Masuk“Eh, maaf Bu. Begini Bu, Aku bicara dulu dengan Om ku soalnya nggak mungkin aku pindah ke sini saja tanpa memberi tahu dia dulu,” jawabku.
“Hemmm, ya Ryan. Kapanpun kamu akan pindah ke sini nggak jadi soal, nih kamu pegang kuncinya, aku mau pamit pulang ke rumah.” ulas Bu Eva sembari menyodorkan kunci ruangan itu padaku.
“Loh, Bu Eva nggak tinggal di kawasan ini?” tanyaku heran.
“Nggak Ryan, di sini hanya rumah kontrakan atau rumah petak yang aku sewakan, sedangkan tempat tinggalku cukup jauh dari sini. Aku ke sini tadi menjemput uang kontrakan bagi para penghuni yang udah tiba harinya untuk membayar,” jelas Bu Eva, aku mengangguk dan mengerti.
“Aku lagi nggak bawa uang sekarang, gimana aku akan bayar sewa ruangan ini yang tadi Bu Eva sebutkan? Kalau boleh tahu di mana alamat rumah tempat tinggal Bu Eva itu, biar nanti saat aku akan pindah ke sini aku terlebih dahulu menemui Bu Eva dan membayar sewanya,” ujarku.
“Kamu tempati aja dulu, soal sewa kapan aku ke sini aja kamu bayar. Yang harus kamu bayar setiap akhir bulannya yaitu listrik di ruangan ini,” jawab Bu Eva.
“Oh begitu, baiklah Bu. Sekali lagi terima kasih ya Bu Eva,” ucapku.
“Ya Ryan, aku pamit ya?” ujarnya, akupun mengangguk dan tersenyum.
Malam itu sehabis makan malam, aku yang biasa ke kamarku di lantai atas untuk belajar atau mengerjakan tugas jika di sekolah Guru memberikan PR langsung saja menghampiri Om Ramlan yang kebetulan saat itu sedang duduk sendiri di teras rumah.
“Malam Om,” sapaku.
“Eh, Ryan. Loh biasanya kamu langsung ke atas belajar dan ngerjain PR,” ujar Om Ramlan yang sudah tahu dan hafal sekali kebiasaanku.
“Iya Om, tapi karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan, makanya aku nemuin Om di sini. Boleh duduk di sini kan Om?” ulasku sembari minta izin duduk di sana.
“Oh tentu aja, silahkan!” Om Ramlan mempersilahkan dan aku mengangguk sembari tersenyum ramah, lalu duduk di kursi bersebelahan dengan kursi yang diduduki Om Ramlan.
“Emangnya hal penting apa yang ingin kamu sampaikan itu, Ryan?” sambung Om Ramlan bertanya.
“Begini Om, tapi sebelumnya aku minta maaf jika hal yang ingin aku sampaikan ini nantinya membuat Om nggak berkenan,” ucapku yang sebenarnya ragu dan merasa agak takut untuk menyampaikannya.
“Sampaikan aja, emangnya ada apa?” tanya Om Ramlan, meskipun raut wajahnya terlihat santai akan tetapi aku masih saja ragu.
“Kalau Om nggak keberatan, aku ingin ngekos Om..”
“Apa? Kamu mau ngekos?!” potong Om Ramlan dengan nada terdengar agak keras karena terkejut, akupun ikut terkejut dan makin kuatir jika Om Ramlan akan marah.
“Nggak.. Nggak. Kamu nggak boleh ngekos! Ayahmu dulu menitipkan kamu di sini untuk melanjutkan sekolah di kota ini,” sambung Om Ramlan, akupun dibuatnya tertunduk dan tak berani menatapnya.
“Om...”
“Apa yang membuatmu sampai kepikiran untuk ngekos segala?” kembali Om Ramlan memotong saat aku hendak bicara.
“Begini Om, nggak ada sesuatu apapun yang mendasari keinginan aku untuk ngekos selain mau hidup mandiri saja seperti teman-temanku di sekolah yang juga datang dari desa dan kota lain. Mereka cerita tentang keseruan tinggal di kos-kosan, meskipun segala sesuatunya dikerjakan sendiri akan tetapi di situ mereka mendapatkan pelajaran tentang kemandirian dan itu hal yang sangat positif salah satunya menghilangkan sifat manja dan malas-malasan.” Jelasku yang sebenarnya mengarang cerita saja.
