Home / Male Adult / GAIRAH MASA LAJANG / Bab 2. Perih Dan Terhina

Share

Bab 2. Perih Dan Terhina

Author: Andy Lorenza
last update publish date: 2025-12-09 00:32:46

Setelah aku selidiki rupanya suara itu berasal dari suara kursi beradu saat Tante Dewi menendangnya tadi ketika masih menggerutu memaki-makiku, akupun kembali menuju gudang mencari peralatan yang ku butuhkan untuk membersihkan selokan.

Selesai membersihkan selokan, akupun menuju kamar mandi yang ada di bagian ruangan belakang tempat biasa digunakan Bi Asih untuk mandi. Setelah itu aku menuju lantai atas ke kamar ku.

Setibanya di kamar, kembali ku henyakan tubuhku di atas tempat tidur, hatiku terasa perih disayat-sayat dan juga merasa terhina.

“Sepertinya aku udah nggak bisa lagi untuk bertahan tinggal di rumah ini, kalau saja bukan karena Ayah di desa dan juga Om Ramlan sendiri yang memintaku tinggal di sini, akupun nggak akan mau memaksakan diri kalau aku tahu sikap Tante Dewi sekejam ini,” gumamku, mataku kembali berkaca-kaca dan aku berusaha keras untuk tidak sampai mengeluarkan air mata.

****

Keesokan harinya sepulang dari sekolah, aku tak langsung pulang ke rumah Om Ramlan. Aku segaja pergi ke suatu tempat yang lokasinya sekitar 1 kilo dari rumah Om Ramlan untuk mencari kos-kosan, setelah mengitari lokasi itu belum ada satupun kos-kosan yang aku temui kebanyakan rumah kontrakan untuk orang yang telah berkeluarga.

Aku merasa lelah dan harus ke mana lagi aku mencari kos-kosan yang biasa diperuntukan bagi para pelajar atau mahasiswa yang datang dari desa maupun kota lain, di saat aku hampir putus asa dan memutuskan untuk kembali ke rumah Om Ramlan, tiba-tiba aku dihampiri oleh seorang wanita yang usianya diperkirakan 30 tahunan.

“Tadi aku dengar kamu mau cari kos-kosan ya?” sapa dan tanya wanita itu ramah.

“Iya Bu, tapi setelah aku mengitari kawasan ini nggak satupun aku lihat ada kos-kosan di sini,” jawabku.

“Hemmm, di sini emang nggak ada kos-kosan yang ada rumah petak atau rumah kontrakan bagi orang yang telah bekeluarga. Kamu dari mana dan kenapa cari kos-kosan di sini?” wanita itu menjelaskan lalu bertanya kembali.

“Aku dari desa Bu, sebelumnya aku tinggal di rumah Om ku tapi karena merasa kurang nyaman makanya aku mencari kos-kosan,” jawabku.

“Oh begitu, oh ya nama kamu siapa?” tanyanya lagi.

“Namaku Ryan,” jawabku sembari ulurkan tangan dan wanita itu menjabatnya.

“Aku Eva.” Ulasnya.

“Seperti yang aku bilang tadi di kawasan ini nggak ada kos-kosan untuk anak sekolah, yang ada rumah kontrakan atau rumah petak. Tapi kalau kamu mau di sana ada ruangan kosong di samping rumah petak di ujung sana, ruangan itu sebenarnya ingin aku jadikan gudang tapi kalau kamu mau tempat itu bisa kamu tempati,” sambung wanita yang bernama Eva itu.

“Mau Bu Eva, berapa sewanya?” tanyaku langsung karena saking gembiranya.

“Kalau soal sewa nanti aja, kamu lihat aja dulu. Ntar kamu malah nggak suka karena emang tempatnya kecil dan nggak ada kamar.” Tutur Bu Eva.

“Nggak ada kamarnya juga nggak apa-apa, yang penting bisa untuk ditempati,” ujarku.

“Ayo, sekarang kita lihat dulu ke sana,” ajaknya, aku mengangguk setuju lalu mengiringinya menuju tempat yang dimaksud.

Setibanya di tempat yang dituju Bu Eva langsung membuka pintu bangunan yang diperkirakan hanya 3 x 4 meter itu, akupun ikut masuk ke dalam ruangan itu, ruangannya memang kecil tanpa kamar namun terlihat bersih.

