LOGINBAB 4 LIZIE
Lizie nampak takjub ketika melihat ke sekeliling apartemen Sky yang memiliki balkon sangat luas. "Jadi ini tempat tinggal mu?" "Semoga kau suka, yang itu kamarmu!" Sky menunjuk kamar yang bersebelahan dengan pintu balkon. Lizie memutar badan, menghadap Sky yang sedang duduk di sofa dan baru melonggarkan kancing kemejanya. "Kenapa aku harus tinggal bersamamu?" tanya Lizie terdengar lebih serius. "Maksudku kenapa kau tiba-tiba menjadi waliku?" Sky mendongak pada gadis muda yang masih berdiri di depannya. Sky mengedikkan bahu. "Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa Gerald memilihku untuk mengurus mu." "Lalu kenapa kau mau?" Ketika bicara lebih serius, ternyata Lizie gadis yang cukup kritis. Sky berhenti melepas kancing lengan kemejanya untuk menatap Lizie sedikit lebih lama, karena tiba-tiba dia khawatir... bagaimana untuk memberitahu gadis itu mengenai ayahnya. "Duduklah." Sky menepuk sofa di sebelahnya. Lizie ikut duduk di sana dengan patuh. "Ada beberapa hal yang harus ku jelaskan padamu." Lizie melihat Sky menghidupkan layar ponselnya dan mulai menunjukkan beberapa foto. "Siapa dia?" tanya Lizie ketika melihat foto wanita cantik yang terlihat memeluk Sky. "Namanya Celine dia saudarimu." "Jadi aku punya saudara?" Sepertinya Lizie memang baru tahu, Sky mengangguk dan menunjukkan foto yang lain, yaitu foto Gerald bersama keluarganya. "Ini ibu dari Celine namanya Vivian dia istri muda ayahmu." "Siapa pria tampan di sebelahnya itu?" Sky langsung mengerutkan alis seolah tidak terima dengan pendapat Lizie. "Kau bilang dia tampan?" "Ya, memang dia tampan." "Dia kakak laki-laki saudarimu." "Jadi dia saudaraku juga?" "Bukan, karena mereka saudara tiri. Anak dari pernikahan Vivian yang terdahulu." "Kenapa kau tersenyum." Sky justru curiga melihat senyum licik gadis muda di depannya. "Berarti aku boleh menyukainya." "Tidak!" tegas Sky langsung berjengit waspada. "Kenapa?" "Bahkan kau tidak boleh bertemu dengan mereka semua!" "Kau bilang dia saudariku?" protes Lizie. "Ya, tapi ayahmu mewariskan semua saham perusahaan serta delapan puluh persen aset kekayaannya padamu, dia hanya menyisakan dua puluh persen untuk saudarimu!" Lizie masih terlihat santai. "Lalu kenapa?" tanya gadis itu dengan polosnya. "Mereka bisa memutilasi tubuhmu dan menenggelamkannya ke rawa demi untuk mengambil apa yang menjadi milikmu!" Lizie langsung ikut berjengit. "Apa maksudmu!" menurutnya lelucon Sky benar-benar tidak lucu. "Karena itu ayahmu ingin aku menyembunyikan mu. Melindungi mu sebagai wali sah sampai usiamu genap delapan belas tahun dan bisa mengelola semua asetmu sendiri." Lizie cuma mendengarkan tidak bertanya karena sepertinya dia juga tidak sepenuhnya paham. Dari situ Sky bisa menilai jika gadis itu bukan tipe yang terlalu peduli, dan nampaknya akan lebih memudahkan Sky untuk dikendalikan. "Karena itu, ikuti semua perintahku karena semua demi keamananmu!" tegas Sky, dan kali ini dia benar-benar serius dengan peringatannya. "Apa kau dekat dengan ayahku?" Lizie malah sudah menanyakan hal lain. "Kami sudah lama berteman." "Sebenarnya aku justru kurang mengenalnya," kata gadis itu. "Kemarin mereka mengabarkan jika ayahku sudah