“Maksudmu? Hal positif dapat menghilangkan sifat manja dan malas-malasan itu apa?” tanya Om Ramlan, aku melihat keningnya dikerutkan.
“Begini Om, kebanyakan dari teman-temanku yang ngekos terutama dari kota lain kehidupan ekonominya cukup mampu, sewaktu mereka di rumahnya terbiasa manja apa yang diinginkan selalu ada tanpa berusaha sedikitpun. Begitu ngekos di sini, mereka terbiasa mengerjakan sendiri segala sesuatu menyangkut kebutuhannya dan itu yang membuatku ingin seperti mereka Om,” aku menuturkan berharap Om Ramlan faham.
“Aneh kamu ini, udah enak tinggal di sini eh kamunya ingin susah-susah ngekos. Emang di rumah ini kamu nggak nyaman dan kerasan ya?” tanya Om Ramlan, sorot matanya seperti ingin menyelidiki penyebab aku meminta izin untuk ngekos.
“Bukan nyaman dan kerasannya Om, tapi aku hanya ingin belajar mandiri saja apalagi kehidupan ku di desa bukan seperti teman-teman lain yang terbilang cukup mampu. Mereka aja bisa terlatih mandiri, lalu kenapa aku nggak? Makanya aku sampaikan keinginanku itu sama Om, agar kelak aku terbiasa hidup mandiri setelah tamat sekolah atau melanjutkan ke perguruan tinggi,” jawabku, sepintas aku lihat Om Ramlan mengangguk-anggukan kepalanya.
“Ya, Om ngerti sekarang dengan alasan kenapa kamu ingin ngekos. Apalagi kamu seorang laki-laki, kemandirian memang harus ditanamkan sejak dini. Om setuju dengan keinginanmu itu, tapi masalahnya apakah Ayahmu di desa bakal menyetujuinya juga jika nanti aku beri tahu kalau kamu ingin ngekos di kota ini?” ujar Om Ramlan.
“Kalau bisa Om jangan kasih tahu Ayah, aku kuatir Ayah nggak akan setuju karena dia nggak akan ngerti walau dijelaskan juga alasannya,” pintaku.
“Tapi bagaimana suatu hari nanti Ayahmu tahu? Om pasti bakal dimarahinya,” giliran Om Ramlan yang kuatir.
“Om nggak perlu kuatir, Ayah akan aku kasih tahu ketika aku libur kenaikan kelas nanti. Jika aku jelasin langsung saat aku di desa, Ayah pasti faham dan nggak akan menyalahkan Om atas keinginanku untuk ngekos di kota ini,” ujarku, kembali Om Ramlan mengangguk-anggukan kepalanya.
“Emangnya kamu mau ngekos di mana?” tanya Om Ramlan.
“Nggak jauh dari sini kok Om sekitar sekiloan, tadi sepulang sekolah aku iseng cari kos-kosan eh nggak tahunya dapat,” jawabku.
“Emang sewanya per bulan berapa? Nanti biar Om yang bayar,” tanya Om Ramlan, aku sempat melengoh ke belakang ke dalam rumah mencari tahu ada tidaknya Tante Dewi duduk di ruangan depan yang berdekatan dengan teras tempat kami duduk dan ngobrol.
Hal itu aku lakukan untuk memastikan agar obrolan kami, terutama mengenai keinginan Om Ramlan untuk membayar sewa kosku per bulan itu.
“Sewa per bulan...”
