LOGINSetelah aku selidiki rupanya suara itu berasal dari suara kursi beradu saat Tante Dewi menendangnya tadi ketika masih menggerutu memaki-makiku, akupun kembali menuju gudang mencari peralatan yang ku butuhkan untuk membersihkan selokan.
Selesai membersihkan selokan, akupun menuju kamar mandi yang ada di bagian ruangan belakang tempat biasa digunakan Bi Asih untuk mandi. Setelah itu aku menuju lantai atas ke kamar ku.
Setibanya di kamar, kembali ku henyakan tubuhku di atas tempat tidur, hatiku terasa perih disayat-sayat dan juga merasa terhina.
“Sepertinya aku udah nggak bisa lagi untuk bertahan tinggal di rumah ini, kalau saja bukan karena Ayah di desa dan juga Om Ramlan sendiri yang memintaku tinggal di sini, akupun nggak akan mau memaksakan diri kalau aku tahu sikap Tante Dewi sekejam ini,” gumamku, mataku kembali berkaca-kaca dan aku berusaha keras untuk tidak sampai mengeluarkan air mata.
****
Keesokan harinya sepulang dari sekolah, aku tak langsung pulang ke rumah Om Ramlan. Aku segaja pergi ke suatu tempat yang lokasinya sekitar 1 kilo dari rumah Om Ramlan untuk mencari kos-kosan, setelah mengitari lokasi itu belum ada satupun kos-kosan yang aku temui kebanyakan rumah kontrakan untuk orang yang telah berkeluarga.
Aku merasa lelah dan harus ke mana lagi aku mencari kos-kosan yang biasa diperuntukan bagi para pelajar atau mahasiswa yang datang dari desa maupun kota lain, di saat aku hampir putus asa dan memutuskan untuk kembali ke rumah Om Ramlan, tiba-tiba aku dihampiri oleh seorang wanita yang usianya diperkirakan 30 tahunan.
“Tadi aku dengar kamu mau cari kos-kosan ya?” sapa dan tanya wanita itu ramah.
“Iya Bu, tapi setelah aku mengitari kawasan ini nggak satupun aku lihat ada kos-kosan di sini,” jawabku.
“Hemmm, di sini emang nggak ada kos-kosan yang ada rumah petak atau rumah kontrakan bagi orang yang telah bekeluarga. Kamu dari mana dan kenapa cari kos-kosan di sini?” wanita itu menjelaskan lalu bertanya kembali.
“Aku dari desa Bu, sebelumnya aku tinggal di rumah Om ku tapi karena merasa kurang nyaman makanya aku mencari kos-kosan,” jawabku.
“Oh begitu, oh ya nama kamu siapa?” tanyanya lagi.
“Namaku Ryan,” jawabku sembari ulurkan tangan dan wanita itu menjabatnya.
“Aku Eva.” Ulasnya.
“Seperti yang aku bilang tadi di kawasan ini nggak ada kos-kosan untuk anak sekolah, yang ada rumah kontrakan atau rumah petak. Tapi kalau kamu mau di sana ada ruangan kosong di samping rumah petak di ujung sana, ruangan itu sebenarnya ingin aku jadikan gudang tapi kalau kamu mau tempat itu bisa kamu tempati,” sambung wanita yang bernama Eva itu.
“Mau Bu Eva, berapa sewanya?” tanyaku langsung karena saking gembiranya.
“Kalau soal sewa nanti aja, kamu lihat aja dulu. Ntar kamu malah nggak suka karena emang tempatnya kecil dan nggak ada kamar.” Tutur Bu Eva.
“Nggak ada kamarnya juga nggak apa-apa, yang penting bisa untuk ditempati,” ujarku.
“Ayo, sekarang kita lihat dulu ke sana,” ajaknya, aku mengangguk setuju lalu mengiringinya menuju tempat yang dimaksud.
Setibanya di tempat yang dituju Bu Eva langsung membuka pintu bangunan yang diperkirakan hanya 3 x 4 meter itu, akupun ikut masuk ke dalam ruangan itu, ruangannya memang kecil tanpa kamar namun terlihat bersih.
“Seperti yang aku bilang tadi ruangan ini nggak ada kamarnya karena rencananya akan aku jadikan gudang, begitu pula kamar mandinya juga nggak ada selain sumur katrol di belakang sini,” jelas Bu Eva sembari mengajakku untuk melihat sumur katrol yang ia maksud.
Setibanya di belakang ruangan itu, aku melihat memang terdapat sebuah sumur yang untuk mengambil airnya dengan timba dan tali melalui katrol. Di sekilingnya berdinding seng yang dibuat setinggi 2 meter, di sana bisa digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian.
“Nah, kamu udah lihat sendirikan ruangan dan sumur untuk mandi dan mencuci pakaian? Apa kamu mau tinggal di sini?” tanya Bu Eva.
