แชร์

Bab 3. Izin Ngekos

ผู้เขียน: Andy Lorenza
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-09 00:33:31

“Eh, maaf Bu. Begini Bu, Aku bicara dulu dengan Om ku soalnya nggak mungkin aku pindah ke sini saja tanpa memberi tahu dia dulu,” jawabku.

“Hemmm, ya Ryan. Kapanpun kamu akan pindah ke sini nggak jadi soal, nih kamu pegang kuncinya, aku mau pamit pulang ke rumah.” ulas Bu Eva sembari menyodorkan kunci ruangan itu padaku.

“Loh, Bu Eva nggak tinggal di kawasan ini?” tanyaku heran.

“Nggak Ryan, di sini hanya rumah kontrakan atau rumah petak yang aku sewakan, sedangkan tempat tinggalku cukup jauh dari sini. Aku ke sini tadi menjemput uang kontrakan bagi para penghuni yang udah tiba harinya untuk membayar,” jelas Bu Eva, aku mengangguk dan mengerti.

“Aku lagi nggak bawa uang sekarang, gimana aku akan bayar sewa ruangan ini yang tadi Bu Eva sebutkan? Kalau boleh tahu di mana alamat rumah tempat tinggal Bu Eva itu, biar nanti saat aku akan pindah ke sini aku terlebih dahulu menemui Bu Eva dan membayar sewanya,” ujarku.

“Kamu tempati aja dulu, soal sewa kapan aku ke sini aja kamu bayar. Yang harus kamu bayar setiap akhir bulannya yaitu listrik di ruangan ini,” jawab Bu Eva.

“Oh begitu, baiklah Bu. Sekali lagi terima kasih ya Bu Eva,” ucapku.

“Ya Ryan, aku pamit ya?” ujarnya, akupun mengangguk dan tersenyum.

Malam itu sehabis makan malam, aku yang biasa ke kamarku di lantai atas untuk belajar atau mengerjakan tugas jika di sekolah Guru memberikan PR langsung saja menghampiri Om Ramlan yang kebetulan saat itu sedang duduk sendiri di teras rumah.

“Malam Om,” sapaku.

“Eh, Ryan. Loh biasanya kamu langsung ke atas belajar dan ngerjain PR,” ujar Om Ramlan yang sudah tahu dan hafal sekali kebiasaanku.

“Iya Om, tapi karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan, makanya aku nemuin Om di sini. Boleh duduk di sini kan Om?” ulasku sembari minta izin duduk di sana.

“Oh tentu aja, silahkan!” Om Ramlan mempersilahkan dan aku mengangguk sembari tersenyum ramah, lalu duduk di kursi bersebelahan dengan kursi yang diduduki Om Ramlan.

“Emangnya hal penting apa yang ingin kamu sampaikan itu, Ryan?” sambung Om Ramlan bertanya.

“Begini Om, tapi sebelumnya aku minta maaf jika hal yang ingin aku sampaikan ini nantinya membuat Om nggak berkenan,” ucapku yang sebenarnya ragu dan merasa agak takut untuk menyampaikannya.

“Sampaikan aja, emangnya ada apa?” tanya Om Ramlan, meskipun raut wajahnya terlihat santai akan tetapi aku masih saja ragu.

“Kalau Om nggak keberatan, aku ingin ngekos Om..”

“Apa? Kamu mau ngekos?!” potong Om Ramlan dengan nada terdengar agak keras karena terkejut, akupun ikut terkejut dan makin kuatir jika Om Ramlan akan marah.

“Nggak.. Nggak. Kamu nggak boleh ngekos! Ayahmu dulu menitipkan kamu di sini untuk melanjutkan sekolah di kota ini,” sambung Om Ramlan, akupun dibuatnya tertunduk dan tak berani menatapnya.

“Om...”

“Apa yang membuatmu sampai kepikiran untuk ngekos segala?” kembali Om Ramlan memotong saat aku hendak bicara.

“Begini Om, nggak ada sesuatu apapun yang mendasari keinginan aku untuk ngekos selain mau hidup mandiri saja seperti teman-temanku di sekolah yang juga datang dari desa dan kota lain. Mereka cerita tentang keseruan tinggal di kos-kosan, meskipun segala sesuatunya dikerjakan sendiri akan tetapi di situ mereka mendapatkan pelajaran tentang kemandirian dan itu hal yang sangat positif salah satunya menghilangkan sifat manja dan malas-malasan.” Jelasku yang sebenarnya mengarang cerita saja.

