로그인Satu jam sebelumnya...Setelah jam makan siang berakhir, Gavriel kembali sibuk dengan pekerjaannya namun suara handphone khusus urusan pribadinya yang terus menerus membunyikan notifikasi pesan membuatnya mau tidak mau harus segera membacanya. Ia takut ada sesuatu yang penting. Helaan napas panjang adalah hal yang Gavriel lakukan kala melihat ternyata Group Lapak Dosa miliknya sedang sangat ramai. Ketiga temannya benar-benar membuatnya frustasi karena mereka memutuskan untuk berisik di jam-jam rawan 'tensi tinggi' seperti ini.Gavriel mulai membacanya dan ketika sebuah gambar celana dalam wanita warna ungu berbahan renda terpampang nyata di sana, matanya langsung membelalak lebar. Gavriel tak pernah menyimpan celana dalam wanita di rumahnya meskipun itu milik kakaknya (Ella), lalu celana dalam ini milik siapa? Apa iy
Elang bangun siang hari ini karena sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar Gavriel benar-benar menyiksa kedua matanya. Saat ia membuka mata, jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Ia hanya bisa berdiri lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi yang ada di kamar ini. Dengan tubuh yang terasa masih belum segar, ia segera mencari handuk baru serta sikat gigi baru. Ia mandi di bawah guyuran air shower yang sukses membuat badannya terasa lebih segar kembali. Ia sedikit heran kenapa tidak ada yang membangunkannya? Gavriel benar-benar keterlaluan karena pergi ke kantor tanpa berpamitan kepadanya lebih dulu. Pasti pria satu itu sudah selesai menikmati makan siangnya saat ini di kantor.Selesai mandi dan membalutkan handuk di pinggangnya, Elang keluar dari kamar mandi dan segera mencari celana dalam baru milik Gavriel yang belum pernah dipakai. Begitu mendapatkannya, ia seg
Gadis menatap langit-langit kamarnya yang ada di rumah orangtuanya. Sambil menatap langit-langit kamar, kepala Gadis sibuk memikirkan bagaimana cara untuk meminta ijin kepada orangtuanya agar tidak turut serta untuk menghadiri acara rapat pertunangan Angi dengan Joe. Rencana rapat ini juga sekaligus sebagai acara perkenalan Joe dengan keluarga Bimantara karena Gadis yakin jika Joe pasti sudah mengenal keluarga besar Angi dari pihak Mamanya lebih dulu.Tok...Tok....Tok...Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Gadis kembali bangun dari posisi rebahannya dan segera berjalan ke arah pintu kamarnya. Saat ia membukanya, tampak sosok Mamanya yang sedang berdiri di depan pintu sambil tersenyum
Gavriel menghela napas panjang kala ia baru saja selesai melakukan absen di kantor pagi ini. ia bersyukur karena dirinya tidak terlambat datang ke kantor meskipun tadi pagi pukul empat pagi, dirinya baru memejamkan mata. Saat berjalan ke arah ruangannya, Alena memanggilnya. Mau tidak mau Gavriel menyambangi Alena yang tengah menikmati secangkir kopi pagi ini di meja kerjanya."Gimana semalam? Sukses enggak?""Lancar berkat bantuan lo. Cuma gue heran aja lo dapat cake kaya gitu dari mana? Enggak mungkin itu cake beli dadakan, pasti lo pesan.""Gue sudah pesan dari seminggu sebelumnya. By the way, gimana, Gadis sudah kasih jawaban belum?"Kala mendapatkan pertanyaan seperti ini, Gavriel kemb
"Minggir, Lang... minggir," kata Gavriel sambil mendorong-dorong tubuh Elang untuk mengambil bantal kesayangannya yang sudah ada sejak ia masih balita. Tidak peduli usia Gavriel sudah kepala tiga namun bantal ini tidak pernah jauh dari dirinya. Rasanya pergi tanpa bantal ini kala menemani Gadis ke Lembang benar-benar menyiksa Gavriel. Karena tidurnya tidak pernah merasa nyenyak.Setelah berhasil mengambil bantal ini, Gavriel segera membawanya turun bersama bantal yang ia ambil untuk Gadis. Saat Gavriel sampai di ruang keluarga, tempat di mana karpet yang akan digunakan Gadis untuk tidur, perempuan itu sudah merebahkan dirinya di sana sambil bermain handphone."Dis, ini bantal kamu," kata Gavriel sambil mengulurkan sebuah bantal untuk Gadis."Thanks, Gav..."
Sesekali Gadis menguap karena rasa kantuk yang sudah ia tahan sejak tadi. Andai bisa, ia ingin pamit undur diri dari ruang keluarga ini untuk tidur, tapi ia masih memiliki rasa sopan santun di dalam dirinya. Tidak mungkin ia pergi dari ruang keluarga ini meskipun ia lelah menemani ke empat pria ini bermain karambol lalu kini brmain kartu. Diantara empat pria ini hanya Gavriel dan Aditya yang masih terjaga kewarasannya untuk tidak meminum banyak alkohol. Bahkan mereka berdua belum menghabiskan segelas wine yang sejak awal dituangkan ke gelas. Baik Aditya maupun Gavriel lebih banyak meminun air putih dingin malam ini."Sudah jam empat pagi, kita selesai di sini aja," ucap Aditya mencoba menyudahi acara ini."Nanggung, Dit... gue baru menang sekali," ucap Wilson yang sudah mabuk berat.
Alena memilih menyembunyikan wajahnya dibalik koran yang pura-pura sedang ia baca. Ia memilih memperhatikan Rachel dari jauh sejak ia akan memasuki kamar hotel setelah cek-in. Tidak ia sangka jika selingkuhan suami Gadis ini akan menginap d
Wilson, Aditya dan Elang menatap Gavriel yang sedang sibuk berjalan mondar mandir di depan mereka bertiga. Sejak dua jam yang lalu, Wilson sudah memanggil mereka bertiga untuk datang ke ruang kerjanya yang ada di club ini. Andai saja Wilson
Hampir dua jam ini Gadis terus menerus berdoa dan berharap jika Gavriel akan berhasil mendapatkan bukti rekaman CCTV di rumahnya. Terlebih ia lupa memberi Gavriel kunci utama rumah. Semoga saja Gavriel dapat masuk ke rumah.
Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam.