“Hemmm... Aku belum bisa memutuskan sekarang, karena kuliahku masih 1 semester lagi. Sebaiknya nggak perlu kamu fikirkan soal itu, jika nanti kuliahku selesai aku pasti akan memberitahumu. Sekarang lebih baik kamu fokuskan saja pada persiapan wisuda dan rencana yang akan kamu jalani selanjutnya,” tutur ku mencubit pipi wanita cantik yang memeluk ku itu.“Ih.. Kamu mulai nakal ya! Nih, rasakan!” Siska membalas mencubit perut ku.Kami terlibat saling cubit dan bercanda riang, hingga berlanjut saling sentuh bagian-bagian yang membangkitkan gairah. Karena kami sudah sering melakukannya, tentu saja setiap sentuhan-sentuhan tak lagi canggung dan tahu persis apa yang akan dilakukan selanjutnya.Tubuh ramping Siska dengan mudahnya aku bopong ke dalam kamar kemudian membaringnya dengan lembut di ranjang, Siska yang tak ingin melepaskan rangkulannya di leher ku membuat aku secara reflek menindih tubuhnya. AC yang dingin di dalam ruangan kamar itu tak lagi terasa, justru sebaliknya saking panas
Jika dipikir-pikir hal yang kami lakukan itu benar-benar gila dan tak masuk akal, namun toh itu nyatanya banyak terjadi hingga masa sekarang ini, bahkan lebih gila lagi di masa yang sekarang ini hubungan terlarang itu terjadi antara saudara tiri, Ayah Ibu dan anak tiri, kakak adik ipar, paman dan keponakannya, bahkan naifnya Ayah Ibu dengan anak kandungnya sendiri.Lalu jika ingin mencari siapa yang salah dari semua kejadian itu, siapa yang musti disalahkan? Semua terjadi tentu karena ada penyebab dan didasari suka sama suka. Jika hanya dikarena suatu kekilafan, kenapa juga musti terjadi berulang-ulang kali? Dan itu terjadi hingga membuat pihak wanita sampai hamil.Ini bukan sekedar cerita bohong dan memang faktanya terjadi hingga jaman modern seperti sekarang ini, tak bisa ditampik lagi jika godaan yang berkaitan dengan semua itu sangatlah berbahaya, jika seseorang tak mampu membendungnya sejak awal.3 Tahun kemudian....Perkembangan teknologi kian pesat, kemunculan internet dengan b
“Hemmm... Kamu ini ada-ada aja, Ryan. Sewa vila selama seminggu tentu akan ada potongannya, dan itu bisa sampai hanya Rp. 700.000,- per 24 jam nya. Atau bisa juga dengan cara nego harga yang kita sepakati dengan yang punya vila jika kita ingin menyewanya seminggu lebih,” tutur Melly merasa lucu akan ucapan dan pertanyaan dari ku mengenai sewa vila itu.Sang Mentari pun tenggelam di ufuk barat, malam datang menghampiri. Pulau yang tadinya diterangi cahaya matahari kini berubah dengan gemerlap cahaya lampu-lampu yang berasal dari mesin diesel atau genset kapasitas besar dari masing-masing vila, karena mampu menyalakan lampu-lampu dari ruangan dalam hingga perkarangan vila itu.Di pulau itu bukan hanya terdapat vila saja, melainkan ada juga cafe-cafe serta restoran yang targetnya pengunjung-pengunjung yang datang ke pulau itu, baik yang sampai menginap di vila, atau yang kembali ke pingiran lepas pantai perkotaan saat senja datang.Untuk makan malam Melly mengajak ku ke salah satu restor
Pertemuan itu bukan saja melahirkan solusi atas semua hal yang sulit ia selesaikan sendiri, berkaitan dengan hasrat yang terkadang datang tiba-tiba membelenggu dirinya dalam kesepian yang harus dituntaskan. Tapi juga aku sosok pria yang sering membuatnya berfantasi itu juga setuju, jika suatu ketika diajak kencan dan menjalin hubungan tanpa melibatkan perasaan karena kami sama-sama ingin menyelesaikan kuliah masing-masing.Memiliki wajah cantik dan postur tubuh yang menawan, Bagi Siska takan begitu sulit jika hanya ingin bersenang-senang dengan seorang pria, malahan sejak ia bercerai dan kembali kuliah tak sedikit pria yang berusaha untuk dekat dengannya, tapi tak satu pun di antara mereka yang direspon. Hal itu bukan saja dikarenakan ia takut karena telah berjanji pada kedua orang tuanya untuk tidak menjalin hubungan dulu dengan seorang pria sebelum ia menyelesaikan kuliahnya, tapi juga belum ada satu pun di antara pria-pria yang ingin dekat itu ia sukai.Siska memang tak menutup dir
