Share

BAB 2

Author: DLaksana
last update publish date: 2025-06-13 13:58:21

Falsya berteriak sangat kencang. Hal itu membuat perawat yang sedang berjaga di ruang IGD segera menghampiri.

“Apa yang terjadi, Nona?” tanya Perawat kaget.

“Usir, Dia!” unjuk Falsya ke arah Rendra yang berdiri membeku.

“Aku tidak mau dia ada di sini!” desisnya lagi membuang muka. Air matanya pun kembali berjatuhan mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

Perawat itu menatap ke arah Rendra dengan perasaan bingung. Sebab, Rendra bilang jika dia dari pihak keluarganya. Namun, kenapa sekarang wanita ini meminta untuk mengusirnya.

“Tolong, jaga dia, Sus. Aku akan keluar saja,” kata Rendra sebelum dia diusir.

Perawat itu hanya mengangguk. Ia kembali menenangkan Falsya yang masih menangis. Dia juga berpikir jika pasiennya saat ini sedang bertengkar. Ia pun tidak ingin ikut campur, membuat ia lebih memilih untuk kembali ke ruang tunggu setelah Falsya kembali tenang.

Sementara di luar ruangan. Lagi-lagi Rendra mengumpat dirinya dengan kesal.

Sampai ia tidak menyadari jika asistennya kini sudah berada di hadapannya.

“Tuan!” panggil Bastian lirih. Ia juga menatap wajah Tuannya yang sedikit kusut. Dia sendiri dibuat bingung oleh keadaan sekarang.

Sebab, setahu dia Tuannya berjanjian dengan kekasihnya akan bermalam di hotel. Namun, tiba-tiba Rendra keluar membawa wanita lain, bahkan wanita itu tak sadarkan diri dengan tubuh tanpa busana.

“Tolong, kamu urus administrasi di lobi, aku akan membujuk wanita itu lagi agar mau memaafkan aku,” titah Rendra mengarah pada Bastian.

“Baik, Tuan.” Bastian meninggalkan ruang IGD dan berjalan ke arah lobi sesuai perintah Tuannya.

Rendra sendiri masih bimbang antara ingin masuk atau tidak. Akan tetapi, dia harus bicara dengan wanita itu. Dia ingin meluruskan dan meminta maaf atas perlakuan b***tnya.

“Maaf, jangan takut. Aku tidak akan berbuat buruk padamu,” ucap Rendra hati-hati. Dia mencoba mendekat ke arah brankar, terlihat jelas jika wanita yang berbaring lemah menatapnya dengan tatapan ketakutan.

“Aku hanya ingin bertanggung jawab atas semua kesalahanku padamu,” lanjutnya lagi berharap agar wanita itu percaya.

Falsya menggigit bibir bawahnya. Pikirannya bercampur aduk tak menentu.

“Anda serius? Mau bertanggung jawab?”

Rendra mengangguk. “Iya, aku akan bertanggung jawab.”

“Tapi, bukan sekarang. Ini kartu namaku, kamu bisa menyimpannya dan menghubungiku jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi,” ucapnya dengan memberikan selembar kertas kecil berwarna hitam emas.

“Untuk biaya rumah sakit tidak perlu khawatir. Aku sudah membayarkannya semua. Dan, maaf untuk kesalahanku,” sambungnya lagi panjang lebar.

Falsya melihat sorot mata pria itu tanpa keraguan. Akhirnya, ia pun hanya mengangguk lalu meminta pria itu pergi dari ruangannya.

Setelah kepergian Rendra. Falsya segera mengambil ponselnya yang tadi sempat diberikan oleh pria itu sebelum pergi. Ia akan menghubungi sahabatnya untuk datang ke rumah sakit.

Kini Falsya dibuat bingung. Sebab, baju kerjanya dirobek oleh pria itu. Apalagi dia hanya memiliki satu seragam. Sebenarnya dulu punya tiga setel seragam, namun, dua seragamnya hilang saat dia pindah kontrakan bulan lalu.

“Bagaimana aku bisa bekerja jika seragamku saja sudah rusak!” sesalnya lirih.

***

Satu minggu pun berlalu. Keadaan Falsya sudah membaik. Kini ia sedang menghadap di ruang HRD menemui pak Herman. Kejadian mengenaskan yang terjadi, ternyata berdampak buruk pada karirnya yang sudah dibangun selama ini.

