Share

8. Saran Alena

last update publish date: 2026-03-11 10:46:50

Gadis membolak-balikan tubuhnya di atas ranjang sejak semalam. Ingin rasanya ia marah namun tidak bisa setiap kali mengingat permintaan suaminya padanya. Benar dugaannya, Pradipta memintanya untuk merawat kedua orangtuanya di Surabaya. Meksipun awalnya Gadis menolak, namun kala Pradipta mengungkit-ungkit bakti anak kepada orangtua, maka akhirnya Gadis setuju merawat kedua orangtua Pradipta dengan catatan bahwa ada seorang perawat lansia yang akan membantunya.

Deringan telepon membuat Gadis mau
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • From Bully to Love Me   97. Demi Gadis, Aku Rela di Bully

    Satu jam sebelumnya...Setelah jam makan siang berakhir, Gavriel kembali sibuk dengan pekerjaannya namun suara handphone khusus urusan pribadinya yang terus menerus membunyikan notifikasi pesan membuatnya mau tidak mau harus segera membacanya. Ia takut ada sesuatu yang penting. Helaan napas panjang adalah hal yang Gavriel lakukan kala melihat ternyata Group Lapak Dosa miliknya sedang sangat ramai. Ketiga temannya benar-benar membuatnya frustasi karena mereka memutuskan untuk berisik di jam-jam rawan 'tensi tinggi' seperti ini.Gavriel mulai membacanya dan ketika sebuah gambar celana dalam wanita warna ungu berbahan renda terpampang nyata di sana, matanya langsung membelalak lebar. Gavriel tak pernah menyimpan celana dalam wanita di rumahnya meskipun itu milik kakaknya (Ella), lalu celana dalam ini milik siapa? Apa iy

  • From Bully to Love Me   96. Penemuan Harta karun di Halaman Belakang

    Elang bangun siang hari ini karena sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar Gavriel benar-benar menyiksa kedua matanya. Saat ia membuka mata, jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Ia hanya bisa berdiri lalu berjalan menuju ke arah kamar mandi yang ada di kamar ini. Dengan tubuh yang terasa masih belum segar, ia segera mencari handuk baru serta sikat gigi baru. Ia mandi di bawah guyuran air shower yang sukses membuat badannya terasa lebih segar kembali. Ia sedikit heran kenapa tidak ada yang membangunkannya? Gavriel benar-benar keterlaluan karena pergi ke kantor tanpa berpamitan kepadanya lebih dulu. Pasti pria satu itu sudah selesai menikmati makan siangnya saat ini di kantor.Selesai mandi dan membalutkan handuk di pinggangnya, Elang keluar dari kamar mandi dan segera mencari celana dalam baru milik Gavriel yang belum pernah dipakai. Begitu mendapatkannya, ia seg

  • From Bully to Love Me   95. Hadiah Perceraian

    Gadis menatap langit-langit kamarnya yang ada di rumah orangtuanya. Sambil menatap langit-langit kamar, kepala Gadis sibuk memikirkan bagaimana cara untuk meminta ijin kepada orangtuanya agar tidak turut serta untuk menghadiri acara rapat pertunangan Angi dengan Joe. Rencana rapat ini juga sekaligus sebagai acara perkenalan Joe dengan keluarga Bimantara karena Gadis yakin jika Joe pasti sudah mengenal keluarga besar Angi dari pihak Mamanya lebih dulu.Tok...Tok....Tok...Suara ketukan di pintu kamarnya membuat Gadis kembali bangun dari posisi rebahannya dan segera berjalan ke arah pintu kamarnya. Saat ia membukanya, tampak sosok Mamanya yang sedang berdiri di depan pintu sambil tersenyum

