Home / Romansa / From Your Eyes Only / Tak Semua Perempuan Bisa Mencintai Dirinya Tanpa Dihukum Dunia

Share

Tak Semua Perempuan Bisa Mencintai Dirinya Tanpa Dihukum Dunia

Author: Netganno
last update Last Updated: 2025-08-01 08:23:18

Saat di ruang operasi Jakarta Eye Centre, mata Julio sedang berjuang menerima kornea baru demi bisa melihat kembali dunia, di sisi lain di tengah kota Jakarta, langit yang mendung menyelimuti sebuah rumah mewah di kawasan Pondok Indah. Di dalam kamar utama yang luas dan dingin itu, tampak Erika tengah memasukkan satu per satu pakaiannya ke dalam koper Rimowa putihnya. Gaun-gaun mahal, winter coat tebal, sepatu-sepatu boot dari Paris, perlahan dilipat dan disusun rapi, namun tangan Erika tampak gemetar.

Air mata jatuh satu-satu membasahi pipinya. Bukan tangisan keras yang meledak-ledak. Tapi sunyi, menyakitkan, dan tertahan seperti hujan pertama di musim kemarau panjang.

Di sebelahnya, sang ibu, Arumi, membantu melipat jaket kulit dan sweater wol. Diam-diam memperhatikan setiap gerakan anak semata wayangnya itu, hingga akhirnya pelan-pelan bertanya, “Rika... Apakah kamu  mencintai Julio?”

Erika menghentikan lipatannya. Ia menarik napas panjang, lalu menatap ibunya dengan matanya yang masih penuh air mata.

“Mama tahu jawabanmu, kamu mencintai Julio  ,” lanjut Arumi dengan lembut, “ Tapi mama tidak mengerti, kalau kamu mencintainya, kenapa kamu memilih pergi? Kenapa kamu memilih meninggalkan dia di saat dia paling membutuhkanmu?”

Erika tidak segera  menjawab . Tangannya meletakkan sepatu boatnya  ke dalam koper, lalu perlahan ia duduk di tepi ranjang. Tangisnya pecah, kali ini lebih deras.

“Aku mencintai Julio, Ma. Aku mencintainya selama  delapan tahun, sejak kami kuliah di Amerika. Tidak mungkin aku tidak punya hati. Tapi... Tapi…. Aku…. aku tidak sanggup. Aku tidak bisa menjadi istri dari pria yang buta. Aku tidak sanggup mendampingi Julio dan bertindak sebagai wanita bahagia kalau suamiku buta.”

Erika menunduk, kedua tangannya menutup wajahnya sendiri, bahunya terguncang oleh isak tangis. Arumi segera memeluknya, memeluk seluruh kesakitan, kekecewaan, dan kebimbangan yang sedang bergejolak  di tubuh anak yang sejak kecil hidup dalam segala kemewahan dan tak pernah mengenal kata susah.

“Aku tahu keputusan ini egois, Ma. Tapi rasa cinta pada  diriku sendiri... lebih besar daripada  rasa cintaku pada  Julio.”

Arumi terdiam. Ia tak bisa berkata-kata.

“Aku takut hidup dalam penderitaan. Aku takut bangun setiap pagi lalu bertanya dalam hati kenapa aku menjalani  hidup seperti ini. Mama tahu, aku tidak pernah hidup dalam kekurangan. Sejak bayi aku punya babysitter, di  TK aku punya nanny. Bahkan sekarang aku punya asisten pribadi. Aku tidak pernah tahu rasanya susah. Lalu kalau  aku harus menikah dengan pria yang tidak bisa melihatku... tidak bisa melihat dunia... tidak bisa berjalan sendiri tanpa dibimbing? Aku tidak sanggup.”

Erika bangkit dan kembali memasukkan pakaian ke koper. Suaranya kini lebih tegas, dingin, tapi getir.