“Seperti yang aku bilang tadi ruangan ini nggak ada kamarnya karena rencananya akan aku jadikan gudang, begitu pula kamar mandinya juga nggak ada selain sumur katrol di belakang sini,” jelas Bu Eva sembari mengajakku untuk melihat sumur katrol yang ia maksud.

Setibanya di belakang ruangan itu, aku melihat memang terdapat sebuah sumur yang untuk mengambil airnya dengan timba dan tali melalui katrol. Di sekilingnya berdinding seng yang dibuat setinggi 2 meter, di sana bisa digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian.

“Nah, kamu udah lihat sendirikan ruangan dan sumur untuk mandi dan mencuci pakaian? Apa kamu mau tinggal di sini?” tanya Bu Eva.

“Mau Bu, berapa sewanya per bulan?” jawabku sembari balik bertanya.

“Hemmm, kalau masalah sewa nggak perlu kamu pikirkan. Yang terpenting kamu mau tinggal di sini dari pada kamu musti susah-susah mencari kos-kosan yang hanya ada di kawasan lain dan itu cukup jauh dari sini,” ujar Bu Eva.

“Ya nggak bisa gitu dong Bu, gimanapun juga aku musti tahu berapa sewa ruangan ini per bulannya,” ulasku.

“Terserah kamu mau bayar berapa, yang penting kamu bayar setiap bulannya dan nggak boleh telat yaitu listrik.” Ujar Bu Eva ramah dan sepertinya dia memang sosok wanita yang baik.

“Wah, kalau Bu Eva nggak bilang berapa sewanya, aku nanti bingung harus bayar berapa dan menyediakan uang setiap bulannya,” aku mendesak agar Bu Eva menetapkan harga sewa ruangan itu.

“Baiklah Ryan, karena listrik setiap bulannya paling mahal Rp. 10.000,- kamu bayar aja dengan ruangan ini Rp. 20.000,- setiap bulannya. Gimana?” jawab Bu Eva.

“Serius hanya segitu Bu?” tanyaku merasa tak percaya, Bu Eva menanggapi dengan mengangguk disertai senyumannya.

Untuk diketahui pada masa itu belum terjadi moneter dan masih dalam masa kekuasaan orde baru, hingga harga sewa, barang dan lain sebagainya terbilang kecil tidaklah seperti sekarang ini sesuaikan dengan masa dan nilai uangnya.

“Wah, terima kasih sekali Bu. Aku benar-benar nggak nyangka ruangan ini Bu Eva izinkan buat aku tempati,” aku merasa senang.

“Sama-sama Ryan, lalu kapan kamu akan tinggal di sini?” tanyanya, ditanya begitu aku baru sadar dan ingat jika aku masih tinggal di rumah Om Ramlan.

“Waduh, gimana caranya aku musti bilang pada Om Ramlan jika aku ingin ngekos aja? Sementara Om Ramlan dan Ayah udah sepakat selama aku sekolah di kota ini tinggal di rumah itu?” gumamku merasa bingung.

“Gimana Ryan?” aku seketika tersentak ketika Bu Eva kembali bertanya, rupanya antara tidak sadar aku baru saja melamun karena memikirkan solusi untuk menyampaikan keinginanku ngekos pada Om Ramlan.

“Eh, maaf Bu. Begini Bu...”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 130. Bertemu Ayah Dan Ibu

    Lewat beberapa menit dari jam 5 sore aku tiba di desa di rumah orang tua ku, seperti biasa kedatangan ku tentu disambut dengan penuh kegembiraan oleh Ayah dan Ibu, dan tentu pula akan memberikan suasana yang beda di rumah itu.Aku pun diminta beristirahat dulu, karena perjalanan dengan bus yang kadang lebih dari 7 jam itu tentu melelahkan, namun sebelum gelap aku telah merasakan tubuh ku segar terlebih selepas mandi dan berganti pakaian. Aku duduk di ruang depan bersama kedua orang tua ku, sementara adik-adik ku saat itu tengah mengerjakan tugas dari sekolahnya masing-masing.Karena cuaca di desa itu gerimis sejak sore tadi, udara terasa dingin ketika malam menghampiri, aku minta dibuatkan kopi hangat oleh Ibu begitu pula dengan Ayah. Aku meneguk kopi hangat itu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celana, Ayah dan Ibu kaget karena ternyata aku mengeluarkan sebungkus rokok, mengambilnya sebatang lalu menyulutnya.“Ryan..! Kamu merokok sekarang?” seru Ibu.“Iya Bu. Bolehkan, Aya

