Share

Amukan Kasar

Author: Weena Young
last update publish date: 2026-08-30 12:41:18

"Tidak perlu, Casey. Jangan berlebihan," jawab Melody pelan, suaranya parau dan tertahan di dada bidang pria itu. "Dokter hanya akan meresepkan obat maag yang sama. Aku cuma butuh berbaring dan meminum air hangat."

Casey tidak membalas. Manik matanya yang gelap hanya menatap bayangan mereka di dinding cermin lift VIP yang terus bergerak naik. Genggaman tangannya di pinggang Melody tak mengendur sedikit pun, seolah jika ia melepasnya satu detik saja, wanita di pelukannya ini akan runtuh menyentu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (29)
goodnovel comment avatar
Liss02
Casey mengetahui rencanamu Gwen rasainnn wkwkw Gagal kan semuanya makanya jangan macam-macam sama babang Casey kita ini
goodnovel comment avatar
Liss02
Itu cuma AKTING Melodyyyy kamu jangan berpikir yang berlebihan. Itu biar terkesan seperti sungguhan aja kalo Casey marahin kamu
goodnovel comment avatar
Liss02
Keren banget sih babang Casey instingmu tajam sekali bisa tau ada yang berubah dari tata letak barang di kamar itu.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Ancaman Melody

    Pagi itu di kediaman yang ditinggali Casey dan Melody tampak suasana semakin hangat dengan interaksi sepasang suami-istri yang telah saling menerima itu."Jangan bergerak, atau aku akan menciummu sampai kehabisan napas..." bisik Casey serak, tepat di lekuk leher istrinya.Suara berat itu terdengar begitu dekat dan penuh gairah, membuat pertahanan Melody langsung runtuh seketika pagi itu. Berdiri di area minibar dapur rumah mereka, tubuh Melody sepenuhnya terperangkap dalam pelukan posesif suaminya. Casey mengurungnya dengan kedua tangan kokoh yang menumpu di meja, sementara napas hangat pria itu menggelitik kulit lehernya.Melody mendengus kecil, meski debaran jantungnya berkhianat memukul cepat di dalam dada. Ia mencoba mendorong pelan dada bidang suaminya yang memakai kemeja putih dengan kancing atas terbuka. "Casey, ini masih pagi... Kalau pelayan rumah lewat gimana?" protesnya setengah hati, sementara pipinya sudah merah padam menahan malu dan gejolak rasa yang dipicu sentuhan

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Damai

    “Mulai sekarang, ceritakan semuanya padaku. Kita hadapi sama-sama," ucap Melody tulus, matanya menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Kau juga tahu bukan keluarga besar Whitney tidak benar-benar menerimaku dengan baik. Apalagi ibu Gwen sudah menghasut sedemikian rupa. Bahkan papaku sekalipun seperti sosok yang berbeda untukku. Jadi, ayolah. Berhenti menanggung semuanya sendiri, Casey..."Melody menyelesaikan kalimatnya sambil membelai wajah Casey dengan hangat, mengusap sisa ketegangan di rahang kokoh pria itu.Sentuhan lembut itu bekerja bagai penawar racun bagi jiwa Casey yang bertahun-tahun membeku. Perlahan, napas pria itu mulai teratur. Casey menegakkan tubuhnya, menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata dengan perasaan campur aduk, antara rasa bersalah, takjub, dan cinta yang begitu besar."Baiklah," bisik Casey akhirnya, menyerah pada ketulusan yang ditawarkan oleh wanita di hadapannya. "Aku akan menceritakan semuanya. Tapi tidak di sini, dan tidak sekarang. Tubuhm

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Pelukan Hangat

    Tatapan tajam Casey menembus pertahanan Melody, seolah pria itu ingin melihat seberapa jauh informasi gelap yang telah meresap ke dalam benak istrinya. Tidak ada sisa kehangatan dari candaan mereka sebelumnya yang tersisa di udara hanyalah ketegangan mencekam yang siap meledak kapan saja.Dominic yang berdiri tepat di belakang sang tuan besar menunduk dalam-dalam, gestur tubuhnya menyiratkan rasa bersalah yang teramat besar karena telah membiarkan rahasia inti perusahaan dan keluarga bocor ke telinga yang salah."Keluar, Dominic," perintah Casey datar tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah sang istri."Baik, Tuan," sahut Dominic cepat sebelum melangkah pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan pintu perpustakaan tertutup rapat kembali demi privasi nyaman di antara pasangan suami istri itu.Begitu deru langkah Dominic memudar, keheningan di dalam perpustakaan terasa semakin menyesakkan. Melody meremas ujung gaunnya erat-erat, jemarinya dingin dan gemetar. Ia membuka bibir