“Kalau aku tetap bersama Julio, aku hanya akan menjadi wanita yang perlahan-lahan membenci hidupnya sendiri. Aku akan berubah, dan Julio akan merasakannya. Jadi, daripada kami saling menyakiti,daripada akhirnya kami saling benci,  lebih baik aku memutuskan hubungan  sekarang.” Erika menghela nafas sebelum melanjutkan “ Seperti luka di kaki, Ma. Kalau sudah parah, jangan tunggu bernanah, langsung saja di  amputasi.. Sakit?  Pasti,  tapi tidak berkepanjangan. Aku dan Julio merasa sangat sakit saat ini tapi kami akan sembuh dan sakit kami tidak berlarut-larut”

Kalimat itu diucapkan Erika tanpa air mata kali ini. Tegas. Penuh keteguhan, meski suaranya serak menahan luka.

Arumi hanya mengangguk. Di matanya, ada campuran antara rasa kagum, sakit  dan pengertian. Ia tahu, Erika tidak akan pernah sanggup hidup sebagai istri dari pria yang cacat. Hidup Erika terlalu rapi. Terlalu teratur. Terlalu sempurna.

Dulu, ia bisa jatuh cinta pada  Julio karena Julio  adalah simbol kesempurnaan dari seorang pria.  Tampan. Kaya. Dari keluarga terpandang. Meski Julio manja dan masuk kerja sesuka hati di perusahaan ayahnya, tidak ada yang peduli. Karena pada akhirnya, rekeningnya selalu penuh, posisinya tetap aman, dan dia adalah anak kebanggaan , pewaris tunggal keluarga Wicaksono, yang hartanya bernilai jutaan dolar.

Erika memutuskan hubungan ini bukan karena dia membenci Julio. Tapi karena  dia lebih mencintai dirinya sendiri.

Arumi tahu itu. Dan dalam hati kecilnya... ia sangat  kagum.

Anaknya memilih sesuatu yang tidak pernah ia sanggup pilih untuk dirinya sendiri.

Karena Arumi pun punya luka. Luka yang sudah lama dia terima sebagai seorang istri.

Ia hidup bertahun-tahun menerima suami yang kerap tidur dengan wanita lain, sekretarisnya, koleganya, teman SMA-nya, bahkan janda tetangga. Suaminya lelaki genit yang tak bisa melihat perempuan lewat tanpa menggodanya. Mungkin kalau dinding punya lubang, dia pun akan meniduri dinding itu.

Dan Arumi... hanya bisa diam selama bertahun-tahun pernikahan mereka, dia tidak berani memilih untuk mencintai dirinya sendiri seperti yang Erika lakukan karena satu-satunya kekurangan suaminya itu hanyalah kesetiaan. Selebihnya, ia lelaki yang bertanggung jawab. Menyayangi keluarga. Menyayangi Erika dan tidak pernah nginap di luar rumah, jadi Arumi berprinsip, asalkan suaminya tetap pulang, dia akan menutup mata dan menerima kegenitan suaminya, meskipun dia tidak bahagia

Klik.

Suara koper yang ditutup,  membuyarkan lamunan Arumi. Ia menatap anak perempuannya yang kini berdiri dengan punggung tegak dan mata sembab.

“Mama hargai keputusanmu, Rika,” ucap Arumi pelan, “Mama bahkan... kagum. Karena kamu memilih mencintai dirimu sendiri. Jangan seperti mama, yang terlalu lama menerima, hingga akhirnya penerimaan itu menjadi   kebiasaan pahit yang harus mama telan dalam diam.”

“Iya, Ma. Itu yang aku hindari,” jawab Erika sambil menatap wajah ibunya.

“Aku tidak mau hidup seperti Mama.”

Mata Arumi membulat, ia kaget “Kamu tahu soal Papa?” bisik Arumi. Ternyata anaknya tahu rasa sakitnya , padahal dia tidak pernah menunjukkannya, dia selalu simpan dalam-dalam rasa sakit itu. Rasa sakit tidak dihargai sebagai istri, rasa sakit mengetahui suaminya selingkuh dan terpaksa menerimanya.

