Beranda / Male Adult / GAIRAH MASA LAJANG / Bab 5. Cari Kerjaan Di Pasar

Share

Bab 5. Cari Kerjaan Di Pasar

Penulis: Andy Lorenza
last update Tanggal publikasi: 2025-12-09 00:35:26

“Kiranya hanya itu yang ingin Ayah sampaikan melalui surat ini, harap Ananda dapat memakluminya. Wasalam, Ardi.” itulah isi surat yang ditulis Ayah, aku pun memahami kenapa wesel pos yang aku terima bulan ini hanya berisi Rp. 30.000,- saja.

Surat dari Ayah aku masukan kembali ke dalam amplop, kemudian aku taruh ke dalam tas sekolah, aku lalu melangkah ke luar dari ruang kantor pos pusat itu menuju jalan raya yang di sana terdapat angkot untuk menuju ke kos-kosan. Setibanya di kos aku langsung makan siang lalu duduk di lantai bersandar pada sisi ranjang, pandanganku sesekali mengarah ke langit-langit ruangan, pikiranku kacau hingga aku merasa agak tegang.

“Jika aku bayar SPP bulan ini Rp. 20.000,- itu berarti uang ini hanya tersisia Rp. 10.000,- saja, sewa kos bulan ini yang biasa datang setiap tanggal 10 nggak akan bisa aku bayar. Aku nggak punya saudara di kota ini selain Om Ramlan,” gumamku yang cukup membuatku pusing berfikir akan uang yang dikirim Ayah barusan.

“Aku nggak mungkin menemuinya di kantor apalagi di rumahnya, Om Ramlan juga nggak akan mau dipinjami uangnya justru dia akan memberi lebih begitu saja. Aku nggak mau Tante Dewi mendatangiku lagi di kos ini, memaki-maki aku seperti dulu. Aku bukan pengemis seperti yang ia katakan, mungkin sebaiknya besok aku singgah di pasar sepulang dari sekolah siapa tahu saja ada orang yang mau menerimaku berkerja di luar jam sekolah. Hanya itu jalan satu-satunya untuk menutupi kekurangan biaya hidupku bulan ini, dan bisa membayar sewa kos-kosan dengan segera,” gumamku kembali dan merasa yakin dengan hal yang akan aku lakukan besok.

Hari itu tepatnya tanggal 10, sepulang dari sekolah aku langsung menuju kantor untuk membayar SPP bulanan. Seperti yang telah aku rencanakan, sekembalinya dari ruang kantor sekolah aku tak langsung pulang menuju kos. Aku singgah di pasar sentral Kota P, tujuanku ke sana mencari tempat usaha yang bisa menerimaku untuk bekerja di luar jam sekolah.

Cukup lama aku mengitari pasar sentral itu, namun tak kunjung jua aku temui toko-toko atau tempat lainnya yang bisa menerimaku bekerja di sana. Karena lelah aku duduk di kursi panjang milik pedagang yang menjual air perasan tebu, di samping haus aku juga tak enak hanya menumpang duduk saja di sana dan dengan uang Rp. 100,- aku pun membeli segelas air tebu dari pedagang itu.

Sambil meminum air tebu pandangan aku arahkan ke sekeliling, di mana pasar sentral siang itu sangat ramai oleh pengunjung yang berlalu-lalang dan para pedagang berbagai macam jenis dan keperluan. Mataku tiba-tiba terfokus pada sebuah ruko kecil tak jauh dari tempat aku duduk, di ruko itu ada beberapa orang yang tengah bekerja sebagian menarik es balok dari mobil box, sebagian lagi memecah-mecahkan es balok itu menjadi bagian-bagian kecil.

Setelah es balok dipecah menjadi bagian-bagian kecil, sebagian orang yang tadinya telah selesai menarik es balok dari mobil box ke dalam ruko itu, mengemas bagian-bagian es yang telah dipecahkan itu ke dalam kantong plastik, kemudian beberapa orang di antarannya memikul 2 sampai 3 kantong plastik berisi es pecahan di bahunya, lalu membawanya ke lantai atas dari pasar sentral Kota P itu.

Hatiku pun tiba-tiba tergerak untuk menghampiri ruko itu, siapa tahu saja aku bisa diterima bekerja di sana, aku segera menghabiskan air tebu di genggamanku kemudian melangkah menuju ruko itu.

“Permisi Kak,” sapaku pada pekerja yang ada di ruko kecil itu.

“Ya ada apa Dik?” sahut salah seorang dari pekerja itu.

“Boleh aku bertemu dengan pemilik ruko ini?” tanyaku.

“Pemilik ruko ini lagi ke toilet umum, sebentar lagi juga kembali. Adik tunggu saja di situ!” tutur salah seorang pekerja sambil menunjuk bangku panjang yang ada di ujung ruangan ruko itu.