“Mau Bu, berapa sewanya per bulan?” jawabku sembari balik bertanya.
“Hemmm, kalau masalah sewa nggak perlu kamu pikirkan. Yang terpenting kamu mau tinggal di sini dari pada kamu musti susah-susah mencari kos-kosan yang hanya ada di kawasan lain dan itu cukup jauh dari sini,” ujar Bu Eva.
“Ya nggak bisa gitu dong Bu, gimanapun juga aku musti tahu berapa sewa ruangan ini per bulannya,” ulasku.
“Terserah kamu mau bayar berapa, yang penting kamu bayar setiap bulannya dan nggak boleh telat yaitu listrik.” Ujar Bu Eva ramah dan sepertinya dia memang sosok wanita yang baik.
“Wah, kalau Bu Eva nggak bilang berapa sewanya, aku nanti bingung harus bayar berapa dan menyediakan uang setiap bulannya,” aku mendesak agar Bu Eva menetapkan harga sewa ruangan itu.
“Baiklah Ryan, karena listrik setiap bulannya paling mahal Rp. 10.000,- kamu bayar aja dengan ruangan ini Rp. 20.000,- setiap bulannya. Gimana?” jawab Bu Eva.
“Serius hanya segitu Bu?” tanyaku merasa tak percaya, Bu Eva menanggapi dengan mengangguk disertai senyumannya.
Untuk diketahui pada masa itu belum terjadi moneter dan masih dalam masa kekuasaan orde baru, hingga harga sewa, barang dan lain sebagainya terbilang kecil tidaklah seperti sekarang ini sesuaikan dengan masa dan nilai uangnya.
“Wah, terima kasih sekali Bu. Aku benar-benar nggak nyangka ruangan ini Bu Eva izinkan buat aku tempati,” aku merasa senang.
“Sama-sama Ryan, lalu kapan kamu akan tinggal di sini?” tanyanya, ditanya begitu aku baru sadar dan ingat jika aku masih tinggal di rumah Om Ramlan.
“Waduh, gimana caranya aku musti bilang pada Om Ramlan jika aku ingin ngekos aja? Sementara Om Ramlan dan Ayah udah sepakat selama aku sekolah di kota ini tinggal di rumah itu?” gumamku merasa bingung.
“Gimana Ryan?” aku seketika tersentak ketika Bu Eva kembali bertanya, rupanya antara tidak sadar aku baru saja melamun karena memikirkan solusi untuk menyampaikan keinginanku ngekos pada Om Ramlan.
“Eh, maaf Bu. Begini Bu...”
Malam itu meskipun rasa lelah di perjalanan dan kondisi badan ku tak begitu fit, aku tak mau melewatkan malam pertama pertemuan kembali dengan istri tercinta ku itu, dengan penuh perhatian dan kasih sayang, aku memberikan sentuhan-sentuhan hangat yang tentunya membuat Intan serasa melayang.Jika dulu baik aku maupun Intan selalu dingin dalam hal berhubungan di ranjang, malam itu sangat berbeda sekali seolah-olah kami tengah menikmati malam pertama seperti layaknya para pengantin baru lainnya. Sentuhan dan gerakan semakin lama semakin intens kami lakukan, Intan pun tak mau melewatkan momen yang penuh sensasi dan membahagiakan itu, ia pun tak mau kalah dalam merespon setiap sentuhan dan gerakan penuh gairah dari ku.Meskipun beberapa kali Intan tiba di titik puncak yang membuat tubuhnya lemas, namun ia tetap berusaha untuk bertahan saat aku kembali memberi sentuhan dan gerakan di tubuhnya, hingga akhirnya kedua tubuh kami mengejang lalu terkulas lemas bermandikan keringat.****Mentari
“Kania, Papa masih capek! Nanti lagi minta gendongnya, ya?!” bujuk Intan.“Benar Pa, Papa masih capek?” tanya polos Kania.“Hemmm... Rasa capek Papa hilang setelah bertemu dengan putri Papa yang cantik ini,” jawab ku mencubit hidung si kecil, dan Kania pun tertawa manja.“Sebaiknya Kak Ryan mandi dulu, agar lelah berkurang.” ujar Intan.“Sebentar ya sayang? Papa mandi dulu, nih bau badan Papa apek!” tutur ku pada putri ku.“Ya Pa.” ucap Kania sembari melepaskan diri dari pangkuan ku.Menjelang aku berganti pakaian setelah mandi di kamar mandi yang ada di kamar, Bi Srini telah menyediakan segelas kopi hangat berserta panganan kecil di meja ruangan tengah, kopi itu sendiri baru saja ia beli dari warung sebelah, karena memang di rumah itu hanya aku lah yang suka minum kopi sebelum aku pergi ke Kota S.Kalau tadi hanya Kania yang duduk rapat sambil minta aku pangku, sekarang Intan ikut-ikutan duduk merapat di sebelah ku. Melihat reaksi seperti itu aku pun tersenyum lalu memberikan kecupan
Sepuluh menit kemudian aku pun keluar dari dalam masjid menuju mobil travel, dan sekitar 15 menit kemudian mobil travel yang aku tumpangi pun tiba di depan rumah Intan. Dengan jantung yang berdebar-debar kencang aku turun dari mobil travel lalu melangkah memasuki halaman rumah itu, rasa rindu dan cemas karena kuatir kedatangan ku tak diterima lagi oleh istri ku.Hari baru gelap karena waktu magrib baru saja berlalu, pintu rumah kediaman Intan saat itu masih terbuka karena Intan biasa membuka praktek di rumahnya hingga jam 9 malam. Aku yang telah sampai di teras rumah, perlahan-lahan meletakan koper pakaian dan boneka micky mouse yang tadi aku pangku seturun dari mobil travel, jantung ku semakin berdebar-debar saat aku melangkah ke arah pintu rumah itu.Baru saja aku mau mengucapkan salam, Kania yang beberapa detik ke luar dari kamarnya melihat aku berdiri di depan pintu, spontan saja bocah perempuan cantik yang menggemaskan itu berteriak memanggil sambil berlari ke arah ku.“Papa.....