Cibiran dan hinaan pun ia dengar dari mulut para karyawan yang lain. Padahal dialah korban di sini, dia dijebak oleh temannya sendiri saat akan mengecek kamar tamu yang dipesan oleh sepasang pengantin baru. Akan tetapi, ucapannya tidak didengar oleh satu orang pun, mereka malah menuduhnya telah menggoda tamu hanya demi sebuah uang.

Memang benar saat ini, Falsya sangat membutuhkan uang banyak untuk biaya pengobatan ibunya. Namun, Falsya tidak sekotor itu untuk menghalalkan cara demi mendapat uang. Dia masih punya harga diri dan takut akan dosa.

“Maaf, Falsya. Demi kebaikan nama hotel, saya tidak bisa memperkerjakan kamu lagi di sini. Ini uang tanda terima kasih kami atas semua kerja kerasmu selama ini,” kata pak Herman dengan memberikan satu amplop putih dan cokelat.

Amplop putih berisi surat plakaring dan amplop cokelat berisi uang 20 lembar berwarna merah.

“Baik, Pak. Terima kasih untuk semuanya. Maaf atas kesalahan saya yang membuat kegaduhan beberapa hari ini. Dan, maaf juga atas kesalahan yang membuat nama baik hotel sedikit tercoreng!” ucap Falsya lirih. Ia tidak kuasa menahan air matanya. Namun, segera ia hapus.

“Sama-sama, Falsya.”

Falsya pun keluar ruang HRD dengan tatapan yang kosong. Helaan napas panjang pun ia keluarkan secara perlahan.

Saat membuka pintu ternyata banyak karyawan yang menunggu di luar. Ia menyoraki Falsya dengan kata-kata yang cukup menyakitkan.

“Nggak nyangka, dikira cupu ternyata suhu!” ucap salah seorang wanita berambut pendek dengan melipat tangannya di atas d**a.

“Jangan salah, yang diam-diam begini nih yang menghanyutkan!” sahut wanita di sebelahnya.

Masih banyak lagi hinaan yang mereka lontarkan kepada Falsya hingga dia akhirnya berlari kencang menuju pintu keluar.

Sesampainya di lobi, Falsya tak sengaja bertemu dengan teman kerjanya yang waktu itu memberikan alamat kamar yang salah.

“Kamu tega ya, sudah menjebakku dan kini kamu menuduhku yang tidak-tidak!” pekiknya menatap tajam ke arah temannya itu.

Wanita yang bersanggul dengan memakai seragam hotel seperti milik Falsya pun hanya menyeringai.

“Aku tidak melakukan apa pun, itu karena kesalahanmu sendiri sudah berani berbuat tak senonoh dengan menggoda tamu. Untuk masalah kamar yang salah, kamu harusnya langsung turun untuk mengecek ulang. Tapi, apa yang kamu lakukan? Tidak perlu aku jelaskan juga ‘kan? Karena kamu tahu sendiri jawabannya!” sindir temannya itu yang bernama Lira. Dia berjalan meninggalkan Falsya yang terdiam membisu. Bukan hanya itu, bahunya sengaja menubruk ke tubuh Falsya dengan keras.

Falsya yang kini berada di luar halaman hotel tempatnya bekerja hanya bisa memandang bangunan tinggi itu dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan. Tempat untuk mencari nafkah selama ini hanya tinggal kenangan belaka.

“Aku harus secepatnya mencari pekerjaan. Apalagi minggu depan, Ibu harus di operasi,” gumam Falsya dengan berjalan ke arah halte.

Meski ia mendapat uang pesangon, tentu saja uang itu tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit. Semenjak kepergian ayahnya satu tahun lalu, membuat Falsya kini menggantikannya sebagai tulang punggung keluarga.

Bis yang sedang di tunggu Falsya kini datang, ia pun naik dan duduk di dekat jendela. Entah kenapa tidak seperti biasanya dia masuk ke dalam bis langsung merasa mual.

“Hoek!” suara mulutnya yang langsung ditutup dengan tangan.

