Mag-log in“Sewa per bulannya... Karena nggak mahal dan aku rasa cukup dengan uang yang dikirim Ayah, sebaiknya Om nggak usah bantu,” jawabku.
“Loh, kok gitu?” Om Ramlan kembali merasa aneh atas penolakanku untuk dibantu.
“Katanya pemilik kos itu, aku cukup bayar listriknya aja setiap bulan sebesar Rp. 10.000,- mengenai kosnya itu sendiri aku hanya disuruh menempatinya saja,” ujarku yang menyembunyikan jika sewa ruangan yang akan aku tempati itu juga Rp. 10.000,-.
“Masa sih, Ryan?” Om Ramlan tak percaya.
“Benar Om, Ibu kos itu bilang begitu. Tadinya ruangan kos yang akan aku tempati itu nggak untuk disewakan karena ingin dibuat gudang, tapi karena aku ingin sekali menempatinya Bu kos itupun mengizinkan tanpa disewa hanya bayar listrik setiap bulannya saja,” jelasku.
“Wah, baik sekali Ibu kos itu. Emang ruangan yang akan dijadikan gudang itu besar dan layak huni?” tanya Om Ramlan lagi.
“Lumayanlah Om cukup nyaman juga untuk ditempati,” jawabku.
“Ya udah kalau gitu Om akan bantu bayar listriknya setiap bulan,” ujar Om Ramlan dan kali ini aku tak berani menolak kuatir nanti Om Ramlan berubah pikiran lalu tak memberi izin aku ngekos.
Dua hari setelah aku minta izin untuk ngekos, Om Ramlan mengantarku ke kos-kosan yang aku maksudkan itu. Awalnya aku ditawari tempat tidur berikut kasurnya oleh Om Ramlan karena di lihatnya di ruangan itu tidak ada, akan tetapi aku mencari alasan menolaknya dan memilih untuk tidur beralaskan tikar saja.
Om Ramlan tetap bersikeras, setelah mencari cara untuk menolak akhirnya aku terima kasur kecil tanpa ranjang melainkan dialaskan tikar saja.
Dua minggu sudah aku tinggal di kos-kosan itu, dari segi kebutuhan memang takan semewah serta selengkap saat aku tinggal di rumah Om Ramlan, akan tetapi dari segi kenyaman aku benar-benar merasa betah tinggal di sana meskipun segala sesuatunya aku kerjakan sendiri.
Untuk menuju ke sekolah, seperti biasa aku menggunakan angkot dengan ongkos Rp. 200,- yang selalu hilir mudik di jalan raya depan gang masuk ke kos-kosan itu, sementara jika berangkat menggunakan bus kota hanya Rp. 100,- sampai ke tujuan sekali jalan.
Tak terasa satu catur wulan sudah aku selalu melaksanakan rutinitas ke sekolah menggunakan angkot maupun bus kota itu, kadang masuk pagi terkadang pula masuk siang seperti yang telah ditentukan dan keputusan pihak sekolah untuk bergantian antara kelas A1 dan A2 di SMK itu.
Di samping tempat kos-kosan ku itu terdapat 8 buat rumah petak yang ke semuanya berisi dan dihuni oleh orang-orang yang telah bekerluarga, tepat di samping dan bertaut dengan kosku dihuni oleh keluarga yang sangat baik.
Saking baiknya hubungan kami bertetangga, hingga aku dianggap seperti adik kandung mereka sendiri serta sebagai Om kandung dari putra mereka. Mengenai aku ngekos sudah aku beri tahu Ayah di desa saat aku pulau libur catur wulan satu kemarin, Ayah dan Ibupun menyetujui.
Seperti biasanya sore itu Aku dan Sugeng tampak asyik ngobrol sambil membantu tetanggaku itu menusuk-nusuk daging sate untuk dijual dengan gerobak dorong berkeliling di area komplek perumahan warga sekitar, bahkan terkadang tetanggaku itu menjajakan sate dengan mendorong gerobaknya hingga ke jantung kota. Hal itu selalu rutin ia lakukan setiap selepas magrib hingga larut malam.
Mungkin saja keakraban aku dan keluarga Sugeng terjalin erat karena posisi tempat tinggal kami yang berdampingan, namun jika dilihat dari sikap dan tata cara pergaulan tetangga yang lain, jelas bukan dikarenakan tempat yang berjarak, melainkan memang sifat mereka yang suka acuh tak acuh pada tetangga lainnya dan begitulah faktanya kehidupan di perkotaan pada masa itu.
“Gimana dengan sekolah mu, Ryan?” tanya Sugeng mengawali pembicaraan di beranda depan rumahnya.
“Lancar-lancar saja, Mas sendiri bagaimana dengan dagangannya?” Aku balik bertanya, sambil membantu menusuk daging sate yang ditaruh di dalam sebuah ember.
“Alhamdulilah, hingga hari kemarin aku selalu pulang dengan gerobak kosong dan moga nanti malam sate-sate ini juga habis terjual.” jawab Sugeng.
“Amin.” ucapku diiringi senyum.
“Udah berapa lama Mas Sugeng dan keluarga tinggal dan ngontrak di kota ini?” sambungku.