Erika tersenyum getir “Tahu. Aku lihat Mama sering nangis diam-diam di taman belakang. Tapi selalu tersenyum begitu Papa pulang. Meskipun kerah kemeja papa  penuh lipstik merah.”

Diam. Suasana hening. Arumi  hanya bisa menarik napas panjang.

“Mama, semua yang mama jalani  adalah  keputusan Mama, dan aku hormati. Tapi jangan salahkan aku juga, karena aku memutuskan untuk pergi dan mencintai diriku sendiri. ”

Arumi mengangguk. “Mama tidak akan pernah menyalahkan  kamu, Erika. Tidak semua perempuan berani mencintai dirinya sendiri seperti yang kamu lakukan.  Kamu sangat  hebat.”

“Terima kasih, Ma. Terima kasih sudah  mengerti.”

Erika menatap keluar jendela. Langit tetap abu-abu. Tapi dia sudah siap meninggalkan semua. Termasuk cinta yang pernah ia lalui bersama Julio selama  delapan tahun.

“Mungkin Julio bukan jodohku,” gumamnya. “Semoga di Amerika nanti, aku bisa membuka hatiku untuk pria yang... lebih sempurna. Atau setidaknya, bisa kuliah lagi. Ambil S3, biar ada kegiatan.”

“Penerbangan kamu  malam ini, ya?” tanya Arumi sambil berdiri.

“ Iya nanti tengah malam. Transit di Jepang, karena aku pake ANA”

“Hati-hati di sana, Nak. Jangan pulang sebelum kamu benar-benar bisa melupkan Julio. Jangan pulang kalau hatimu masih saki t.tidak apa tidak ada cinta yang baru dari lelaki yang paling penting kamu  tetap bisa mencintai   dirimu  sendiri seperti sekarang.”

Erika tersenyum tipis. Air matanya kembali jatuh. Mungkin ini air mata  terakhir untuk Julio. Cinta   yang ia akan ia  lepaskan karena ia lebih memilih mencintai dirinya  sendiri.

Netganno

Banyak di kehidupan kita , wanita yang tidak berani mencintai dirinya sendiri karena takut dihujat dunia. Biasalah lelaki, selingkuh tipis=tipis asal dia tetap mencintai keluarganya ya biarin aja, masak tega ninggalin anak. Itu yang selalu orang2 katakan. Iya ngak? Bagaimana menurutmu teman2. Mari kita keluarkan opini kita di comment. Happy reading.

| 23
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (60)
goodnovel comment avatar
Ristiana Cakrawangsa
knp mama bertahan? harusnya Erika mendampingi julioi
goodnovel comment avatar
Liss02
Rasa cinta Erika ke dirinya sendiri lebih besar dibandingkan cintanya ke Julio.. Erika hanya ingin hidup bahagia dan gak menderita jadi dia memilih jalan seperti ini yaitu meninggalkan Julio...
goodnovel comment avatar
Liss02
Bu Arumi tidak seperti Erika yaa yang bisa mencintai dirinya sendiri.... Dia bertahan dengan lelaki yang telah lama mengkhianatinya demi sang anak dia rela bertahan... Kalo dia mencintai dirinya sendiri mungkin dia telah berpisah dengan Arifin, suaminya.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • From Your Eyes Only   145: Pernikahan adalah perjalanan panjang menuju versi terbaik dari dua jiwa yang saling belajar untuk bertumbuh.