“Maksudmu? Hal positif dapat menghilangkan sifat manja dan malas-malasan itu apa?” tanya Om Ramlan, aku melihat keningnya dikerutkan.

“Begini Om, kebanyakan dari teman-temanku yang ngekos terutama dari kota lain kehidupan ekonominya cukup mampu, sewaktu mereka di rumahnya terbiasa manja apa yang diinginkan selalu ada tanpa berusaha sedikitpun. Begitu ngekos di sini, mereka terbiasa mengerjakan sendiri segala sesuatu menyangkut kebutuhannya dan itu yang membuatku ingin seperti mereka Om,” aku menuturkan berharap Om Ramlan faham.

“Aneh kamu ini, udah enak tinggal di sini eh kamunya ingin susah-susah ngekos. Emang di rumah ini kamu nggak nyaman dan kerasan ya?” tanya Om Ramlan, sorot matanya seperti ingin menyelidiki penyebab aku meminta izin untuk ngekos.

“Bukan nyaman dan kerasannya Om, tapi aku hanya ingin belajar mandiri saja apalagi kehidupan ku di desa bukan seperti teman-teman lain yang terbilang cukup mampu. Mereka aja bisa terlatih mandiri, lalu kenapa aku nggak? Makanya aku sampaikan keinginanku itu sama Om, agar kelak aku terbiasa hidup mandiri setelah tamat sekolah atau melanjutkan ke perguruan tinggi,” jawabku, sepintas aku lihat Om Ramlan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Ya, Om ngerti sekarang dengan alasan kenapa kamu ingin ngekos. Apalagi kamu seorang laki-laki, kemandirian memang harus ditanamkan sejak dini. Om setuju dengan keinginanmu itu, tapi masalahnya apakah Ayahmu di desa bakal menyetujuinya juga jika nanti aku beri tahu kalau kamu ingin ngekos di kota ini?” ujar Om Ramlan.

“Kalau bisa Om jangan kasih tahu Ayah, aku kuatir Ayah nggak akan setuju karena dia nggak akan ngerti walau dijelaskan juga alasannya,” pintaku.

“Tapi bagaimana suatu hari nanti Ayahmu tahu? Om pasti bakal dimarahinya,” giliran Om Ramlan yang kuatir.

“Om nggak perlu kuatir, Ayah akan aku kasih tahu ketika aku libur kenaikan kelas nanti. Jika aku jelasin langsung saat aku di desa, Ayah pasti faham dan nggak akan menyalahkan Om atas keinginanku untuk ngekos di kota ini,” ujarku, kembali Om Ramlan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Emangnya kamu mau ngekos di mana?” tanya Om Ramlan.

“Nggak jauh dari sini kok Om sekitar sekiloan, tadi sepulang sekolah aku iseng cari kos-kosan eh nggak tahunya dapat,” jawabku.

“Emang sewanya per bulan berapa? Nanti biar Om yang bayar,” tanya Om Ramlan, aku sempat melengoh ke belakang ke dalam rumah mencari tahu ada tidaknya Tante Dewi duduk di ruangan depan yang berdekatan dengan teras tempat kami duduk dan ngobrol.

Hal itu aku lakukan untuk memastikan agar obrolan kami, terutama mengenai keinginan Om Ramlan untuk membayar sewa kosku per bulan itu.

“Sewa per bulan...”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 189. Diajak Ke Sebuah Pulau

    Pertemuan itu bukan saja melahirkan solusi atas semua hal yang sulit ia selesaikan sendiri, berkaitan dengan hasrat yang terkadang datang tiba-tiba membelenggu dirinya dalam kesepian yang harus dituntaskan. Tapi juga aku sosok pria yang sering membuatnya berfantasi itu juga setuju, jika suatu ketika diajak kencan dan menjalin hubungan tanpa melibatkan perasaan karena kami sama-sama ingin menyelesaikan kuliah masing-masing.Memiliki wajah cantik dan postur tubuh yang menawan, Bagi Siska takan begitu sulit jika hanya ingin bersenang-senang dengan seorang pria, malahan sejak ia bercerai dan kembali kuliah tak sedikit pria yang berusaha untuk dekat dengannya, tapi tak satu pun di antara mereka yang direspon. Hal itu bukan saja dikarenakan ia takut karena telah berjanji pada kedua orang tuanya untuk tidak menjalin hubungan dulu dengan seorang pria sebelum ia menyelesaikan kuliahnya, tapi juga belum ada satu pun di antara pria-pria yang ingin dekat itu ia sukai.Siska memang tak menutup dir