Badannya seketika berkeringat dingin. Pandangan Falsya tiba-tiba kabur dan lama kelamaan pandangannya pun gelap seketika.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
butterfly🦋
kasihan falsya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 29

    Kata-kata Rendra menggantung di udara seperti asap beracun yang perlahan menyusup ke paru-paru Falsya. Ia menatap suaminya dengan mata membelalak, berharap—berdoa—bahwa apa yang baru saja ia dengar hanyalah kesalahan. Bahwa Rendra salah membaca pesan itu. Bahwa Bastian salah mengirim informasi. Bahwa semuanya hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir."Mas ... kamu tidak mungkin ..." suara Falsya tercekat. "Ibu? Ibu kandungmu sendiri?"Rendra menunduk. Kedua tangannya masih menggenggam ponsel dengan erat, seolah benda itu adalah bukti kehancuran yang tidak bisa ia ingkari. "Bastian mengirimkan bukti transfer. Rekening atas nama seseorang yang bekerja di kediaman ibuku. Uang sejumlah lima ratus juta ditransfer ke rekening Lira—teman kerjamu itu—tiga hari sebelum kejadian malam itu."Falsya merasakan kepalanya berputar. Ia membuka pintu mobil dengan tangan gemetar, lalu melangkah keluar. Udara basement yang lembap dan dingin menyapu wajahnya, tapi tidak cukup untuk membuyarkan kekacau

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 28

    Mobil melaju pelan menyusuri jalanan Jakarta yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berkelebat seperti bintang jatuh yang tak sempat diraih. Falsya menatap ke luar jendela, membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang masih terasa hangat oleh sisa air mata. Di sampingnya, Rendra mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap menggenggam jemari Falsya erat—seolah takut istrinya itu akan menghilang jika ia melepaskan."Kamu masih sering memikirkan apa yang terjadi malam itu?" tanya Rendra tiba-tiba, suaranya pelan namun cukup untuk memecah keheningan.Falsya menoleh. "Malam yang mana?"Rendra terdiam sesaat. "Malam pertama kita. Di hotel itu."Pertanyaan itu membuat Falsya menegakkan punggungnya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Selama ini, topik itu seperti luka yang belum sepenuhnya mengering—mereka berdua tahu keberadaannya, tapi enggan menyentuhnya karena takut memperparah rasa sakit."Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu, Mas?"Rendra menghela napas panjang. "Karena aku

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 27

    Tepat di depan mata, Rendra berdiri dengan raut wajah yang sulit dibaca. Bukan marah, bukan pula sedih. Hanya ada kehampaan yang justru lebih menusuk daripada amarah. Falsya membeku di ambang pintu, tangannya masih bertahan di gagang pintu seolah menemukan keberanian untuk tetap berdiri.“Mas? Kamu ... datang ke sini?” suara Falsya serak, berusaha menutupi getaran yang menjalari dadanya.Rendra tidak menjawab. Ia hanya menatap Falsya dengan sorot mata yang dalam, seperti sedang mencari sesuatu yang hilang. Setelah beberapa detik yang terasa seperti abad, akhirnya ia beringsut masuk melewati Falsya yang masih terpaku di tempat. Langkahnya terukur, tenang, namun ada beban yang terasa di setiap pergerakannya.“Bi Imah di mana?” tanyanya akhirnya.“Di kamar, istirahat.” Falsya menutup pintu perlahan, lalu berbalik menghadap suaminya. “Mas, ada apa? Kenapa tidak bilang mau ke sini?”“Aku tidak perlu bilang untuk menemui istriku sendiri, kan?” sahut Rendra, nadanya datar, tanpa emosi.Fa

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 26

    Di seberang sana, Falsya menatap layar ponselnya yang gelap. Padahal dia sudah sengaja pulang ke apartemen untuk berbicara dengan Rendra. Namun, jawaban sang suami di luar ekspektasinya.Hembusan kecil pun dia keluarkan untuk meredam emosi dan juga kecewa.“Segitu marahkah, sampai beralasan pulang larut malam?”Falsya lagi-lagi bergeming menatap langit yang kini mulai mendung. Jika saja bi Imah tak menyuruhnya untuk pulang, mungkin dia tidak akan berada di balkon apartemen yang sepi.Falsya tak ingin membuang waktunya hanya berdiam seorang diri. Dia pun berbalik dan masuk ke dalam apartemen untuk mengambil tas yang berada di sofa tengah.Falsya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Mungkin menunggu sebentar tidak akan lama, tetapi hatinya cukup keras untuk mengalah. Toh, alasan dia bekerja juga untuk melunasi uang yang dia pakai membayar hutang.Langkah kakinya berhenti di depan pintu saat melihat Rendra yang kini berdiam menatap ke arahnya. Falsya meletakan kembali tas ke atas mej