    Epilog Setahun kemudian, di sore hari Minggu yang cerah, dua stroller dari merek Nuna dan empat orang tampak berjalan perlahan memasuki pemakaman di Karet Kuningan tempat Bayu dimakamkan. Laras menaruh bunga di makam kedua orang tuanya, lalu beralih ke nisan putih bertuliskan nama Bayu Prasetyo. Ia berjongkok, membelai lembut nisan itu, sementara Julio dan Ario mencabut rumput liar yang tumbuh di atas tanah makam. Di dekat mereka, Riris berdiri di samping stroller Nuna BMW X yang ditempati Raihan dan satunya seri Nuna Triv yang berisi Ayuna, kedua bayi lucu yang kini menjadi pusat dunia mereka. Suara Laras terdengar lembut saat ia mulai berbicara, “Bayu...Hari ini ulang tahunmu. Selamat ulang tahun adikku. Hari ini kakak datang bersama keponakanmu. Namanya Raihan. Entah kenapa, wajahnya mirip sekali dengan kamu, Bayu. Senyumnya, matanya, bahkan cara dia tertawa, semuanya mengingatkanku padamu. Tapi aku bahagia, Bayu. Karena lewat Raihan, rinduku padamu terasa lebih ringan.” Laras

  • From Your Eyes Only   144 : Tuhan mengambil satu hal untuk memberi seribu alasan baru agar manusia tetap bersyukur, sebab setiap kehilangan sejatinya hanyalah jalan pulang menuju cinta yang lebih besar

    Laras POV Aku sedang menyusui bayiku yang besok genap berusia satu bulan ketika Julio masuk ke kamar kami. Ia baru pulang dari Labayo, tempat yang kini tumbuh pesat, meskipun belum satu tahun beroperasi . Tapi karena permintaan pasar terus meningkat, maka kami uda menambah kapasitas produksi jadi dua ribu donat per hari, dan kami menambah enam orang mitra pemasaran baru juga pekerja yang membantu di dapur dari SMK Tata Boga. Melihat wajahnya yang lelah tapi berbinar, hatiku menghangat. Suamiku sudah bekerja sangat keras dan aku bangga padanya.Raihan tertidur pulas di pelukanku. Ya, Raihan Anindra Wicaksono nama yang kami pilih dengan penuh perdebatan di rumah sakit saat aku masih di rawat dan Raihan masih di inkubator. Julio mulanya ingin nama yang mengandung unsur “Bayu”, katanya sebagai bentuk terima kasih pada adikku tercinta yang sudah menuntunnya bertemu denganku. Tapi aku menolak. Aku ingin nama Bayu tetap menjadi milik Bayu bagian dari kenangan yang utuh, tak tersentuh.

  • From Your Eyes Only   143 : Ternyata kebahagiaan itu sederhana. hanya butuh dua hal: orang yang kita cintai bernapas dengan selamat, dan tangis kecil yang menandakan hidup baru dimulai

    Julio POV Jeritan kepanikan Laras dan Riris bersahutan. Ario pun ikut panik, suaranya meninggi, “Ayo, Ris! Kita harus ke Bidan Aini sekarang!” “Kita ke rumah sakit aja!” seruku cepat. “ Pak Narto ada di depan, biar sekalian sama Laras. Ketuban Laras pecah! Kita harus cepat ” Ario menatapku, wajahnya tegang. “Kamu aja yang ke rumah sakit bawa Laras. Aku bisa ke puskesmas aja bareng Riris!” Aku tidak mau berdebat. Aku langsung menuntun Laras keluar, memeluk bahunya agar bisa berjalan lebih cepat. Pak Narto sudah siap di depan pintu mobil untung tadi dia parkir di lapangan bola agar Laras tak perlu berjalan jauh sampai ke tempat biasa aku parkir mobilku di samping mall Ambasador. Tapi langkahku terhenti ketika suara Laras memanggil lirih, “Ris… boleh nggak kamu bareng aku ke rumah sakit? Aku takut, Ris. Ketuban pecah di usia tujuh bulan itu bahaya, kan?” Suaranya bergetar, hampir menangis. Riris menatapnya, meski wajahnya menahan sakit, bibirnya tersenyum tipis. “Iya, iya, Ra…

  • From Your Eyes Only   142 : Kadang kebahagiaan bukan datang dari hal besar, tapi dari perhatian kecil yang diulang setiap hari