  • From Bully to Love Me   94. Kabar Buruk

    Gavriel menghela napas panjang kala ia baru saja selesai melakukan absen di kantor pagi ini. ia bersyukur karena dirinya tidak terlambat datang ke kantor meskipun tadi pagi pukul empat pagi, dirinya baru memejamkan mata. Saat berjalan ke arah ruangannya, Alena memanggilnya. Mau tidak mau Gavriel menyambangi Alena yang tengah menikmati secangkir kopi pagi ini di meja kerjanya."Gimana semalam? Sukses enggak?""Lancar berkat bantuan lo. Cuma gue heran aja lo dapat cake kaya gitu dari mana? Enggak mungkin itu cake beli dadakan, pasti lo pesan.""Gue sudah pesan dari seminggu sebelumnya. By the way, gimana, Gadis sudah kasih jawaban belum?"Kala mendapatkan pertanyaan seperti ini, Gavriel kemb

  • From Bully to Love Me   93. Pillow Talk

    "Minggir, Lang... minggir," kata Gavriel sambil mendorong-dorong tubuh Elang untuk mengambil bantal kesayangannya yang sudah ada sejak ia masih balita. Tidak peduli usia Gavriel sudah kepala tiga namun bantal ini tidak pernah jauh dari dirinya. Rasanya pergi tanpa bantal ini kala menemani Gadis ke Lembang benar-benar menyiksa Gavriel. Karena tidurnya tidak pernah merasa nyenyak.Setelah berhasil mengambil bantal ini, Gavriel segera membawanya turun bersama bantal yang ia ambil untuk Gadis. Saat Gavriel sampai di ruang keluarga, tempat di mana karpet yang akan digunakan Gadis untuk tidur, perempuan itu sudah merebahkan dirinya di sana sambil bermain handphone."Dis, ini bantal kamu," kata Gavriel sambil mengulurkan sebuah bantal untuk Gadis."Thanks, Gav..."

  • From Bully to Love Me   92. Berbagi Cerita Masa Lalu

    Sesekali Gadis menguap karena rasa kantuk yang sudah ia tahan sejak tadi. Andai bisa, ia ingin pamit undur diri dari ruang keluarga ini untuk tidur, tapi ia masih memiliki rasa sopan santun di dalam dirinya. Tidak mungkin ia pergi dari ruang keluarga ini meskipun ia lelah menemani ke empat pria ini bermain karambol lalu kini brmain kartu. Diantara empat pria ini hanya Gavriel dan Aditya yang masih terjaga kewarasannya untuk tidak meminum banyak alkohol. Bahkan mereka berdua belum menghabiskan segelas wine yang sejak awal dituangkan ke gelas. Baik Aditya maupun Gavriel lebih banyak meminun air putih dingin malam ini."Sudah jam empat pagi, kita selesai di sini aja," ucap Aditya mencoba menyudahi acara ini."Nanggung, Dit... gue baru menang sekali," ucap Wilson yang sudah mabuk berat.

  • From Bully to Love Me   46. Ternyata ada sang sutradara

    Group Lapak DosaElang : Dari kemarin gue nunggu update kabar anak gue. Kok lo malah ngilang gitu, Gav?

  • From Bully to Love Me   41. First Meet with Leander

    Tanpa Rachel dan Gadis sadari, sejak tadi Gavriel sudah mengamati mereka di dekat pintu lift. Ia bahkan mengajak Leander untuk bersembunyi. Gavriel masih mempertajam mata serta pendengarannya dan kini ia mulai mengeluarkan ponselnya untuk m

  • From Bully to Love Me   39. Enggak mau berdua

    Pagi-pagi buta seperti ini memang jalanan Jakarta cukup ramah untuk dilewati karena tidak ada macet di mana-mana. Sepanjang perjalanan juga Gadis lebih banyak diam dan menatap jalanan dari jendela mobil.

  • From Bully to Love Me   38. First Meet with Aditya

    Suasana di dalam mobil yang hanya berisi Gavriel dan Gadis sudah sesepi kuburan pada malam hari. Tidak ada yang berniat membuka percakapan lebih dulu sepanjang perjalanan menuju ke daerah Jakarta Selatan ini. Deringan telepon Gadis membuat Gavriel m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status