tidak ada, tapi aku tidak tahu bagaimana harus bersedih untuknya." "Gerald pria yang baik, dia sudah hampir seperti orang tua bagiku." Lizie diam untuk menatap Sky, "Jadi karena itu kau mau mengurusku?" Sky tidak menjawab tapi sepertinya Lizie merasa sudah tahu jawabannya. Gadis itu tidak lagi bertanya. "Istirahatlah di kamarmu karena ini sudah malam." Sky lanjutkan menggulung lengan kemejanya. Lizie berdiri kemudian menarik travel bag nya menuju kamar yang tadi ditunjukkan Sky. Tidak tahu kenapa tiba-tiba Sky kasihan juga melihat gadis itu. **** Pagi harinya Sky sudah siap untuk berangkat ke kantor sementara Lizie baru bangun dengan wajah lesu dan berjalan malas untuk menjatuhkan diri ke atas sofa. "Apa kau sakit?" "Aku hanya tidak bisa tidur di tempat baru, " jawab Lizie sambil kembali menguap dan mengacak rambutnya yang kusut. Sky jadi curiga jika Lizie memang tidak tidur sepanjang malam. "Nanti akan ada pengurus rumah yang datang jam sembilan untuk bersih-bersih, dia juga akan membawakan makanan untukmu. Tidurlah lagi setelah makan. Nanti siang akan kusuruh orang untuk mengantar makan siang untukmu." "Apa kau bekerja seharian?" "Aku semakin sibuk sejak Gerald tidak ada karena aku jadi harus memegang semua tanggung jawabnya. Termasuk mengurus mu. Jadi patuhi semua perintahku dan jangan menyusahkan!" Sky menjentikkan jari telunjuk untuk memperingatkan Lizie yang masih tidak terlalu perduli untuk memperhatikan. "Apa aku tidak bisa keluar untuk jalan-jalan?" "Tidak, kau tidak bisa!" "Dan aku juga harus belajar di rumah? " Gadis itu mengangkat alis, menatap Sky yang baru kembali menyeruput kopi panas dari cangkirnya. "Nanti akan segera kucarikan guru untukmu." Punggung Lizie langsung lemas dan merosot di sofa. "Semua untuk keamananmu dan kau adalah tanggung jawabku seperti yang sudah kujelaskan kemarin." Sepertinya Sky memang harus berulang kali menjelaskan pada gadis itu sampai dia paham seberbahaya apa jika Vivian Dawson sampai mengetahui keberadaannya. "Apa tidak boleh jika aku hanya sekedar jalan-jalan di Central Park?" Lizie masih berusaha menawar. "Tetap tidak boleh!" Sky semakin tegas dan Lizie mulai sadar bila Sky adalah orang yang banyak aturannya. "Aku bisa mati karena bosan." "Kau boleh minta apa saja asal jangan keluar rumah." "Apa menurutmu aku harus minta hewan peliharaan?" "Aku bisa mencarikannya jika kau mau." Lizie hanya kembali menghembuskan napas kasar dari hidung kemudian melorot lagi di sofa. "Tidak perlu, aku cum bercanda." Melihat tingkah Lizie membuat Sky sadar jika gadis itu tetap masih anak-anak. "Lebih baik carikan saja guru yang tampan untukku!" "Akan kucarikan guru perempuan untukmu." "Oh, tidak aku sudah bosan dengan mereka." Kali ini Lizie tidak merosot lagi di sofa, tapi tengkurap sambil menenggelamkan wajahnya ke bantal. "Aku bisa mati bosan, Sky! aku tidak mau!" Lizie mengangkat wajahnya untuk melihat Sky. "Lebih baik kau saja yang menjadi guruku," rengek gadis itu. "Aku jauh lebih galak dari kepala asrama!" Sky tahu sepertinya kemarin Lizie hanya takut dengan kepala asramanya, karena dia bisa terlihat begitu manis di depan wanita tinggi besar itu. Bahkan Sky juga sempat ikut tertipu dengan