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 188. Hubungan Tanpa Status

    “Mungkin kamu sebagai wanita lebih kuat untuk menahan, jika gejolak keinginan untuk melakukan itu datang. Tapi sangat sulit bagi pria, seperti halnya aku yang telah merasakan sensasinya bercinta dengan lawan jenis.” sambung ku.“Oh, jadi kamu pernah melakukan sebelumnya dengan mantan Gurumu itu? Tapi kenapa juga saat aku mengajakmu bercinta di kos-kosan dulu, kamu kelihatan bingung seolah-olah kamu belum pernah melakukannya sama sekali?” tanya Siska.“Ya, dan itu udah sering kami lakukan. Aku bukannya bingung, melainkan cemas kalau-kalau nanti ketauan. Soalnya pada waktu itu di tempat jualan Mas Sugeng sedang ramai-ramainya,” jawab ku.“Kamu tadi bilang lebih sulit menahan jika keinginan itu datang, lalu bagaimana pula caramu mengatasinya?” tanya Siska lagi.“Aku sekarang udah benar-benar hancur, Siska. Akibat percintaan yang pernah aku lakukan dengan mantan Guruku itu, membuat aku selalu ketagihan dan nggak dapat menghindar untuk selalu melakukannya pada wanita manapun juga. Sekarang

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 187. Curhat Dengan Siska

    Setengah jam kemudian para penghuni kos-kosan yang umumnya juga mahasiswa di kampus tempat aku kuliah tampak ramai pulang dari kampus, mereka selalu menyapa ku setiap kali melintas ke luar masuk pintu pagar halaman kos-kosan itu, dan aku pun dengan ramah membalas sapaan mereka.Meskipun tak sedikit di antara mereka yang ingin mengenal ku lebih dekat, namun belum ada satu pun yang berani melakukan itu, mungkin karena aku diketahui sebagai keponakan dari Eva ibu kos mereka, hingga rasa segan masih mengalahkan keinginan mereka untuk datang menghampiri setiap kali aku duduk di teras rumah tempat kediaman ku itu.“Mereka cantik-cantik ya, Ryan? Masa nggak ada yang kamu sukai? Atau salah satu di antara mereka sekarang udah ada yang jadi pacarmu, ya?” tanya Siska meskipun dengan nada becanda, namun rasa penasarannya cukup serius.“Nggak ada, Siska. Mereka semua aku anggap saudara sendiri, karena memang aku ditugasi Tante Eva untuk menjaga dan mengawasi mereka di sini. Lagi pula belum ada kei

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 186. Kehancuran Deni Dan Jenny

    “Emangnya dia selalu bayar segitu, pria yang diajaknya kencan dalam se malam?” tanya Eva yang merasa uang diberikan Jenny untuk ku itu cukup banyak.“Nggak juga sih, malahan pria yang aku temui di night club membantu rencanaku mendekatinya tadi malam hanya dibayar Rp. 200.000,- sekali kencan.” jawab ku.“Hemmm... Berarti dia sangat puas dengan layananmu tadi malam, makanya kamu diberi uang segitu banyaknya.” ujar Eva diiringi senyumnya.“Walaupun banyak tapi uang ini dari Om ku sendiri, untung aja aku dapat membongkar kelakuannya sekarang, kalau dibiarkan berlarut-larut bukan nggak mungkin Om Ramlan bisa bangkrut dipeloroti untuk kesenangannya sendiri.” tutur ku kesal.“Ya juga sih, secara dia mencari kesenangan itu bukan uangnya sendiri melainkan dari suaminya.” Tambah Eva.“Gimana mau punya uang sendiri jika dia sejak dinikahi Om Ramlan hanya enak-enakan saja di rumah, padahal kalau dia mau seperti Tante membuka usaha, aku rasa dari dulu ia bisa wujudkan itu karena Om Ramlan pasti m