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 25

    “Kenapa kamu memotong pembicaraanku?!” hardik Rendra saat tangan kanannya dihempas oleh Falsya. “Apa karena ini?” lanjutnya sembari memperlihatkan barang bukti ke hadapan sang istri.Falsya bergeming, tubuhnya seketika melemas tiba-tiba. “Aku bisa jelasin, Mas.” Dia berkata sembari memohon.Namun, tangan kanan Rendra lebih dulu terangkat seakan tak meminta untuk dijelaskan.“Mas Rendra?” panggil Falsya lagi dengan suara pasrah.Rendra yang begitu kecewa meninggalkan istrinya seorang diri di lorong rumah sakit yang sepi.Falsya tak mengejar, lagi pula dia tahu ini konsekuensi atas apa yang dia lakukan.Langkahnya cukup berat saat berjalan kembali ke ruangan. Bi Imah yang kebetulan sedang menonton televisi pun dibuat bingung oleh wajah kusut ponakannya.“Kamu baik-baik saja, Sya?” tanyanya penasaran.Falsya tersenyum tipis, lalu mengambil tempat duduk di samping brankar sembari memeluk bi Imah.Sontak hal itu membuat bi Imah semakin penasaran dibuatnya.“Mas Rendra sudah tahu, Bi. Dan d

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 24

    Falsya kini kembali ke ruangan tempat bi Imah seorang diri. Dia meninggal Rendra dengan menghiraukan panggilan sang suami berulang kali. Andai sikap Rendra tak sebrutal itu, mungkin sikap Falsya juga akan mengerti kecemburuannya.“Mana Den Rendra, Sya?” tanya bi Imah saat melihat pintu terbuka.Falsya hanya tersenyum samar. “Mas Rendra langsung pulang, Bi. Dia besok pagi ada rapat dadakan katanya,” jawabnya berbohong.“Oh, begitu. Ya, sudah kamu makan. Bibi mau melanjutkan tidur lagi.”Falsya mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia pun berjalan ke arah sofa berwarna abu-abu sembari meletakkan makanan pemberian sang suami di meja. Seketika rasa laparnya hilang, dia pun hanya merebahkan tubuhnya di sofa tanpa menyentuh makanan itu.Sementara itu, Rendra sendiri yang masih berada di mobil menggerutui dirinya atas tindakan bodohnya.“Tidak seharusnya aku bersikap kasar padanya,” gumamnya pelan dengan frustasi.Tangan kanannya hendak membuka pintu mobil, namun dia urungkan. Dia tidak ingin m

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 5

    Rendra meyakinkan Falsya jika keluarganya akan menerima kehadirannya. Namun, dugaannya salah besar. Setelah sampai di kediaman keluarga besar Khasif. Falsya langsung dicecar habis-habisan. “Apa-apaan kamu, Rendra. Datang-datang kamu bilang mau menikahi wanita ini!” pekik Sahara, yang tak lain ibu

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 4

    Kini Falsya berjalan pulang ke arah rumahnya menggunakan angkot. Saat sudah mendudukkan bokongnya di dalam angkot dan mengatakan ke pak sopir turun di dekat pasar Induk. Tiba-tiba ia tersentak oleh suara ponselnya yang berdering. Saat melihat nama layar yang tertera, ia segera menggeser tombol hi

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 3

    “Di mana aku?” Falsya terkejut menatap ke sekelilingnya. “Kamu di rumah sakit,” ucap seorang wanita paruh baya. Falsya melengos ke arah suara itu. “Apa yang terjadi, Bu? Kenapa aku bisa ada di sini?” tanyanya dengan kebingungan. Wanita paruh baya itu pun menceritakan kejadian di dalam bis.

  • GADIS LUGU KEPUNYAAN CEO TAMPAN    BAB 1

    “Kok, gelap, ya? Atau memang sengaja dimatikan lampunya?” gumam Falsya. Dengan masuk ke dalam kamar hotel yang akan ia cek. Falsya meraba dinding untuk mencari saklar lampu. Namun, saat jemarinya belum sampai. Tiba-tiba ada yang menarik dirinya hingga ia terjatuh ke atas ranjang. “Aww!” rintih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status