ホーム / Male Adult / GAIRAH MASA LAJANG / Bab 1. Kejamnya Tante Dewi

共有

GAIRAH MASA LAJANG
GAIRAH MASA LAJANG
作者: Andy Lorenza

Bab 1. Kejamnya Tante Dewi

作者: Andy Lorenza
last update 公開日: 2025-12-09 00:31:53

“Praak..! Praang..!”

Suara piring pecah yang berasal dari ruangan dapur di mana di sana terdapak rak piring dan gelas, aku hentikan sejenak menyuap dan mengunyah nasi di dalam mulutku.

“Wah..! Apa yang terjadi di dapur? Sepertinya suara piring yang pecah itu bukan karena terjatuh melainkan dibanting?” gumamku dalam hati.

Aku yang masih berada di meja makan tak jauh dari dapur itu merasa penasaran, pasalnya tadi yang ada di dapur itu hanya Bi Asih seorang pembantu di rumah mewah milik Om ku itu.

“Enak aja makan minum di rumah ini secara gratis! Apa dia kira hidup di kota gampang!” terdengar suara wanita mengomel dan itu bukan Bi Asih melainkan suara Tante Dewi.

Aku yang tadi bermaksud berdiri dan menuju ruangan dapur ingin melihat apa yang terjadi, tiba-tiba urungkan niatku itu. Selera makanku tiba-tiba hilang dan akupun menyudahi makan siang itu, lalu beranjak ke teras rumah dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.

“Perasaanku jadi nggak enak, marahnya Tante Dewi tadi pasti bukan ditujukan pada Bi Asih, pasalnya hanya aku yang saat itu makan siang,” gumamku dalam hati sembari menatap kosong ke arah halaman.

Aku merasa semakin tidak nyaman duduk berlama-lama di teras itu, hingga aku memutuskan untuk ke kamarku yang berada di lantai atas. Setibanya di kamar, aku baringkan tubuhku di ranjang berharap perasaan tak nyaman itu hilang.

Namun setelah beberapa saat berbaring bahkan memejamkan mata, perasaan tak enak hati itu masih saja menyelinap di hati hingga aku memutuskan untuk bangkit duduk di ranjangku itu.

“Aku yakin amarah Tante Dewi tadi ditujukan padaku, pasalnya sejak aku datang dan tinggal di sini Tante Dewi kerap menunjukan sikap sinisnya saat berpapasan jalan atau duduk bareng di dalam rumah ini,” aku berbicara sendiri di dalam kamarku itu.

“Tapi kenapa sikap Tante Dewi itu hanya terlihat ketika Om Ramlan nggak ada di rumah? Atau Tante Dewi emang takut dengan Om hingga sikap sinisnya itu ia tunjukan setiap kali Om Ramlan nggak ada? Ah, apa yang harus aku lakukan untuk menyikapi sikap Tante Dewi itu padaku?” kepalaku jadi pusing memikirkan kejadian Tante Dewi marah-marah di dapur tadi, hingga aku kembali rebahan berharap dapat pejamkan mata dan menenangkan pikiranku.

Hari berikutnya sepulang dari sekolah, seperti biasa setelah mengganti pakaian seragam sekolah di kamar langsung turun dan menuju meja makan untuk makan siang. Sebelum duduk di salah satu kursi di sela-sela meja makan itu, aku sempatkan dulu untuk mengitari pandangan mulai ke arah ruangan depan hingga ruangan dapur.

Setelah aku tak melihat sosok yang menjadi keinginanku untuk mencari tahu mengitari pandangan di dekat meja makan itu, akupun duduk lalu membuka penutup menu makanan yang ada di atas meja.

“Astaga..!”

Aku terperanjat saat aku melihat di atas meja makan itu hanya ada sepiring nasi bercampur kerak yang telah diremas-remas sedemikian rupa hingga antara nasi dan kerak itu sudah tak dapat disisihkan lagi, lalu di dekat piring itu ada secuil sambal tanpa lauk yang ditaruh di piring kecil.

Aku ingin sekali menemui Bi Asih yang tadi aku lihat berada di ruangan belakang, untuk menanyakan kenapa di meja makan hanya ada sepiring nasi bercampur kerak dan secuil sambal tanpa lauk di atas piring kecil, akan tetapi aku urungkan karena aku tak ingin memperburuk situasi.

Akupun duduk dan memandang sepiring nasi campur kerak dan secuil sambal itu, karena perutku memang sudah lapar sejak tadi akhirnya aku makan saja. Ketika beberapa suap nasi bercampur kerak itu aku makan, tiba-tiba hatiku merasa sedih dan mataku langsung berkaca-kaca.

“Untuk pertama kalinya aku makan nasi kerak dengan secuil sambal ini, sesusah-susahnya di desa tinggal dengan kedua orang tuaku, aku nggak pernah mengalami hal seperti ini. Kalaupun nggak ada lauk pauk dan hanya makan dengan sambal serta rebusan sayur, akan tetapi nasinya nggak pernah dicampur dengan kerak seperti ini,” gumamku di sela-sela terus mengunyah nasi kerak itu agar rasa laparku segera hilang dan aku bisa menghentikan makan.