keluguannya. Lizie kembali berguling terlentang di atas sofa sambil sengaja menggantung kepalanya di tepi sofa. Dia mengeluh pusing sambil menjambak rambutnya yang jatuh ke lantai. Sky sudah siap untuk berangkat setelah menghabiskan sisa kopinya dan dia melihat Lizie juga sedang memperhatikannya dengan posisi kepala terbalik bergelayutan di tepian sofa. "Kau tampan Sky...." Sumpah, Sky jadi ingin mengutuk dirinya sendiri karena jadi ikut memperhatikan dada Lizie yang ikut terdorong naik ke atas dengan posisinya seperti itu. "Tidurlah lagi jangan banyak mengigau!" "Aku suka matamu." Lizie pura-pura tidak perduli dengan teguran Sky. Dia kembali berguling untuk memeluk bantal dari punggung sofa. Sky juga sudah terlalu sering mendengar wanita mengatakan jika matanya indah tapi sungguh dia sedang tidak berharap Lizie yang memujinya apalagi sambil bergeliat lesu di atas sofa. "Pergilah nanti kau terlambat!" usir Lizie sambil mengibaskan tangannya ke arah Sky. "Itu perusahaanku terserah aku mau berangkat jam berapa." "Kau bilang aku juga pemiliknya jadi aku perintahkan kau cepat berangkat!" Walau hanya niat bercanda tapi ucapan gadis itu selalu berhasil membuat Sky terkejut."Selamat ulang tahun. " Di musim semi ulang tahun Lizie yang ke sembilan belas. Sky mengangkat Lizie untuk duduk di atas pangkuannya, mereka hanya berdua memandang ke luar dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke sisi pegunungan Alpen. "Aku ingin kita seperti ini dulu," bisik Sky ketika mempererat lengannya di pinggang Lizie dan menghirup puncak kepalanya dengan tarikan napas dalam. "Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri." Sky menyarukkan rahangnya yang terasa kasar dan menggelitik sisi leher gadis mudanya yang hangat dan lembut. "Aku adalah milikmu, kau boleh memilikiku sesuka hatimu." Sentuhan Sky adalah apa yang juga akan selalu Lizie inginkan.
Walaupun tangan kirinya masih di perban tapi Sky bersikeras bisa menyetir sendiri untuk membawa lizie pulang bersamanya. Sky memang keras kepala, padahal Tobias sudah sengaja datang pagi-pagi untuk mengantarkan mereka pulang. Lizie terpaksa masuk ke dalam mobil Sky dan melambai pada Tobias Harlot untuk sekaligus minta maaf. Lizie benar-benar merasa tidak enak karena bagaimanapun selama ini Tobias sudah sangat baik pada mereka. "Tulangku hanya retak bukan cacat!" kata Sky setelah Lizie duduk di sampingnya. "Ya, aku percaya." Lizie pilih setuju saja dibanding harus berdebat karena dia tahu Sky tidak suka diremehkan dan hal itu sudah jadi sifat dasarnya yang sulit dirubah. Sky memang masih bisa mengemudi dengan baik, lengan kirinya j
Tobias Harlot sudah coba menjelaskan dengan tenang tapi nyatanya air mata Lizie tetap merembas hangat dari masing-masing sudut matanya. Lizie meraba kembali perutnya yang sudah kembali rata dengan jemari tangannya yang agak kurus. Rasanya tetap pedih walaupun sudah tidak ada yang terasa perih lagi. "Jadi bayiku tidak selamat? " Tobias hanya berani mengangguk pelan. "Anak-anak akan berada di surga kau tidak perlu cemas." "Aku bahkan tidak sempat melihatnya." "Kau sudah berjuang dengan hebat, Sky pasti juga akan tetap bangga padamu." Lizie mulai menunduk dan terisak pelan.
Sky berjalan kembali ke mobilnya, berusaha mencengkram kemudinya dengan mantap untuk menguatkan langkahnya. Sky tidak boleh menyerah karena Lizie juga sudah berjuang dengan sangat keras. Sky menoleh pada buket bungan matahari di samping tempat duduknya dan kembali menghela napas dalam untuk memenuhi paru-parunya yang sesak. Sky sudah bersumpah pada Gerald untuk menjaga putrinya. Walaupun mungkin sahabatnya itu sudah lebur bersama tanah tapi sumpah Sky akan tetap berlaku untuknya. Sky tidak akan menyerah dia harus tetap hidup demi Lizie dan demi putri mereka yang sudah pergi tanpa sempat menangis. Sky berjalan melalui lorong dingin yang juga sudah dia lalui setiap hari tanpa pernah berubah. Semuanya masih sama, tidak ada perubahan berarti sejak dua bulan berlalu. Sky mengganti bunga matahari di dalam vas kaca dengan yang baru dia bawa,
Sky menoleh kembali tempat tidur di sampingnya yang kosong dan dingin, hampir tiga bulan berlalu tapi rasanya masih sulit dipercaya ia harus menjalani hidup seperti ini. Ini adalah musim dingin paling beku di sepanjang hidupnya . Sky tidak pernah tahan tiap kali mulai memikirkannya, hidup tanpa Lizie dan tanpa bayi mereka. Sky masih tertelungkup di atas tempat tidurnya setelah semalam Tobias menyeretnya pulang dari kekacauan yang dia buat di klub. Tobias sampai harus memukul Sky karena Celine menemukanya mabuk di klub dan berkelahi. Ternyata bukan hanya kesendiriannya yang sulit untuk dijalani, tapi kewarasannya juga semakin sulit untuk dijaga belakangan ini. Sky benar-benar tidak sanggup menjalani hidup seperti ini. Seolah dia hanya berjalan dan bernapas tanpa pernah benar-benar bisa hidup lagi. Sky masih ingat di mana dia menyimpan senjata apinya yang selalu siap sedia untuk mengakhiri segala penderitaan, godaan itu semakin menggoda untuk dituruti dan akan segera menjadikannya pen
Selama Mark bicara dengan Lizie, Sky sudah membuat keributan. Sky mengancam akan menuntut pihak rumah sakit jika mereka tidak segera mengambil tindakan. Tapi pihak rumah sakit juga tidak bisa melakukan pembedahan paksa tanpa persetujuan pasien. Sky tahu Lizie memanggil Mark Walder untuk meminta pertolongannya dan Sky sudah benar-benar kehilangan akal karena sikap keras kepala Lizie. Begitu melihat Mark baru keluar dari kamar Lizie Sky langsung menghampiri pria itu dan memukulnya. Sky memukul cukup keras sampai sudut bibir Mark langsung berdarah. Mark tidak membalas pukulan Sky karena dia tahu pemuda itu sedang sinting. Mungkin dia pun juga akan demikian jika berada di posisi Sky sekarang. "Jangan pernah merasa kau bisa menjadi pahlawan untuk Lizie ku!" ancam Sky sambil menunjuk Mar
BAB 2 KEMATIAN GERALD DAWSON Gerald Dawson meninggal dunia beberapa jam setelah mengalami serangan jantung. Kabar itu membuat Sky terpaku cukup lama di dalam jet pribadinya. Sulit dipercaya... Pria yang selama ini menjadi partner bisnis, mentor, sekaligus orang tua kedua baginya, kini telah tiada.
BAB 1 PLAYBOY Sky Adington dan Gerald Dawson sukses bekerjasama membangun sebuah perusahaan multi nasional bernilai triliunan dolar. Mereka memiliki 80% saham mutlak dari perusahaan yang telah berdiri lebih dari satu dekade. Sudah hampir tujuh tahun Sky mengencani putri tunggal Gerald. Bukan tanp
BAB 5 Kantor Sky masih berada di kawasan jalan utama Fourth Avenue. Tidak jauh dari apartemennya. Dia cuma memerlukan waktu tidak sampai sepuluh menit untuk sampai di kantor tersebut. Gedung empat puluh tiga lantai itu sekarang sudah dia jadikan sebagai aktor utama untuk induk perusahaannya. Sebu
BAB 6 Sky sudah tertidur ketika Lizie Merangkak naik ke atas ranjangnya dan menggoyang-goyang tubuhnya. "Sky, aku tidak bisa tidur." Sky yang terkejut langsung kembali terbangun, menyalakan lampu di samping ranjang. Sky masih seperti bermimpi ketika melihat Lizie sudah duduk bersimpuh di atas