Ruko itu tergolong kecil karena hanya berukuran 4 x 5 meter, sementara ruko-ruko atau toko di samping kiri dan kanannya berukuran 6 x 10 bahkan lebih, tak beberapa lama aku duduk di dalam ruko itu, tiba-tiba datang seorang pria keturunan tiongha berumur 50 tahunan. Aku duduk di kursi yang di depannya ada meja berukuran setengah biro, aku sudah menduga kalau sosok pria setengah baya itulah pemilik dari ruko itu hingga aku segera menghampirinya.

“Maaf Pak, Apa boleh aku bertanya?”

“Ya silahkan, Nak.” ucap pria setengah baya itu ramah.

“Apakah Bapak yang punya ruko dan usaha ini?” tanyaku yang baru saja dipersilahkan duduk berhadap-hadapan dengan pria setengah baya itu.

“Ya benar.”

“Nama ku Ryan, Pak. Aku ingin bertanya apakah Bapak masih menerima pekerja di sini?” tanyaku, pria setengah baya itu kaget karena memang saat aku bertanya aku masih mengenakan pakaian seragam sekolah.

“Apa kamu nggak masuk sekolah, hari ini Nak?” pria setengah baya itu balik bertanya.

“Aku baru saja pulang, Pak. Minggu ini aku masuk pagi, makanya siang ini aku udah pulang,” jawabku.

“Oh begitu, aku kira kamu masuk siang dan mencoba untuk bolos dari sekolah.” ujar pria setengah baya keturunan tiongha itu.

“Bagaimana Pak? Apakah Bapak masih menerima pekerja di sini?” tanyaku.

“Aku nggak menerima pekerja lagi, jumlah pekerja di sini udah cukup. Apalagi dengan orang yang masih sekolah seperti kamu, Nak.” Jawabnya.

“Tolonglah Pak, aku bekerja untuk membantu orang tuaku yang lagi kesusahan di desa. Mereka hanya bisa mengirim uang untuk membayar SPP ku saja, sementara aku di sini tinggal ngekos dan uang sewa kosku bulan ini masih kurang,” mohonku, pria setengah baya itu terdengar menarik nafas berat.

“Apa kamu sanggup bekerja kasar seperti mereka?” tanya pria setengah baya itu menunjuk para pekerjanya yang tengah beraktifitas.

“Aku sanggup, Pak.” jawabku yakin.

“Kamu sanggup untuk mengangkat pecahan-pecahan es itu dari sini ke lantai atas los pasar di sana?!” tanyanya lagi sambil menunjuk arah yang ia maksudkan.

Pandanganku langsung aku arahkan ke lokasi yang ia tunjuk, aku berfikir untuk beberapa saat....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 224. Kebahagiaan Yang Sempurna

    Malam itu meskipun rasa lelah di perjalanan dan kondisi badan ku tak begitu fit, aku tak mau melewatkan malam pertama pertemuan kembali dengan istri tercinta ku itu, dengan penuh perhatian dan kasih sayang, aku memberikan sentuhan-sentuhan hangat yang tentunya membuat Intan serasa melayang.Jika dulu baik aku maupun Intan selalu dingin dalam hal berhubungan di ranjang, malam itu sangat berbeda sekali seolah-olah kami tengah menikmati malam pertama seperti layaknya para pengantin baru lainnya. Sentuhan dan gerakan semakin lama semakin intens kami lakukan, Intan pun tak mau melewatkan momen yang penuh sensasi dan membahagiakan itu, ia pun tak mau kalah dalam merespon setiap sentuhan dan gerakan penuh gairah dari ku.Meskipun beberapa kali Intan tiba di titik puncak yang membuat tubuhnya lemas, namun ia tetap berusaha untuk bertahan saat aku kembali memberi sentuhan dan gerakan di tubuhnya, hingga akhirnya kedua tubuh kami mengejang lalu terkulas lemas bermandikan keringat.****Mentari

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 223. Cinta Dan Ketulusan

    “Kania, Papa masih capek! Nanti lagi minta gendongnya, ya?!” bujuk Intan.“Benar Pa, Papa masih capek?” tanya polos Kania.“Hemmm... Rasa capek Papa hilang setelah bertemu dengan putri Papa yang cantik ini,” jawab ku mencubit hidung si kecil, dan Kania pun tertawa manja.“Sebaiknya Kak Ryan mandi dulu, agar lelah berkurang.” ujar Intan.“Sebentar ya sayang? Papa mandi dulu, nih bau badan Papa apek!” tutur ku pada putri ku.“Ya Pa.” ucap Kania sembari melepaskan diri dari pangkuan ku.Menjelang aku berganti pakaian setelah mandi di kamar mandi yang ada di kamar, Bi Srini telah menyediakan segelas kopi hangat berserta panganan kecil di meja ruangan tengah, kopi itu sendiri baru saja ia beli dari warung sebelah, karena memang di rumah itu hanya aku lah yang suka minum kopi sebelum aku pergi ke Kota S.Kalau tadi hanya Kania yang duduk rapat sambil minta aku pangku, sekarang Intan ikut-ikutan duduk merapat di sebelah ku. Melihat reaksi seperti itu aku pun tersenyum lalu memberikan kecupan

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 222. Pertemuan Yang Mengharukan