Ku sudahi makan siang itu ketika rasa lapar di perutku mulai berkurang, aku kemudian berdiri dan memutuskan untuk langsung ke lantai atas di mana di sana kamarku berada.

Ketika aku hampir tiba di tangga, tiba-tiba aku berpapasan dengan Bi Asih.

“Mas Ryan,” sapa Bi Asih.

“Ya Bi, ada apa?” tanyaku.

“Mas Ryan diminta menemui Nyonya di luar di samping kanan rumah,” jawab Bi Asih.

 “Baik Bi, aku akan ke sana sekarang,” ujarku, meskipun dengan perasaan tak enak namun aku beranikan diri untuk menemui Tante Dewi di samping rumah yang dikatakan Bi Asih itu, di sana aku melihat Tante Dewi tengah berdiri berkacak pinggang sambil melihat ke arah selokan yang berada di sisi kanan di seberang pagar rumah mewah itu.

“Ada apa, Tante?” sapa ku saat aku telah berdiri di samping Tante Dewi.

“Enak sekali ya, jadi kamu! Pergi sekolah di kasih uang jajan! Pulang sekolah makan, lalu tidur-tiduran di kamar!” seru Tante Dewi dengan nada ketus, aku hanya tundukan kepala mendengar perkataannya itu.

“Hidup di kota ini nggak ada yang gratis! Semua orang harus bekerja keras agar bisa mendapatkan uang untuk makan! Nah, karena kamu udah diberi uang jajan tadi pagi oleh Mas Ramlan sekarang harus kamu bayar dengan membersihkan selokan di sepanjang perkarangan rumah ini!” tutur Tante Dewi dengan sorot mata yang tajam penuh kebencian.

“Baik Tante, sekarang juga aku akan bersihkan selokan ini.” ujarku sembari menunjuk selokan yang dimaksud Tante Dewi itu, kemudian aku mencari peralatan seperti cangkul yang terdapat di gudang di belakang rumah mewah itu.

“Dasar tak tahu diri! Enak saja tinggal di rumah ini secara gratis! Di kasih jajan lagi!” gerutu Tante Dewi sambil melangkah masuk ke dalam rumah, hal itu terdengar jelas olehku karena Tante Dewi menggerutu dengan lantang.

“Bruuuuuuk...!”

Saat hendak melangkah ke gudang, aku terkejut mendengar suara sesuatu dari dalam rumah...

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 224. Kebahagiaan Yang Sempurna

    Malam itu meskipun rasa lelah di perjalanan dan kondisi badan ku tak begitu fit, aku tak mau melewatkan malam pertama pertemuan kembali dengan istri tercinta ku itu, dengan penuh perhatian dan kasih sayang, aku memberikan sentuhan-sentuhan hangat yang tentunya membuat Intan serasa melayang.Jika dulu baik aku maupun Intan selalu dingin dalam hal berhubungan di ranjang, malam itu sangat berbeda sekali seolah-olah kami tengah menikmati malam pertama seperti layaknya para pengantin baru lainnya. Sentuhan dan gerakan semakin lama semakin intens kami lakukan, Intan pun tak mau melewatkan momen yang penuh sensasi dan membahagiakan itu, ia pun tak mau kalah dalam merespon setiap sentuhan dan gerakan penuh gairah dari ku.Meskipun beberapa kali Intan tiba di titik puncak yang membuat tubuhnya lemas, namun ia tetap berusaha untuk bertahan saat aku kembali memberi sentuhan dan gerakan di tubuhnya, hingga akhirnya kedua tubuh kami mengejang lalu terkulas lemas bermandikan keringat.****Mentari

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 223. Cinta Dan Ketulusan

    “Kania, Papa masih capek! Nanti lagi minta gendongnya, ya?!” bujuk Intan.“Benar Pa, Papa masih capek?” tanya polos Kania.“Hemmm... Rasa capek Papa hilang setelah bertemu dengan putri Papa yang cantik ini,” jawab ku mencubit hidung si kecil, dan Kania pun tertawa manja.“Sebaiknya Kak Ryan mandi dulu, agar lelah berkurang.” ujar Intan.“Sebentar ya sayang? Papa mandi dulu, nih bau badan Papa apek!” tutur ku pada putri ku.“Ya Pa.” ucap Kania sembari melepaskan diri dari pangkuan ku.Menjelang aku berganti pakaian setelah mandi di kamar mandi yang ada di kamar, Bi Srini telah menyediakan segelas kopi hangat berserta panganan kecil di meja ruangan tengah, kopi itu sendiri baru saja ia beli dari warung sebelah, karena memang di rumah itu hanya aku lah yang suka minum kopi sebelum aku pergi ke Kota S.Kalau tadi hanya Kania yang duduk rapat sambil minta aku pangku, sekarang Intan ikut-ikutan duduk merapat di sebelah ku. Melihat reaksi seperti itu aku pun tersenyum lalu memberikan kecupan