“Mungkin kamu sebagai wanita lebih kuat untuk menahan, jika gejolak keinginan untuk melakukan itu datang. Tapi sangat sulit bagi pria, seperti halnya aku yang telah merasakan sensasinya bercinta dengan lawan jenis.” sambung ku.“Oh, jadi kamu pernah melakukan sebelumnya dengan mantan Gurumu itu? Tapi kenapa juga saat aku mengajakmu bercinta di kos-kosan dulu, kamu kelihatan bingung seolah-olah kamu belum pernah melakukannya sama sekali?” tanya Siska.“Ya, dan itu udah sering kami lakukan. Aku bukannya bingung, melainkan cemas kalau-kalau nanti ketauan. Soalnya pada waktu itu di tempat jualan Mas Sugeng sedang ramai-ramainya,” jawab ku.“Kamu tadi bilang lebih sulit menahan jika keinginan itu datang, lalu bagaimana pula caramu mengatasinya?” tanya Siska lagi.“Aku sekarang udah benar-benar hancur, Siska. Akibat percintaan yang pernah aku lakukan dengan mantan Guruku itu, membuat aku selalu ketagihan dan nggak dapat menghindar untuk selalu melakukannya pada wanita manapun juga. Sekarang
Setengah jam kemudian para penghuni kos-kosan yang umumnya juga mahasiswa di kampus tempat aku kuliah tampak ramai pulang dari kampus, mereka selalu menyapa ku setiap kali melintas ke luar masuk pintu pagar halaman kos-kosan itu, dan aku pun dengan ramah membalas sapaan mereka.Meskipun tak sedikit di antara mereka yang ingin mengenal ku lebih dekat, namun belum ada satu pun yang berani melakukan itu, mungkin karena aku diketahui sebagai keponakan dari Eva ibu kos mereka, hingga rasa segan masih mengalahkan keinginan mereka untuk datang menghampiri setiap kali aku duduk di teras rumah tempat kediaman ku itu.“Mereka cantik-cantik ya, Ryan? Masa nggak ada yang kamu sukai? Atau salah satu di antara mereka sekarang udah ada yang jadi pacarmu, ya?” tanya Siska meskipun dengan nada becanda, namun rasa penasarannya cukup serius.“Nggak ada, Siska. Mereka semua aku anggap saudara sendiri, karena memang aku ditugasi Tante Eva untuk menjaga dan mengawasi mereka di sini. Lagi pula belum ada kei
Apa yang selama ini tidak membuatnya terlalu curiga pada Deni, saat mendengar Riko sahabat mereka bercerita melalui sambungan telepon kabel, kalau Deni suaminya itu tengah terlibat jalinan cinta terlarang dengan seorang wanita karyawan di perusahaan tempatnya bekerja. Dola seakan tidak percaya deng
Malam itu di rumah Bu Dola kedatangan seorang pria yang telah hampir sebulan tidak mengunjungi Guru cantik itu, pria yang bernama Deni itu merupakan suaminya yang baru kembali dari luar kota. Harusnya ada kehangatan tersendiri saat mereka berkumpul kembali, namun hal yang terlihat justru sebaliknya
“Nggak ada apa-apa,” ujar ku.“Lalu kenapa berhenti?”“Aku rasa kita udah bertindak terlalu jauh, buat aku sih nggk akan jadi masalah tapi buat kamu nantinya bisa jadi masalah besar yang tentu akan menjadi sebuah penyesalan,” jawab ku menahan semua hasrat yang tadi sulit aku bendung, Lani kembali d
“Sebagai wanita normal tentu saja rasa itu ada, tapi jika bersamanya lebih baik tidak melakukan sama sekali. Kebencian yang tumbuh di hati, lebih besar dari hasrat ingin bercinta.”“Bi Lastri benar, jika di hati sudah mulai muncul sesuatu yang tak lagi harmonis rasanya dengan pasangan takan pernah







