LOGIN"Siapa berani menyentuh Melody!!"Gema suara dingin itu menggelegar di seluruh aula. Tangan ayah Melody yang tadinya sudah melayang di udara seketika membeku. Seluruh keluarga Whitney mendadak merinding dan langsung menoleh ke arah pintu yang terkulai rusak.Di sana, Casey berdiri tegap dengan jas hitamnya yang rapi. Tatapannya sangat tajam dan dingin. Di belakangnya, empat pengawal berbadan tegap berseragam hitam masuk dengan cepat dan mengepung area aula.Melihat Casey berdiri nyata di depan matanya, otak Melody langsung berputar keras. "Kenapa Casey ada di sini? Bukannya dia sedang bermesraan dengan wanitanya di luar negeri biar gak aku ganggu? Ngapain dia sok baik datang membelaku?" bisik Melody dalam hati penuh curiga.Melody memperhatikan setiap langkah Casey yang makin mendekat. Tanpa ragu, Casey langsung merangkul pinggang Melody dengan cepat dan erat."Maaf aku terlambat..." bisik Casey pelan di dekat telinga Melody.Melody yang masih kesal berusaha sekuat tenaga melepaskan c
"Kenapa setiap berkumpul selalu saja keluarga ini ribut-ribut?"Suara berat sang ayah Melody menggelegar memenuhi seluruh sudut aula utama. Pria paruh baya itu berjalan tegap mendekati meja utama, mengedarkan pandangan dingin ke seluruh ruangan. Kedatangannya seketika membungkam perdebatan, membuat Paman Robert yang tadinya vokal perlahan mundur dan memilih diam. Tante Syeila pun menghela napas panjang, menundukkan kepala karena paham betul betapa dominan dan tidak adilnya abang tertuanya itu dalam urusan keluarga."Bagus kamu datang!" Kakek Whitney mengetukkan ujung tongkatnya keras. "Lihat putri bungsumu ini! Setelah membatalkan pertunangan secara sepihak dengan Arthur, sekarang namanya ramai di media bersama aktor luar! Keluarga kita sedang dipertaruhkan!""Bukan cuma itu,!" potong ibu tiri Melody cepat seraya merangkul suaminya dengan raut wajah yang dibuat-buat sedih. "Melody datang ke sini bukannya sadar diri, tapi justru menghina saya dan menyerang Gwen! Dia bahkan menyindir
"Kalian semua memanggilku ke sini seolah aku ini seorang terdakwa?"Suara Melody memecah keheningan aula, mengalun tenang namun cukup tajam untuk membuat beberapa paman dan kakak tirinya menggeser duduk. Ia berdiri tegak tepat di tengah ruangan, memamerkan gaun merah marunnya tanpa ada sedikit pun gestur ragu.Melihat adik tirinya berdiri sendirian di tengah ruangan yang tegang itu, Tante Syeila, satu-satunya kerabat yang selalu bersikap hangat pada Melody, segera berdiri dari kursinya dengan raut wajah cemas sekaligus lega."Sudah, Mel... yuk duduk dulu di sini," panggil Tante Syeila lembut seraya menepuk kursi kosong di sebelahnya, menyambut kedatangan Melody dengan senyum tulus. "Kamu pasti capek baru sampai."Melody melembutkan sorot matanya sejenak ke arah Tante Syeila dan tersenyum tipis. "Makasih ya, Tante Syeila. Sebenarnya Melody juga gak suka keributan kok, Tante. Cuma mereka aja yang selalu nantangin Melody seolah mereka itu manusia suci.""Kamu ini bicara apa, Mel? Berdiri
"Sebenarnya..." Melody menggantungkan kalimatnya, suaranya menciut dan sarat akan rasa bersalah. Ia menunduk, tak berani menatap langsung mata jernih milik pria di sampingnya. Ada rasa penyesalan yang mendalam membakar dadanya karena selama ini telah menyembunyikan identitas aslinya dan berpura-pura menjadi sekadar penjahit biasa. "Ehm... kenapa, Vey?" tanya Melody ragu-ragu, mencoba membaca respons pria di sebelahnya. Harvey tersenyum tipis, mengibaskan tangannya dengan santai seolah hal itu bukanlah masalah besar. "Ya enggak masalah, Mel. Dari awal kita ketemu, aku nggak peduli kamu anak konglomerat atau bukan. Mau kamu cuma penjahit biasa atau cucu klan ternama, buat aku sama saja. Lagi pula... kekayaanku juga sudah lebih dari cukup kok cuma buat sekadar menghidupi kamu nantinya." Mendengar kata-kata yang mengalir begitu santai namun sarat makna itu, Melody secara refleks menoleh ke arah Harvey. Namun, ia lupa betapa dekatnya posisi duduk mereka sejak sibuk memandangi layar pons
Dunia maya bergolak dalam skala yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dalam hitungan jam, nama "Melody" melesat cepat menembusi ribuan algoritma, merajai puncak papan atas mesin pencarian Google, tren teratas TikTok, hingga deretan trending topic X.Kata kunci seperti #MelodyHarvey, #WanitaBlazerPutih, hingga #KekasihRahasiaHarvey dicari oleh puluhan juta pasang mata. Foto-foto Melody yang beredar di internet, mulai dari gayanya yang anggun menenteng tas hingga raut wajah cantiknya yang berkelas saat berjalan di samping Harvey, diulas secara masif oleh puluhan akun gosip bercentang biru dan portal berita nasional.Di sebuah gedung pencakar langit perusahaan di pusat kota, Helena membelalakkan matanya menatap layar laptop yang menampilkan data statistik pencarian nama sahabatnya yang meningkat tajam hingga ribuan persen."Gila! Ini sih bukan sekadar viral biasa!" seru Helena heboh seraya menggebrak meja kerjanya, lalu cepat-cepat menekan nomor Melody. "Mel! Kamu tahu nggak, nama kam
"Dicintai ugal-ugalan seorang Harvey, ya?" bisik Harvey membaca salah satu komentar netizen yang tertera di layar ponsel Melody. Pria itu menoleh, menatap samping wajah Melody yang masih membatu, lalu terkekeh pelan. "Tapi jujur ya, Mel... netizen juga nggak sepenuhnya salah kok." Melody tersentak kaget. Ia refleks menoleh cepat, membuat tatapan mereka langsung beradu dalam jarak yang begitu dekat. "Vey, kamu... ngomong apa sih?" "Aku serius, Mel," potong Harvey lembut, tanpa ada keraguan sedikit pun di bola matanya yang jernih. "Selama ini aku cuma tahu kamu itu cewek penjahit yang rendah hati dan selalu nolak tiap kali diajak jalan. Tapi makin ke sini, aku makin sadar kalau rasa penasaranku ke kamu itu bukan sekadar kagum. Aku beneran suka sama kamu." Dada Melody berdesir hebat mendengar pengakuan jujur itu. Di tengah badai pengkhianatan Arthur, keculasan Gwen, dan luka dingin yang baru saja digoreskan Casey, kehangatan tulus yang ditawarkan seorang superstar papan atas di hadapan