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 222. Pertemuan Yang Mengharukan

    Sepuluh menit kemudian aku pun keluar dari dalam masjid menuju mobil travel, dan sekitar 15 menit kemudian mobil travel yang aku tumpangi pun tiba di depan rumah Intan. Dengan jantung yang berdebar-debar kencang aku turun dari mobil travel lalu melangkah memasuki halaman rumah itu, rasa rindu dan cemas karena kuatir kedatangan ku tak diterima lagi oleh istri ku.Hari baru gelap karena waktu magrib baru saja berlalu, pintu rumah kediaman Intan saat itu masih terbuka karena Intan biasa membuka praktek di rumahnya hingga jam 9 malam. Aku yang telah sampai di teras rumah, perlahan-lahan meletakan koper pakaian dan boneka micky mouse yang tadi aku pangku seturun dari mobil travel, jantung ku semakin berdebar-debar saat aku melangkah ke arah pintu rumah itu.Baru saja aku mau mengucapkan salam, Kania yang beberapa detik ke luar dari kamarnya melihat aku berdiri di depan pintu, spontan saja bocah perempuan cantik yang menggemaskan itu berteriak memanggil sambil berlari ke arah ku.“Papa.....

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 221. Tangisan Pun Pecah

    Dengan mengemudikan mobil yang biasa aku pakai, Grace mengantar ku ke bandara. Grace sebelumnya telah berjanji bahwa dia takan meminta Cak Mul pergi dari depan show room, seperti hal yang telah aku pesankan kepadanya. Bagi Grace, Cak Mul sosok yang sangat baik dan takan mungkin juga ia tega mengusir lesehan Cak Mul dari tempat itu.Tak berselang lama menunggu di bandara, panggilan keberangkatan pesawat yang akan aku tumpangi pun terdengar, Grace tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan dan air matanya, berbagai macam hal berkecamuk dalam hatinya. Tak mau berpisah dengan aku pria yang ia cintai, tetapi juga tak ingin mencegah ku kembali ke keluarga ku karena Grace menyadari hubungan kami tak mendapat restu dari kedua orang tuanya, dan ia pun merasa bersalah telah memisahkan aku dari istri dan putri ku.“Aku nggak tahu harus bilang apa, Ryan. Hatiku benar-benar galau, di suatu sisi aku tak ingin kamu pergi, di sisi lain akupun sadar telah memisahkanmu dengan anak dan istrimu.” ujar Grace

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 220. Perpisahan Pun Terjadi

    “Mari, saya antarkan menuju ruangan pimpinan! Tadi Ibu memerintahkan saya jika bertemu dengan bapak supaya diantar menemu beliau,” ujar security.“Baik Pak, mari!” aku pun mengikuti security itu ke lantai paling atas dari bank yang memiliki 4 lantai itu dengan lift.“Nah, ini ruangan pimpinannya. Silahkan Bapak pencet belnya, sementara saya akan kembali ke bawah.”“Terima kasih ya, Pak.” ucap ku.“Iya sama-sama, Pak.” ucap security itu pula lalu ia turun ke lantai dasar.Aku memencet bel, lalu tak berselang lama pintu ruangan pimpinan itupun dibuka dan terlihatlah sosok wanita cantik bermata sipit tersenyum saat mengetahui tamu yang memencet bel itu adalah aku“Ayo masuk Ryan!” ajaknya.“Makasih Grace.” Ucap ku.“Udah bersikap santai aja, di ruangan ini kan hanya kita berdua.” ujar Grace yang melihat sikap ku seperti para tamu pada umumnya yaitu sungkan dan sopan.Grace pun mengajak ku duduk di kursi yang memang disediakan bagi tamu-tamu penting di ruangan pimpinan itu, aku pun duduk

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 219. Aku Terpukul Dan Sadar

    “Maaf ya Mas Mul, malam ini aku ngerepotin aja.”“Nggak apa-apa. Udah sepatutnya juga aku nemani Mas Ryan jika ada permasalahan yang datang, itu gunanya teman saling berbagi terlebih saat kita jauh dari keluarga dan saudara.” ujar Cak Mul selalu menenangkan aku.“Makasih Mas. Aku jadi ingat Mas Sugeng, sikapnya dan rasa persaudaraannya mirip sekali dengan Mas Mul. Saat itu aku masih sekolah di Kota P, setiap kali kami ada permasalahan selalu saling berbagi untuk menyelesaikannya. Di perantauan kita memang musti mencari teman sekaligus dapat dijadikan saudara, apalagi tinggal di daerah kota besar seperti Kota S ini.” tutur ku sambil menikmati kopi hangat yang disuguhkan Cak Mul.“Iya Mas, aku juga demikian. Dulu aku juga seorang perantau semasa masih lajang, bahkan sampai ke negeri tetangga. Kita memang harus selalu baik pada orang-orang di sekeliling kita, jika kita ingin hidup berdampingan tanpa adanya perselisihan dan saling berbagi.” ujar Cak Mul juga menikmati kopi hangat yang ada

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status