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 129. Dola Merasa Kehilangan

    Senin pagi kampus perguruan tinggi negeri ternama Kota P ramai dikunjungi calon-calon mahasiswa baru, baik calon mahasiswa yang berasal dari sekolah-sekolah yang mendapat undangan maupun calon mahasiswa yang lulus tes ujian masuk perguruan tinggi negeri. Saat itu mereka melakukan daftar ulang yang diadakan panitia kampus, dengan ketentuan harus membayar sejumlah uang untuk semester dan biaya almamater.Setiap calon mahasiswa tentu berbeda-beda jumlah besaran uang yang akan dibayar terutama calon mahasiswa undangan dengan calon mahasiswa yang berhasil lulus ujian masuk. Termasuk juga dengan aku yang saat itu menjadi salah satu calon mahasiswa undangan dari SMEA Negeri Kota P, besaran uang yang harus ia bayar Rp. 500.000,- dengan rincian Rp. 450.000,- uang semester dan Rp. 50.000,- uang untuk almamater.Sekembalinya dari kampus aku yang berencana ingin pulang ke desa dan akan kembali ke kota itu 2 hari menjelang kegiatan perkuliahan dilaksanakan, hanya singgah sebentar di bangunan tempa

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 128. Dola Kecewa

    “Ryan pindah kos? Aku nggak ada dikasih tahunya, Mas. Mas Sugeng tahu nggak tempat kosnya yang baru?” tanya Dola yang tak kalah kagetnya mengetahui aku diam-diam telah pindah dari kos-kosan itu.“Tempatnya sih aku nggak tahu persis, Bu. Ryan hanya bilang cari kos-kosan yang dekat dengan kampus,” jawab Sugeng.Dola hanya diam sepertinya tengah memikirkan ke mana aku pindah kos, jika kampus yang dikatakan Sugeng, di Kota P itu banyak sekali terdapat kampus perguruan tinggi negeri maupun swasta, Dola tiba-tiba ingat perguruan tinggi negeri yang memberikan undangan pada siswa-siswanya yang berprestasi saat ujian akhir di sekolahnya, dengan buru-buru Dola menghabiskan sate pesanannya itu.“Nih Mas uangnya! Aku pamit dulu ya, kali aja aku bisa temuin nanti tempat kos Ryan itu.” tutur Dola berdiri dari duduknya sembari membayar sate pesanannya pada Sugeng.“Loh, kok buru-buru sih Bu?” tanya Sugeng.“Takut nanti kemalaman mencari kos Ryan yang baru itu, soalnya dia kan nggak nyebutin tempat y

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 127. Dola Ke Kos Lama Ku

    Hal itu jelas tak mudah dilakukan, mengingat aku telah terlanjur menaruh hati pada mantan Guru ku itu, dengan cara menghindar seperti yang aku lakukan saat ini bisa jadi akan menimbulkan resiko dibenci oleh wanita yang pertama kali mampu menimbulkan rasa sayang di hati ku itu.“Semua pakaianmu udah kamu masukan ke dalam lemari, Ryan?” tanya Eva.“Udah Tante.”“Nah, sekarang yuk ikut aku! Akan aku perkenalkan kamu dengan para penghuni kos-kosan di sebelah!” ajak Eva, aku mengangguk lalu mengikuti Eva melangkah menemui para penyewa kos-kosannya.Sebagian besar penghuni kos-kosan itu memang belum kembali ke sana, karena masih berada di daerah atau desa mereka masing-masing. Karena memang hampir 75% dihuni oleh mahasiswi yang baru akan tiba 2 minggu ke depan saat kegiatan kuliah dimulai, sementara yang ada di sana para wanita muda yang bekerja di kantor instansi pemerintah dan swasta.Eva memperkenalkan aku kepada mereka sebagai keponakannya sendiri, dan aku ditugaskan untuk mengawasi dan

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 126. Takan Libatkan Perasaan Lagi

