LOGINAkibat salah masuk kamar, membuat Alindya Falsya Qirani harus mengalami petaka tragis disaat bekerja di waktu sift malam. Kesuciannya bahkan direnggut oleh pria tak dikenal yang menyewa kamar hotel di tempat dirinya bekerja. Bagaimana keadaan Falsya saat tahu dirinya tak suci lagi? Akankah dia meminta pertanggungjawaban dari pria yang melakukan hal buruk kepadanya?
View MoreDi seberang sana, Falsya menatap layar ponselnya yang gelap. Padahal dia sudah sengaja pulang ke apartemen untuk berbicara dengan Rendra. Namun, jawaban sang suami di luar ekspektasinya.Hembusan kecil pun dia keluarkan untuk meredam emosi dan juga kecewa.“Segitu marahkah, sampai beralasan pulang larut malam?”Falsya lagi-lagi bergeming menatap langit yang kini mulai mendung. Jika saja bi Imah tak menyuruhnya untuk pulang, mungkin dia tidak akan berada di balkon apartemen yang sepi.Falsya tak ingin membuang waktunya hanya berdiam seorang diri. Dia pun berbalik dan masuk ke dalam apartemen untuk mengambil tas yang berada di sofa tengah.Falsya memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Mungkin menunggu sebentar tidak akan lama, tetapi hatinya cukup keras untuk mengalah. Toh, alasan dia bekerja juga untuk melunasi uang yang dia pakai membayar hutang.Langkah kakinya berhenti di depan pintu saat melihat Rendra yang kini berdiam menatap ke arahnya. Falsya meletakan kembali tas ke atas mej
“Kenapa kamu memotong pembicaraanku?!” hardik Rendra saat tangan kanannya dihempas oleh Falsya. “Apa karena ini?” lanjutnya sembari memperlihatkan barang bukti ke hadapan sang istri.Falsya bergeming, tubuhnya seketika melemas tiba-tiba. “Aku bisa jelasin, Mas.” Dia berkata sembari memohon.Namun, tangan kanan Rendra lebih dulu terangkat seakan tak meminta untuk dijelaskan.“Mas Rendra?” panggil Falsya lagi dengan suara pasrah.Rendra yang begitu kecewa meninggalkan istrinya seorang diri di lorong rumah sakit yang sepi.Falsya tak mengejar, lagi pula dia tahu ini konsekuensi atas apa yang dia lakukan.Langkahnya cukup berat saat berjalan kembali ke ruangan. Bi Imah yang kebetulan sedang menonton televisi pun dibuat bingung oleh wajah kusut ponakannya.“Kamu baik-baik saja, Sya?” tanyanya penasaran.Falsya tersenyum tipis, lalu mengambil tempat duduk di samping brankar sembari memeluk bi Imah.Sontak hal itu membuat bi Imah semakin penasaran dibuatnya.“Mas Rendra sudah tahu, Bi. Dan d
Falsya kini kembali ke ruangan tempat bi Imah seorang diri. Dia meninggal Rendra dengan menghiraukan panggilan sang suami berulang kali. Andai sikap Rendra tak sebrutal itu, mungkin sikap Falsya juga akan mengerti kecemburuannya.“Mana Den Rendra, Sya?” tanya bi Imah saat melihat pintu terbuka.Falsya hanya tersenyum samar. “Mas Rendra langsung pulang, Bi. Dia besok pagi ada rapat dadakan katanya,” jawabnya berbohong.“Oh, begitu. Ya, sudah kamu makan. Bibi mau melanjutkan tidur lagi.”Falsya mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia pun berjalan ke arah sofa berwarna abu-abu sembari meletakkan makanan pemberian sang suami di meja. Seketika rasa laparnya hilang, dia pun hanya merebahkan tubuhnya di sofa tanpa menyentuh makanan itu.Sementara itu, Rendra sendiri yang masih berada di mobil menggerutui dirinya atas tindakan bodohnya.“Tidak seharusnya aku bersikap kasar padanya,” gumamnya pelan dengan frustasi.Tangan kanannya hendak membuka pintu mobil, namun dia urungkan. Dia tidak ingin m
“Mas Kriss?” Falsya membelalak saat melihat bosnya kini ada di hadapannya. “Kamu, ngapain di sini?” tanya ulang Kriss yang penasaran. Apalagi sekarang memasuki tengah malam. Falsya gugup, tetapi dia juga harus berterus terang. “A ... Aku sedang menemani bibiku, Mas. Tadi siang dia terkena musibah keserempet mobil.” “Astaga, tapi tidak apa-apa, kan?” Falsya menggeleng pelan. “Tidak, kok, Mas. Dan, mumpung ketemu di sini, besok aku boleh izin lagi, kan, ya, Mas?” Ada sedikit keraguan dalam bertanya seperti itu. Sebab, sudah berapa kali dia tidak masuk kerja, apalagi belum lama ini dia juga sudah izin karena sakit. Tanpa disangka, pertanyaan Falsya langsung disetujui tanpa alasan apapun. Sontak kedua mata wanita itu berbinar seketika. “Terima kasih, Mas. Terima kasih banyak atas izinnya.” “Tidak perlu seperti itu. Kamu jaga diri, ya. Maaf aku harus pamit,” ucap Kriss cukup tergesa-gesa. Ia langsung masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai atas. Meski sebenarnya dia ingin
Meski tak mendapatkan jawaban dari istrinya tentang hubungannya. Namun, Rendra yakin jika istrinya juga akan melakukan hal seperti yang ia lakukan. Memutuskan hubungan. “Mas, kita mau ke mana lagi ini?” tanya Falsya saat merasa asing ke tempat yang kini ia injaki. “Ikut saja, pasti kamu senang,
“Dari mana saja kamu?” tanya Rendra saat Falsya baru saja membuka pintu apartemen. Wanita dengan rambut tergerai tersentak melihat suaminya sudah pulang lebih cepat darinya. “Mas Ren—,” “Aku tanya kamu dari mana?” ulang Rendra sekali lagi. Suaranya cukup meninggi membuat Falsya menunduk taku
Dering suara ponsel Rendra membuat si empu membuka kedua matanya. Ia mengambil benda pipihnya yang berada di nakas, lalu menggeser tombol hijau. “Tuan, pagi ini ada meeting dengan investor dari Singapura. Satu jam lagi akan saya jemput, bersiaplah,” kata Bastian, mengingatkan. “Iya, aku akan bers
Rendra meyakinkan Falsya jika keluarganya akan menerima kehadirannya. Namun, dugaannya salah besar. Setelah sampai di kediaman keluarga besar Khasif. Falsya langsung dicecar habis-habisan. “Apa-apaan kamu, Rendra. Datang-datang kamu bilang mau menikahi wanita ini!” pekik Sahara, yang tak lain ibu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews