi rumah orangtua gue.Alena : lo belum jadi pergi ke tempat Dipta buat cek langsung?Gadis : maunya hari ini tapi gue sudah terlanjur j