“Udah hampir 4 tahun, dulunya kami bertani waktu tinggal di desa daerah Jawa Timur. Karena hasilnya nggak mencukupi untuk keperluan keluarga, kami mencoba merantau ke kota ini dan alhamdulilah kehidupan kami sudah sedikit lebih baik,” jawab Sugeng.
“Ya Mas, orang tuaku pun di desa bertani. Ibuku berkebun sementara Ayah bekerja menyadap karet di perkebunan temannya, sebenarnya pendapatan Ayah sangat pas-pasan namun dia nekad untuk menyuruhku melanjutkan sekolah ke kota ini.” ujarku.
“Wah, kamu beruntung Ryan memiliki orang tua seperti itu. Meskipun mereka susah, namun demi putranya mereka selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Jangan pernah kecewakan mereka, kamu harus bisa membuat mereka bangga suatu saat nanti!” Sugeng mengingatkan sembari menepuk-nepuk pundakku.
“Iya Mas.”
“Ayo, dicicipi satenya! Sebentar aku ambilkan kuahnya.”
“Makasih Mas, aku baru aja makan. Tadi siang aku ketiduran sepulang dari sekolah, jadi makannya udah sorean.” ucapku menolak.
Daging-daging sate telah selesai semuanya ditusuk, hari pun sudah semakin sore, sinar kemerah-merahan nampak membias awan di langit, tak lama lagi malam pun menjelang, aku pamit untuk masuk ke kos, merapikan kasur dan segala barang yang letaknya tidak teratur.
****
Siang itu sepulang dari sekolah aku tak langsung menuju kos, aku singgah dulu ke kantor pos untuk menukarkan wesel yang aku terima dari orang tuaku di desa. Aku mendapatkan uang Rp. 30.000,- dari penukaran wesel pos itu, lalu sebelum aku ke luar aku duduk sejenak di kursi yang berjejer di bagian ruang tunggu tamu kantor pos pusat itu.
Aku membuka sebuah amplop yang berisikan surat dari Ayah, kemudian aku membacanya,
“Teruntuk Ananda Ryan Alfiandy, Ayah hanya bisa mengirim uang sebanyak Rp. 30.000,- karena pendapatan Ayah bulan ini jauh berkurang disebabkan musim penghujan di desa kita. Ayah berharap Ananda bisa lebih berhemat setelah membayar uang SPP bulan ini, Ayah akan mengirimkan uang lagi pertengahan bulan ini. Mudah-mudahan saja tak ada kendala seperti cuaca yang sering hujan di bulan yang lalu, hingga Ayah bisa bekerja sepenuhnya dan mendapatkan penghasilan seperti biasanya...” Aku hentikan sejenak membaca surat dari Ayah, hatiku tiba-tiba saja sedih...
Dola pun mau-maunya menghampiri ku di selokan itu, padahal hal itu tak pernah ia lakukan. Jangan kan melihat dan mendekati selokan, melihat pembuangan air dari dapur pun Dola tak pernah, terkecuali tak sengaja saat ia berada di perkarangan belakang rumahnya dulu, saat saluran pembuangan air itu masih terbuka tidak seperti sekarang telah dibuatkan saluran pembuangan air melalui sambungan paralon oleh ku menuju selokan.Bahkan Dola seakan betah berlama-lama di sana, menemani ku bekerja sambil sesekali mengajak aku ngobrol.“Senin depan kamu udah masuk sekolah kembali, jangan sampai kehujanan lagi ya? Nanti kamu sakit!” Dola menasehati.“Aku sih sering kehujanan Tante, tapi nggak seperti malam itu saat aku membantu Mbak Ningsih,” ujar ku.“Ya, tapi kamu juga jangan gegabah! Jika bisa dihindari, hindarilah jangan sampai kehujanan! Begitu pula jika menolong seseorang, kamu juga harus memikirkan kondisi tubuhmu! Sakit itu benar-benar nggak ngenakin, buktinya apapun itu akan pahit untuk dite
Pakaian mereka bertebaran ke seluruh penjuru ruang kamar itu, seprei dan bantal yang tadinya rapi menjadi awut-awutan, bak pengembara yang kehausan tak menemukan air selama di perjalanan, begitu bertemu ia akan melepaskan rasa dahaga itu hingga puas. Sore pun telah berubah menjadi malam, sepasang tubuh yang tadinya terkulai lemas hingga tertidur pulas pun bangun.“Sepertinya udah saatnya aku pulang, Aldo. Aku nggak bisa lebih lama lagi di sini, aku harus tiba di rumah kembali sebelum Mas Deni pulang.” Ujar Cindy sambil mengenakan pakaiannya kembali.“Ya, aku akan mengantarmu pulang.” ulas Aldo yang juga mengenakan pakaiannya.“Untuk saat ini nggak usah, Aldo. Aku kuatir nanti menimbulkan kecurigaan tetangga di sekitaran rumah Mas Deni, aku pulang dengan taksi saja.” tolak Cindy.“Oh ya udah kalau begitu, kapan sekiranya kita akan bertemu lagi Cindy?” tanya Aldo, yang sepertinya belum puas akan pertemuan mereka itu.“Hemmm... Kamu harus sabar, sayang. Untuk sementara ini biar aku saja