    Laras POV Sinar matahari menembus tirai jendela, mengenai wajahku yang baru saja terbangun. Aku melirik jam di meja kecil di samping tempat tidur, Sudah jam delapan. Ya, kalian nggak salah dengar, jam delapan pagi, dan aku baru bangun. Sejak masuk trimester kedua , rasa malas datang tanpa permisi. Kalau dulu aku biasa bangun jam dua dini hari untuk mengadon donat, sekarang jangankan jam dua, jam tujuh pun rasanya seperti tengah malam. Anak dalam perutku ini benar-benar manja dan sepertinya, dia ingin aku ikut manja juga. Setelah drama flek dan bed rest total di trimester pertama, dokter Dea akhirnya menyatakan aku “bebas tahanan rumah”. Anakku sudah cukup kuat, katanya. Aku boleh beraktivitas asal tidak terlalu capek dan tidak boleh berdiri lama tentunya aku senang bukan main.Tapi di hari pertama aku niat kembali ke Labayo, rencanaku berantakan karena aku tidur lelap sekali , dan Julio suami paling lembut dan penyayang sejagat raya, tidak tega membangunkanku. “Ra, kamu tidur nyenya

  • From Your Eyes Only   141: Penebusan tak selalu datang dalam kata ‘maaf’, tapi dalam tindakan kecil yang tulus, yang perlahan menjahit robekan antara masa lalu dan masa kini

    Julio POV Siang itu, sekitar pukul sebelas, aku bersiap pulang ke rumah mama untuk menemani Laras makan siang. Semua pekerjaan di Labayo sudah rampung. Hanya Ario yang masih sibuk membetulkan satu motor listrik yang ngadat sejak pagi. Untungnya waktu awal membuka usaha, aku membeli tujuh unit motor listrik. setidaknya kalau satu rusak, operasional tetap bisa jalan. “Ar, aku balik dulu ya, ke rumah.” Ario mengangguk tanpa menoleh, tangannya masih memegang obeng dan kabel. “Oke. Nanti aku nyusul pas siangan, sekalian jemput Riris yang mau jenguk Laras.” Aku menatapnya sebentar. “Riris udah berangkat ke dokter?” “Udah, baru jam sembilan tadi dia jalan.” “Ke dokter Dea, kan?” “Nggak,” jawab Ario sambil nyengir. “Katanya mau ke puskesmas dulu biar dapet buku ibu hamil. Dia keukeuh pengen pakai BPJS, katanya sayang udah bayar iuran tapi nggak pernah dipakai.” Aku menghela napas, separuh gemas, separuh kagum pada kesederhanaan Riris. “Aduh… udah kubilang, biaya itu akan ditang

  • From Your Eyes Only   140 : Kadang, Tuhan tidak mengirim malaikat bersayap untuk menolongmu. Ia mengirim sahabat dengan tawa yang tulus, tangan yang hangat, dan hati yang tak pernah menilai

    Riris POV Aku dan Ario berdiri di depan pintu pagar rumah, menyaksikan Julio berpamitan kepada Arumi, Wanita yang hampir jadi mertuanya, ibu dari Erika. Tadi ia datang bersama wanita ini dan mengatakan bahwa Arumi akan menyewa kamar kontrakan yang dulu ditempati Ario dan Julio . Ibuku tentu saja senang, apalagi Julio membayar sewanya langsung untuk satu tahun penuh tidak bulanan seperti penyewa lainnya. Setelah berpamitan kepada Arumi, yang kemudian menutup pintu kamarnya , Julio berjalan mendekati kami sambil berkata. “ Besok pagi ,tolong bantu tante Arumi untuk bekerja di Labayo. Saat kalian berangkat , ajak dia sekalian ya. Aku tadi udah bilang padanya, berangkat jam 1.45 pagi.” Kata Julio, kali ini kata-katanya bukan sebagai teman tapi sebagai boss kami. “ Emang dia bisa bangun Liyo?” Tanya Ario “ Bukannya katamu dia terbiasa jadi putri atau tepatnya ratu seperti anaknya, si Erika itu ” sambungnya lagi. “ Mau tidak mau, dia harus bisa bangun, sekarang dia bukan ratu lagi. Suami

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status