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 185. Jenny Diusir

    “Iya Mas, aku janji akan merahasiakannya dari Ryan. Ide yang Mas katakan itu sangat bagus dan tepat, Aku rasa udah sepantasnya pula kita ke desa mengunjungi dan membantu Mas Ardi sekeluarga. Selama ini boleh dikatakan nggak ada sedikitpun yang kita berikan pada mereka, selain hubungan keluarga yang masih terjalin baik hingga sekarang ini.” ujar Tante Dewi menyetujui usulan suaminya itu.“Akhir bulan ini kita mengunjungi Mas Ardi di desa, bawa anak-anak sekalian agar mereka tahu pula keadaan desa tempat kelahiran Papanya.” ucap Om Ramlan, Tante Dewi mengangguk setuju dan merasa senang akan diajak pulang ke desa mengunjungi keluarga ku.****Sekitar jam 4 sore Om Ramlan mengunjungi Jenny di kediamannya, rumah tempat kediaman istri mudanya itu memang tak sebesar rumah yang dihuni Tante Dewi, tapi segala isi dan kemewahan di rumah itu tak kalah jauh dengan yang ada di rumah Tante Dewi. Setelah menghentikan mobil yang ia kemudikan sendiri di halaman rumah itu, Om Ramlan segera ke luar lalu

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 184. Pengorbanan Ku

    Tante Dewi tak habis pikir kenapa aku sampai se nekat itu demi membongkar kelakuan Jenny, dalam hatinya saat itu merasa bersalah karena ia paling menginginkan aku membantunya menyelediki Jenny, namun ia tak mampu berucap apa-apa saat itu selain ikut menyaksikan aku mengirim foto-foto yang ada di ponsel ku ke ponsel milik suaminya itu.Sementara Om Ramlan belum kepikiran sampai ke situ, yang ada di benaknya saat itu secepatnya ingin mengurus perceraiannya dengan bukti yang ia dapatkan dari ku. Sedangkan aku berusaha untuk tetap tenang mempersiapkan diri jika Om Ramlan akan bertanya banyak hal kepada ku.Semua foto yang ada di ponsel telah aku kirimkan ke ponsel Om Ramlan, aku kembali meneguk kopi hangat dan menyulut sebatang rokok agar pikiran ku agak tenang, karena bagaimanapun juga aku tetap merasa kuatir kalau-kalau Om Ramlan mempermasalahkan hal yang telah aku lakukan itu.“Nah, sekarang foto-foto ini udah ada di ponsel Om nanti sore aku akan menemui Jenny. Makasih Ryan, kamu udah

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 22. Curhat

    “Sebagai wanita normal tentu saja rasa itu ada, tapi jika bersamanya lebih baik tidak melakukan sama sekali. Kebencian yang tumbuh di hati, lebih besar dari hasrat ingin bercinta.”“Bi Lastri benar, jika di hati sudah mulai muncul sesuatu yang tak lagi harmonis rasanya dengan pasangan takan pernah

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 27. Terasa Hambar

    Apa yang selama ini tidak membuatnya terlalu curiga pada Deni, saat mendengar Riko sahabat mereka bercerita melalui sambungan telepon kabel, kalau Deni suaminya itu tengah terlibat jalinan cinta terlarang dengan seorang wanita karyawan di perusahaan tempatnya bekerja. Dola seakan tidak percaya deng

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-21
  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 25. Lani Merasa Senang

    Malam itu di rumah Bu Dola kedatangan seorang pria yang telah hampir sebulan tidak mengunjungi Guru cantik itu, pria yang bernama Deni itu merupakan suaminya yang baru kembali dari luar kota. Harusnya ada kehangatan tersendiri saat mereka berkumpul kembali, namun hal yang terlihat justru sebaliknya

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 24. Ketulusan Lani

    “Nggak ada apa-apa,” ujar ku.“Lalu kenapa berhenti?”“Aku rasa kita udah bertindak terlalu jauh, buat aku sih nggk akan jadi masalah tapi buat kamu nantinya bisa jadi masalah besar yang tentu akan menjadi sebuah penyesalan,” jawab ku menahan semua hasrat yang tadi sulit aku bendung, Lani kembali d

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-20
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status