    Sepuluh menit kemudian aku pun keluar dari dalam masjid menuju mobil travel, dan sekitar 15 menit kemudian mobil travel yang aku tumpangi pun tiba di depan rumah Intan. Dengan jantung yang berdebar-debar kencang aku turun dari mobil travel lalu melangkah memasuki halaman rumah itu, rasa rindu dan cemas karena kuatir kedatangan ku tak diterima lagi oleh istri ku.Hari baru gelap karena waktu magrib baru saja berlalu, pintu rumah kediaman Intan saat itu masih terbuka karena Intan biasa membuka praktek di rumahnya hingga jam 9 malam. Aku yang telah sampai di teras rumah, perlahan-lahan meletakan koper pakaian dan boneka micky mouse yang tadi aku pangku seturun dari mobil travel, jantung ku semakin berdebar-debar saat aku melangkah ke arah pintu rumah itu.Baru saja aku mau mengucapkan salam, Kania yang beberapa detik ke luar dari kamarnya melihat aku berdiri di depan pintu, spontan saja bocah perempuan cantik yang menggemaskan itu berteriak memanggil sambil berlari ke arah ku.“Papa.....

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 221. Tangisan Pun Pecah

    Dengan mengemudikan mobil yang biasa aku pakai, Grace mengantar ku ke bandara. Grace sebelumnya telah berjanji bahwa dia takan meminta Cak Mul pergi dari depan show room, seperti hal yang telah aku pesankan kepadanya. Bagi Grace, Cak Mul sosok yang sangat baik dan takan mungkin juga ia tega mengusir lesehan Cak Mul dari tempat itu.Tak berselang lama menunggu di bandara, panggilan keberangkatan pesawat yang akan aku tumpangi pun terdengar, Grace tak dapat lagi menyembunyikan kesedihan dan air matanya, berbagai macam hal berkecamuk dalam hatinya. Tak mau berpisah dengan aku pria yang ia cintai, tetapi juga tak ingin mencegah ku kembali ke keluarga ku karena Grace menyadari hubungan kami tak mendapat restu dari kedua orang tuanya, dan ia pun merasa bersalah telah memisahkan aku dari istri dan putri ku.“Aku nggak tahu harus bilang apa, Ryan. Hatiku benar-benar galau, di suatu sisi aku tak ingin kamu pergi, di sisi lain akupun sadar telah memisahkanmu dengan anak dan istrimu.” ujar Grace

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 220. Perpisahan Pun Terjadi

    “Mari, saya antarkan menuju ruangan pimpinan! Tadi Ibu memerintahkan saya jika bertemu dengan bapak supaya diantar menemu beliau,” ujar security.“Baik Pak, mari!” aku pun mengikuti security itu ke lantai paling atas dari bank yang memiliki 4 lantai itu dengan lift.“Nah, ini ruangan pimpinannya. Silahkan Bapak pencet belnya, sementara saya akan kembali ke bawah.”“Terima kasih ya, Pak.” ucap ku.“Iya sama-sama, Pak.” ucap security itu pula lalu ia turun ke lantai dasar.Aku memencet bel, lalu tak berselang lama pintu ruangan pimpinan itupun dibuka dan terlihatlah sosok wanita cantik bermata sipit tersenyum saat mengetahui tamu yang memencet bel itu adalah aku“Ayo masuk Ryan!” ajaknya.“Makasih Grace.” Ucap ku.“Udah bersikap santai aja, di ruangan ini kan hanya kita berdua.” ujar Grace yang melihat sikap ku seperti para tamu pada umumnya yaitu sungkan dan sopan.Grace pun mengajak ku duduk di kursi yang memang disediakan bagi tamu-tamu penting di ruangan pimpinan itu, aku pun duduk

  • GAIRAH MASA LAJANG   Bab 219. Aku Terpukul Dan Sadar

    “Maaf ya Mas Mul, malam ini aku ngerepotin aja.”“Nggak apa-apa. Udah sepatutnya juga aku nemani Mas Ryan jika ada permasalahan yang datang, itu gunanya teman saling berbagi terlebih saat kita jauh dari keluarga dan saudara.” ujar Cak Mul selalu menenangkan aku.“Makasih Mas. Aku jadi ingat Mas Sugeng, sikapnya dan rasa persaudaraannya mirip sekali dengan Mas Mul. Saat itu aku masih sekolah di Kota P, setiap kali kami ada permasalahan selalu saling berbagi untuk menyelesaikannya. Di perantauan kita memang musti mencari teman sekaligus dapat dijadikan saudara, apalagi tinggal di daerah kota besar seperti Kota S ini.” tutur ku sambil menikmati kopi hangat yang disuguhkan Cak Mul.“Iya Mas, aku juga demikian. Dulu aku juga seorang perantau semasa masih lajang, bahkan sampai ke negeri tetangga. Kita memang harus selalu baik pada orang-orang di sekeliling kita, jika kita ingin hidup berdampingan tanpa adanya perselisihan dan saling berbagi.” ujar Cak Mul juga menikmati kopi hangat yang ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status