Dengan mengemudikan mobil yang biasa aku pakai, Grace mengantar ku ke bandara. Grace sebelumnya telah berjanji bahwa dia takan meminta Cak Mul pergi dari depan show room, seperti hal yang telah aku pesankan kepadanya. Bagi Grace, Cak Mul sosok yang sangat baik dan takan mungkin juga ia tega mengusir lesehan Cak Mul dari tempat itu.Tak berselang lama menunggu di bandara, panggilan keberangkatan pesawat yang akan aku tumpangi pun terdengar, Grace tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan dan air matanya, berbagai macam hal berkecamuk dalam hatinya. Tak mau berpisah dengan aku pria yang ia cintai, tetapi juga tak ingin mencegah ku kembali ke keluarga ku karena Grace menyadari hubungan kami tak mendapat restu dari kedua orang tuanya, dan ia pun merasa bersalah telah memisahkan aku dari istri dan putri ku.“Aku nggak tahu harus bilang apa, Ryan. Hatiku benar-benar galau, di suatu sisi aku tak ingin kamu pergi, di sisi lain akupun sadar telah memisahkanmu dengan anak dan istrimu.” ujar Grace
“Mari, saya antarkan menuju ruangan pimpinan! Tadi Ibu memerintahkan saya jika bertemu dengan bapak supaya diantar menemu beliau,” ujar security.“Baik Pak, mari!” aku pun mengikuti security itu ke lantai paling atas dari bank yang memiliki 4 lantai itu dengan lift.“Nah, ini ruangan pimpinannya. Silahkan Bapak pencet belnya, sementara saya akan kembali ke bawah.”“Terima kasih ya, Pak.” ucap ku.“Iya sama-sama, Pak.” ucap security itu pula lalu ia turun ke lantai dasar.Aku memencet bel, lalu tak berselang lama pintu ruangan pimpinan itupun dibuka dan terlihatlah sosok wanita cantik bermata sipit tersenyum saat mengetahui tamu yang memencet bel itu adalah aku“Ayo masuk Ryan!” ajaknya.“Makasih Grace.” Ucap ku.“Udah bersikap santai aja, di ruangan ini kan hanya kita berdua.” ujar Grace yang melihat sikap ku seperti para tamu pada umumnya yaitu sungkan dan sopan.Grace pun mengajak ku duduk di kursi yang memang disediakan bagi tamu-tamu penting di ruangan pimpinan itu, aku pun duduk
“Maaf ya Mas Mul, malam ini aku ngerepotin aja.”“Nggak apa-apa. Udah sepatutnya juga aku nemani Mas Ryan jika ada permasalahan yang datang, itu gunanya teman saling berbagi terlebih saat kita jauh dari keluarga dan saudara.” ujar Cak Mul selalu menenangkan aku.“Makasih Mas. Aku jadi ingat Mas Sugeng, sikapnya dan rasa persaudaraannya mirip sekali dengan Mas Mul. Saat itu aku masih sekolah di Kota P, setiap kali kami ada permasalahan selalu saling berbagi untuk menyelesaikannya. Di perantauan kita memang musti mencari teman sekaligus dapat dijadikan saudara, apalagi tinggal di daerah kota besar seperti Kota S ini.” tutur ku sambil menikmati kopi hangat yang disuguhkan Cak Mul.“Iya Mas, aku juga demikian. Dulu aku juga seorang perantau semasa masih lajang, bahkan sampai ke negeri tetangga. Kita memang harus selalu baik pada orang-orang di sekeliling kita, jika kita ingin hidup berdampingan tanpa adanya perselisihan dan saling berbagi.” ujar Cak Mul juga menikmati kopi hangat yang ada