    “Ya Mas Ryan, Nyonya baru saja pulang mengantar anaknya ke sekolah. Silahkan masuk, Mas!” ujar pembantu rumah Eva yang memang telah mengetahui nama ku dari Nyonya rumahnya sembari membuka pintu pagar.“Makasih Bi,” ucap ku, aku pun menuju beranda rumah dengan membawa koper tempat pakaian ku.“Nyonya, ada Mas Ryan di luar!” seru Pembantu Eva.“Ya Bi, sebentar! Aku ganti pakaian dulu! Bi Ani buatkan saja minum untuk Ryan!” saut Eva dari dalam kamarnya.“Baik Nyonya,” pembantu yang bernama Ani itu pun segera ke ruang belakang membuatkan minum untuk ku yang menunggu di ruang tamu.Beberapa menit berselang Eva pun ke luar dari kamarnya lalu menghampiri ku di ruang tamu, sementara di sana Bi Ani telah menyuguhkan 2 gelas teh hangat di atas meja.“Gimana kiita berangkat sekarang, Ryan?” tanya Eva.“Ntar lagi ya, Tante? Nih, Bi Ani udah repot-repot buatkan minum.” jawab ku sembari tersenyum.“Oh iya ya, sampai lupa jika tadi aku menyuruhnya untuk membuatkan minum. Yuk, diminum dulu teh nya!”

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 125. Pindah Kos

    Om Ramlan memaksa hingga ia masukan sendiri ke dalam saku baju kemeja yang aku kenakan, sementara aku cepat-cepat meraba saku baju dan mengeluarkan kembali uang itu.“Kalau memang uang ini harus aku terima, segini saja Om nanti kalau butuh aku akan bilang sama Om lagi.” tutur ku mengembalikan uang sebesar Rp. 300.000,- lagi.“Kamu ini ya paling susah kalau dikasih uang, selalu saja ada alasanmu. Ya udah, jika kamu butuh biaya mendadak nanti jangan sungkan-sungkan untuk bicara! Kalau nggak ketemu Om di rumah kamu bisa minta sama Tantemu!” ujar Om Ramlan.“Iya Ryan nanti jika Om mu nggak ada di rumah, Tante yang akan ngasih.” tambah Tante Dewi.“Makasih Om, Tante.” ucap ku.“Sebenarnya kedatangan ku ke sini bukan untuk membicarakan soal biaya kuliah, melainkan rencananya besok pagi aku akan pindah kos yang lokasinya dekat dari kampus.” sambung ku.“Oh begitu? Ya itu bagus, kamu akan mudah ke kampus tanpa harus naik angkot ataupun bus kota lagi. Berapa sewa kos di sana perbulanya biar Om

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 62. Riko Dan Keluarga

    Riko sahabat Deni sekaligus juga sahabat Dola, hari itu permohonan cuti kerja yang ia ajukan dipenuhi perusahaannya selama 1 minggu, tentu saja kesempatan itu ia manfaatkan untuk mengunjungi istri dan anak-anaknya di Kota P. Dengan sedan bekas yang dibeli dari hasil kerjanya selama 2 tahun di perus

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 63. Riko Temui Dola

    “Riko! Kapan kamu pulang?” seru Dola yang mengenal betul tamu yang datang itu adalah sahabatnya yang bekerja satu perusahaan dengan Deni di Kota M.“Kemarin sore aku tiba di sini,” jawab Riko.“Wah, dalam merangka apa nih pulang? Udah lama kan, kamu nggak pulang?”“Kangen sama keluarga saja dan keb

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 60. Desy Tak Menyesal

    Perpustakaan sekolah siang itu ramai dikunjungi para siswa SMEA Negeri Kota P, sebagian dari mereka adalah siswa-siswa yang baru masuk ke sekolah itu setelah tamat dari SMP di daerah mereka masing-masing, di sana juga ada aku yang selalu setia ditemani Desy, sementara Lani yang tidak lagi duduk seb

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 57. Kembali Ke Kota P

    “Aku udah nggak tinggal di sana lagi, Aldo.” jawab Cindy.“Kok bisa begitu? Kamu pindah ke mana?” Cindy tak segera menjawab ia mencoba menarik napas yang seketika terasa berat, ia tak tahu harus memulai dari mana, tiba-tiba saja ia dilanda keraguan.“Loh, kok kamu diam saja Cindy? Kamu nggak mau ya

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status