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Rahasia

    “Kalau kamu diam berarti boleh dong?” rengek Casey dengan senyum usil yang tersungging di bibir tegasnya.Melody spontan mendengus geli campur sebal. Ia mendorong pelan dada suaminya yang kian mendekat. “Modus saja kerjamu! Sana, katanya tadi ada urusan penting dengan jajaran direksi. Jangan buang-buang waktu di sini.”Casey terkekeh rendah. Sebelum benar-benar beranjak berdiri dari sofa ruang keluarga, ia menyempatkan diri mendaratkan satu kecupan singkat di Pipi Melody yang merona merah. “Iya, Sayang. Aku pergi sebentar ke ruang kerja. Jangan ke mana-mana, tunggu aku selesai.”“Aku mau kemana juga, udah jelas di rumah ini mana mungkin bisa kemana-mana.”Setelah bayangan Casey menghilang di balik pintu ruang kerjanya yang kokoh, Melody menghela napas panjang. Suasana rumah utama kembali tenang. Namun, sisa-sisa percakapan di makam tadi pagi dan rasa penasaran luar biasa mengenai bisikan Casey tentang “mengusut semuanya” mendesak-desak pikirannya.Rasa penasaran itu mengalahkan rasa

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Canda Siang

    Bisikan penutup Casey yang terucap di hadapan pusara kedua orang tuanya seketika meninggalkan gema misterius di kepala Melody. Dahi wanita itu berkerut tipis. Tatapannya beralih menatap profil samping suaminya yang masih lurus memandangi batu nisan marmer hitam tersebut.“Casey janji, akan mengusut semuanya, Ma…Pa…”Kalimat itu berputar ulang di benak Melody. Mengusut apa? Apakah kematian kedua orang tua Casey di masa lalu bukanlah kecelakaan murni seperti yang selama ini keluarga besar ketahui? Pertanyaan itu mendadak mengusik nuraninya, memunculkan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran baru di tengah kerapuhan hatinya yang baru saja mereda.Belum sempat Melody membuka mulut untuk menanyakan maksud dari bisikan tersebut, Casey sudah lebih dulu menoleh. Pria itu menangkap raut bingung di wajah istrinya, lalu tersenyum tipis seraya mengusap lembut puncak kepala Melody."Ayo kita pulang, Sayang. Hari sudah semakin siang, dan kamu tidak boleh terlalu lama terkena angin terbuka," ajak Ca

  • GELORA BERBAHAYA KAKAK SEPUPU   Makam

    Pagi hari menyapa dengan hembusan udara sejuk yang membawa ketenangan di kediaman Whitney. Sinar matahari tipis menembus gorden, menyiram ruang kamar utama dengan pendar keemasan.Setelah kehangatan yang tercipta semalam, Casey bangkit lebih awal. Pria itu sudah membalut tubuh tegapnya dengan kemeja hitam lengan panjang yang digulung rapi hingga siku dan celana kain berwarna senada. Begitu Melody terbangun dan mengusap matanya yang masih berat, Casey mendekat, lalu mendaratkan kecupan lembut di kening istrinya."Selamat pagi, Sayang," bisik Casey hangat. Tangannya terulur mengusap pipi Melody yang masih merona halus. “Gimana tidurmu semalam, lebih nyenyak bukan di pelukanku?” Bisik Casey menggoda.Melody mencibir kesal. “Ngarang aja kamu!”“Aku nyenyak banget tidur dekat kamu, udah lama banget gak ngerasain tidur se nyenyak ini…” bisik Casey manja.“Gombal! Pinter banget mulut kalo mau ngibul…” gerutu Melody.“Aku ga pernah ngibul, Sayang. Aku serius…”Melody masih memasang tampang k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status