Bagi ku hal itu memang menjenuhkan, karena aku telah terbiasa untuk bergerak dan melakukan apa saja yang bisa dikerjakan, namun aku menyadari semua yang dilakukan Dola itu adalah untuk kebaikan diri ku juga, hingga aku menuruti saja semua yang diperintahkan Dola itu.*****Aldo telah berusaha untuk melupakan Cindy dalam hidupnya, namun hal itu benar-benar sulit ia lakukan, buktinya sudah 3 bulan lebih sejak pertemuan mereka yang terakhir kalinya di sebuah restoran, Cindy selalu saja mengganggu pikirannya. Semakin ia berusaha melupakan justru semakin kacau pikirannya, Aldo ternyata belum bisa mengiklaskan Cindy pada pria yang saat ini telah menjadi suaminya.Sementara bagi Cindy sendiri, perasaannya tak serta merta hilang pada Aldo, boleh dikatakan Aldo justru mendapat tempat lebih di hati Cindy, karena selama ini memang hubungan mereka jalin berdasarkan cinta, bukan seperti pada Deni yang tujuan utamanya hanya untuk menguasai materi mantan suami Dola itu.Saat bercinta pun Cindy meras
“Ya bisa jadi begitu, Bi. Oh ya Bi, nanti masakan yang seger-seger ya? Seperti sup misalnya, agar Ryan lebih berselera untuk makan!” pinta Dola.“Baik Nyonya, setelah melipat pakaian ini aku akan ke pasar membeli bahan-bahan yang akan dibuat sup,” ujar Bi Lastri.“Uang untuk belanja dapur masih ada, Bi?”“Masih banyak Nyonya, cukup kok hingga akhir bulan ini.” jawab Bi Lastri.Seharian penuh aku benar-benar dirawat oleh Dola, mulai dari makan hingga melap seluruh tubuh ku dengan air hangat. Begitu malam datang Dola masih menjaga ku, Dola memang ikut berbaring di samping ku namun sengaja ia tidak memejamkan mata, nampak sekali perhatiannya yang besar pada ku.Terkadang Dola senyum-senyum sendiri sambil menatap wajah ku yang telah tertidur dengan pulasnya, bahkan sesekali ia mengecup mesra kening ku yang berbaring di sampingnya itu.“Andai saja kamu bukan muridku, mungkin suatu saat nanti aku bersedia untuk kamu jadikan istri. Saat ini saja aku merasa begitu nyaman, dan kamu seolah-olah
“Semalam aku kehujanan Tante, aku membantu tetangga kosku yang akan melahirkan dengan membawanya ke rumah sakit. Suaminya belum pulang dari berdagang sate keliling, semalam kan hujan lebat Tante kan tahu untuk menuju jalan raya dari kosku itu harus terlebih dahulu melewati gang. Karena aku fokusnya menggandeng Mbak Ningsih agar kuat berjalan sampai jalan raya, makanya aku basah kutub kehujanan,” tutur ku.“Lalu dia nya nggak kenapa-kenapa dengan janin yang ia kandung?” tanya Dola kaget atas tindakan nekad yang aku lakukan tadi malam itu.“Nggak apa-apa, Tante. Mbak Ningsih melahirkan dengan selamat begitu tiba di rumah sakit.” jawab ku.“Syukurlah kalau begitu.” Dola menghela nafas lega.“Ryan...!” tiba-tiba Dola berteriak saat tubuh ku yang tadi bersandar di dinding terjatuh dengan posisi tertelungkup di lantai, sepertinya aku pingsan akibat suhu panas tubuh ku terlalu tinggi.Dola dan Bi Lastri segera membalikan tubuh ku, lalu dengan cepat Bi Lastri mengambil bantal di kamar agar ak
Tak perlu bagi ku untuk menjelaskan kalau diri aku bukan suami dari wanita yang baru saja melahirkan itu, yang terpenting saat itu Mbak Ningsih melahirkan dengan selamat, tanpa ada pertanyaan panjang jika nanti aku mengatakan kalau aku bukan suaminya pada dokter yang berdiri di hadapan ku itu.“Terima kasih dokter,” ucap ku.“Ya, silahkan masuk saja! Aku mau ke ruangan sebelah, Istri anda sekarang ditangani bidan.” tutur dokter itu, lalu ia berlalu menuju ruangan sebelah yang ia maksudkan.Aku dan Arya pun masuk ke dalam ruangan persalinan, di sana aku melihat Mbak Ningsih, seorang perawat dan seorang bidan yang tengah mengendong bayi.“Mbak Ningsih selamat ya! Sekarang aku akan kembali ke kos dulu, siapa tahu Mas Sugeng udah pulang sembari membawa semua keperluan serta pakaian yang akan dibutuhkan nanti! Titip Arya ya, Bu Bidan?” ucap ku, Ningsih dan Bidan itu pun anggukan kepala.Aku pun bergegas ke luar ruangan itu menuju halaman rumah sakit di mana taksi yang diminta untuk menung







